Cakrawala

Jadikan Covid-19 Sebagai Musuh Bersama

Written by B.Wiwoho

Masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, ditandai dengan perang ideologi antara dua kelompok. Kelompok pertama adalah Partai Komunis Indonesia beserta para pendukungnya. Sedangkan kelompok kedua, yang berseberangan, adalah penentangnya yang dimotori oleh para budayawan  yang tergabung dalam Manifesto Kebudayaan, para wartawan dan politisi yang bergerak dalam Barisan Pendukung Soekarnoisme serta TNI AD yang antara lain  membentuk Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia  (SOKSI). SOKSI adalah organisasi buruh atau pekerja yang didirikan untuk mengimbangi keberadaan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) – PKI.

Kelompok pertama yang pro komunis,  dikenal sebagai golongan kiri –  yang menyebut dirinya progresif revolusioner, Pancasilais  sejati. Aku Pancasila. Lawannya disebut kanan, reaksioner, kontrarevolusioner dan  anti-Pancasila. Meskipun terjadi pembelahan antara komunis yang mengaku Pancasilais sejati yang progresif revolusioner, dan lawannya yang kontrarevolusioner, namun pembelahan itu tidak diwarnai dengan masalah identitas bernuansa SARA (Suku-Agama-Ras dan Antargolongan).

Namun demikian tatkala situasi itu  memuncak menjadi peristiwa yang kita kenal sebagai G30S, yang berujung pada berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan munculnya kekuasaan Orde Baru, pembelahan ideologi yang sebelumnya disertai dengan aksi-aksi sepihak dan teror, mengobarkan dendam yang menimbulkan dampak nan tak terperikan di antara sesama anak bangsa, yang masih dirasakan sampai sekarang.

Sampai sekarang tak ada angka yang pasti tentang korban jiwa dari para anggota partai komunis dan simpatisannya akibat ledakan pembelahan ideologi tersebut. Puluhan ribukah, atau jutaan? Banyak versi banyak angka. Tak jelas.

Kini, 46 tahun kemudian, suasana pembelahan kembali terasa menerpa kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tanda dan gejala faktual, bisa dilihat dari data-data formulir C-1 hasil Pilpres 2019 yang mengindikasikan di daerah-daerah pemukiman dengan mayoritas SARA tertentu, mayoritas atau secara mutlak memilih Capres tertentu. Demikian pula wilayah dan daerah dengan suku tertentu atau mayoritas agama tertentu yang lain, memilih Capres tertentu yang lain lagi.

Hal tersebut sangat memprihatinkan mengingat tidak hanya terjadi di satu dua komunitas pemukiman dan di satu dua daerah, melainkan di sejumlah pemukiman dan propinsi. Ironisnya, hal itu terus dibumbui dengan ujaran-ujaran kebencian yang berlangsung masif di berbagai media sosial, yang sudah mulai  berkembang sebelumnya, yakni semenjak masa kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2016.

Dengan kadar yang semakin meningkat,  masyarakat Indonesia berubah membelah menjadi kelompok-kelompok masyarakat yang senang saling menyebut kelompok yang tidak sejalan dengan sebutan binatang seperti cebong, kampret, kadrun alias kadal gurun, bani bipang dan bani kadrun serta  berbagai jenis binatang atau penamaan buruk lainnya. Sebutan disertai ujaran kebencian tersebut hampir setiap saat mengisi berbagai media sosial termasuk grup-grup WhatsApp Massenger (WA), twitter dan instagram yang sedang digemari masyarakat luas , melibatkan para cerdik pandai sampai masyarakat awam.                                                         

Padahal selama ini kita menepuk diri sebagai bangsa yang berbudaya adiluhung, berbudaya luhur, yang mengenal kalimat bijak yang menyatakan,  “hati-hati dengan kata-kata, karena perkataan sejatinya adalah doa”. Orang-orang tua dulu bahkan menambahkan, karena kata-kata buruk akan diaminkan oleh setan, dan dicatat malaikat. Sebutan binatang terhadap makhluk yang diciptakan Allah sebagai manusia, secara keimanan adalah melawan Sang Pencipta.                                                           

Indonesia semenjak Era Reformasi sedang hendak dirobek-robek oleh politik identitas yang diwarnai berbagai pembelahan SARA, upaya penguasaan asing mengulang jejak penjajahan Belanda/Portugis dengan alasan bisnis seperti pada abad 16 yang silam,  ditambah kenyataan adanya kesenjangan dan ketidakadilan yang sangat menyolok,  berpilin, berkelindan satu sama lain, dengan jargon-jargon dan ujaran kebencian, pembelahan,  radikalisme, kadrun, cebong, kampret dan sejenisnya.

Dari berbagai jejak digital, kita bisa menemukan banyak orang yang dengan bangga sering mengusung isu-isu tersebut. Mengecap orang yang tak sejalan dengan stempel-stempel pengelompokan. Dengan dukungan buzzer masing-masing  yang terus mendengung, pembelahan pun makin mengental. Ada Islam vs non Islam, ada Islam radikal vs Islam wasathiyah, ada pribumi – nonpribumi, ada cebong versus kampret, dan sekarang ada kadrun (katak dungu turun-temurun) vs kadrun (kadal gurun), ada goodbener vs gakbener dan seterusnya. Semua saling menghinakan, saling menafikan kebaikan yang lain, saling menghujat dan merendahkan. Orang Jawa bilang, entek amek kurang golek. Cari terus kejelekan orang-orang yang tak sejalan, yang tak sealiran, yang tak satu golongan. Jiwa kesatria yang secara jujur mengakui kelebihan  lawan serta kekurangan diri atau kelompok sendiri bukan saja luntur tapi nyaris lenyap. Reformasi telah banyak diwarnai secara bebas lepas  oleh hawa nafsu dan dahaga  pesona dunia, yang tak peduli dengan tata nilai dan kebersamaan dalam kebhinekaan.

Di tengah suasana politik identitas yang membelah masyarakat itu, semenjak akhir  2019, dunia termasuk Indonesia dilanda pandemi virus Corona yang dahsyat. Corona atau Covid-19 terbukti telah mengguncang berbagai sektor kehidupan, sehingga keadaan semakin berat dan ruwet saling berkelindan.

Maka berlangsunglah apa yang dikenal sebagai VUCA yaitu Volatile, Uncertain, Complex dan  Ambigu.  Labil – mudah berubah, tidak menentu, kompleks – ruwet  dan tidak jelas. Istilah ini populer pada  1990an, menggambarkan lingkungan kehidupan yang labil, bergejolak, kompleks dan penuh ketidakpastian, sehingga jika salah menganalisa dan mengantisipasi, bisa berakibat fatal.

Dalam situasi yang seperti itu, ada beberapa indikator dan kecenderungan penting lainnya yang perlu diantisipasi yaitu: Pertama, sumber-sumber keuangan dan perekonomian yang semakin mengering. Aktivitas bisnis terutama sektor riil, pariwisata dan transportasi turun drastis bahkan banyak yang berhenti total, kecuali sektor pertanian terutama pangan, farmasi serta bisnis internet dan komunikasi.  Sektor-sektor perekonomian yang melesu, akan memperbesar pengangguran, sementara daya beli masyarakat menurun terutama pada kelas menengah yang menipis tabungannya serta kelas di bawahnya dan yang kehilangan pekerjaan.

Kedua, wabah Covid-19 bukannya surut tapi bahkan melejit.  Setiap hari Pemerintah mengumumkan perkembangan terbaru kasus Covid-19, yang pada 9 Agustus 2021 ini telah menelan korban jiwa sebanyak 108.571.

Bibit-bibit pembelahan bangsa yang berkembang dalam sikon VUCA dengan indikator-indikator yang saling terkait tersebut, apabila tidak bisa segera diatasi, akan mudah menyulut kobaran sosial politik dalam ladang rumput ilalang yang semakin mengering. Semoga kita cepat tanggap, lagi sigap dan tepat mengantisipasinya, dengan mencabut sampai ke akar-akar bibit pembelahan dan membasminya habis,  serta memanfaatkan pandemi (kali ini Covid-19) yang dalam sejarah telah menunjukkan bisa menghancurkan peradaban sesuatu bangsa, serta menggalang persatuan segenap anak bangsa dengan menjadikan Covid-19 sebagai musuh bersama. Semoga.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda