Adab Rasul

Pemimpin adalah Pelayan

Written by Panji Masyarakat

Jika orang-orang berbicara di belakang punggungnya, Nabi membalikkan seluruh badannya. Bukan hanya menoleh untuk menyambut pembicaraan orang itu. Banyak pula orang yang berteriak di luar rumah beliau, berbicara ini dan itu, Nabi menyambutnya dengan antusias yang sama dari dalam rumahnya, meski belakangan Allah melarang berkomunikasi dengan cara demikian. Begitu pula ketika Rasul menerima pemberian 3.000 ekor unta dari jamaahnya, serta merta Nabi membagikan binatang ini kepada umatnya tanpa tersisa seekor pun.

Begitulah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW berperilaku sehari-hari. Senantiasa menyantuni umatnya dalam keadaan ada maupun tiada, dalam keadaan maupun susah.

Sifat pelayanan Nabi sebagai seorang pemimpin yang seharusnya diteladani para elite politik, sudah lama lenyap dari kepribadian pemimpin kita. Yang ada adalah sifat kebalikannya. Para pemimpin kita justru meminta rakyatnya untuk melayani mereka. Hal itu tampak di pelbagai bidang pemerintahan. Seorang pemimpin yang seharusnya mampu mendatangkan keadilan, kemakmuran, kebenaran, justru membuat keadilan makin langka, kemakmuran makin menjauh, dan kebenaran berada di awan-gemawan.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa menjadi pelayan, jika sifat-sifat berbakti kepada rakyat ia buang dari sanubarinya atau tidak dimilikinya. Yang paling mencolok adalah kegagalan pemimpin di dalam usaha pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari rakyat. Jika hal yang sederhana itu saja sudah sulit dilaksanakan, apalagi yang bisa diharapkan dari seorang pemimpin? Pelayanan akan semakin jauh panggang dari api. Sifat-sifat pelayanan itu sebenarnya muncul dengan sendirinya ketika seorang pemimpin  memegang tampuk kepemimpinan. Kedermawanan, berwatak samudera, tak menjadi miskin karena banyak memberi, kata-kata mutiara semacam itu tidak boleh disandang oleh seorang pemimpin karena memang pelayanan itu tugas dan kewajibannya terhadap rakyatnya.

Pemimpin yang menyerahkan jiwa raganya bagi pengabdiannya, yang memenuhi jerit-tangis kebutuhan rakyatnya. Pemimpin yang paling awal lapar dan paling awal miskin. Pemimpin yang mengembalikan kedaulatan rakyat ke “istana merdeka”-nya, sementara ia gentayangan melihat, mendengar, dan merasakan pahit getir bersama rakyatnya, pemimpin demikian yang diharapkan negeri ini.

Penulis: Danarto (sastrawan, 1941-2018). Sumber: Majalah Panjimas, Agustus 2003.   

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda