Mutiara

Maulana Hasanuddin Banten dan Leluhur Orang Baduy

Written by A.Suryana Sudrajat

Sepenggal kisah adu kesaktian antara putra Sunan Gunung Jati, pendiri kesultanan Banten, dan Prabu Pucuk Umun, penguasa kerajaan Sunda di ujung barat Pulau Jawa. Setelah terdesak, sang prabu menyingkir ke selatan dan meneruskan hidup dengan damai  bersama komunitasnya.

Syahdan, Maulana Hasanudin yang tengah melakukan proses islamisasi di wilayah Kerajaan Sunda di ujung barat Pulau Jawa mengajak dua santrinya,Mas  Jong dan Agus Ju, menemui Prabu Pucuk Umun di Gunung Pulosari. Penguasa Kerajaan Sunda di Banten ini rupanya telah mengetahui  bahwa Maulana Hasanuddin dan santrinya berencana mengislamkan dia dan teman-temannya, sebagaimana Mas jong dan Agus Ju yang sebelumnya bernama Ki Ajar Jong dan Ki Ajar Ju.

Tiba di tempat persemedian Prabu Pucuk Umun, putra pertama Sunan Gunung Djati itu mengatakan bahwa dia ingin mengajak  Pucuk Umun dan orang-orangnya untuk masuk Islam. Ajakan itu ditolak. Sang Prabu menyatakan bahwa ia tidak mau takluk kepada Hasanuddin sebelum kalah dalam tarung adu kesaktian.  Mendengar tantangan itu,  Maulana Hasanuddin  berkata , “Silakan kamu pilih tarung kesaktian apa yang kamu inginkan?”.

“Baiklah, saya ingin tarung kesaktian dengan tarung ayam, ”jawab  Pucuk Umun.

Maulana Hasanuddinpun menyetujui usul itu. Akhirnya mereka-pun mencari arena yang luas untuk tarung kesaktian, dan didapatilah suatu lahan yang berada di wilayah Waringinkurung yaitu disuatu kebon yang rata yang disebut Tegal Papak. Selanjutnya Pucuk Umun dan murid-muridnya  membuat ayam jago yang terbuat dari besi, baja, dan pamor yang terbuat dari sari baja dan rosa.

Sementara itu,  Maulana Hasanuddin bermunajat kepada Allah. Ia  memohon pertolongan untuk mengalahkan dan menaklukkan Pucuk Umun, agar Pucuk Umun dan para pengikutnya  memeluk Islam. Dengan kekuasaan Allah SWT. Maka datanglah jin dan atas keinginan Maulana Hasanuddin berubahlah jin tersebut menjadi seekor ayam jago dan memiliki raut mirip jalak putih. Setelah siap maka Maulana Hasanuddin yang diikuti kedua muridnya Mas Jong dan Agus Ju serta para jin yang membawa palu yang terbuat dari besi magnet berangkat menuju tempat pertandingan.

Akhirnya rombongan Maulana Hasanuddin-pun sampai di Tegal Papak. Di isana rombongan dan pengikut Pucuk Umun telah berada ditempat menunggu kedatangan Maulana Hasanuddin. Setelah keduanya berjumpa keduanya, Pucuk Umun berkata kepada Maulana Hasanuddin, bahwa jika ayam jagonya kalah maka ia akan tunduk.  Maulana Hasanuddin pun menyatakan hal serupa. Kedua ayam “jadi-jadian” itu bertarung.  Serangan ayam jago Pucuk Umun seperti suara guntur, tepuk tangan dan rasa riang menyelimuti rombongan Pucuk Umun yang meyakini bahwa ayam jago mereka bakal memenangkan pertarungan. namun meski serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh ayam jago Pucuk Umun kepada ayam jago Maulana Hasanuddin, ayam jago Maulana Hasanuddin tidak surut dan terus berusaha mengalahkan ayam jago Pucuk Umun. Ringkas cerita, setelah sekian lama bertarung, pemenangnya adalah ayam jago Maulana Hasanuddin.   

Sementara yang lainnya takluk dan menyerah masuk Islam,  Pucuk Umun mengatakan kepada Maulana Hasanuddin,  “Tuan, saya belum takluk kepada Tuan karena masih banyak kesaktian saya, apabila telah habis barulah saya takluk”. Mendengar tantangan Pucuk Umun, Maulana Hasanuddin pun membalas,  “Keluarkan semua kesaktianmu saat ini, saya ingin tahu kemampuanmu.”

Alih-alih mengeluarkan kesaktiannya untuk menghadapi Maulana, Pucuk Umun  terbang dan hilang dari penglihatan Maulana Hasanuddin.

Setelah sekian lama terbang, ia pun mendrat di sebuah tempat di Lebak. Di tempat inilah bersama sejumlah pengikutnya yang menolak masuk Islam ia membangun perkampungan. Perkampungan  yang sekarang didiami oleh suku Baduy, yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana, yang baju adatnya digunakan Presiden Joko Widodo  dalam Sidang Tahunan MPR 16 Agustus lalu.

Tetapi ada juga yang mengisahkan, bahwa Pucuk Umun tidak pernah saling berhadapan adu kesaktian dengan Maulana Hasanuddin. Penguasa Kerajaan Sunda itu hanya menyingkir ke selatan setelah dia pasukannya terdesak. Dan putra Sunan Gunung Jati itu tidak mengejarnya, dan membiarkan sang Prabu hidup bersama komunitasnya, dan turun-temurun sampai sekarang. Sebagian masih mempertahankan adat istiadat leluhur, termasuk agama yang mereka anut yaitu Sunda Wiwitan, dan sebagian lagi bercampur-baur dengan warga lainnya di luar Baduy, dan tidak sedikit yang kemudian memeluk Islam dan bahkan menunaikan ibadah haji.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda