Cakrawala

Menyambut Hari Konstitusi (3) : Membangun Masyarakat Pancasilais, Seperti Apa?

Written by B.Wiwoho

Bagaimana dan dengan apa kita bisa melepaskan genggaman para elit dan pemodal besar atas perpolitikan serta perekonomian nasional dewasa ini, untuk dinikmati secara berkeadilan oleh seluruh rakyat Indonesia? Dengan membangun masyarakat Pancasilais.

Masyarakat  Pancasilais yang kita cita-citakan amat berbeda dari masyarakat Indonesia yang terjajah.  Penjajahan baik oleh Belanda di masa lalu maupun oleh kekuatan oligarki di era milenial,  dilandasi nilai-nilai individualisme dan liberalisme yang berbeda bahkan bertentangan dengan Pancasila.  

Pancasila menurut Sayidiman Suryohadiprojo (Membangun Masyarakat Pancasila, dalam Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945, B.Wiwoho, Penerbit Buku Republika 2019), melihat kehidupan sebagai fenomena kumpulan manusia dalam mana individu manusia hidup bersama manusia lain.

Agar supaya kehidupan menghasilkan yang terbaik maka antara individu-individu itu harus ada sikap kebersamaan, yaitu kesadaran bahwa mereka hidup bersama dan tidak mengutamakan hidup individu yang menjadi nilai utama individualisme. Hidup bersama berarti menyadari perbedaan antara individu, tetapi juga terjadinya sinergi antar-individu yang masing-masing punya kekuatan dan kelemahan. Sinergi dari kelemahan dan kekuatan individu-individu , atau persatuan antara individu membawa hasil yang lebih tinggi dari usaha perorangan dan persaingan antar individu dalam individualisme. Sebab itu Masyarakat Pancasilais harus dapat mewujudkan hasil yang lebih tinggi dari masyarakat penjajahan. Bangsa Indonesia harus meninggalkan individualisme dari masyarakat kolonial, dan menegakkan kebersamaan sebagai sikap hidup Masyarakat Indonesia.

Masyarakat Pancasilais pada hemat Letjen TNI (Purn) Sayidiman, membangun kesejahteraan bagi warganya secara adil merata. Masyarakat Pancasilais harus memberikan prioritas tinggi kepada perbaikan kekurangan ini. Harus diusahakan agar jumlah terbesar rakyat Indonesia mempunyai penghasilan yang wajar, agar tidak ada kesenjangan yang lebar antara kaya dan miskin. Untuk itu harus diciptakan kesempatan kerja yang luas, terutama bagi rakyat yang tinggal di desa.

Berlandaskan nilai hakiki Pancasila,  tanah daratan Indonesia yang luas harus dijadikan tanah pertanian yang menghasilkan produk aneka ragam yang diperlukan banyak orang. Dengan begitu tidak saja dapat diwujudkan swa sembada pangan dan tiadanya impor hasil pertanian, malahan sebaliknya Indonesia menjadi pengekspor hasil pertanian. Wilayah lautan Indonesia yang luas dengan pantai yang panjang harus membuat Indonesia bisa menjadi penghasil produk laut yang penting. Usaha tangkap ikan di laut dan budi daya ikan di daerah pantai dan daratan harus memberikan penghasilan tinggi bagi kaum nelayan Indonesia.

Peningkatan penghasilan kaum petani dan nelayan akan mewujudkan perbaikan penting dalam kesejahteraan, ditambah dengan pengadaan kesempatan kerja di bidang lain seperti pertambangan dan manufaktur untuk produksi barang-barang keperluan hidup masyarakat serta  menciptakan nilai tambah untuk berbagai produk pertanian, kelautan dan pertambangan.

Kesempatan kerja luas juga tercipta dari pembangunan pariwisata, serta keperluan adanya infrastruktur berupa jalan raya, jalan kereta api, pelabuhan laut dan bandara merupakan kesempatan kerja dan penghasilan yang baik  sekali bagi jutaan rakyat Indonesia. Demikian pula perkembangan usaha jasa yang terjadi berupa transportasi, perhotelan,  perbankan dan lainnya.

Perkembangan usaha diperkuat lewat berdirinya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Usaha Swasta. Khususnya berkembangnya Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM) amat besar dampaknya pada terwujudnya kesejahteraan yang adil merata.

Keberhasilan perkembangan itu menurut Jenderal yang dikenal sebagai cendekiawan TNI yang handal ini, amat ditentukan oleh kondisi manusia Indonesia. Bagaimana sifat-sifat kepribadiannya dan perilakunya dalam pergaulan sesama manusia, bagaimana kompetensinya dalam melakukan berbagai pekerjaan dan profesi, dan terutama karakternya sebagai manusia pejuang. Ini semua tidak akan terwujud dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan. Sebab itu faktor pendidikan amat penting dan bahkan menjadi faktor penentu masa depan bangsa Indonesia.

Edukasi Nilai-Nilai Pancasila

Untuk mewujudkan Masyarakat Pancasilais, di samping memperjuangkan agar nilai-nilai hakiki  Pancasila masuk menjiwai UUD serta berbagai peraturan dan kebijakan turunannya, juga perlu dilakukan rancang bangun sosial berupa penggalangan gerakan, yang merupakan pengembangan dari ide Gerakan Membangun Indonesia Pancasilais sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof.Dr.Gunawan dalam  artikelnya “Membangun Indonesia Pancasilais Dimulai Dari UGM Pancasilais”  (Pancasila Jatidiri Bangsa, Penerbit Elmatera Publishing, 2019).

Membangun Indonesia Pancasilais adalah upaya untuk mengembalikan bangsa dan negara Indonesia ini pada jiwa dan kepribadian yang asli, sebagaimana yang menjadi dasar sekaligus cita-cita para pendiri negara pada saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Pancasila. Dalam pandangan Notonagoro, gerakan ini merupakan upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila secara subyektif, yaitu pengamalan Pancasila di dalam setiap individu warga negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dengan kata lain perlu diinternalisasikan di dalam diri setiap warga negara melalui berbagai macam kegiatan, dengan didukung individu-individu Pancasilais yang akan menjadi agen perubahan bagi kondisi masyarakat yang lebih luas. Tentu ini jangan hanya sekedar slogan. Karena di masa 1960-an, kaum komunis juga mengumandangkan pihak nya sebagai Pancasilais sejati.

Membangun Masyarakat Indonesia yang Pancasilais harus dimulai  dengan mengedukasikan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat secara sistemis. Nilai-nilai tersebut sebagaiamana tercermin dalam sila-silanya, menurut Prof.Dr.Soedjito Atmoredjo (Pancasila Jatidiri Bangsa) adalah sebagai berikut:

(1).Berdasarkan  sila pertama, hubungan bangsa Indonesia dengan Tuhan YME bersifat abadi.

(2). Berdasarkan sila kedua, hubungan bangsa Indonesia dengan sesama manusia dan makhluk-makhluk lain bersifat pansubjektivitas.

(3). Berdasarkan sila ketiga, bersatu dengan Tuhan YME, alam semesta, jiwa-raga sebagai manusia. Bangsa yang merupakan unsur penting dari Negara, bersumpah bersatu menjunjung tinggi wawasan nasional yang tidak boleh dikorbankan dalam pergaulan internasional.

(4). Berdasarkan sila keempat, rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam menentukan hukum nasional yang dipandang terbaik bagi bangsanya.

(5). Berdasarkan sila kelima, tiap-tiap warga negara Indonesia mempunyai hak dan kesempatan proporsional untuk menerima perlakuan dan bagian manfaat dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima nilai tersebut harus diamalkan di masyarakat yang dalam menjalankan kehidupan  dilandasi oleh nilai-nilai luhur agamanya, yang menjunjung tinggi hakikat dan hubungan kemanusiaan dalam kekuatan persatuan bangsa. Berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu dalam keluarga besar bangsa yang menghayati hakikat demokrasi kerakyatan, yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.  Berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkerakyatan dalam mewujudkan kesejahteraan secara mandiri, sekaligus demi meningkatkan martabat bangsa dan negara.

Itu mengandung makna bahwa sila-sila dalam Pancasila harus merupakan satu  kesatuan yang utuh, yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat dengan saling menghormati dan menghargai, bersatu padu dalam satu kesatuan sosial masyarakat untuk saling memajukan dan mengembangkan kualitas kehidupan yang aman, tenteram, adil makmur sejahtera dalam bingkai permusyawaratan, saling bersepakat menjalani kehidupan bersama dengan hak dan kewajiban masing-masing tapi  bukan individualistis, juga bukan karena dominasi dan subordinasi.

Setiap anggota masyarakat juga harus menjunjung asas kerakyatan, kemandirian, kebebasan yang bertanggung jawab, kemerdekaan yang hakiki, toleransi yang tidak mengenal basa-basi ataupun sepihak, dan yang tidak kalah pentingnya adalah keadilan sosial yang tidak menggilas personalitas ataupun sosial secara destruktif, dan itu semua disadari sebagai kreasi Tuhan berdasarkan sebuah pengertian manusia atas  sikap keberadaban yang tinggi.

Itulah nilai hakiki Pancasilayang dengan itu kita menggerakkan pembangunan yang mampu mewujudkan kemakmuran rakyat di seluruh pelosok negeri. Kemakmuran  di mana rakyat hidup berkecukupan serta mampu mengembangkan cita-cita mulia,  mewujudkan generasi yang sehat, generasi yang mengetahui arti penting hidup sehat, generasi yang menyadari arti penting pendidikan, generasi yang mengerti dan menyadari serta melaksanakan perintah agama yang menyatakan bahwa hidup dalam keanekaragaman merupakan sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari, yang diatur dengan seadil-adilnya berdasarkan kemanusiaan yang beradab. (Prof.Dr.Gunawan Sumodiningrat dalam Pancasila Jatidiri Bangsa, Elmatera Publishing 2019).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda