Mutiara

Kisah Fariduddin Attar tentang Perempuan dan Keindahannya

Dalam kesusahanlah kalian akan tahu pada siapa kalian dapat bergantung. Dalam kebahagiaan, kalian akan punya seribu kawan.

Pagi tampak lebih gelap karena rambut hitam gadis itu. Negeri Rum pun tak keriput lantaran keindahan tahi lalatnya. Kedua alisnya yang melengkung bak dua bilah sabit di atas bulan kembar. Wajahnya berbinar bagai nyala api. Bibirnya yang basah dapat membikin semesta dunia dahaga. Bulu-bulu matanya yang lunglai adalah seratus belati. Lekuk-lekuk dagunya berdaya menghidupkan bagai khutbah Isa Al-Masih.

Syekh San’an bagai tak kuasa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Ia pun berseru, “Betapa hebat cinta yang kurasakan. Bila agama membebaskan kita, alangkah beruntungnya hati.”

Syekh bukan sembarang orang. Ia wali di zamannya. Lima puluh tahun ia ber-uzlah bersama 400 muridnya, berolah rohani siang dan malam. Banyak ilmunya, banyak pula karunia hikmah dan limpahan karamah. Salat dan puasanya tak berbilang. Sebagian hidupnya ia lewatkan di dalam haji.

Syahdan, suatu malam Syekh San’an bermimpi pergi dari Mekah ke negeri Rum. Di sana ia menyembah patung. Ketika terjaga ia pun gelisah. “Aku harus segera berangkat ke Rum. Aku ingin tahu apa arti mimpi itu. Begitulah. Syekh dan para pengikutnya lalu meninggalkan Ka’bah. Setelah berjalan dari ujung ke ujung di negeri itu, suatu hari tibalah mereka di tempat gadis itu.

Mafhum apa yang terjadi pada mursyid  mereka, para pengikut pusing bukan kepalang. Sia-sia mereka menyadarkan sang guru. “Rabbi, dalam hidup ini, hamba telah berpuasa  dan menderita, tetapi belum pernah hamba menderita seperti ini. Hamba dalam azab. Malam sepanjang dan sehitam rambutnya. Di manakah lampu surga?”

“Sadarlah, Syekh,” kata muridnya. “Jika berdosa, lekaslah bertobat,” kata yang lain.

“Tiada orang yang bertobat melebihi aku,” jawabnya. “Menyesal rasanya selama ini aku tak pernah bercinta.”

“Oh, neraka menunggu jika Tuan Guru tetap berada di jalan yang seperti ini,” berkata murid yang lain.

“Jika neraka ada, itu adalah keluhan-keluhanku yang akan mengisi tujuh neraka.”

Merasa sia-sia, para murid pun pergi.

Sebukan sudah Syekh San’an di tempat itu sampai akhirnya sang gadis keluar.

“Bila kau memujaku seperti ini, kau akan gila,” katanya.

“Ini karena kau telah mencuri hatiku,” jawab Syekh. “Kembalikanlah hatiku atau sambut cintaku. Jika kau menghendaki, maka aku bersedia mengorbankan hidupku.”

“Lebih baik kau bungkus dirimu dengan kain kafan ketimbang menghabiskan waktu memikirkan aku. Kau tak mungkin membangkitkan cinta. Pergilah.”

“Katakan sesukamu. Tapi aku mencintaimu. Tak peduli apakah apakah aku tua atau muda. Cinta mempengaruhi segala hati.”

“Baiklah, kalau kau tak bisa ditolak. Kau harus meninggalkan agamamu. Sebab, cinta yang tak menyamakan diri sang pencinta dengan yang dicintai hanyalah sekadar warna dan bebauan.”

“Akan aku lakukan.”

“Lakukan empat hal: (1) bersujudlah di hadapan patung-patung itu; (2) bakarlah Alquran; (3) minumlah khamar; dan (4) tutup matamu dari agamamu.”

“Aku bersedia minum khamar. Yang lainnya tak dapat kulakukan.”

“Baik. Mari minum bersamaku. Kau akan menerima syarat-syarat yang lain.”

Ringkas cerita, Syekh menjadi suaminya. Syarat terakhir yang diterimanya adalah memelihara babi-babinya.

Kabar pun tersiar. Akhirnya, hanya seorang sahabat yang tidak menjauhinya. “Ceritakanlah kepada kami rahasia peristiwa ini agar kami bisa mengikuti Anda,” kata sahabat itu. “Kami tak ingin Anda dalam kemurtadan seorang diri. Jika Syekh tak berkenan, kami akan kembali ke Ka’bah dan menghabiskan waktu kami dengan berdoa tidak melihat apa yang kami lihat sekarang ini.”

“Jiwaku penuh duka. Pergilah ke mana kau suka.  Takdirku sudah di sini.”

Para pengikut, yang semula mengawasi dari jauh, kini bertambah bingung. Akhirnya, mereka memutuskan kembali ke Ka’bah. Mereka menceritakan nasib Syekh kepada seorang sahabat lain. Mereka bertanya, cabang pohon buruk manakah yang telah menusuk dadanya dan apakah ini semata-mata kehendak nasib.

Sahabat itu pun cemas. Ia menyesali mereka karena sudah meninggalkan Syekh. Katanya, “Kawan harus tetap kawan. Dalam kesusahanlah kalian akan tahu pada siapa kalian dapat bergantung. Sebab, dalam kebahagiaan kalian akan punya seribu kawan. Kini di saat Syekh jatuh ke rahang buaya, setiap orang menjauhkan diri agar tetap terjaga nama baik mereka sendiri.”

“Kami sudah menawarkan diri untuk tetap bersamanya dan mengikuti agamanya,” sahut mereka. “Tapi, ia orang bijak. Kami percaya kepadanya sehingga ketika ia mengatakan agar kami pergi, maka kami pun pergi.”

“Bila kalian benar-benar ingin berbuat, kalian harus mengetuk pintu Tuhan.”

Begitulah, seperti diceritakan Fariduddin Attar dalam Mantiquth Thair (The Conference of the Birds, versi terjemahan Indonesia Musyawarah Burung), para murid itu berdoa 40 hari dan 40 malam. Sukses. Sang gadis, malam itu, bermimpi matahari turun dan mendengar kata-kata ini: Ikuti syekhmu!” Tapi Syekh sudah jauh. “Jangan kecewakan aku lantaran telah menyengsarakanmu lantaran kebodohanku!” seru gadis itu, seraya menjatuhkan diri ke tanah. Jeritan batin itu menghentikan langkah Syekh San’an. Ia mengajak kembali para muridnya.

Tetapi, para murid cemas.  Sebaliknya, Syekh mengatakan, gadis itu telah meninggalkan sikapnya yang lama. Benar, mereka akhirnya menemukan sang pengantin. Wajahnya sudah menguning, kakinya telanjang, dan pakaiannya koyak-moyak. Ketika Syekh membungkuk, si gadis pingsan. Ketika sadar, air matanya jatuh bagai embun dari kelopak-kelopak mawar. Begitu Attar menggambarkan.

“Selamat tinggal Syekh San’an. Maafkan aku. Biarkan aku pergi,” kata gadis itu, lirih.

Siapakah Syekh San’an? Siapakah gadis itu? Siapa saja di antara 400 muridnya?

Mungkin hanya tokoh rekaan untuk menggambarkan perjalanan seorang salik, penempuh jalan tasawuf, yang sering digambarkan teramat licin dan terjal itu.

Attar sendiri lahir sekitar 1120 M. Dalam sebuah inskripsi yang ditemukan tahun 1862, antara lain tertulis: “Ia tinggal di Naisabur 82 tahun. 32 tahun di antaranya dilewatkannya dalam ketenangan. Dalam usia yang sudah amat lanjut, ia dikejar-kejar pedang pasukan tentara yang menelan segalanya. Attar tewas di zaman Hulagu Khan, terbunuh sebagai syahid dalam pembantaian besar-besaran (oleh tentara Mongol) itu. Semoga Allah SWT mempersegar jiwanya.”      

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda