Tafsir

Tafsir Tematik: Bencana dan Kemampuan Prediksi (3)

Written by Panji Masyarakat

Dan peliharalah diri kalian dari bencana yang tidak sekali-sekali hanya akan menimpa orang-orang kamu yang aniaya. Ketahuilah bahwa Allah keras dalam hal siksa (Q. 3: 25).

Mengenai huru-hara di masa Utsman , berkata Rasyid Ridha: “Andai saja mereka (para sahabat senior; pen) sudah memprediksinya lebih dulu, seperti Abu Bakr r.a. mengantisipasi (pengaruh) gerakan kemurtadan, tidak akan ia (kasus Utsman) menjadi fitnah lain, yang menyebabkan umat muslimin selalu berada dalam musibah dan azab.” (Rasyid, IX: 639). Gerakan kemurtadan yang disebut Rasyid itu muncul begitu Rasulullah s.a.w. wafat – cukup kuat untuk membuat bahkan Umar r.a. yang perkasa itu meragukan efektivitas tindakan Abu Bakr, sebagai pengganti Nabi, yang memutuskan memerangi mereka.

Toh Abu Bakr – tokoh yang diberitakan paling mengenal silsilah, budaya dan berbagai tabiat suku-suku Arab – lebih berpihak kepada masa depan untuk bersedia menempuh jalan lain, katakanlah misalnya “negosiasi”, yang justru akan bisa berarti pemecah-mecahan kekuatan besar Islam yang pertama. Dalam hal prediksi terhadap berbagai kebijaksanaan Khalifah Utsman, Rasyid hanya tidak mencantumkan tindakan Aisyah yang lebih dari satu kali terutama mengingatkan Khalifah terhadap para birokratnya. Tetapi prediksi yang diharapkan Rasyid memang kewaspadaan. Dan karena itu usaha menangkis, dengan kuat, semua tindakan yang akan memunculkan fitnah  di belakang hari.

Sama dengan, misalnya, usaha menghalangi Soeharto dari berbagai kebijaksanaan serupa, idealnya oleh para ulama yang dalam kasus kita kemarin malahan lebih memilih “cap Islam” yang diperagakan Presiden daripada keadilan sosial dan kebenaran. Padahal, bukan ism, kata orang, tapi musamma. Bukan nama, yang mestinya dicari, tapi hakikat yang diberi nama. (Tetapi seorang tokoh, yang kemudian menjadi menteri sebentar dalam kabinet terakhir Soeharto, menyatakan kepada penulis ini: silakan “menyerang” siapa saja, asal bukan Pak Harto, keluarga dan “orang kesayangan”-nya. Sebab, katanya, yang sekarang ini sudah bagus. Jangan sampai kita ‘diseimbangkan’ lagi dengan ‘mereka’ – seperti di zaman Benny Moerdani”). Dan terjadilah semua yang terjadi.  Wallahul Musta’an.

“Dan peliharalah diri kalian dari bencana perseteruan besar – seperti yang terjadi di Ambon, di Kupang, di Ketapang, Jakarta, di Sambas, Kalimantan Barat, dan semua kerusuhan dan penculikan dan pembantaian dan kekerasan tentara dan pembumihangusan di kota-kota dan berbagai tempat tanah air kalian —  yang tidak sekali-sekali hanya akan menimpa  para pelaku dan sumber malapetaka di antara kamu. Katakanlah bahwa Allah – karena keteledoran kamu dahulu untuk menanggulanginya secara dini — keras sekali dalam hal siksa.” Demikian  Q. 3: 25 kita jabarkan ke dalam situasi Indonesia di awal tahun terakhir abad ke-20 Masehi.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).Sumber: Panji Masyarakat, 10 Maret 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda