Cakrawala

Sabar, Perjuangan Menuju Manusia Takwa dan Merdeka

Written by Arfendi Arif

Dalam kehidupan sehari-hari kata sabar sering dinasihatkan banyak orang. Baik ketika mendapatkan musibah, dalam berjuang, menghadapi aneka persoalan, kata sabar seolah menjadi kunci yang sangat penting. Tetapi, tidak jarang pula yang mengartikan sabar itu suatu sikap yang pasif dan lamban. Sabar dimaknai  sebagai kepasrahan tanpa ada harapan. Akibat pemahaman seperti ini maka yang terjadi adalah seseorang menyerah dengan tantangan hidup.

Sebenarnya sabar merupakan “situasi daya tahan” seseorang menghadapi godaan-godaan nafsu yang merusak. Ketika berbagai ambisi dan dorongan destruktif yang ada dalam diri manusia minta dipuaskan tanpa mampu dikendalikan, maka kekuatan sabar adalah “pengontrol” untuk mencegahnya. Sifat sabar adalah kecenderungan untuk menuruti jalan luhur petunjuk-petunjuk agama (Islam), sedangkan sifat yang merusak dan destruktif berasal dari kecenderungan hawa nafsu yang dekat dengan kejahatan. Sifat sabar yang merupakan kecenderungan agama dibekali balatentara Malaikat yang mengarahkan pada kebaikan dan ketaatan pada Allah. Sedangkan kecenderungan hawa nafsu didukung kekuatan setan yang mengarahkan pada kejahatan dan mengingkari perintah Allah. Perang dua kekuatan ini bertarung dalam diri manusia  dengan kemenangan yang silih berganti.

Jika tentara setan yang berhasil ditundukkan maka manusia menjadi raja di atas nafsunya. Nafsunya ditunggangi, dikendalikan dan diarahkan pada ketaatan pada Allah. Ia bisa “bersabar’ dan tidak mudah tergoda dengan berbagai kenikmatan artifisial-lahiriah. Dalam dirinya menjelma sifat-sifat malaikat yang dekat dengan sifat-sifat Allah. Mereka inilah yang disebut kaum siddiqun atau muqarrabun, yaitu orang yang lurus-jujur dan selalu menghampirkan diri kepada Allah.

Tetapi, kalau dorongan nafsu yang menang, maka setanlah yang berkuasa. Manusia akan menyerah kepada nafsu, menuruti egonya, terlena dengan kenikmatan duniawi tanpa memperdulikan halal dan haram, yang penting hasratnya terpenuhi. Mereka ini tidak memiliki kekuatan pengendali yang disebut sifat sabar  Dalam Alquran mereka disebut kaum ghafilun, orang yang lalai dan lengah.

Golongan ketiga disebut kelompok mujahidun, yakni pertarungan yang tidak henti antara kecenderungan agama dan kecenderungan hawa nafsu. Kemenangan silih berganti di antara keduanya, namun yang menarik kekuatan agama tidak pernah kehilangan spirit untuk menundukkan kecenderungan hawa nafsu. Dan Allah memberikan jaminan untuk membantu para mujahidun ini.

Kesabaran manusia dalam menghadapi dorongan hawa nafsu memang bukanlah masalah yang mudah. Nafsu selalu menuntut pemuasan tanpa mengenal rambu-rambu atau larangan-larangan yang ditentukan oleh agama. Dalam hidup ini, dengan budaya sosial yang konsumtif, gaya hidup wah, rangsangan iklan untuk memiliki berbagai barang-barang mewah, tarikan untuk melakukan perbuatan tidak senonoh dengan gambar-gambar dan fasilitas yang merangsang seksual, menyebabkan sulitnya orang menahan diri dari dorongan nafsu.

Belum lagi, bahwa manusia juga cepat tergoda dengan kekuasaan, jabatan, pangkat dan kehormatan. Kalau saja nafsu untuk mendapatkan keinginan ini tidak lagi terkendali, maka berbagai cara bisa dilakukan manusia tanpa memperhatikan norma dan etika luhur agama 

Merdeka dari Nafsu

Seperti diuraikan oleh Imam Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin bahwa sikap sabar merupakan hasil pertarungan antara kecenderungan agama dan kecenderungan hawa  nafsu dalam diri manusia. Manusia yang memiliki sifat sabar menunjukkan kecenderungan agama berhasil memenangkan pertarungan melawan kecenderungan nafsu.

Tetapi, seperti dinyatakan dalam Quran dan Hadis tidak mudah bersikap sabar dalam melawan kecenderungan nafsu yang amat kuat berpengaruh dalam diri manusia. Imam Ghazali menyatakan, ada dua cara yang paling jitu untuk mengalahkan nafsu. Pertama, memperkuat dorongan agama dan memperlemah dorongan nafsu dalam diri manusia.

Memperlemah dorongan nafsu yaitu dengan mengurangi timbulnya hal-hal yang dapat merangsang syahwat, misalnya, dengan mengurangi makanan-makanan yang panas, mengurangi mata melihat pandangan-pandangan atau gambar-gambar yang mengundang birahi. Atau menyalurkan kebutuhan-kebutuhan seks melalui cara yang dibolehkan, yakni dengan menikah.

Sedangkan dengan memperkuat dorongan agama terdiri dari dua cara. Pertama, memberikan penyadaran pentingnya melawan nafsu, dan mereka yang berhasil akan memperoleh karunia yang bersifat kekal, dibandingkan dengan menurutkan nafsu yang hanya memberikan kenikmatan duniawi sementara. Tumbuhnya kekuatan agama dalam mengalahkan dorongan nafsu sangat dipengaruhi kekuatan iman dan keyakinan, yang akhirnya menumbuhkan sikap sabar dalam menghadapi tuntutan gejolak syahwat yang minta dipuaskan.

Kedua, melatih dan membiasakan dorongan agama untuk melawan dorongan nafsu, tidak membiarkan kekuatan nafsu menguasai kekuatan agama. Meskipun perlawanan dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit tidak mustahil dorongan agama memperoleh kemenangan, dan merasakan nikmat hidup tanpa dikuasai dorongan nafsu.  Kalau ditamsilkan, seperti seorang pegulat, yang dilatih sejak kecil, setelah dewasa ia dapat mengalahkan pegulat yang besar. Demikian juga nafsu, yang bila terus dilawan, tidak mustahil lama kelamaan dapat dikuasai dan dikendalikan.

Merdeka dari penjajahan nafsu adalah hasil akhir dari orang-orang yang dengan sabar berjuang melawan keinginan-keinginan buruk yang tumbuh dalam dirinya. Perasaan ketergantungan pada hal-hal yang bersifat duniawi akan berkurang, manusia akan merasa dekat dengan sang Pencipta, yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Selain itu berbagai kelapangan hidup akan diperoleh, kehormatan di mata Allah dan di mata manusia, dalam istilah Alquran disebut shalawat atau karunia (al-Baqarah 157}.

Ketiga, orang yang sabar juga dijanjikan mendapat Rahmat atau kasih sayang Tuhan. Rahmat adalah pertolongan Tuhan yang datang tanpa diduga, biasanya pada saat kesulitan atau ketika orang sudah berputus asa, merasa keinginannya tidak bakal terwujud atau mustahil. Rahmat bukan saja diberikan kepada pribadi, tetapi juga untuk satu kaum atau bangsa. Kemerdekaan Indonesia, yang diperoleh pada 17 Agustus 1945 adalah Rahmat dari Tuhan, sebab secara teoritis sulit bagi Indonesia untuk merdeka, sebab kekuatan yang dihadapi sangat kuat dan bukan tandingan bangsa kita.

Keempat, manusia yang sabar juga akan mendapat hidayah, petunjuk atau pimpinan dari Allah. Hidayah ini adalah hak tunggal Tuhan, atau hak prerogatif. Hidayah ini ada lima macam, hidayah fitri atau menurut istilah ilmu jiwa disebut insting, yang juga diberikan pada binatang. Kedua, hidayah indra, ketiga, hidayah akal, keempat, hidayah agama, dan kelima hidayah taufik. Hidayah ini meliputi berbagai bidang kehidupan yang meliputi kelebihan yang dimiliki manusia seperti kebenaran, kebahagiaan, keadilan, kenikmatan dan lain sebagainya.

Kalau saja karunia, rahmat dan hidayah ini sudah diperoleh manusia maka itulah puncak kesempurnaan hidup. Dan ini hanya bisa diperoleh orang-orang yang takwa dan sabar. Allahu ‘alam

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda