Bintang Zaman

Roeslan Abdulgani : Usia Sepuhnya Meninggalkan Kemaslahatan

Written by Iqbal Setyarso

Usianya melebihi masa kepemimpinan sejumlah presiden. Presiden terakhir yang dia kecap masa kepemimpinannya, SBY (atau Susilo Bambang Yodhoyono). Roeslan Abdulgani, dikenal sebagai negarawan dan politikus.   Menteri Luar Negeri era Presiden Soekarno ini meninggal pada 2005 dalam  usia 91 tahun. Jenazahnya  dimakamkan di Taman Makam Pahlaman Kalibata, Jakarta Selatan. Apa warisan hidupnya bagi bangsa?

Karier Roeslan Abdulgani begitu moncer. Roeslan yang pernah terlibat pertempuran 10 November 1945, ketika Sekutu menghadapi Arek-arek Soroboyo, pada sebuah serangan sampai kehilangan tiga jarinya dihajar mitraliur Sekutu. Saat itu, Roeslan mendapat mandat sebagai Sekretaris Jenderal Menteri Penerangan (1947-1954), iapun terpaksa menyingkir dari Surabaya menuju Malang. Usai Agresi Militer kedua, tepatnya saat kedaulatan pindah dari Yogyakarta ke Jakarta, ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1954-1956. Setelah menjadi Sekjen Departemen Luar Negeri, ia kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957). Pada 1962-1966, kembali Cak Roes didaulat menjadi Menteri Penerangan, dan menjadi Perdana Menteri pada 1966-1967.

Kepercayaan Zaman Bung Karno

Cak Roes selalu memperoleh amanah untuk berperan strategis negeri ini. Orientasi kebijakan Indonesia pada saat itu adalah mempertahankan kedaulatan dan membentuk otoritas negara itu sendiri, sambil menata kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sukarno sebagai aktor sentral (dalam hal ini berperan sebagai seorang presiden) berusaha memainkan peranannya sebagai seorang nasionalis sejati yang mempertahankan keutuhan bangsa dan negaranya. Pada fase itu, Roeslan Abdulgani mengekspresikan dirinya sebagai pembantu setia Soekarno.

Selama masa kepemimpinan Soekarno (1945-1965), politik luar negeri Indonesia high profile, flamboyan dan heroik, dipadu sikap antiimperialisme dan kolonialisme serta konfrontatif. Sehingga, gaya leadership Soekarno cenderung revolusioner. Tak heran, Indonesia era Soekarno diasosiasikan dengan kelompok negara-negara komunis. Kedekatannya dengan para pemimpin negara komunis menyebabkan kebijakan yang diterapkan pada masa itu terkesan mendekati garis kiri. Soekarno memiliki agenda politik luas yang mencakup gagasan-gagasan kiri, terkenal masa pemerintahan itu Soekarno membawa Indonesia pada aliran arah kiri dengan Poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Pyongyang-Peking yang beliau buat.

Konsekuensinya, Indonesia berada dalam posisi yang aneh di kalangan negara-negara Barat. Puncaknya adalah keluarnya Indonesia dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, Soekarno sendiri menyatakan bahwa dirinya bukan seorang komunis. Kedekatan Indonesia dengan negara-negara komunis pada saat itu ternyata mempengaruhi agresivitas politik luar negeri Indonesia. Hal ini tidak lepas dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pola pembentukan kebijakan pelaksanaan politik luar negeri.

Soekarno menjadi tokoh andalan Indonesia dalam forum internasional, bahkan karena hal tersebut, Soekarno juga dinobatkan sebagai “Presiden Seumur Hidup” oleh rakyat Indonesia. Sentralisasi peran Soekarno ini juga yang akhirnya mendorong beliau melakukan pendekatan-pendekatan “terpimpin” hingga akhirnya terbentuk Demokrasi Terpimpin Pancasila yang menggantikan Demokrasi Parlementer RIS. Pada masa pemerintahan Soekarno, Indonesia telah memprakarsai dan mengambil sejumlah kebijakan luar negeri yang sangat penting dan monumental, seperti Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia Afrika, Konferensi Irian barat dan Malaysia, dan politik poros-porosan Jakarta-Peking-Hanoi-Phnom Penh-Pyong Yang.

Kedekatan Roeslan dengan Bung Karno, menorehkan tersendiri. Sejarah mencatat kisah seorang perempuan yang sempat ditengarai intel CIA. Pada suatu kesempatan, saat itu Roeslan Abdulgani mendampingi Bung Karno yang mengunjungi Mesir (enam kali Bung Karno ke Mesir), pada tahun 1965 (terakhir). Di hotel tempat Bung Karno menginap, Roeslan didekati seseorang. Diceritakan dalam buku Tokoh Segala Zaman yang ditulis Casper Schuuring, jurnalis Belanda. Roeslan bilang kepada Casper,“Soekarno yang memang mata keranjang menanyakan kepada saya, siapa wanita itu?” Lalu Bung Karno meneruskan, “Biarkan dia datang.” kata Soekarno. Perempuan itu mengatakan kepada Soekarno bahwa dia ingin melakukan penelitian dan menulis buku tentang Indonesia. Dia meminta bantuan Soekarno agar bisa ke Indonesia. Menteri Urusan Luar Negeri Pakistan, Ali Bhutto, yang mendengar permintaan perempuan itu, mengingatkan, “Berhati-hatilah, Bung Karno!”

Soekarno memenuhi permintaan perempuan itu. Dia mengatur agar perempuan itu bisa ke Indonesia. Dia menyambutnya di Istana Merdeka dan memberinya seorang pembantu perempuan untuk menemaninya ke mana-mana. Waktu berlalu, Roeslan pun tak memikirkan soal perempuan itu. Pada tahun 1971, Roeslan bertemu sosiolog W.F. Wertheim di Belanda. Dia mengatakan kepada Roeslan bahwa orang-orang di sekeliling Soekarno telah disusupi CIA. “Juga seorang wanita Amerika, Pat Price disebut,” kata Roeslan. “Saya mengenalnya di Kairo ketika Soekarno mengunjungi Nasser.” Wertheim bertanya pada Roeslan, “Siapa wanita itu? Bagaimana dia berhasil bertemu dengan Soekarno, apakah dapat dilakukan segampang itu, apakah CIA berada di belakang ini semua?”

Penjelasan Cak Roeslan, “Mengenai apa yang dikemukakan itu saya hanya dapat ketawa saja.” Roeslan menyebut Pat Price adalah anak seorang pengusaha minyak yang menikah dengan seorang wartawan Australia. “Pat Price juga ingin sekolah di Indonesia dan saya mengundangnya,” kata Roeslan. “Dia memang benar kuliah dan saya beberapa kali menemaninya dalam pertemuan dengan Soekarno.” Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa, menyaksikan kehadiran Pat Price di Istana Merdeka. “Di Istana Merdeka, pada suatu hari kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik dari Amerika Serikat. Gadis cantik ini beraudiensi untuk bisa menghadap Bung Karno,” kata Mangil dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967. Setelah menghadap Soekarno, kata Mangil, hampir setiap hari gadis cantik itu ikut ngobrol dengan para tamu yang setiap pagi menemani Soekarno minum kopi di serambi sebelah belakang Istana Merdeka. Soekarno mengizinkan Pat Price bergaul dan berteman dengan putra-putrinya. Dia belajar menari dan lain-lain. “Gadis cantik dari negara Amerika ini dapat keluar masuk istana dengan leluasa,” kata Mangil.

Masih cerita tentang perempuan Amerika itu. Dari cerita Mangil, Presiden Ayub Khan bertanya apakah di istana ada seorang gadis cantik dari Amerika Serikat?

“Ya, memang ada. Dia kawan anak-anakku,” kata Soekarno.

“Apakah Bung Karno tahu betul, siapa gadis cantik itu sebenarnya?” tanya Ayub Khan.

“Ya, saya tahu, dia anak baik-baik, ingin belajar menari, menyanyi dan berkesenian di Jakarta,” jawab Sukarno.

Ayub Khan tersenyum. “Hai, Bung Karno, saya mendapat informasi dari intel saya di Pakistan. Saya belum kenal, apalagi melihatnya, tetapi saya tahu bahwa dia anggota CIA. Sedangkan Bung Karno yang sudah melihat dari dekat dan sudah kenal dengan baik, tapi belum tahu siapa dia sesungguhnya. Gadis cantik tersebut justru sudah dikenal oleh intel Pakistan sebagai anggota CIA.” Menurut Mangil, Soekarno merasa heran begitu hebatnya dinas intelijen Pakistan dan begitu baik hati Presiden Ayub Khan yang bersedia memberikan keterangan yang sangat berharga itu.

Soekarno sendiri mengatakan kepada sahabatnya, wartawan Belanda Willem Oltmans, bahwa “Beberapa bulan kemudian saya mendapat laporan dari dinas rahasia kami. Nona Price, gadis yang manis dan agak genit itu ternyata agen CIA.” Mengetahui hal itu, Soekarno pun merasa kesal. “Ke mana-mana dia memanfaatkan nama saya, dan surat pengantar dari saya, dan menyalahgunakan bantuan saya dan keramahan kami sebagai tuan rumah, karena sebenarnya dia adalah mata-mata yang tidak sopan dan tidak beradab.”

“Apa yang meyakinkan dinas rahasia Indonesia bahwa gadis ini bekerja secara khusus untuk CIA,” tanya Oltmans dalam Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?

Soekarno menjelaskan, anggota dinas rahasia membuntuti Pat Price dengan hati-hati. Dia mengatur pertemuan dengan agen Amerika Serikat lainnya di tengah malam. Dia sering menemui para anggota Kedutaan Besar Amerika Serikat pada saat-saat yang tidak biasa dan di tempat-tempat yang tidak biasa pula.

“Yang terutama menarik perhatian kami adalah beberapa kali pertemuan terselubungnya dengan atase militer Amerika Serikat,” kata Soekarno. Bung Karno melanjutkan,“Dia bahkan berhasil masuk ke lingkungan tertinggi kemiliteran kami. Gadis Amerika Serikat itu diusir dari Istana dan juga dari Indonesia.”cerita Mangil. Berhasil masuknya agen CIA ke istana membuat Soekarno mendamprat, “Intel kita kebobolan, Tjakrabirawa kebobolan!”

Ideolog Pemerintahan Soeharto

“Titik ekstrim” yang harus dialami Cak Roeslan adalah, peralihan kekuasaan saat Soeharto berkuasa. Soeharto mendayagunakan posisi Roeslan Abdulgani dengan menjadikannya Team penasehat Presiden tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, yang pernah Roeslan ikut menentukan ukuran bagi berhasil atau tidaknya penataran P4 yang dilakukan selama masa itu. Roeslan “banting stir”, dari orang kepercayaan Soekarno, menjadi ‘ideolog’ pada masa Soeharto berkuasa. Saat memimpin Indonesia, Letnan Jenderal Soeharto pertama kali melakukan langkah stabilitasi. Gagasan sosialisasi pemahaman Pancasila disampaikan oleh Presiden Soeharto pada acara Hari Ulang Tahun ke-25 Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, 19 Desember 1974. Kemudian dalam pidatonya menjelang pembukaan Kongres Nasional Pramuka pada 12 Agustus 1976, di Jakarta, Presiden Soeharto menyerukan kepada seluruh rakyat agar berikrar pada diri sendiri mewujudkan Pancasila dan mengajukan Eka Prasetya Pancakarsa bagi ikrar tersebut. Gagasan yang disampaikan oleh Presiden Soeharto ini memulai dibentuknya sebuah penyusunan pedoman yang akan dikenal sebagai P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Poin penting Eka Prasetya Pancakarsa:

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghargai orang lain yang berlainan agama/kepercayaan;
  2. Mencintai sesama manusia dengan selalu ingat kepada orang lain, tidak sewenang-wenang;
  3. Mencintai tanah air, menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi;
  4. Demokratis dan patuh pada putusan rakyat yang sah;
  5. Suka menolong orang lain, sehingga dapat meningkatkan kemampuan orang lain.

Kelima poin itu, selanjutnya diturunkan ke dalam P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), yang disahkan dalam Tap MPR dan dilaksanakan, selanjutnya ORSOSPOL (Organisasi Sosial Politik) yang diseragamkan dalam arti harus mau menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas partai dan organisasi (“Asas Tunggal”). Gagasan Asas Tunggal ini disampaikan oleh Presiden Soeharto dalam pidato pembukaan Rapat Pimpinan ABRI (Rapim ABRI), di Pekanbaru, Riau, tanggal 27 Maret 1980 dan dilontarkan kembali pada acara ulang tahun Korps Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha) di Cijantung, Jakarta 16 April 1980. Pemenjarakan atau pencekalan tokoh-tokoh pengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru, mendominasi ’warna politik’ ketika itu. Roeslan mendapat posisi powerfull sebagai ‘penerjemah pemerintah Orde Baru.’

Awal masa pemerintahan Soeharto, Indonesia masih fokus pada pembangunan sektor ekonomi. Keterikatan pada pola-pola ekonomi maupun politik internasional mempunyai signifikansi yang tinggi untuk memahami dinamika internal yang menjadi faktor determinan dalam mempengaruhi politik luar negri di masa Soeharto. Faktor-faktor politik dan ekonomi yang dianggap paling berpengaruh itu: kondisi domestik, modalitas, struktur dan proses penentuan politik luar negeri, agenda utama, isu-isu domestik yang dominan dan gaya serta pola kepemimpinan politik. Pembangunan ekonomi tidak dapat dilaksanakan secara baik, tanpa stabilitas politik dan keamanan dalam negeri maupun di tingkat regional. Karena itulah Soeharto mengambil beberapa langkah kebijakan politik luar negri, yaitu membangun hubungan yang baik dengan pihak-pihak Barat dan good neighbourhood policy melalui Association South East Asian Nation (ASEAN). Titik berat pembangunan jangka panjang kita adalah pembangunan ekonomi, untuk mencapai struktur ekonomi yang seimbang dan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, pada dasawarsa abad yang akan datang. Tujuan utama politik luar negeri Soeharto pada awal penerapan New Order (tatanan baru) adalah untuk memobilisasi sumber dana internasional demi membantu rehabilitasi ekonomi negara dan pembangunan, serta untuk menjamin lingkungan regional yang aman yang memudahkan Indonesia untuk berkonsentrasi pada agenda domestiknya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam bidang politik luar negeri, kebijakan politik luar negeri Indonesia lebih menaruh perhatian khusus terhadap soal regionalisme. Para pemimpin Indonesia menyadari pentingnya stabilitas regional akan dapat menjamin keberhasilan rencana pembangunan Indonesia. Kebijakan luar negeri Indonesia juga mempertahankan persahabatan dengan pihak Barat, memperkenalkan pintu terbuka bagi investor asing, serta bantuan pinjaman. Presiden Soeharto juga selalu menempatkan posisi Indonesia sebagai pemeran utama dalam pelaksanaan kebijakan luar negerinya tersebut, seperti halnya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Sikap itu ditunjukkan antara lain, Indonesia segera menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Upaya mengakhiri konfrontasi terhadap Malaysia dilakukan agar Indonesia mendapatkan kembali kepercayaan dari Barat dan membangun kembali ekonomi Indonesia melalui investasi dan bantuan dari pihak asing. Tindakan ini juga dilakukan untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia meninggalkan kebijakan luar negerinya yang agresif.

Cak Roes di masa tuanya

Roeslan Pasca Soeharto

Masa Pemerintahan Presiden B.J Habibie sejak tanggal 21 Mei 1998, saat Soeharto mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya kepada Wakilnya, B.J. Habibie. Setelah diumumkannya pengunduran diri Soeharto tersebut, maka B.J. Habibie secara konstitusional dan secara sah telah menjadi Presiden baru Indonesia mengantikan Soeharto. Pengangkatan B.J. Habibie sebagai Presiden RI ke-3 memunculkan kontroversi di kalangan masyarakat. Meskipun mendapatkan cobaan dari dalam negeri, Habibie masih tetap berusaha mendapatkan dukungan internasional melalui beragam cara. Roeslan mendedikasikan diri, mesti menjadi sedikit Soekarnois namun tetap dieksplorasi keahliannya, sehingga 20 tahun sejak di diamanahi Ketua BP7. Sebagai pengingat, sosok Roeslan Abdulgani setelah berkecimpung 20 tahun di pemerintahan Soeharto dan “purna tugas” menjadi penasihat presiden Soeharto, selebihnya Roeslan menekuni minatnya dalam mengamati negeri, sampai muncul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan performanya, dengan trah yang terhubung dengan Jenderal Sarwo Edy (saat menikahi putrinya,  Sarwo Edy sudah wafat).

Terhadap SBY, Roeslan mulai mengamati presiden Indonesia. SBY menikah dengan Kristiani Herawati (putri ketiga Jend Purn. Sarwo Edhi Wibowo (alm) Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo turut membantu menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965. Pasangan SBY-Kristiani Herawati dikaruniai dua anak lelaki, Agus Harimurti Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono. Di usia tuanya, Roeslan Abdulgani masih berkiprah. Suatu ketika, di masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono, saat itu ikut Ibu Negara untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Kepada sejumlah wartawan, SBY mengatakan, Cak Roes adalah tokoh yang terkenal kritis. “Saya mengenal beliau (Roeslan) cukup dekat,” ucap SBY. Semasa hidup, Cak Roes yang menyandang gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat ini adalah tokoh yang banyak berjasa bagi bangsa. Selain sebagai salah satu pelaku sejarah pada empat zaman, almarhum pernah menduduki berbagai jabatan penting. Antara lain sebagai Menteri Luar Negeri (1956-1957), Sekretaris Jenderal Konferensi Asia Afrika 1955, Menteri Penerangan (1962-1966), dan Wakil Perdana Menteri (1966-1967).

Kenapa A Hundred Days

Sebagai salah satu tokoh yang ikut membangun bangsa, Cak Roes sangat peduli dengan kondisi negara, terutama politik. Ia sangat menyayangkan perpecahan di tubuh DPR saling bertikai karena dikendalikan kepentingan kelompok. Selain itu, partai-partai politik saat ini juga dinilai tidak mampu menyampaikan aspirasi rakyat. “Mestinya partai itu satu awak dengan rakyat dan bukan elite. Elite saat ini kan mengalami krisis moral dan etika,” kata Cak Roes.

Cak Roes juga mengkritik program 100 hari yang dilancarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cak Roes berpendapat, kondisi negara tidak akan berubah hanya dalam seratus hari. Ia menganggap, program 100 hari itu adalah sikap yang terlalu percaya diri.”Kennedy [mendiang Presiden Amerika Serikat] saja a thousand days, nah ini kenapa a hundred days?,” ujar mantan Kepala Perwakilan RI di PBB, New York, AS ini. Saat ini, Cak Roes masih aktif menulis artikel tentang pemikirannya sebagai anggota Dewan Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Dia sudah seperti sastrawan besar Sophocles yang pada umur di atas 80 tahun justru menghasilkan karya besar. Tidak dimungkiri, beberapa karya tentang pemikiran Cak Roes mengundang decak kagum sejumlah kalangan. Karya-karyanya antara lain Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia (1973) danThe Bandung Connection (1981).

Semangat muda Cak Roes membuat sosoknya menjadi lebih spesial di mata keluarga. Menurut Putri bungsu Cak Roes, Hafilia, sang ayah kerap kali mengabaikan larangan putrinya untuk naik turun ke perpustakaan pribadi di lantai dua rumahnya. Kendati semangat terus muda, namun tak dimungkiri bila fisik Cak Roes tidak sebaik dulu. Misalnya saja, dia kerap kesulitan membaca, misalnya koran yang hurufnya berukuran kecil. Bila sudah begitu, anak-anak Cak Roes-lah yang kerap membantu sang ayah. Mereka terkadang membawakan kaca pembesar atau meng-copy tulisan dengan mesin fotokopi dengan cetakan diperbesar. Istri tercinta Cak Roeslan, Sihwati Nawangwulan, wafat lebih dulu, 3 tahun silam. Meski demikian, Cak Roes tidak kesepian. Ia memiliki lima putra-putri, 10 cucu, dan enam cicit, yang setia menengoknya. Tanggal 24 November Cak Roes genap berusia 90 tahun. Namun, tidak ada acara khusus untuk merayakan ulang tahunnya. Menurut putra-putri dan orang-orang dekatnya, Cak Roes lebih suka merayakannya dengan menulis pemikiran-pemikirannya.

Tak semua pengamat mengungkap perspektif yang memandang “lurus-lurus” seorang Roeslan Abdulgani. Ada yang kritis juga. Karena pilihannya, Roeslan pernah dianggap tokoh segala musim, man of the all season. Jurnalis kawakan, Rosihan Anwar,pernah mengatakan, “Roeslan Abdulgani cenderung berwajah dua. Ia bekerja dalam rezim Orde Baru, meski dia beranggapan Soeharto terlibat G30S yang digunakan sebagai batu loncatan untuk mengambil alih kekuasaan selangkah demi selangkah, yang disebut creeping coup d’etat (kudeta merangkak).” Demikian lakon Roeslan dipanggung politik, menempatkannya dalam persepsi yang beragam.

Ada yang memandangnya sebagai ikon nasional. Ada yang bilang manusia segala musim alias man of all season, kutu loncat politik, bertahan dalam rezim apapun,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petit Histoire Indonesia jilid 5: Sang Pelopor. Namun Rosihan lebih meyakini pendapat TB Simatupang, bahwa Roeslan seorang politikus sejati. Sebuah skripsi mengetengahkan sosok Roeslan Abdulgani yang menyebutkannya eksistensi Roeslan  di rezim Orba; “Pertama, dari segi kapabilitas, kemampuan Roeslan tidak diragukan. Kedua, Roeslan tidak disukai PKI namun disukai Angkatan Darat. Ketiga, ini  menjadi usaha Soeharto untuk tidak terlalu konfrontatif dengan  orang-orang Soekarno. Roeslan  sendiri menyadari konsekuensinya. “Pada zaman dulu saya dicurigai, zaman sekarangpun ada yang curiga. Nah, curiga itu adalah konsekuensi bila kita ikut berpolitik. Di samping curiga, ada simpati. Saya tidak melihat dunia itu black and white, tapi berwarna-warni,” kata Roeslan.

Saat reformasi bergulir di Tanah Air, Roeslan Abdulgani tetap mencurahkan pikiran bagi bangsanya. Salah satu sikap yang ditunjukkannya, Cak Roeslan mengkritik program 100 hari yang dilancarkan Presiden SBY. Ketika itu, Cak Roes berpendapat, kondisi negara tidak akan berubah hanya dalam seratus hari. Ia menganggap, program 100 hari itu adalah sikap yang terlalu percaya diri. Kritik Cak Roes ketika itu,”Presiden Amerika Serikat saja a thousand day, nah ini ada kenapa a hundred days?,” ujar lulusan Hunter College, New York (1968) dan University of Columbia (1970) Presiden dikritisi negarawan senior seperti Cak Roeslan, sepanjang pengetahuan kita, tak terdengar marah. Pada suatu kesempatan, Cak Roes sempat meminta SBY tak terlalu mengkhawatirkan berbagai kritik yang dilontarkan mengenai program 100 hari pemerintahannya. “Itu sudah normal asal saudara [SBY] jujur, asal saudara betul,” pesan anggota Dewan Tanda Kehormatan Republik Indonesia ini. Sang politisi senior ini meminta SBY meneruskan langkah-langkahnya kalau itu dinilainya berada di jalur yang benar. 

Banyak filosofi-filosofi unik yang dikemukakan mantan Menteri Luar Negeri dan Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat itu. Dalam setiap langkahnya, tergambar pengaruh besar sosok ibu dalam diri Cak Roes. Misalnya saja saat Cak Roes berbicara tentang hakikat hidup. Yakni memberi makan pada yang kelaparan, memberi baju pada yang telanjang, dan memberi tongkat pada yang tersesat. Roeslan Abdulgani berumur panjang. Di usia senjanya, ia masih sempat menyaksikan Indonesia memasuki fase reformasi. Sang politisi dua zaman itu, meninggal di Jakarta pada 29 Juni 2005 dalam usia sepuh, 90 tahun. Cak Roes pernah menerima gelar Dr [HC] tahun 1960-an dari UNAIR Surabaya, FKIP UNPAD Bandung dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau juga menjadi Guru Besar IKIP Bandung (1963). Selamat jalan, Cak Roes, kenanganmu tentang hidup membekas pada generasi sesudahmu. Karya-karya pemikiranmu, ibarat nasihat abadi yang dikenang generasi demi generasi. Kata Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya”, itu diriwayatkan At-Tirmidzi. Cak Roes, engkau telah menunjukkan hal itu.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda