Mutiara

Sunan Kalijaga, Antara Islam Mutihan dan Islam Abangan

Written by A.Suryana Sudrajat

Raden Mas Sahid menuntaskan kenakalan dengan merampok. Lengkap sudah ia sebagai pelaku “mo limo”.  Setelah bertobat dan berguru dengan Sunan Bonang ia dijuluki Sunan Kalijaga, Mengapa  di antara sembilan wali di Tanah Jawa ia disebut mewakili Islam abangan. Lalu apa bedanya dengan yang mutihan?

Kejahatan apa yang belum dilakukan Raden Mas Sanid?

Anak muda itu bukan main brengsek. Main perempuan, judi, menenggak arak, mengisap candu, Dimarahi orangtuanya, Sahid malah makin nekat. Ia menuntaskan kenakalannya dengan merampok. Lengkap sudah Sahid sebagai pelaku mo limo (maen, minum, madat, madon, maling), lima kejahatan dalam persepsi Jawa.

Beruntung, Sahid bertemu Sunan Bonang. Berkat nasihat sang wali, Raden Mas Sahid insaf lalu bertobat. Putra bupati Tuban itu kelak bahkan menjadi salah satu  dari sembilan wali di Tanah Jawa. Namanya Sunan Kalijaga.

Syahdan, suatu hari wali-wali itu bermusyawarah di Demak Bintara. Mereka konon sudah mendapat izin Prabu Brawijaya untuk menjadikan Bintara kadipaten Muslim, dan untuk itu perlu didirikan masjid agung. Para wali diminta menyumbang masing-masing satu tiang, sementara umat diminta mengeluarkan amal jariah. Usai musyawarah, Sunan Kalijaga masuk hutan mencari kayu jati besar, ditemani muridnya, Jaka Supa. Di sana mereka berjumpa Dewi Rasawulan, adik Kalijaga. Dewi berniat bertapa, karena di rumah selalu direcoki pertanyaan kapan menikah. Ia frustrasi berat. Dan akhirnya minggat dari Tuban. Sang kakak lalu mengajaknya pulang dan menjodohkannya dengan Supa, muridnya itu. Setelah menikah, Jaka Supa dipanggil Empu Supa, lantara profesinya sebagai pembuat senjata.

Sekali waktu, Sunan Kalijaga menyuruh adik iparnya itu membuat keris coten sembelih, bakal lebai memotong kambing. Sunan memberinya bahan besi sebesar biji asam jawa. Supa heran, dan lebih heran lagi karena ternyata besi itu amat berat.

“Sunan, besi ini amat berat sekali, tidak seimbang dengan besarnya,” kata Supa. “Ya, tapi apa bisa besi sekecil ini dibikin keris?”

“Adik, besi sekecil itu bisa membesar seperti gunung,” jawab sunan yang seniman itu.

Benar saja. Tiba-tiba besi kecil itu sudah sebesar gunung. Supa bukan main gugup. Benar-benar wali, pikirnya.

“Sunan,” katanya seraya berlutut, “susah menjepit besi segede itu. Saya tak sanggup mengerjakannya.”

“Adik, besi itu sebenarnya Cuma sebesar biji asam Jawa.” Ajaib, besi itu kembali menjadi sebesar biji.

Begitulah. Keris pun selesai dibuat. Ternyata jadinya ajaib. Sampai-sampai Sunan Kalijaga sendiri bengong dibikinnya. “Adik, itu keris bagus banget. Tak pantas dipakai santri. Hanya pantas digunakan raja Jawa,” katanya. Sunan minta agar keris ia namai Sangkelat (artinya, semu merah) itu disimpan saja. Ia kemudian memberi bahan lain, kali ini sebesar buah kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah keris yang mirip golok. Sunan menamainya Crubuk.

Kisah itu  berasal dari Tembang Babad Demak, yang kira-kira ditulis di masa Mataram akhir. Babad tentu bukan sejarah, meski bisa dijadikan sumber penulisan sejarah, yang untuk itu perlu dibandingkan dengan sumber-sumber lain. Sarjana kita yang pertama kali melakukan kritik terhadap babad dalam rangka historiografi itu adalah Pangeran Hoesein Djajadiningrat, adik Pangeran Achmad Djajadiningrat, bupati Serang di zaman kolonial yang terkenal itu. Yakni melalui disertasinya di Universitas Leiden, Critische beschouwing van de Sajarah Banten (1913), versi Indonesia Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten (1983). Murid cemerlang Snouck Hurgtonye dan  orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor ini membandingkannya dengan sumber-sumber Eropa, yang menurutnya bisa lebih dipercaya ketimbang sumber-sumber Jawa. Alhasil, cerita di sekitar Walisongo yang penuh keajaiban itu bisa disimpulkan pada umumnya bertabur dongeng,

Tapi, berbeda dengan yang dilakukan R. Atmodarminto, yang pada 1954 menerbitkan Babad Demak (bahasa Jawa) yang merupakan tafsir Tembang Babad Demak tadi. Kisah keris Sangkelat dan Crubuk itu, misalnya, oleh ayah mantan Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminto ini ditafsirkan sebagai belum satunya gerakan perjuangan Islam (diwakili Sunan Kalijaga) dan gerakan rakyat (Empu Supa). Katanya, Sunan Kalijaga sangat memahami betapa besarnya gerakan rakyat. Karena itu,ia menginginkan gerakan Islam disatukan dengan gerakan rakyat yang berdasarkan kebangsaan Nusantara.

Begitu besarnya gerakan rakyat yang dipimpin Empu Supa sehingga memecah gerakan Islam menjadi aliran Tuban dan aliran Giri. Yang pertama dipimpin Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan muria, dan Sunan Kudus. Mereka, menurut Atmodarminto, mencita-citakan berdirinya negara nasional Nusantara. Mereka cenderung menyelaraskan Islam dengan adat-istiadat asli. Karena tidak begitu keras menerapkan ajaran, Atmodarminto menyebut aliran Tuban ini kelompok Islam Abangan.

Adapun aliran Giri, yang dipimpin Sunan Giri, Sunan Ampel, dan Sunan Drajat, mendekati kaum feodal dan menghalangi gerakan rakyat. Mereka keras dalam peribadatan. Karena itu disebut Islam Mutihan. Inilah, kata Atmodarminto, yang menjadi asal mula timbulnya Islam abangan dan Islam mutihan. Untungnya, kata dia pula, perbedaan ini tidak sampai menimbulkan perpecahan. Sunan Giri diserahi tugas memimpin urusan agama dan diberi julukan Prabu Satmata, sedangkan Sunan Kalijaga dkk. Mengurus soal-soal keduniaan.

Atmodarminto sendiri  memposisikan dirinya sebagai Islam abangan. Ini tampak ketika ia berbicara dalam Sidang Konstituante 12 November 1957. Wakil Partai Gerindo ini, partai gurem kaum tradisionalis Jawa, memulai pidatonya dengan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia belum masyarakat Islam. Soalnya mereka, walaupun beraga Islam, masih berpangkal pada kepercayaan dan adat-istiadat tinggalan nenek moyang. Ini, katanya, dapat disaksikan dari bau dupa di mana-mana di malam yang dianggap suci, juga banyaknya ziarah ke tempat-tempat keramat dan makam-makam di hari-hari nyadran atau nyekar. (Sebuah pemandangan ziarah kubur yang lazim dilakukan sampai zaman sekarang. Sulit dikatakan bahwa mereka lebih mewakili kepercayaan asli nenek moyang ketimbang pelaksanaan tradisi yang sejatinya sudah mendarah-daging dalam masyarakat Islam,, pen.)

Pidato itu mendapat aplaus besar dari fraksi PNI dan PKI. Mereka senang. Sebelumnya belum pernah ada pembicara, yang mengaku Islam, yang secara blak-blakan mengatakan adanya perpecahan di kalangan Islam.

Tapi benarkah gesekan antara aliran Tuban dan aliran Giri dalam gerakan Islam,  masih terasa di zaman sekarang, utamanya menjelang pergantian kekuasaan?

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda