Cakrawala

Menyambut Hari Konstitusi (4) : Membangun Peradaban Pancasilais yang Dijiwai Kearifan Lokal Nusantara

Written by B.Wiwoho

Peran kunci kepribadian, karakter dan budaya hidup manusia dalam menentukan masa depan bangsa dan negara sudah terbukti dalam sejarah dan peradaban bangsa-bangsa di dunia. Salah satu contoh adalah bangsa Jepang yang luluh lantak pada akhir Perang Dunia II (1945), hanya dalam tempo dua dasawarsa telah bangkit kembali menjadi bangsa maju yang rakyatnya hidup makmur sejahtera.

Pada dasawarsa 1970an, disusul beberapa kali kunjungan berikutnya,  Alhamdulillah saya berkesempatan melihat kehidupan dan etos kerja masyarakat Jepang. Ada tiga hal yang menarik perhatian saya waktu itu yang kemudian saya sajikan dalam laporan bersambung di Harian Suara Karya. Tiga hal yang terus menarik perhatian saya sampai sekarang ialah:

Pertama, etos dan semangat Bushido, yaitu semangat dan kode etik yang menjiwai kehidupan para ksatria yang dikenal sebagai Samurai semenjak abad ke delapan Masehi, yang kemudian dibakukan pada peralihan abad keenambelas dan ketujuhbelas. Di dalamnya terdapat nilai-nilai antara lain kejujuran, kesederhanaan, kesetiaan dan kehormatan yang harus dipertahankan sampai mati. Kedua, semangat Japan Incoporated, yaitu semangat juang termasuk bisnis seluruh bangsa Jepang setelah kalah dan hancur dalam Perang Dunia Kedua. Dengan semangat Japan Incorporated baik rakyat, para elit dan pemimpin Jepang, menyatu dalam semangat, tekad dan kebijakan untuk bangkit dan jaya kembali sebagai bangsa yang besar. Karena itu setiap kebijakan Pemerintah Jepang, dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menggetarkan setiap pori-pori kehidupan bangsa Jepang.

Ketiga, budaya industri dalam arti luas juga  menjiwai Gerakan OVOP (One Village One Product) yang baru dimulai di wilayah termiskin di Jepang, yaitu di Perfektur Oita pada tahun 1979, namun dengan cepat berjalan sangat baik sehingga menjadi model percontohan banyak negara khususnya Taiwan dan Thailand, mendorong masyarakat di tingkat bawah untuk hidup produktif dengan mendayagunakan segenap potensi yang dimiliki secara berkesinambungan.

Semangat Bushido dan Japan Incorporated yang ditanamkan secara sistemis semenjak kanak-kanak, menjadi landasan moral kebangkitan dan kejayaan. Semangat keksatrian dan kepahlawanan ditanamkan secara sistemis pada anak laki-laki dan keluarga Jepang semenjak tahun 1948. Anak-anak tingkat Sekolah Dasar selama 6 (enam) tahun penuh harus belajar budi pekerti dan bersosialisasi dengan orang lain. Mereka juga belajar kesederhanaan dan kebersihan setiap hari. Setiap tanggal 5 Mei, masyarakat dan khususnya anak laki-laki merayakan hari kanak-kanak. Pada hari itu sekolah-sekolah mengibarkan bendera dengan gambar ikan karper atau ikan emas, yang dimaksudkan agar setiap lelaki Jepang harus perkasa bagaikan ikan karper, yang berani dan sanggup berenang melawan arus dan bukan hanya mengikuti arus. Di rumah-rumah yang memiliki anak laki-laki dipajang replika helm dan baju perang Samurai, untuk mengajarkan pria Jepang harus memiliki jiwa keksatriaan para Samurai Jepang, yang jujur serta setia melindungi rakyat dan negaranya.

Ketiga hal yang menarik dari masyarakat Jepang tadi pada hemat saya sejiwa dengan semangat Revolusi Mental sekaligus Revolusi Moral, yang mau tidak mau memang harus kita lakukan. Dalam rangka Revolusi Mental, maka para Pemimpin Negara, Pemimpin Pemerintahan dengan segenap aparat birokrasi, penegak hukum, TNI – Polri serta para elite nasional tingkat pusat dan daerah harus terlebih dahulu merevolusi mental dan moralnya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai suri tauladan. Revolusi mental harus menggelinding bagaikan bola salju yang makin lama makin besar, dengan para pemimpin sebagai intinya. Revolusi mental harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan cara berfikir serta moralitas pemimpin masyarakat atau pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umara.

Bangsa Indonesia yang dimotori oleh para tokoh masyarakat harus bisa membangun karakter Pancasilais berdasarkan nilai-nilai hakiki Pancasila, dengan bangkit menghidupkan kembali budaya serta kearifan-kearifan lokal suku-suku bangsa di Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Para ulama harus bisa membumikan ajaran dan kesalehan formal umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh dengan hidup bersih, sederhana dan mengabdi. Dengan karakter Pancasilais, tata kehidupan masyarakat akan aman tenteram, adil makmur sejahtera,  rahmatan lil alamin atau hamemayu hayuning bawono, yaitu yang dapat secara harmonis menggalang hubungan serasi timbal balik antara manusia – alam semesta dengan segenap isinya dan Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila para pemimpin dan rakyat bisa sama-sama hidup BSM: bersih – sederhana dan mengabdi, niscaya solidaritas sosial dan saling kepercayaan yang kini kian menipis, bisa digalang kembali. Sejarah di berbagai belahan bumi telah mengajarkan, para pemimpin yang hebat adalah mereka yang senasib sepenanggungan dengan rakyat serta bisa menghayati penderitaan rakyatnya. Jangan sampai misalkan kepada anak buah dan masyarakat diminta hidup hemat dan pesta sederhana, sementara pemimpinnya berpesta pora hidup bergelimang kemewahan. Jangan sampai bersemboyan sebagai abdi masyarakat, namun dalam praktek keseharian kita minta dilayani dan memeras masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, di bidang usaha saja, boro-boro dilayani dengan baik, belum apa-apa, baru mengurus ijin usaha saja sudah dikenai berbagai pungutan. Padahal usahanya belum berjalan dan belum tentu memperoleh keuntungan, bahkan mungkin bisa bangkrut.

Pemimpin-pemimpin yang menghayati penderitaan rakyat dan visioner, akan dengan mudah membangkitkan harapan rakyat atas masa depan yang gemilang di kancah perang dan kompetisi global yang tak mungkin dihindari. Pemimpin-pemimpin yang seperti itu, yang pola hidupnya bersih-sederhana-mengabdi, akan dengan mudah menggalang dukungan serta mengajak rakyatnya bersama-sama mewujudkan masa depan nan gemilang ( B.Wiwoho, dalam Revolusi Mental Demi Mencegah  Kehancuran dan Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat,  makalah pada Seminar “Revolusi Mental Mewujudkan Ekonomi Berdikari” – Dashboard Ekonomika Kerakyatan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, 4 September 2015).

Dalam budaya ekonomi, kita harus bisa pula mengobarkan perang terhadap sikap hidup yang konsumtif dan boros, dengan membudayakan sikap hidup hemat, sederhana dan menabung. Kita harus menggalang etos dan budaya industri secara hakikat dalam makna yang luas yakni pola pikir, sikap hidup dan perilaku untuk mendayagunakan sumber daya alam, ketrampilan, peralatan dan ketekunan kerja dalam suatu mata rantai produksi yang luas, berkesinambungan serta mengutamakan nilai tambah, dan bukan dalam arti sempit sebagaimana kita kenal selama ini, yang dibatasi hanya semata-mata sebagai suatu proses pabrikasi.

Dalam memaknai geo-ekonomi di zamrud khatulistiwa yang secara potensial subur makmur ini misalkan, bagaimana kita ditantang untuk membangun etos “setiap jengkal, setiap saat menghasilkan”. Gerakan OVOP yang selama ini sudah digulirkan oleh Universitas Gajah Mada, sungguh tepat dan bisa menjadi contoh model pembangunan yang mengabdi pada rakyat dan komunitas, yang produktif berkesinambungan, mendayagunakan keunggulan lokal, yang melestarikan eko sistem dan melakukan konservasi.

Etos dan budaya industri serta semangat OVOP harus dikembangkan dalam sistem kebersamaan dan kekeluargaan yang kita kenal sebagai gotongroyong,  sehingga mampu menggetarkan setiap pori-pori kehidupan anak bangsa. Gerakan OVOP dengan sentuhan akhir kepariwisataan, sekaligus juga akan dapat menarik banyak wisatawan dan menjadi gerakan dari desa membangun Indonesia. Yogya dan sekitarnya misalkan, memiliki banyak produk dan keunggulan lokal yang bisa menjadi unggulan serta percontohan Gerakan OVOP, antara lain salak pondoh, geplak, tiwul, kerajinan kulit, keramik dan aneka seni Jawa

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda