Cakrawala

Bentuk Komunikasi Terbaik dengan Allah

Homo religius adalah ungkapan yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki perasaan ketuhanan dalam dirinya  Hanya dalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki tingkat penghayatan yang berbeda dalam merasakan” keterlibatan” agama dalam hidup.

Ada orang yang sukses dalam kehidupan ekonomi yang mungkin berfikir bahwa keberhasilannya karena kerja keras, ketekunan dan disiplin yang tinggi. Ia tidak sedikitpun merasa bahwa segala prestasi yang dicapainya bukan karena karunia dan pertolongan Allah.

Sebaliknya, ada juga orang dengan prestasi dan sukses yang sama dalam kesejahteraan hidup merasakan apa yang diperolehnya merupakan nikmat yang diberikan Allah. Ia menganggap usaha dan kerja kerasnya semata ikhtiar saja namun hasil akhirnya merupakan karunia Yang Maha Kuasa.

Ada juga orang yang kondisi ekonominya mungkin pas-pasan, rezekinya tidak pernah bertambah maupun berkurang, merasakan bahwa Allah kurang memperhatikan hidupnya, ia merasa agama tidak begitu penting baginya,  dan tidak mempengaruhi pertambahan rezekinya.

Tetapi, ada orang yang hidup dalam kondisi ekonomi yang tertekan, masuk kategori miskin , pra sejahtera atau di bawah garis kemiskinan, menerima keadaan itu sebagai nasib yang telah digariskan Allah atau agama, dan ia bisa menerima sebagai sebuah taqdir yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa.

Persepsi dan penghayatan setiap orang terhadap agama dan Tuhan seperti yang digambarkan di atas tentulah sangat berpengaruh pada hubungan, komunikasi dan kontak manusia dengan Allah yang merupakan inti dari kepercayaan terhadap agama. Manusia yang memiliki penghayatan positif terhadap Allah bisa dipastikan bahwa hidupnya selalu dijalin dan memiliki hubungan yang intens dengan Allah. Berbeda dengan orang yang kurang memiliki persepsi positif terhadap Allah atau hanya biasa-biasa saja maka komunikasinya dengan Allah tidak terlalu berarti, atau tidak ada sama sekali 

Ingat Allah saat susah

Secara garis besar dapat dilihat tiga bentuk kelompok besar manusia dalam berkomunikasi dengan Allah. Pertama, orang yang tidak peduli sama sekali untuk melakukan kontak dengan Allah. Orang tipe ini adalah mereka yang dikuasai nafsunya untuk memburu kesenangan duniawi. Ia memang mengaku beragama Islam, namun semata sebagai identitas KTP saja, agar diterima dalam pergaulan sesama manusia.

Orang tipe di atas adalah yang merasa mampu hidup mandiri, tanpa menyadari adanya zat Yang Maha Kuasa. Hidupnya diabadikan untuk dunia semata, tidak memperdulikan kehidupan akhirat. Kematian baginya adalah persoalan nafas yang lepas dari badan, setelah itu tidak ada persoalan lagi. Ia tidak menyadari atau pura-pura tidak tahu, bagaimana manusia lahir, tumbuh menjadi remaja, masa dewasa, berkeluarga, memiliki anak, tua dan akhirnya berpulang ke rahmatullah.

Manusia seperti ini tergolong manusia yang paling merugi, dan biasanya  nafsunya tidak pernah terpuaskan, di dunia ia mengejar apapun yang diinginkan, tentu tidak seluruhnya akan berhasil. Ia tidak akan pernah mengalami kepuasan dan kebahagiaan hidup karena naluri spritualnya tertutup, yang  ada hanya ego-lahiriahnya, nafsu raganya, sedangkan kepuasan rohaniahnya ditindas dan tidak diberikan penyalurannya. Itulah sebabnya, kontak dengan Sang Khalik, Allah pencipta kehidupan tidak penting baginya.

Kelompok kedua, mereka yang melakukan kontak dengan Allah bersifat insidental, hanya sewaktu-waktu saja. Ada yang ingat pada Allah ketika hidupnya mengalami kesulitan, tetapi begitu terlepas dari penderitaan hidup ia lupa pada Allah, kembali pada rutinitas hidup semula, tanpa ingat kembali  siapa yang telah menjadi penolongnya. .

Dalam Al-Quran banyak diungkapkan perilaku manusia seperti ini, baik dalam bentuk penggambaran suasana manusia yang sedang memohon pertolongan Allah dalam kesulitan maupun yang secara langsung mengungkap tipe manusia yang tidak berterima kasih setelah mendapat pertolongan dari Allah.

Untuk yang pertama, misalnya, dilukiskan bagaimana Allah menolong orang yang  menghadapi badai di lautan saat berlayar seperti kita kutip dalam Al-Quran surat Yunus ayat 22-23,” Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan berlayar di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurkan bahtera itu membawa orang-orang yang berada di dalamnya dengan tiupan ingin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung bahaya maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. Mereka berkata, sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa alasan yang benar..”.

Dalam makna yang hampir sama Allah berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 65-66. ” Tatkala mereka telah berada di kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan ikhlas. Tetapi, setelah mereka selamat sampai ke darat, tiba-tiba mereka menjadi orang musyrik. Mereka membangkang terhadap nikmat yang kami berikan untuk dapat berfoya-foya. Biarlah,kelak mereka mengerti sendiri”.

Dalam surat Lukman atat 32 kembali Allah mengulang dengan arti yang tidak jauh berbeda. ” Apabila mereka diterjang gelombang yang laksana gunung besarnya, mereka berdoa kepada Allah dengan ikhlas. Tetapi, setelah mereka diselamatkan Allah sampai ke darat tinggallah sebagian saja di antara mereka yang tetap berjalan di atas jalan yang lurus  Tidak ada yang membangkang terhadap ayat-ayat kami,kecuali orang-orang yang tidak setia atau kafir”.

Al-Quran termasuk cukup sering mengutip manusia-manusia yang meminta pertolongan kepada Allah dengan memberi perumpamaan saat mereka ketakutan dalam pelayaran di laut. Ini agaknya ingin menunjukkan betapa manusia pada saat yang amat kritis dalam hidupnya ingat dan butuh dengan Allah,namun begitu bahaya lepas mereka lupa pada Allah yang telah nenolongnya. Dan perumpamaan yang paling cocok  tentunya adalah saat di laut yang bahayanya teramat sukar untuk diatasi. Beberapa contoh ayat Al-Quran mengenai perumpamaan ini bisa ditampilkan.

Dalam surat al-Israa ayat 67-69 Allah berfirman.” Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih. Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tihan ) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa ) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang perlindungpun bagi kamu. Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taufan dan ditenggelamkannya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun dalam hal ini terhadap siksaan Kami”

Dari ayat Al-Quran di atas jelas dilukiskan sebuah sifat buruk manusia, pada saat terjepit yang mengancam jiwanya ia begitu pasrah berdoa kepada Allah, memberikan janji-janji yang muluk, akan berbuat baik dan setia berkomunikasi atau berzikir mengingat Allah, namun begitu bahaya lepas ia lupa dengan janjinya, Allah tidak lagi diingatnya , bahkan mungkin tidak penting lagi baginya. Persis seperti kata peribahasa, habis manis sepah dibuang. Hanya ingat Allah saat dibutuhkan,begitu beban masalah lepas lupa pada yang menolong, akhirnya jadilah hamba yang tidak berterima kasih dan bersyukur.

Perilaku buruk manusia seperti di atas bukan saja ketika menghadapi bahaya yang mengancam fisiknya seperti di lautan, bisa juga ketika menghadapi masalah yang lain kesulitan hidup atau kekurangan materi. Dan, Al- Quran juga cukup banyak mengungkap perilaku buruk manusia semacam ini. Bisa kira lihat dalam beberapa firman Tuhan dalam Al-Quran.

Pada surat asy-Syuura ayat 27:Allah berfirman. ” Dan kalau Allah telah memberi rezeki yang luas bagi hamba-hambanya, maka berbuat sewenang-wenanglah dia di muka bumi “.

Kemudian dalam surat Yunus ayat 21 Allah berfirman. “Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah datangnya bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam menentang tanda-tanda kekuasaan Kami”.

Lebih tegas lagi Allah menunjukkan dalam Al-Quran surat an-Nahl ayat 54. ” Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan yang lain”.

Cukup jelas dalam ayat ini terdapat manusia yang hanya mau berhubungan dengan Allah kalau ingin mendapatkan sesuatu baik kedudukan, harta atau kekuasaan, tetapi setelah apa yang diinginkan terpenuhi maka ia lupa dengan Allah, bahkan apa yang diberikan Allah digunakannya untuk sesuatu yang berlawanan dengan keinginan Allah. Manusia tipe ini bukanlah orang yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Kelompok ketiga,  inilah orang yang beruntung yang dalam hidupnya selalu ingat dengan Allah.Setiap tindak tanduknya baik perkataan, perbuatan, dan cara berfikirnya hukum-hukum yang digariskan Allah selalu menjadi rujukan, kalau sesuai dengan garis yang telah ditetapkan Allah barulah dilaksanakan, sebaliknya kalau bertentangan dengan hukum Allah, walaupun nendatangkan keuntungan besar, akan ditolaknya. Murka Allah lebih dicemaskannya dari pada murka manusia.

Ia juga menjaga kesucian dan kesehatan makanan yang dikonsumsi diri dan keluarganya. Demikian juga menjaga kehalalan rezeki yang diperoleh  Karena ia yakin dengan makanan yang suci dan baik yang masuk ke dalam tubuh bukan saja fisik manusia yang sehat, tapi juga jiwa dan mental manusia mendapat berkah dan lindungan dari  Allah 

Karena hubungannya yang intens dengan Allah manusia tipe ini juga tidak pernah lupa menjalankan kewajibannya kepada Allah, baik yang fardhu maupun yang sunat. Ia pun tidak kikir dengan harta, materi baginya adalah titipan Allah yang harus digunakan untuk kebaikan bagi sesama.

Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, ini adalah ciri lainnya tipe manusia ini. Ia tidak pernah lupa diri dengan harta, tahta maupun wanita. Harta tidak mempengaruhi dirinya untuk nenjauhi Allah. Ada ataupun tidak ada harta baginya sama saja, ia gembira di kala miskin dan tetap ramah ketika kaya. Dan semboyan hidupnya tidak pernah berubah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah mencari keridhaan Allah.

Manusia seperti inipun memiliki perasaan yang halus. Mudah tersentuh bila melihat tanda-tanda kebesaran Allah baik yang terbaca melalui peristiwa-peristiwa alam maupun kejadian-kejadian yang berlangsung di antara manusia  Mereka inilah yang diungkapkan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 191 dengan ungkapan.” Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tantang penciptaan langit dan bumi seraya berkata.”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Demikian meresapnya perasaan mereka terhadap Allah sehingga kalaupun hanya disebut nama Allah maka hati.mereka secara kontak langsung bergetar. Dan bukan hanya itu mereka menjadi pribadi yang sempurna dengan sifat-sifat sabar, taat beribadah dan mengasihi sesama manusia dengan semangat beramal dan berkorban yang tinggi. Secara gamblang mereka dilukiskan dalam Al-Quran surat al-Hajj ayat 35. “Yaitu orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati.mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka”.

Kelompok ketiga inilah yang patut kita tiru karena akan memberikan kebahagiaan yang hakiki. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda