Tafsir

Tafsir Tematik: Dibunuh, Diculik, Dianiaya (3)

Oleh sebab itu Kami tuliskan atas Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh suatu juwa, bukan lantaran suatu jiwa atau pengrusakan di muka bumi, seakan membunuh manusia kesemuanya; dan barangsiapa menghidupinya seakan menghidupi manusia kesemuanya. (Q. 5: 32)

Hakhak Dasar

Yang dirugikan, dengan “tafsir long shot” semacam itu, ialah kehendak agung untuk menekankan dosa pembunuhan – menekankan harga manusia. Ini hak paling dasar dalam Alquran – hak hidup – sementara para samurai, Namrudz maupun berbagai budaya feodal menganggap nyawa para kawula adalah kagungan Dalem, milik penguasa.

Ditegaskan lebih lanjut dengan ayat-ayat mengenai kisas dalam Alquran, hak hidup itu akan diikuti hak-hak kebebasan beragama (Q.  2: 256; 10: 99; 18: 29; 22: 40; 109: 1-6, dll.), cinta kasih dan keturunan (Q. 2: 233; 7: 189; 30: 21; 31: 14; 46:15), pemilikan harta dan profesi (Q. 2: 188,279,282; 4: 2,10,29,32,161; 6:152; 9: 34; 17: 34; 18: 82; 24: 33; 38: 23-24), kebebasan berpendapat (Q. 3: 159; 39: 18; 42: 38), perlakuan adil, di dalam di luar lembaga hukum (Q. 2: 188; 4: 58; 5: 8,42; 33: 58; 49: 6; 60: 12; dll.), pengembangan solidaritas dan kelompok (Q. 3: 103; 9: 183,122; 49: 9,10), dan pemilikan harga diri (Q. 27: 34).

Itulah yang, lewat beberapa formulasi, dikenal dengan hak asasi manusia. Dalih bahwa orang punya “tafsir sendiri” mengenai HAM, yang praktis bisa dikorbankan demi “stabilitas”, dan akhirnya pertumbuhan ekonomi (yang terbukti keropos), adalah khas negara terbelakang (bisa dibaca: khususnya Indonesia) yang selalu memuji diri sendiri demi menghindari perubahan. Di negeri-negeri itu para tersangka kriminal (tetapi bukan koruptor) bisa ditayangkan di televisi dengan tubuh bengkak-bengkak, atau hampir tak bisa jalan, dihina dengan ditelanjangi sampai tinggal cawat, sementara mereka belum diputus bersalah. Dan tiba-tiba saja rumah orang digeledah seenaknya. Lalu seseorang dilaporkan hilang. Lalu yang lain. Lalu yang lain lagi. Lalu orang bertanya, “Negeri apa ini?”

Dibalas Setimpal

Berikut contoh bagaimana kitab-kitab fikih, yang merupakan rekaman dialog ajaran Islam dengan sejarah (dari zaman yang misalnya masih mengenal perbudakan) menggariskan hukum kisas(balas setimpal) berdasarkan Quran dan Sunnah.

Manusia tidak dapat dibunuh tanpa alasan yang benar. Budak adalah manusia, dan dosa membunuh budak bagi Allah sama besarnya dengan terhadap orang  merdeka (Sa’di Abu Habib, ensiklopedi Ijmak; terj. KH A. Sahal Mahfudz dan H.A. Mustofa Bisri, 36). Kisas pembunuhan hanya berlaku untuk tindakan yang disengaja. Membunuh tak sengaja, misalnya waktu berburu, dikenai kewajiban diat, tebusan. Membunuh karena terpaksa, akibat membela diri (yang adalah wajib), bebas dari hukuman. (An-Nawawi, Syarh Muslim, I: 513; Ibn Hajar, Fathul Bari, XII: 178).

Orang yang, dalam keadaan mampu, menolak memberi minum orang yang minta, sampai ia mati, padahal orang itu tahu penolakannya bisa menyebabkan kematian, dikenai kisas bunuh. Jika ia tak tahu, dikenai kewajiban diat. (Abu Habib, op.cit., 58n). Ini bisa kita bawa ke kasus orang yang menyekap orang lain dan sengaja tak memberinya minum, makan, atau obat.

Dalam kisas, pria dan wanita berkedudukan sama (Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid, II: 392-393; Nawawi, op.cit., VII: 174); Ibn Hajar, op.cit.:167,180; Syaukani, Nailul Authar, VII: 16). Juga muslim dan nonmuslim – kecuali kafir harbi, yang berhubungan dengan status perang (Ibn Rusyd, op.cit.:  391-392; Abu Habib, op.cit.: 330; Syaukani, op.cit.: 10). Kalau banyak orang membunuh satu orang, mereka semua dibunuh (Al-Mughni, VIII: 268, 269).

Kisas harus disepakati seluruh ahli waris korban, minus ahli waris yang belum dewasa. Seorang saja tak setuju, batal (Ibn Rusyd, op.cit.: 395). Dan harus mendapat izin kepala negara (Ibn Hajar, op.cit.: 181). Hukuman itu berlaku bagi pejabat, pegawai, rakyat jelata, sama rata (Al-Mughni, VIII: 261). Pembebasan kisas dianjurkan, dengan atau tanpa ganti rugi, tetapi ahli waris tidak dapat dipaksa untuk itu (Ibn Rusyd, op.cit.: 395; Syaukani, op.cit.: 30).

Kisas juga berlaku dalam hal tindakan yang menyebabkan luka atau kerusakan tubuh. (Ibn Rusyd, op.cit.: 397-398), dengan syarat: hukuman dapat dilaksanakan tanpa kemungkinan perambatan – misalnya kisas perusakan tulang, yang bisa mengakibatkan kematian. (Syaukani, op.cit.: 24). Dalam kasus tempelengan dan cambukan, diberlakukan kisas. (Ibn Hajar, op.cit., XII: 192).  Juga dalam kasus pengrusakan kemaluan (AlMughni, VIII: 328). Tidak halal memaksa tersangka, demi pengakuan, dengan pukulan, kurungan, atau ancaman (Abu Habib, op.cit.: 494). Hukumannya tentu saja balasan cara-cara pemaksaan itu, setelah keputusan hakim.

Bagaimana dengan penyetruman, pencabutan kuku, perendaman, penenggelaman? Itu juga bisa dikisaskan, tergantung vonis. Tangkap saja oknum pelakunya, kalau memang mau. Perlakukan seperti yang sudah mereka perbuat. Dan secara terbuka. Coba. Demikian orang berangan-angan.  

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 18 Mei 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda