Cakrawala

Dimensi Ilmiah dalam Kisah Nabi Khidhir

Written by Budi Handrianto

Setiap muslim pasti mengenal Nabi Khidhir, seseorang yang namanya dinisbatkan kepada sosok misterius yang ditemui Nabi Musa as dalam Al-Quran surat al-Kahfi. Sebetulnya tidak disebutkan sosok tersebut bernama Khidhir, tapi hampir semua tafsir menyatakan orang tersebut bernama (Nabi) Khidhir. Banyak cerita baik yang dapat dipercaya maupun tidak mengenai sosok bernama Khidhir ini, namun tidak hendak kita bahas sekarang.

Dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas bin Malik diceritakan bahwa Nabi Musa ditanya kaum Bani Israil, adakah manusia yang lebih pandai darinya, dijawab “Tidak ada”. Lalu Allah “menegur” Musa dengan menginformasikan ada manusia yang lebih pandai yang bisa ia temui di pertemuan dua laut. Musa pun bersama muridnya Yusya bin Nun, menemui orang tersebut -kita sebut saja Khidhir dan dari situ dimulailah ceritanya.

Sebelum berguru, Musa diwanti-wanti agar jangan bertanya apapun tentang apa yang akan diperbuat Khidhir. Musa pun menyanggupi. Ada tiga kisah dalam perjalanan mereka. Pertama, Khidhir melubangi (merusak) kapal yang mereka tumpangi. Kedua, sesampainya di daratan Khidhir membunuh seorang anak yang sedang bermain bersama teman-temannya dan ketiga Khidhir memperbaiki bangunan suatu dari di perkampungan yang penduduknya tidak bersahabat dan tidak menerima mereka. Karena Musa selalu bertanya setiap yang dikerjakan Khidhir maka merekapun berpisah. Sebelum berpisah, Khidhir menjelaskan alasannya mengapa dia merusak kapal, membunuh anak dan menegakkan tembok bangunan.

Kisah lengkapnya bisa dibaca sendiri di dalam QS al-Kahfi ayat 65-82. Jika kurang puas, silakan baca tafsirnya, penjelasannya kurang lebih sama. Lalu di mana letak dimensi ilmiah dari kisah Nabi Khidhir ini? Apakah pengetahuan Khidhir yang mendahului “takdir” (weruh sakdurungin winarah) ini bisa dijelaskan dengan teori fisika kuantum, misalnya? Apakah ilmu Nabi Khidhir ini termasuk ranah astrofisika, telepati, teleportasi atau penemuan “worm” yang merupakan time tunnel sehingga bisa back to the future?

Jika tulisan diberi judul: Dimensi Saintifik dalam Kisah Nabi Khidhir maka timbul pertanyaan, di mana letak dimensi saintifiknya? Jawabnya: tidak ada. Namun saintifik tidak sama dengan ilmiah. Lho, bukankah scientific itu diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan “ilmiah”? Betul, bagi orang awam kedua istilah tersebut sama. Tapi dalam ranah filsafat ilmu kedua istilah itu beda atau paling tidak dibedakan. Saintifik berasal dari kata sains, sedang ilmiah berasal dari kata ilmu. Pertanyaan selanjutnya, berarti sains tidak sama dengan ilmu?

Betul. Sains, dalam hal ini adalah Sains Barat Modern pada akhirnya hanya berdasarkan pada emperisisme dan rasional. Sumber sains modern hanyalah panca indra (empiris) dan akal (rasio). Sesuatu kalau tidak empiris (terindra: bisa dilihat, dicium, didengar, dikecap dan diraba) dan tidak masuk akal maka ia tidak saintifik. Jadi sains hanya berkaitan dengan sesuatu yang fisik dan fenomena saja. Sains tidak berhubungan dengan metafisika atau noumena. Maka, bagi sains modern yang kerangka landasannya adalah paham positivisme, metafisika harus ditolak. Sesuatu yang tidak masuk akal dianggap takhayul.

Berbeda dengan ilmu. ‘Ilmu berasasl dari Bahasa Arab dan merupakan khazanah Islam yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia: ilmu. Dalam Islam, ilmu terdiri dari fisik dan metafisik, phenoumena dan noumena, alam ghaib dan alam syahadah, lahir dan batin. Bahkan dalam banyak hal, ilmu dalam Islam lebih banyak metafisik daripada fisik. Prof. al-Attas menyebut saluran ilmu (the channel of knowledge) selain panca indra dan akal (sama dengan sains modern), ada khabar shadiq atau true reports. Khabar shadiq ini dibagi dua, yaitu yang mutlak ialah wahyu (al-Quran dan Hadits) dan yang relatif, yaitu pendapat para pakar yang ahli dan otoritatif di bidangnya.

Kisah pertemuan Musa dengan Khidhir ini kita dapatkan di dalam al-Quran dan sebagaimana diterangkan di atas, Al-Quran merupakan sumber atau saluran ilmu. Maka, dapat disimpulkan di sini kisah Musa dan Khidhir termasuk ilmiah karena terdapat di dalam sumber yang otoritatif yaitu wahyu.

Dalam sains modern, penafsiran atas fakta hanya berkisar pada penjelasan sebab akibat (cause and effect), tapi dalam ilmu tafsiran atas fakta luar biasa luas dan mendalam. Ada banyak tafsiran atas kisah Nabi Musa, yang menjadi manusia pilihan Allah bahkan disebut hingga 300 kali di dalam al-Quran, namun harus “belajar” kepada seseorang yang tidak terkenal, tidak populer, tidak “ngawaki” (tak diperhitungkan), bernama Khidhir. Saya ingin mengambil satu hikmah di saja balik kisah ilmiah ini dari Tafsir al-Azhar karangan Buya Hamka.

Kejadian ini adalah untuk perbandingan bagi setiap pemuka, pemimpin dan manusia yang merasa bertanggung jawab supaya sekali-sekali membandingkan diri dengan orang lain supaya kebenaran jangan hanya dipandang dari satu pihak saja. Maka bukan sajalah Musa yang mesti mencari Khidhir buat menuntut ilmu dan menambah pengalaman, melainkan setiap orang yang bertanggung jawab hendaklah mencari “Khidhir”. Kadang-kadang “Khidhir” itu memang tidak dikenal orang. Kadang-kadang dia tinggal di kampung yang jauh, di lereng bukit.

Saya (Hamka) sendiri kerapkali mengalami bertemu orang biasa, tak dikenal, terpencil di dusun jauh atau di ladang tebu, namun butir perkataannya penuh berisi hikmah yang benar. Dia bukan profesor, namun kejernihan pikirannya dapat dijadikan pedoman hidup bagi kita yang sibuk ini.

Kalau Musa saja masih harus mencari Khidhir, apatah kita yang jauh dibandingkan dengannya. Mari masing-masing kita mencari dan mendapatkan “Khidhir” untuk meningkatkan kedewasaan diri.

About the author

Budi Handrianto

Alumnus IPB, S2 dan S3 diperoleh dari Universitas Ibnu Khaldun untuk program yang sama, Pendidikan Islam.

Tinggalkan Komentar Anda