Cakrawala

Pandemi dan Keterkejutan Beragama

Wabah Covid-19 telah berjalan setahun lebih di negara kita. Sebagaimana dirasakan bencana ini telah menimbulkan kesulitan masyarakat untuk beraktivitas dalam berbagai bidang kehidupan. Keterbatasan itu diberlakukan pemerintah dalam beberapa hal yang sifatnya massal dan kerumunan seperti di sektor transportasi, kegiatan ibadah, bisnis dan lainnya. Kebijakan itu dilakukan pemerintah untuk mencegah menyebarnya penyakit atau virus yang dianggap mematikan tersebut. Tentu saja kebijakan ini mempunyai niat yang baik untuk melindungi masyarakat. Namun, karena kebijakan tersebut menyentuh aspek kehidupan yang sangat fundamental antara lain  bidang agama dan ekonomi, maka terasa ada “keterkejutan” masyarakat menghadapi kehidupan “baru” ini.

Dalam kehidupan, setiap perubahan yang terjadi baik secara sengaja atau secara alamiah tentu bisa menimbulkan “keterkejutan” dalam masyarakat, dan keterkejutan itu mencakup beberapa segi diantaranya keterkejutan budaya (culturalshock),   keterkejutan sosial (socialshock) dan keterkejutan mental atau jiwa (psychologicalshock).

Saya tidak tahu secara pasti apakah ada yang dinamakan ” keterkejutan agama” atau “keterkejutan keyakinan atau akidah” , namun hal ini rasanya layak dicermati, karena sejak Covid 19 beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi Covid-19 berdampak langsung pada kegiatan peribadahan seperti shalat jamaah, salat id, ibadah haji, penguburan jenazah,  dan peringatan hari besar keagamaan

Di negara kita yang mayoritas beragama Islam, tidak bisa dipungkiri bahwa nilai dan keyakinan terhadap ajaran Rasulullah sangat  kuat. Beberapa aspek dalam ajaran Islam haruslah diakui   sangat kuat diyakini  oleh umat, yang hal itu kalau dijalankan akan menyangkut keselamatan hidup dunia dan akhirat, sebaliknya jika tidak dilaksanakan diyakini akan menimbulkan murka Allah dan menyengsarakan kehidupan. Misalnya, aturan penyelenggaraan jenazah yang harus mengikuti tata cara khusus mulai dari memandikan, mengkafani, menyalati hingga penguburan. Bahkan, setelah selesai dimakamkan masih ada tradisi mendoakan baik sendiri maupun bersama-sama hingga beberapa hari berturut-turut . 

Aturan dan syariat Islam ini ternyata dalam penyelenggaraan jenazah menurut protokol covid banyak yang tidak diketahui keluarga yang meninggal   Misalnya, keluarga tidak ada yang tahu apakah mayit telah dimandikan, dikafani sesuai ajaran Islam,  disalati  dan lainnya. Semua ini amat mencemaskan bagi keluarga korban Covid-19 yang meninggal, karena sejak seorang dinyatakan positif Covid-19 kesempatan untuk bertemu keluarga yang meninggal menjadi tertutup.  Bahkan, ketika ada keluarga meninggal, jangankan untuk menguburkan, untuk mengantar mayat saja sangat susah. Dalam suatu kasus misalnya ada keluarga yang ingin membongkar mayat yang telah dikubur sesuai prokes karena keterangan yang muncul belakangan menjelaskan tidak terkena virus Covid-19.  Dalam kasus lain seperti diberitakan ada warga yang mayat keluarganya menolak dikuburkan secara prosedur Covid-19.  Dalam suatu kasus lain pula misalnya ada warga yang sakit tidak mau berobat ke rumah sakit karena takut dinyatakan terpapar Covid-19, sebab kalau sudah masuk rumah sakit dan dinyatakan covid harapan untuk bertemu tidak mungkin lagi.

Demikian pula beberapa peribadahan lain yang pernah dilarang dengan alasan covid seperti shalat Jum’at, ibadah tarawih di bulan Ramadhan, salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena menyangkut ibadah, dan keyakinan dianggap suatu yang mutlak dan wajib dilakukan, maka tidak heran kalau ada sebagian masyarakat tetap melaksanakan salat id, meski pemerintah telah mengeluarkan larangan. Misalnya, pada tahun ini pemerintah telah melarang dilaksanakan salat Idul Adha di masjid dan tempat terbuka lainnya, kenyataannya masih ada masyarakat yang tetap melakukan salat Idul Adha di masjid.

Baik menurut ajaran Islam maupun yang dipahami oleh umat bahwa untuk mencapai kehidupan yang baik dan bahagia sesudah hari kematian, kehidupan di alam barzah maupun setelah hari berbangkit, adalah mereka yang menjalankan dengan baik ibadah kepada Allah dan amal shaleh.

Ibadah artinya yang mencakup ibadah fardu    ain maupun fardu kifayah. Ibadah fardhu ain adalah kewajiban yang dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab sendiri. Sedangkan yang fardhu kifayah selain menjadi tanggung jawab sendiri,  juga menjadi tanggung jawab bersama atau masyarakat.

Syarat untuk selamat dan mendapat kehidupan yang baik di akhirat maka ibadah dan hukum tata cara suatu kehidupan harus dijalankan menurut syariat. Misalnya, mayat yang meninggal atau wafat penguburannya harus sesuai dengan ketentuan Islam, mulai sejak dimandikan, disalati, dikuburkan semuanya ada ketentuannya dalam ajaran Islam. Jika norma ini tidak dilakukan maka yang bersangkutan baik si mayat maupun keluarganya yang menjadi penanggung jawabnya dan masyarakat akan mendapat dosa, dan di kehidupan akhirat mayat akan menderita.

Kenyataan ibadah yang tidak terlaksana secara sempurna dan tidak diketahui oleh masyarakat di era Covid-19 –misalnya dalam kasus penguburan mayat–inilah yang menimbulkan suasana dilema bagi masyarakat . Mereka mengalami ketegangan dan shock menghadapi situasi muskil ini. Konflik batin antara mematuhi peraturan dan ketentuan yang dibuat pemerintah dan keharusan menjalankan syariat agama Islam membuat masyarakat tercekam dan gundah. Inilah yang agaknya harus dipahami sebagai “culturalshock, psycholigicalshock, religiousshock” atau apalah namanya. Intinya adalah dalam soal agama dan ibadah manusia membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. Dan tidak bisa dibiarkan dalam suasana gundah dan bimbang.

Adalah lebih baik ke depan pemerintah mencari solusi yang dapat membuat masyarakat nyaman dan tenang dalam menjalankan dan memenuhi ibadah mereka. Solusinya mungkin yang bersifat fleksibel dan moderat, artinya mungkin  tidak sepenuhnya ibadah ini dilakukan seperti di masa normal, paling tidak ada kelonggaran dan kemudahan. Misalnya, untuk ibadah yang bersifat massal dan banyak orang jumlahnya  dibatasi, 50 persen atau 75 persen, disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Untuk penguburan jenazah, misalnya, diberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui bahwa telah dilaksanakan sesuai syariat dan ketentuan masing-masing agamanya.  Misalnya, untuk  masyarakat Islam mereka telah yakin dilaksanakan sesuai syariat, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalati hingga penguburan sebagaimana ditentukan syariat Islam.

Jika dalam kasus Covid-19 ini rakyat dan masyarakat  merasa terlindungi dan merasa nyaman dalam menjalankan kehidupan beragamanya, maka saya yakin rakyat pun akan merasa terbuka dan siap membantu pemerintah untuk mencegah berkembangnya virus Covid-19. Mereka akan disiplin menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

Tetapi apabila suasana  keterkejutan ini terus berlangsung, tentu tidak baik dan kondusif bagi upaya pemberantasan virus Covid-19. Dan bila dilihat pula dari sudut kesehatan mental masyarakat, suasana shock, ketegangan dan konflik bisa melahirkan masyarakat yang sakit (sick society) dan kontra produktif bagi kemajuan bangsa  Semoga tidak demikian adanya. Allahua’lam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda