Cakrawala

Idul Qurban dan Perang Melawan Pandemi

Idul Adha sering disebut sebagai  Idul Qurban.  Dalam Bahasa Arab qurban  berasal dari kata qaruba  yaqrabu  yangartinya mendekatkan diri. Maksud  mendekatkan diri di sini adalah  kepada Allah SWT untuk meningkatkan derajat kita dihadapan-Nya. Idul Qurban juga sering disbut sebagai  udhiyah yang artinya berkorban dalam pengertian bahasa Indonesia.   Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  menyebutkan  salah satu pengertian berkorban adalah memberikan sesuatu untuk menyatakan kebaktian dan kesetiaan atau loyalitas . Perayaan Iddul Qurban atau Iedu Adha merujuk kepada sejarah Nabi Ibrahim yang bermimpi diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih putra tercintanya,  Ismail.  Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah itu benar-benar datang dari Allah sebagai ujian  keimanan kepadaNYA. Beliau berketetapan hati untuk mengorbankan puteranya untuk disembelih sebagaimana perintah Allah s.w.t. sebagai bentuk ketaatan akan perintah untu mendekatkan diri  (qurban) kepada Allah.

 Jadi hikmah tertinggi dalam perayaan Idul Qurban adalah melakukan  pengorbanan  (udhiyah)    kepada Allah sebagai upaya  untuk medekatkan diri  kepada-Nya.  Manifestasi dari pengorbanan adalah   memberikan seusatu yang kita cintai  dengan penuh keikhlasan.  Dalam konteks Nabi Ibrahim, sesuatu yang dicintai itu disimbolkan oleh seorang anak, Nabi Ismail. Allah mengetahui bahwa Nabi Ibrahim berhasil melewati ujian yang diberikannya dan kemudian mengganti putera kesayangannya   dengan seekor domba untuk disembelih. Pesannya adalah  bahwa  sebenarnya yang diinginkan Allah dalam ujian kepada nabi Ibrahim  bukan materi, yaitu seorang anak, tetapi hati seorang Ibrahim  dalam bentuk ketaatan atas perintah Allah. Iedul Adha juga membawa pesan kemanusiaan, yaitu mengorbankan sesuatu yang dicintai dalam bentuk materi yang disimbolkan dengan hewan kambing, sapi atau onta yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada saudara-saudara yang biasanya fakir miskin yang jarang menikmati daging hewan yang disembelih.  Pesan intinya adalah bahwa dalam hari raya Iedul  Qurban Muslim yang mampu diwajibkan untuk mengembangkan empati, solidaritas sosial  dalam bentuk berkurban ( udhiyah) sebagai sarana mendekatkan diti (qurban) kepada Allah SWT.

 Perang Melawan Pandemi

Pada dua kali Idul Qurban,  umat Islam dan bangsa Indonesia   dihadapkan pandemi Covid-19 yang menghantam seluruha dunia  sejak  18 bulan yang lalu. Sehingga perayaan Idul Adha tidak bisa dilakukan sebagaimana biasanya.  Pada dua kali  perayaan  Idul Qurban ini umat Islam tidak bisa menjalankan ibadah di lapangan dan menyembelih kurban rame-rame sebagi upaya menghindarkan diri dari pandemi (outbreak) Covid-19  telah menelan korban jiwa meninggal  lebih dari 4 juta orang dari berbagai negara dan berbagai latar belakang etnik dan pemeluk agama. Sementara itu ratusan juta lainnya dinyatakan positif terinfeksi. Di Indonesia sendiri jumlah  korban jiwa meninggal  telah mencapai lebih dari 73 ribu per  19 Juli 2021.  Sedangkan jumlah positif tertular lebih dari 2,8 juta jiwa dan jumlah yang sembuh lebih dari 2, 2 juta jiwa. Artinya sampai saat ini  di Indonesia masih ada lebih dari sekitar 500 ribu jiwa dalam status penyembuhan. Jumlah ini akan terus meningkat dan kita semua belum tahu kapan jumlah korban kematian  (death toll)  dan pandemi Covid-19 akan berhenti.

Masalah kesehatan ini kemudian be implikasi kepada persoalan ekonomi dan social yang memakan korban hampir seluruh umat manusia, tak terkecuali  umat Islam dan bangsa Indonesia. Pencegahan penularan Covid-19 harus  dilakukan dengan cara melakukan pembatasan kegiatan masyarakat dalam berbagai bentuknya seperti penguncian (lock-down) Pembatasan Sosial Berskali Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), PPKM Mikro hingga PPKM Darurat.  Implikasi dari pembatasan mobilitas ini telah memperburuk dunia usaha.  Mall, took, restoran, hotel, ditutup atau dibatasi kegiatannya. Mekanisme pasar yang menjadi jantung sistem ekonomi bahkan pernah berhenti.  Tidak ada  permintaan dan penawaran (supply & demand).  Banyak perusahaan tidak bisa beroperasi  atau bangkrut.  Karena sudah tidak bisa menutup beaya operasionalnya,  sebagian perusahaan ini akhirnya meliburkan karyawan. Sebagaian  besar lagi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).  Akibatnya  lanjutannya adalah jumlah pengangguran dan angka kemiskinan meningkat. Menteri Keuangan Sri Mulyani, bahkan mengumumkan  Indonesia memasuki sebuah fase yang disebut sebagai resesi ekonomi.

 Berkorban untuk  Mengatasi Pandemi

Kaum agamawan  melihat  bahwa pandemi ini sebagai hukuman  atau cobaan dari Tuhan kepada  manusia yang selama ini terlalu focus kepada persoalan atau kemajuan fisik atau materi, dengan mengesampingkan. Para ilmuwan melihat fenomena ini sebagai gejala alam yang ciklical sebagaimana pandemi-pandemi penyakit menular sebelumnya seperti kolera, malaria, influenza,  flu burung dan lain –lainnya yang pernah memakan ratusan ribu korban umat manusia sebelumnya, walaupun dengan intensitas yang berbeda.  Siapapun bebas memberikan tafsir  terhadap Pandemi. Namun realitas yang  dihadapi  adalah jutaan orang meninggal, ratusan juta lainnya terinfeksi, milyaran orang  harus tinggal dirumah ,  jutaan orang kehilangan pekerjaan dan masuk kedalam kategori miskin.   Resesi ekonomi ini dihantui oleh krisis pangan sebagaimana yang  diingatkan oleh  lembaga pangan dunia (WHO) .

Untuk mengatasi persoalan dampak  / implikasi dari pandemi  ini, pemerintah melakukan langkah-langkah  refocusing anggaran untuk mengatasi masalah kesehatan, bantuan social dan memberikan bantuan kepada perusahaan skala mikro untuk bisa bertahan. Batuan Sosial dalam bentuk penyediaan kebutuhan pokok dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) diharapakan dapat membantu masayarakat  untuk bertahan hidup (survive) dan menghadapi   gelombang Covid-19. Sebab jika meningkatnya  pengangguran dan kemiskinan tidak bisa segara diatasi dengan bantuan sosial, akan berpotensi menimbulkan kekacauan sosial, misalnya kelaparan, kriminalitas seperti penjarahan dan konflik sosial.

Namun demikian, negara tidak bisa sendirian. Negara memerlukan dukungan  masyarakat dari berbagai tingkatan. Dukungan itu tentunya dalam bentuk pengorbanan kepentingan atau  kesukaan  individual demi kepentingan bersama. Pengorbanan yang diperlukan dalam memerangi pandemi ini bisa berjenjang dari yang paling mudah seperti mentaati protokol kesehatan (prokes) seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jaran,  berkerja, belajar dan beribadah rumah (work from home). Bagi orang yang mempunyai kapasitas pengorbanan bisa dalam bentuk bantuan pikiran, waktu, tenaga, materi seperti uang, alat kesehatan, bahan makanan  untuk diberikan kepada untuk saudara-saudara kita yang  kurang beruntung  dan membutuhkannya. Jika direnungkan  Pandemi Covid-19 ini merupakan ujian dari Allah untuk mengukur tingkat solidaritas, empati, gotong royong, dan kebersamaan umat.  Bagi umat Islam perayaan Idul Adha kali ini merupakan momentum yang siginifikan  untuk menggelorakan  nilai-nilai  pengorbanan (udhiyah)  sebagai komponen nilai  utama untuk menumbuhkan rasa empati, solidaritas, gotong royong (taawun), persaudaraan  (ukhuwah) sebagai upaya mendekatkan diri (qurban) kepada Allah SWT. Bersama dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh negara, mudah-mudahan pengorbanan yang dilakukan masyarakat  akan memenangkan umat manusia, umat Islam dan bangsa Indonesia perang melawan pandemi Covid-19 yang  seakan  masih  misteri ini.

About the author

Sri Yunanto

Dr. Sri Yunanto. M.Si adalah Associate Profesor Magister Ilmu Politik , FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakara. Staf Ahli Menko Polhukam (2016-2019) menulis berbagai isu tentang politik dan Gerakan Islam dan Isu Kemanan. Beberapa Karyanya adalah Militant Islamic Movement in Indonesia and Southeast Asia (English), Gerakan Militan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara (edisi Indonesian, 2003), Islamic Education in South and Southeast Asia (2005). The Fragmentatation and Conflict of Islamic Political Parties During Reformasi Era ( 2013) Menata Ormas, Memperkuat Bangsa ( 2017)

Tinggalkan Komentar Anda