Aktualita

Mengenang Insan Nurrohman, Syahid Kemanusiaan

Untuk seusia dia saat ini, seharusnya termasuk masih produktif. Tapi Allah berkehendak lain, Allah menjemputnya, lebih menyayanginya sehingga memanggilnya kehadiratNya. Senin, subuh 26 Juli 2021, Mohammad Insan Nurrohman, berpulang setelah berjuang melawan Covid. Sosok yang dikenal ramah, tak pernah berseteru dengan siapapun, juga murah senyum. Kata sahabatnya, Rulli Renata saat testimoni di pemakaman, Mohammad Insan Nurrohman orangnya tidak bisa mengatakan tidak kepada orang lain. Di lembaga kemanusiaan yang dilibatinya, Aksi Cepat Tanggap (ACT), posisinya tinggi. Dengan jabatan Vice President, ia diamanahi menjadi salah satu board of director (BOD).

Dunia hanya tempat singgah sementara. Jangan terbuai oleh rindangnya pepohonan, itu hanya tempat teduhmu sementara. Ingat, perjalanan masing panjang, beberapa etape lagi harus kamu lewati, sebelum bertemu Kekasih sejatimu.  Dari Rabb kamu diciptakan, kepada Rabbmu kamu dikembalikan. Gerbang kematian hanya pintu pembuka. Jika baik jalanmu di dunia, maka engkau akan membuka Gerbang Kematian juga dengan cara yang baik, engkau dapati pula kebaikan di balik pintu itu. Maka jalan-jalan berikutnya insyaAllah lebih mudah…maka akan engkau dapati senyum Kekasihmu di ujung ‘arsy. Tetapi, jika jalanmu buruk, ah, engkau sudah tahu apa yang akan terjadi. Jika engkau ingin jalan cepat menuju kekasihMu, dan melalui semuanya dengan cara yang paling cepat, maka hanya satu cara yang bisa kamu tempuh, cara kematian yang dirindukan semua lelaki sejati. Syahid di jalanNya.

Itulah postingan instagram Mohammad Insan Nurrohman, 9 April 2020 yang lalu. Mungkin sudah ada sinyalemen bakal berpulang, Mas Insan, begitu teman-teman sebayanya memanggil  (untuk yang lebih muda biasanya memanggil “Pak Insan”). Bapak empat anak (Ahmad Nashiruddin Wafi, Maufi Hauli Rahma, Amirah Nadiah Robbaniyah, dan Fatma Himmatul Ula) yang lahir di Blitar (Jawa Timur), 20 Mei 1969 ini, menikah dengan Nurhayati (kelahiran Tarakan). Ia  dikenal sejawatnya sebagai sosok yang tak bisa mengatakan tidak. Karena itu, banyak rekannya sangat kehilangan atas kepergiannya.

Adalah Anca Rahadiansyah, Country Director Alquds Amanati Indonesia/AAI – juga mantan Manager Disaster Management Intitute of Indonesia/DMII ACT. M. Insan Nurrohman pernah memimpin DMII. Dalam kapasitas ini, Anca berbagi kesaksian. “Kaget mendengar kabar duka dari seorang teman bahwa Mas Insan Nurrohman meninggal dunia, sosok yang saya kenal selama ini pribadi yang baik, saleh, serius, detil dan concern dengan dunia kemanusian,” kata Anca Rahadiansyah. Di ACT, Insan Norrahman adalah Komandan Program Kemanusian. Anca sendiri pernah menjadi tim kerja di bawah Mohammad Insan Nurrahman di Humanity Network Department/HND dan Direktorat Program Kesiapsiagaan Bencana Disaster Management Institute of Indonesia/DMII. “Mas Insan saat itu diamanahi mengawal dan memimpin Program TDM (Total Disaster Management), hal yang sangat kental melekat dalam keseharian beliau,” tutur Anca.

Menurut  Anca, Insan seorang perfeksionis. . “Beliau khawatir kalau misi kemanusiaan yang disandangnya terlihat tidak sempurna apalagi sampai gagal. Untuk itu, Mas Insan selalu mengawal betul dan terkenal detil dalam mengawal amanah program yang beliau emban,” jelas Anca, lalu meneruskan,” Saya pernah merasakan  sikap perfectionist seorang Insan Nurrohman. Ia tidak gampang percaya untuk memberikan amanah kepada seseorang yang baru dikenalnya. Tetapi ketika seseorang menunjukkan kinerja sempurna dan berprestasi, Insan Nurrohman tidak segan-segan mengapresiasi kinerja anak buahnya.

Insan pribadi yang sangat serius. Bagi yang baru mengenalnya, Nampak jarang tersenyum. Keseriusannya diimbangi sikapnya yang bertangan dingin dalam mengawal program. “Sebetulnya beliau cukup jenaka dan pintar berkelakar, bahkan di tengah rapat serius bisa sesekali mengocok perut tim nya dan membuat suasana sejenak cair,” lanjut Anca lalu menyambung kesaksiannya, “…satu hal yang tidak akan saya lupakan dari Mas Insan, setiap memimpin meeting koordinasi tim beliau selalu mengingatkan makna keberkahaan dan itu hampir selalu saya dengar dan terpatri dalam ingatan pikiran saya sampai saat ini. Kalau ingat itu, saya iri dengan akhir kehidupan beliau akhirnya. Beliau memenuhi janji Nya menjemput syahid,” ujar Anca. Ia juga menegaskan kesaksiannya, M. Insan Nurrohman istiqomah di jalan dakwah kemanusian.

Spesialis Perintisan

Lembaga ACT (Aksi Cepat Tanggap) tempat M. Insan Nurrohman bekerja, sangat kreatif. Khalayak menilai, lembaga ini sangat gesit dalam menginisiasi lembaga. Sejumlah lembaga telah diakselerasi, antara lain: Disaster Management Institute of Indonesia (DMII, kalangan internal ACT menyebutnya DM One One), Global Qurban/GQ, Global Zakat/GZ. Dalam program, Insan juga mengakselerasi Food Truck, Ketahanan Pangan, Rice Truck (penyedia beras cuma-cuma untuk penyandang krisis pangan), dan banyak lagi. Dalam hal gagasan, M. Insan Nurohman termasuk sosok yang tak pernah menampik tugas. Diamanahi tugas apapun, selalu siap. Kadang, satu tugas belum rampung, ACT sudah memandatkan tugas lain. Misalnya, Insan pernah ditugasi sebagai Direktur DMII.

Insan sangat baik dalam bersinergi. Ketika Syuhelmaidi diamanahkan sebagai Senior Vice President ACT,  ACT mempercayakan M. Insan Nurrohman mendampingi Syuhelmaidi. “Cukup lama juga kami duet memimpin Masyarakat Relawan Indonesia/MRI dan Departemen Program ACT. Di MRI beliau sebagai Sekjen mendampingi saya sebagai Presiden MRI,” kata Syuhel. MRI, mengamanahkan Insan memperkuat Divisi Program ketika Syuhel memegang posisi Vice President Program banyak hal telah mereka lakukan, antara lain, mengembangkan jaringan relawan, training dan orientasi relawan, serta melakukan kolaborasi aksi bersama jaringan relawan di setiap kejadian bencana, baik bencana besar dan kecil.

Dengan Syuhelmaidi Syukur, keduanya bertemu dalam rangka menyusun SOP Kebencanaan untuk Sampoerna Rescue. “Projeknya di Surabaya, tim ACT mengajak Insan Nurrohman terlibat karena waktu itu Insan Nurrohman berdomisili di Surabaya. Sebelumnya, tidak ada background di kebencanaan, tetapi memiliki pengalaman di Quality Control salah satu restoran waralaba terkenal. Mas Insan pembelajar cepat, dari SOP kebencanaan tersebut, kami diskusi dan belajar banyak,” kenang Syuhel.

Sehingga kemudiaan beliau mendapat amanah memimpin DM11 (Disaster Management Institute of Indonesia), sebuah lembaga yang dibuat dengan fungsi utama melakukan edukasi kebencanaan. Maka ACT merancang dan mengelola DM11 sampai menjadi institusi yang dipercaya oleh banyak stakeholder dalam edukasi kebencanaan. “Kami menjalin hubungan sangat baik dengan BNPB, Planas PB, Skala dan tentunya lembaga sosial kemanusiaan yang semakin bertumbuh,” jelas Syuhel.

Serius dan Fokus

Sahabat Insan Nurrohman yang sama-sama pernah aktif di Divisi Program, Jajang Fadli, mengenang Insan Nurrohman orangnya pantang menolak tugas. “Pak Insan selalu siap ditempatkan dimanapun, selalu serius dan fokus, sehingga apa dipegangnya berkembang positif. walaupun belum tuntas itu sudah  dipindah lagi. Saya bersaksi, beliau orang yang sangat baik,” kenang Jajang. Menambahkan pandangan Jajang, Soenano mengaku ia masih ingat Insan sebagai leader yang ramah, selalu menyapanya,” Lagi nulis buku apa Mas?”, itu berkenaan dengan job description tugas Soenano di  kantornya. Masih terkait urusan penulisan lesson learned ACT, Soenano ingat, Insan Nurrohman-lah sosok yang berjibaku dalam mewujudkan dijalankannya kapal kemanusiaan – sampai tujuh kapal kemanusiaan dilepas – menyapa mancanegara maupun di dalam negeri. Ke mancanegara, antara lain ke Bangladesh (terutama bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya yang menyelamatkan diri ke Bangladesh), ke Somalia (korban kelaparan).

Sejawatnya juga mengenang Insan sosok baik dan penyabar, pun saat taat pada pimpinan mesti sesekali berbeda cara pandang. “Tutur katanya santun, tak pernah menyakiti orang lain. Beliau juga sosok yang saleh, rajin beribadah, tulus dan sayang keluarga,” kenang Syuhelmaidi yang pernah menjadi atasan Insan Nurrohman, lalu melanjutkan,”…kami pernah jadi tetangga selama beberapa tahun, sehingga hubungan antar keluarga juga dekat. Jarak yang ternyata menjadi pemisah, sejak kami ke Turki sudah jarang interaksi, bahkan ketika beliau sakit dan masuk ICU kami juga sedang di Turki. Baru pulang setelah dapat kabar beliau meninggal dan dimakamkan di Tangerang Selatan, agak jauh dari kediaman beliau. Tentu kehilangan sosok yang baik dan siap mendengarkan, di sisi lain juga sosok saudara atau abang yang siap memberikan masukan dan nasihat. Beliau selalu mendoakan saudaranya dalam ikatan keimanan dan kemanusiaan,” pungkas Syuhelmadi.

Di antara personil ACT, M. Insan Nurrohman boleh dikatakan, spesialis  rintisan. Bersama Syuhel, mereka berdua pernah roadshow bersama sejumlah personil ACT lainnya, dalam pelatihan Disaster Management ke beberapa kota dan provinsi – bersama stakeholders dan mitra-mitra pendukung. Hal itu mereka lakukan simultan dengan aktivitas membangun jejaring relawan dan kelembagaan di seluruh Indonesia. Beliau juga memimpin langsung beberapa misi penting kemanusiaan antara lain ke Gunung Kelud, Bener Meriah, Pidie Jaya bahkan sampai ke Wamena, Asmat dan Merauke. “Kalau sudah di lapangan bisa berminggu-minggu dan berbulan-bulan tidak pulang. Dedikasinya total untuk membantu kemanusiaan,” papar Syuhel.

Yang cukup terkenal adalah Ekspedisi Palu-Koro, bersama dengan SKALA, Planas PB (Platform Nasional Penanggulangan Bencana), Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB dan asosiasi ahli geologi. Hasilnya tim bisa memaparkan potensi bencana dan wisata di sepanjang jalur patahan tua Palu-Koro. Sayangnya belum sempat dilakukan edukasi dan mitigasi masyarakat, terjadi gempa besar Palu-Sigi-Donggala (Pasigala). Hasil ekspedisi menjadi penting untuk pemerintah dan stakeholder terkait untuk menindaklanjutinya.

Di antara sederet kiprah M. Insanurrohman, pesan terjejak pada instagramnya,

…Jika engkau ingin jalan cepat menuju kekasihMu, dan melalui semuanya dengan cara yang paling cepat, maka hanya satu cara yang bisa kamu tempuh, cara kematian yang dirindukan semua lelaki sejati. Syahid di jalanNya.

Ya, Mohammad Insan Nurrohman mencapai cita-citanya, syahid pada momentum pandemi Covid. Selamat jalan Akhi Mohammad Insan Nurrohman. Kami mengikhlaskanmu, mendoakanmu, masyarakat kemanusiaan iri atas kiprahmu. Kebaikanmu terukir di benak banyak relawan MRI yang pernah berinteraksi denganmu, mengikuti pelatihan kesiapsiagaan yang engkau libati, pun masyarakat yang pernah menerima uluran tanganmu melalui donasi publik, serta menerima nasihatmu secara langsung ataupun tidak langsung. Satu Mohammad Insan Nurrohman berpulang, yang lainnya akan lahir meneladani langkahmu. Kini jasadmu, dengan senyuman surgawi, terbujur di TPU Jombang, Ciputat, Tangerang – Banten.  Kawan-kawanmu dilibas kehilangan yang mendalam. Insya Allah semoga kita dapat berjumpa kembali denganmu di surga-Nya, Aamiin.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda