Aktualita

Lakon 2 Triliun dan Kewaspadaan Iman

Written by Arfendi Arif

Jika ada yang menjanjikan bantuan di tengah  suasana hidup yang sulit, tidak bisa dibayangkan rasa syukur dan terima kasih yang teramat dalam. Apalagi gelontoran dana dalam jumlah teramat besar, triliunan rupiah. Siapapun pastilah berdecak kagum.

Indonesia di tengah pandemi Covid 19 membutuhkan dana yang tidak kecil untuk mengatasi dampak virus asal Cina tersebut. Dalam kegalauan tersebut seorang  pengusaha keturunan yaitu Akidi Tio berasal dari Aceh Timur memberikan donasi  yang cukup fantastis Rp 2 triliun.

Akidi Tio sendiri sudah almarhum 12 tahun lalu. Kelahiran Langsa ini memang besar dan bermukim di Palembang. Ia menganggap itu tanah kelahirannya, dan juga dimakamkan di kota mpek-mpek itu. Sebagai wujud rasa terima kasihnya,  pengusaha yang sudah almarhum ini melalui  puteri bungsunya, Heriyanti dan dokter keluarga Prof. dr. Hardi Darmawan, memberikan dermanya untuk mengatasi korban virus Covid 19 bagi warga Palembang. Karena itu acara simbolis pemberian bantuan Rp 2 triliun itu disaksikan gubernur Sumsel Herman Deru, Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri, dan lainnya  Tentu saja mereka semua takjub dengan hibah yang tujuannya amat mulia tersebut.

Acara itu diekspose banyak  media, mendapat liputan luar biasa. Pujian dan sanjungan bermunculan. Namun, belakangan kegembiraan dan respek itu hancur berantakan. Sebab, ketika dana yang jumlahnya aduhai tersebut ternyata tidak nyata, jumlahnya tidak mencapai angka tersebut. Berapa sesungguhnya kocek yang ada, tidak diungkapkan ke publik. Namun, masalah ini kemudian  menjadi serius dan berurusan secara hujum. Sebab, pihak kepolisian kemudian memanggil ahli waris Akidi Tio, yaitu anaknya Heriyanti dan dokter keluarganya. Dengan sangkaan membuat kebohongan, dan bisa saja ditersangkakan.

Belakangan kasus ini menjadi berbalik arah, awalnya mereka  disanjung dan dipuja, kini mereka dicemooh dan menjadi berita yang membawa aroma negatif dan tidak sedap. Serentetan pertanyaan muncul dari kasus yang cukup menggelikan ini. Apa sesungguhnya yang terjadi? Tentu pertanyaan tersebut bukan saja terarah pada keluarga Akidi Tio, tetapi juga kepada kepolisian sebagai penegak hukum, pada pejabat  pemerintah dalam hal ini Pemda Sumsel, dunia media yang mengekspose dan masyarakat umumnya.

Begitu dana yang ada di rekening dan bank tidak sesuai janji Rp 2 T, berbagai analisa muncul dalam pemberitaan. Beberapa tokoh penting pun ikut nimbrung bicara dan memunculkan banyak dugaan dan spekulasi. Di antaranya kemungkinan penyumbang mencari popularitas, keluarga almarhum tersangkut utang, adanya kemungkinan dana itu tersimpan di luar negeri, mencari backing untuk  perlindungan dan lainnya. Kita memang sudah terbiasa jika ada sesuatu yang terkait dengan kedermawanan, keuntungan, kemudahan lalu cepat percaya. Bukan satu kali ini saja kasus sejenis ini terjadi. Kasus penggandaan uang, kemudahan umroh, investasi dengan iming-iming keuntungan dan banyak lainnya. Biasanya, hal ini manis di awal, di tengah perjalanan atau di ujungnya muncul drama yang menyedihkan.

Biasanya pada kasus yang bersifat iming-iming, kemudahan, menjanjikan keuntungan, yang mudah tergiur dan dirugikan adalah masyarakat, tetapi pada kasus Rp 2 T ini yang kena prank adalah pemerintah, tepatnya institusi kepolisian di daerah atau polda. Memang tidak ada kerugian yang bersifat materi dalam kasus hibah 2 T ini. Yang harus dibayar mahal karena keterkecohan ini adalah publik bertanya mengenai akurasi kepolisian dalam menyampaikan sebuah kebijakan.

Mengapa terlalu dini menyampaikan ke masyarakat mengenai seseorang yang akan melakukan donasi amal dengan jumlah yang menakjubkan itu . Apakah tidak diseleksi dan dicermati dengan baik bahwa nilai dan nominal uang itu memang ada, kongkrit dan nyata. Jika ini dilakukan, tentu tidak muncul cerita yang menghebohkan itu.

Sebenarnya, bagi polisi tentu tidak sulit untuk melakukan pendalaman masalah ini. Bukankah polisi sudah terbiasa bekerja dengan SOP yang ketat dan cermat untuk menghasilkan kerja yang baik.

Barangkali ini yang luput dilakukan polisi, kemungkinan bahwa perkara ini dianggap masalah filantropis dan kegiatan amal, polisi mengabaikan sikap waspada, kecermatan sistem SOP-nya sehingga keteledoran ini berbuah kegaduhan. Kisah ini tampaknya tidak selesai begitu saja. Ada persoalan hukum yang agaknya berlanjut ke depan,  bagi keluarga Akidi Tio, terutama anaknya yang sudah dipanggil jadi saksi, belakangan berhalangan hadir dengan alasan sakit. Sedangkan pihak kepolisian atau polda Sulsel juga diminta keterangan insitusi atasannya    Bagi pers juga  ikut “tertampar” dengan memuat berita, yang ternyata, prank atau lelucon.

Iman dan Kewaspadaan

Adakah kiat Islam dalam menghadapi suatu kejadian  yang luar biasa, mengejutkan dan tidak terduga. Mungkin penuturan ini tidak persis sama dengan kasus hibah Rp 2 T di atas. Namun, prinsip dan sikap dasarnya bisa ditarik pelajaran dan iktibar yang berharga.

Dikisahkan ketika Nabi Muhammad meninggal dunia orang yang paling terpukul adalah Umar bin Khattab, sahabat Nabi dan khalifah ur-Rasyidin kedua. Ketika dikabarkan bahwa Nabi wafat ia langsung naik pitam dan menghunus pedangnya. Ia mengancam akan membunuh orang yang berani mengatakan nabi wafat. Tampaknya, Umar bin Khattab belum siap menerima kenyataan itu. Sikap cintanya kepada Nabi hampir saja ia mengingkari kenyataan yang sesungguhnya. Dalam situasi tersebut tampillah Abu Bakar, sahabat utama dan pendamping Nabi yang paling setia. Menenangkan Umar bin Khattab dan juga kaum muslimin lainnya.   Abu Bakar membacakan ayat Al-Quran (Ali Imran: 144),” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang  rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang menjadi  murtad ?”.

Kalam Allah yang dibacakan Abu Bakar membuat Umat bin Khattab dan kaum muslimin lainnya tersentak sadar. Kalaulah rasa cinta yang mendalam kepada junjungan Nabi menutupi iman mereka , tidak bisa dibayangkan buat resiko aqidah mereka yang tergelincir. Sebab, pada kenyataannya setelah Nabi wafat beberapa gelintir umat Islam pada waktu itu ada yang menempuh jalan menyimpang di antaranya mengaku sebagai nabi palsu dan menolak membayar zakat.

Kata kunci dalam episode kisah di atas adalah dalam Islam bahwa jika kita selalu merasa dekat dengan Allah berikut penghayatan iman dan ibadah yang kuat, maka tidaklah mudah terpesona maupun takjub dengan drama kehidupan duniawi, meski ada kejadian, perbuatan, sikap  maupun lakon kehidupan yang gemerlap, wah dan menakjubkan di pentas kehidupan ini.

Al-Quran sudah mengingatkan bahwa kehidupan ini hanyalah permainan dan sendau gurau. Yang ditekankan adalah ada kehidupan lain yang hakiki, kekal dan abadi. Dunia adalah ladang untuk beribadah dan beramal shaleh, meraih kehidupan bahagia di akhirat.

Dengan begitu hadirnya Iman mengontrol drama sendau gurau dan perilaku kehidupan ini agar tidak terjebak dan keluar dari logika akal sehat dan melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya.  Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda