Bintang Zaman

Bung Tomo Sosok Ikonik Perang Surabaya (1)

Written by Iqbal Setyarso

Kampung Blauran, ketika itu masih sebuah kampung kecil di Surabaya. Di situlah, lahir seorang bayi dari keluarga priyayi golongan menengah. Sutomo, bayi itu, anak seorang mantan pegawai pemerintah. Ayahnya, juga pernah menjadi staf perusahaan swasta, asisten kantor pajak, juga pegawai perusahaan ekspor-impor Belanda. Sang ayah, Kartawan Tjiptowidjojo, mengaku punya pertalian darah dengan beberapa pengikut dekat Pangeran Diponegoro.

Sutomo namanya. Kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920. Beliau terkenal karena peranannya dalam Pertempuran 10 November 1945. Ibu Sutomo bernama Subastita, perempuan berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda dan Madura, putri seorang distributor mesin jahit Singer di wilayah Surabaya yang sebelum pindah ke Surabaya pernah jadi polisi kotapraja dan anggota Sarekat Islam. Sutomo, anak sulung dari 6 bersaudara. Adik-adiknya masing-masing bernama Sulastri, Suntari, Gatot Suprapto, Subastuti, dan Hartini.

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta, gejolak perlawanan di daerah-daerah menghadapi pendudukan Jepang dan upaya kembalinya tentara Belanda tak dapat dibendung lagi. Revolusi fisik terjadi serentak di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Lahirlah tokoh-tokoh muda di daerah-daerah tersebut yang bergabung dalam Komite Nasional Indonesia (KNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan lain-lain. Selain KNI dan BKR, organisasi-organisasi aksi berskala lokal berhasil dibentuk pasca Proklamasi Kemerdekaan untuk mengawal jalannya revolusi di Surabaya. Di antaranya adalah organisasi aksi Angkatan Muda dan Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Lewat organisasi yang disebutkan terakhir inilah nama Bung Tomo kian bersinar meskipun ia bukan sebagai pucuk pimpinan. Dalam konteks ini, membaca sejarah revolusi di Surabaya jelas harus melihat perkembangan politik nasional pasca Proklamasi Kemerdekaan yang telah memicu gerakan revolusioner di daerah-daerah (Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta). Revolusi di Surabaya hanyalah sepenggal dari narasi besar “Kebangkitan Pemuda”—meminjam istilah Ben Anderson (1988)—yang bertekad mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Sejarawan MC. Riklefs (2005) menyebut Surabaya sebagai ajang revolusi paling hebat dalam sejarah nasional Indonesia. Pasca Proklamasi Kemerdekaan, pekik “merdeka!” laksana mukjizat yang mampu menyatukan semangat kaum muda untuk bersatu mengusir penjajah dari muka bumi Nusantara.

Jepang belum sepenuhnya menyerah. Rapat raksasa yang digelar kaum muda di lapangan Ikada, Jakarta, pada 11 September masih di bawah pengawasan ketat tentara Jepang. Di Bandung, antara Mayor Jenderal Mabuchi (panglima Jepang di Jawa Barat) dengan R. Puradiredja (Residen Priangan), telah terjadi perjanjian proses penyerahan kekuasaan secara bertahap tanpa melalui pertumpahan darah. Akan tetapi, perjanjian Puradiredja-Mabuchi ini malah dilanggar. Baca Juga  KH Zainal Musthafa: Simbol Perjuangan di Tanah Sunda Transisi Pasca-pendudukan Jepang Mabuchi mengelabuhi petinggi KNI Jawa Barat (Oto Iskandardinata), BKR (R. Soehari), dan Kepolisian Karesidenan (R. Jusuf), sehingga pada tanggal 9 Oktober, Jepang telah melakukan kudeta di Kota Kembang. Insiden kup oleh Jepang di Bandung dan kehadiran tentara Inggris (Sekutu) di Jawa Barat turut mempengaruhi gerakan kaum muda di sekitar Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Hal yang sama juga terjadi di Surabaya ketika pasukan Sekutu yang datang pertama kali ke kota ini justru dari kerajaan Belanda. Sebenarnya, pasukan Jepang di Surabaya di bawah Laksamana Shibata Yaichiro sudah sepenuhnya menyerah. Tetapi kedatangan Pasukan Sekutu (Belanda) di Surabaya di bawah komando Kapten Huijer menjadi pemicu revolusi fisik yang jauh lebih besar. Huijer sendiri membawa misi tersembunyi ingin mengembalikan dominasi pasukan Belanda atas kota Surabaya dengan mengatasnamakan Pasukan Sekutu.

Kapten Huijer telah berhasil memaksa Shibata untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pasukan Sekutu (Belanda). Huijer sendiri melihat Doel Arnowo, ketua KNI Jawa Timur, dan R. Soedirman, Residen Surabaya, dianggap sebagai sosok-sosok yang amat mudah dipengaruhi untuk kerjasama memuluskan kepentingan pasukan Sekutu. Akhirnya, seluruh senjata rampasan dari pasukan Jepang diserahkan kepada Doel Arnowo atas nama KNI. Tetapi dalam prakteknya, KNI Jawa Timur bukanlah organisasi yang solid. Terbukti, sebagian besar senjata rampasan dari pasukan Jepang justru jatuh ke tangan para anggota BKR, kelompok-kelompok muda revolusioner, dan gerombolan-gerombolan yang tidak terorganisir.

Tertarik Propaganda Jepang

Bung Tomo melihat betapa jalan jurnalistik, menjadi cara membangkitkan semangat juang. Karena itulah, Bung Tomo mulai mengirim artikel ke Soeara Oemoem, juga menjadi pengisi kolom tetap di harian Express. Pada tahun 1942, saat Jepang datang ke Indonesia, karir jurnalistik Sutomo pun berhenti. Sutomo  bergabung dengan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun). Propaganda Jepang yang ingin membangun fron kekuatan Asia Timur Raya berhasil menarik Sutomo. Namun, ia kembali ke jurnalistik dan bergabung dengan kantor berita Domei sebagai wartawan.

Di Domei, Sutomo tidak hanya mencari dan menulis berita. Namun ia juga mengikuti latihan baris berbaris dan gerak badan bersama wartawan lain. Hal itu ada konsekuensinya, terjadi pengawasan pemerintah Jepang terhadap arus informasi, sesuatu yang membuat Sutomo merasa kebebasannya terkekang. Kemenangan Jepang menjadi prioritas berita sedangkan kekalahan Jepang tidak disiarkan. Meski demikian, pekerjaan sebagai wartawan memberi Sutomo akses terhadap informasi penting sehingga ia dapat memberikan informasi tersebut ke kelompok pergerakan kemerdekaan.

Proses pergerakan amat dinamis, sampailah pada titik tertentu, pecah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Dan Domei tidak beroperasi. Sutomo lalu mendirikan Kantor Berita Indonesia bersama beberapa rekannya. Pada tanggal 6 Juli 1945, pertemuan Gerakan Rakyat Baru dilaksanakan di Jakarta dengan 15 orang sebagai panitia. Panitia yang ditunjuk antara lain B.M. Diah, Chairul Saleh, Sukarni, dan Anwar Tjokroaminoto. Sutomo adalah satu-satunya pemuda yang berasal dari luar Jakarta. Ia mendapatkan rekomendasi dari Bung Hatta dan Wahid Hasyim.

Ternyata Gerakan Rakyat Baru ini sebenarnya adalah wadah yang dibentuk Jepang untuk meredam gerakan pemuda. Dalam penyusunan tujuan organisasi, Jepang, melalui Soekarno, tidak menyetujui penggunaan kata republik. Saat protes dari para pemuda muncul, Sutomo menjadi salah satu peserta yang naik ke mimbar dan mendebat Soekarno. Intinya, mulai mencuat niat merdeka. Bung Tomo pun sampai mengatakan,” Kita sudah memperoleh kemerdekaan, tapi kenapa rakyat di ibukota terpaksa hidup dalam ketakutan?”

Bung Tomo dan Resolusi Jihad

Kedatangan Bung Tomo ke Jakarta pada Oktober 1945 membangkitkan semangat pemberontakan Bung Tomo. Kondisi yang ia lihat sangat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia melihat bendera Belanda berkibar di markas Jepang dan tentara sekutu lalu lalang di jalanan. Dalam pertemuan dengan Presiden Sukarno, Mohammad Hatta, Menteri Muda Penerangan Ali Sastroamidjojo dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, ia menyampaikan rencananya untuk membuat siaran radio nasional untuk membangkitkan semangat revolusi rakyat.

Namun rencana tersebut ditentang Amir Sjarifuddin karena khawatir siaran tersebut justru akan membuat suasana dalam negeri tidak aman. Amir Sjarifuddin mengusulkan agar ia membuat siaran yang disiarkan ke luar negeri saja untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional dengan nama Voice of the Indonesian Revolt. Meski dilarang, Bung Tomo tetap menjalankan rencananya. Ia berhenti dari Pemuda Republik Indonesia dan membentuk Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Soemarsono sebagai ketua Pemuda Republik Indonesia menentang keputusan Bung Tomo. Namun ia mendapatkan dukungan dari petinggi militer Jawa Timur, Moestopo.

Dengan pemancar dari Moestopo, Bung Tomo memulai Radio Pemberontakan. Radio Pemberontakan pertama kali mengudara pada tanggal 13 Oktober 1945. Kemampuan orasi Bung Tomo berhasil mendorong masyarakat untuk bergabung dengan BPRI hingga anggotanya menembus 3.000 orang.

Setiap hari pada pukul setengah enam sore, Bung Tomo menyampaikan pidatonya yang mampu membangkitkan semangat rakyat. Pidatonya diawali dan diakhiri dengan lagu Tiger Shark karya Peter Hodgkinson. Kemudian pekikan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” menjadi tanda pidato Bung Tomo akan dimulai.

Di sisi lain, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengambil jalan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Hal ini bukanlah tanpa alasan. Minimnya pasokan senjata yang ada di Jakarta membuat pasukan Indonesia tidak berdaya.

Situasi yang berbeda terjadi di Surabaya. Pasokan senjata untuk pasukan dan rakyat Surabaya sangat memadai karena rakyat Surabaya berhasil merampas senjata tentara Jepang dari gudang senjata Jepang di Panti Asuhan Don Bosco September sebelumnya. Dengan pasokan senjata yang memadai, Bung Tomo semakin yakin untuk terus mendorong semangat revolusi rakyat. Radio Pemberontakan tidak hanya disiarkan di Surabaya, namun juga di-relay oleh Radio Republik Indonesia Surabaya, Malang, Solo, dan Yogyakarta.

Di Radio Pemberontakan, tidak hanya Bung Tomo yang menyampaikan orasinya, tetapi juga K’tut Tantri. K’tut Tantri, yang bernama asli Muriel Stuart Walker merupakan warga Negara Amerika Serikat berdarah Skotlandia yang pernah dipenjara Jepang dengan tuduhan mata-mata. Ia ikut memberikan pernyataan penolakan dalam orasinya untuk menanggapi ultimatum tentara Sekutu untuk melucuti senjata rakyat Surabaya. Sayangnya, melalui Radio Pemberontakan jugalah, Bung Tomo beberapa kali tidak sengaja membocorkan informasi para pejuang ke tentara sekutu. Hal ini membuat beberapa tuduhan muncul dan membuat situasi mulai memburuk. Namun Bung Tomo tidak gentar dan terus melanjutkan pidato dan orasinya untuk membangkitkan semangat rakyat. Keberhasilan Bung Tomo dalam melakukan propaganda untuk menggerakkan semangat rakyat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, Bung Tomo sangat menyadari peran media, terutama radio dalam komunikasi massa. Ia berhasil menyadari pentingnya radio perjuangan dan memanfaatkannya dengan baik.

Kedua, tentu saja kemampuan Bung Tomo dalam berorasi. Seperti Bung Karno, ia juga merupakan seorang orator ulung. Terakhir, Bung Tomo berhasil mengajak santri untuk ikut turun ke medan perang dengan mengutip Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945.

Bung Tomo memang dikenal dekat dengan Hasyim Asy’ari pendiri Nahdatul Ulama. Ia dan Jenderal Soedirman memang sering berkunjung ke pondok pesantren Tebuireng. Pekikan takbir yang mengawali dan mengakhiri pidatonya tidak hanya untuk membangkitkan semangat jihad para santri, namun juga menjadi semacam doa dan wirid bagi Bung Tomo. Radio menjadi medium pembangkit semangat, khususnya para santri. Mengutip resolusi jihad Hasyim Asy’ari, Bung Tomo berpidato. Salah satu ucapan terkenal pada 10 November 1945 itu,”Darah pasti banyak mengalir. Jiwa pasti banyak melayang. Tetapi pengorbanan kita ini tidak akan sia-sia, Saudara-saudara. Anak-anak dan cucu-cucu kita di kemudian hari, insya Allah, pasti akan menikmati segala hasil perjuangan kita ini.”

Bung Tomo

Bung Tomo di tengah teman-temannya

Pers dan Siaran Radio: Perang Lain

Pada 1945, publik di luar Indonesia memiliki akses yang sangat terbatas atas akses berita yang independen, terutama saat bulan-bulan awal turbulensi revolusi. Surat kabar berbahasa Belanda kembali muncul pada akhir 1945 dalam kendali penuh pemerintah. Karena Republik Indonesia baru saja diproklamasikan dan belum diketahui oleh bangsa-bangsa lain di dunia, para jurnalis Indonesia pun tidak serta-merta dapat mencapai pembaca dalam skala internasional.

Sebaliknya, bagi kolonial Belanda relatif mudah untuk mempengaruhi pendapat publik. Bagi mereka, prioritas utama adalah meyakinkan dunia internasional (khususnya para sekutu mereka) bahwa mereka berhak “menegakkan kembali hukum dan ketertiban” di kawasan yang disebut sebagai “koloni”. Sebagai contoh, pada saat itu, American United Press yang meliput kejadian di Indonesia nyaris tidak pernah melaporkan pengalaman langsung dari para korespondennya. Mereka tidak mendekati para jurnalis Indonesia, berbeda dengan Belanda yang sudah lama tinggal di Indonesia, para propagandis dengan mudah menciptakan gambaran negatif tentang Gerakan Kemerdekaan Indonesia.

Hanya beberapa tahun sesudahnya, sekitar tahun 1948, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mulai mengkritik kebijakan perang kolonial dari rekan Belanda mereka. Dengan motivasi di baliknya adalah kepentingan untuk menjadi penguasa tak langsung atas kekayaan alam Indonesia. Selain perusahaan Belanda, juga banyak perusahaan Amerika, Australia, dan Inggris yang berusaha mempertahankan akses atas kekayaan alam Indonesia. Nyatanya, Belanda bukan hanya sebagai sekutu, tetapi juga sebagai rival.

Belanda melakukan kampanye fitnah yang mempengaruhi media Inggris dan Amerika. Faktanya, keberadaan Radio Pemberontakan Bung Tomo membawa ancaman tersendiri atas kepentingan Belanda. Dia tidak hanya dibenci karena membakar semangat bangsanya untuk terjun dalam revolusi, tetapi juga ditakuti karena memberikan ruang bagi seorang wanita kulit putih untuk melakukan siaran dalam bahasa Inggris.

Ini berarti bahwa Radio Pemberontakan juga mencapai pendengar di luar orang-orang Indonesia. Nama kawan wanitanya ini tersembunyi dalam banyak nama, di antaranya ‘Ktut Tantri’, Miss Daventry Walker, juga sebutan ‘Surabaya Sue’ saat aktif di corong radio bersama Bung Tomo.

Pada 1945 dia memilih bergabung di pihak Republik yang baru lahir dan menjadi penyiar dari radio Bung Tomo. Radio Pemberontakan ini melakukan counter atas prapaganda Belanda dalam bahasa asing. Hal ini juga membuat frustasi pasukan Inggris yang tengah berupaya menduduki Surabaya. Dalam sebuah artikel bulan April 1946, penulis Indonesia, Idrus Sardi, menuliskan bahwa pasukan Inggris sampai memuat sayembara atas kepala pimpinan BPRI:

Sutomo tersenyum manis saat mendengarkan pengumuman Inggris. Ia tidak pernah menduga bahwa ia memiliki arti yang begitu penting. Ia tertawa lalu berkata kepada Ktut Tantri: ‘seandainya saja Inggris mau membayar seharga itu atas tiap orang Indonesia.’

Tentang Ktut Tantri, Idrus menambahkan: “Miss Daventry adalah seorang jurnalis Amerika. Sekalipun ia seorang wanita asing, ia tidak pernah merasa takut kepada Sutomo yang menyebut Inggris sebagai penjahat.” Namun, berbeda dengan kelakuan Alfred van Sprang, selaku koresponden Belanda. Sprang adalah contoh awal betapa negatifnya citra Sutomo dan Ktut Tantri yang ia tulis dari sudut pandang Belanda. Van Sprang tinggal di Surabaya pada September dan Oktober, memulihkan diri pasca keluarnya dia dari kamp tawanan Jepang. Dia kemudian segera menjadi reporter dari American United Press dan menuliskan dalam bukunya Soekarno Lacht (Senyuman Sukarno, 1946): “Ktut Tantri adalah seorang yang buruk rupa, luar maupun dalam… Jika ia tidak sakit jiwa, dia tentu menderita histeria. Dengan rambut merah, kacamata besar, hidung yang runcing, ia memilih setia kepada Soekarno. Dengan lidahnya yang tajam ia adalah aset propaganda Indonesia yang berharga,” tulis Alfred van Sprang.

Di tangan Sprang, selaku koresponden Belanda – sudah tentu sulit berharap bisa menunjukkan independensi jurnalistiknya, apalagi mengungkap sisi positif dari pimpinan-pimpinan Indonesia seperti Sutomo ini. Dalam sebuah artikel berjudul Terug naar Patria en de Bladen laten verrekken (Kembali ke Patria dan Tinggalkan Kertas-kertas di Belakang, 2005), sejarawan Belanda, Angelie Sens, menggaris bawahi bahwa jurnalis Belanda yang pertama aktif di kawasan itu berada dalam pengawasan langsung rezim kolonial yang sedang sibuk menancapkan kukunya kembali. Surat kabar Belanda Het Dagblad diterbitkan pertama kali pada 23 Oktober 1945, didistribusikan secara gratis dan dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah.

Sejarawan Belanda, Louis Zweers, menulis, dalam studinya, De gecensureerde oorlog; Militairen versus media in Nederlands-Indië 1945-1949 (Perang Sensor; Tentara Melawan Media di Hindia Belanda 1945-1949), dan diterbitkan pada tahun 2013. Menurut Zweers, kebanyakan reporter Belanda jarang sekali meninggalkan hotelnya. Mereka hanya mengunjungi undangan dan konferensi pers dengan mendapatkan sumber informasi dari jalur diplomatik, militer dan pemerintah. Jurnalis Belanda sering dihambat dalam pengecekan fakta. Ia menyimpulkan bahwa output dari para jurnalis pada masa itu dipenuhi dengan propaganda yang membenarkan aksi militer Belanda: “Banyak jurnalis Belanda yang patuh dan menurut… dan banyak surat kabar nasional tak lebih dari corong suara partai politik.” Surat kabar sayap kiri di Belanda yang melakukan tekanan balik atas propaganda, tidak mampu mencapai pembaca dalam jumlah besar dan biasanya dibubarkan dengan tuduhan “kawan dari Soekarno”. Zweers menuliskan: Para komandan pasukan terkadang melarang anggotanya untuk membaca surat kabar Harian maupun Mingguan dari kelompok sayap kiri yang senantiasa mengkritisi kebijakan Belanda di Indonesia (dan bahkan surat kabar mereka tidak didistribusikan di Batavia).

Koresponden Amerika yang terkenal, Martha Gellhorn misalnya, menulis bahwa Bung Tomo adalah pimpinan pemberontak yang haus darah, ia juga menuliskan: “Sekalipun ia bergigi indah, matanya tampak marah dan memiliki tangan seperti cakar. Dari sudut pandangnya, para interniran Belanda yang diungsikan pasukan Indonesia dari Surabaya ke daerah pedalaman dalam keadaan disandera dan diabaikan hingga mati, bukan karena kekejaman tetapi karena ketidak efisienan.” Jurnalis Australia Alan Dower bahkan menyebutkan Bung Tomo bertanggung jawab secara pribadi atas ketegangan dan kekacauan di Indonesia termasuk disanderanya ribuan Belanda dan Indo.

(Bersambung)

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda