Mutiara

Ulama dalam Pusaran Kekuasaan Raja Jawa

Raden Kajoran, ulama yang berhasil menyingkirkan Amangkurat I tetapi dikhianati Adipati Anom, sang  putra mahkota, yang juga cucuya. Ia bersama menantunya Raden Trunojoyo berhasil dilumpuhkan oleh Adipati Anom yang kemudian jadi Amangkurat II, bekat bantuan Belanda.   

Raden Kajoran Ambalik atau Panembahan Mas Ing Kajoran Panembahan Rama, seorang yang kuat bertapa dan berzikir. Ia keturunan keempat Said Kalkum Ing Wotgaleh. Dari garis perempuan, Raden Kajoran merupakan keturunan Kiai Ageng Pandanaran atau Sunan Tembayat atau Sunan Bayat, karena putra Saidkalkum yang bernama Pangeran Maulana alias Agung Mas menikah dengan dua anak perempuan Ki Ageng Pandanaran

Walaupun Raden Kajoran  ulama yang berdarah bangsawan, ia lebih suka tinggal dan bekerja di pedalaman yaitu di  desa Kajoran, yang belum dijamah manusia. Pangeran Kajoran Ambalik tidak hanya membanggakan karena kemasyhuran leluhurnya,  tetapi juga mempunyai sifat-sifat yang luar biasa, bahkan dianggap sakti. Orang Belanda memang memadang sebelah mata terhadap tokoh ini, dengan menyebutnya ‘seorang pemburu iblis atau ‘peramal’ dan ‘nabi kaum iblis’, tetapi penduduk dengan rasa gentar  menyebutnya Panembahan Rama. Yakni Bapak Yang Mulia.   

Desa Kajoran terletak sekitar 4 kilometer sebelah selatan Klaten. Di sana terdapat bekas Dalem keluarga Kajoran yang telah ambruk dan letaknya di atas pekarangan luas yang dikelilingi  pagar. Di dalam Dalem tersebut terdapat sebuah tempat untuk berzikir Kiai Kajoran,  dan sumur buatan leluhurnya yang mengeluarkan air berkhasiat untuk pengobatan. Di sebelah timur Dalem Kajoran terdapat sebuah pemakaman kecil dengan tiga pusara sederhana. Ini adalah makam Kiai Kajoran Ambalik, Riyamenggala, dan Pangeran Bima. Sedangkan 500 meter di sebelah selatan terdapat makam Pangeran Agung ing Kajoran dan masjid kecil yang memiliki serambi besar. Masjid  ini disebut Masjid Air.

Syahdan, masa pemerintahan Sunan Amangkurat I sering diwarnai gesekan  dengan para ulama, terutama sejak terjadi pemberontakan Pangeran Alit (1647). Sunan Amangkurat I mengurangi jumlah ulama yang ada dalam susunan birokrasi Kerajaaan Mataram dan berupaya mempersempit peran mereka sebagai penasehat Keraton,  bahkan kemudian menghapuskannya.

Pada  1670, disebabkan ketidaksetujuan para ulama terhadap kebijakan Amangkurat I yang dinilai melanggar norma, Amangkurat I mengumpulkan para ulama dan keluarganya di alun-alun Plered, kemudian membunuhnya. Di antara yang dibunuh adalah Raden Mas atau Pangeran Aria (kemenakannya), Tumenggung Natairwana atau Kiai Suta, Tumenggung Suranata atau Tumenggung Demak, dan Kiai Ngabehi Wirapatra (Pembunuh Tumenggung Wiraguna). Menurut laporan Van Goens, ada 6.000 ulama dan keluarganya yang dibunuh di Alun-alun Plered.

Dalam situasi Mataram yang kian memburuk itu,  para sentana dan  bupati mendorong Putra Mahkota (Raden Mas Rachmat, kelak Amangkurat II) agar mempermaklumkan dirinya sebagai raja. Di dalam hati Putra Mahkota bergulat antara rasa hormat kepada ayahnya, yang  pernah dua kali meracuninya tapi gagal, dan rasa kasihan kepada  rakyat Mataram yang malang. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tokoh tempat bersembunyi, sebagai ‘tabir’, guna merebut Mataram. Ia pun teringat kakeknya, siapa lagi kalau bukan  Penembahan Rama ing Kajoran. Putra Mahkota menjalin kontak dengan sang Panembahan pada tahun 1670.

Akibat situasi yang terus memburuk, timbulah pergolakan rakyat Mataram yang dipimpin  Kiai Kajoran dan Trunojoyo atas nama Islam, ulama, dan Mataram. Perlawanan tersebut disebabkan oleh beberapa motif. Perlawanan Adipati Anom mempunyai motif perebutan wanita, perlawanan Trunojoyo bermotif politik, dan perlawanan Kiai Kajoran bermotif moral keagamaan. Selain dengan Pangeran Kajoran, Putra Mahkota juga bersekutu dengan Trunojoyo,yang tidak lain adalah menantu Reden Kajoran. Menantu ini amat disayang oleh Raden Kajoran. Sebagai pertapa ia tahu bahwa Raden Trunojoyo akan menjadi pahlawan besar, dan akan mengguncangkan seluruh Tanah Jawa. Karena itu,  kepada Putra Mahkota ia mengatakan bahwa menantunya itu akan menjadi wakilnya yang pantas jika ditempatkan di Madura   

Raden Kajoran berkesimpulan bahwa Amangkurat I harus diturunkan dari tahta. Ia pun   mulai menyusun pasukan yang terdiri dari para santrinya dan rakyat pedesaan. Sementara itu, Trunojoyo  memulai perlawanan dari Jawa Timur untuk mematahkan para bupati yang memihak kepada raja dan bantuan kompeni dari Surabaya. Kiai  Kajoran dibantu Adipati Anom mengadakan perlawanan di Jawa Tengah,  termasuk menyerang Keraton Plered,  dengan membawa pasukan tidak kurang dari 120.000 orang di bawah pimpinan Pangeran Purbaya IV.

Meskipun peperangan ini dimenangkan oleh pihak Kiai Kajoran, akhirnya menimbulkan kekecewaan. Adipati Anom mengingkari persekutuan dan memusuhi Kiai Kajoran. Hal ini disebabkab ia telah diampuni oleh ayahnya dan telah dipersiapkan untuk menggantikan Raja bila wafat. Untuk mengambil alih Mataram yang telah dikuasai  Trunojoyo pasca-pemerintahan Amangkurat I, Adipati Anom atau Amangkurat II meminta bantuan Belanda. Prajurit Trunojoyo dan prajurit Kiai Kajoran dipukul mundur sampai Gunung Kidul.  

Pasukan Trunojoyo terkepung di Gunung Kelud hingga terancam kelaparan. Maka Trunojoyo dan para pengikutnya yang terdiri dari Pangeran Mugatsari, Anggakusuma, dan Ngabehi Wiradersana menyerah pada Belanda dan diserahkan pada Amangkurat II untuk dibunuh. Adapun Kiai Kajoran berhasil ditangkap Belanda di bawah pimpinan J.A. Sloot dan dibunuh pada  14 September 1679.

Bagaimana dengan peran asing dalam berbagai situasi politik di Tanah Air, di zaman post-kolonial ini?  

Sumber:  H.J. De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram (1987)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda