Bintang Zaman

SIS Al-Jufrie : Amalnya, Mengedukasi Masyarakat (2)

Sebagai juru dakwah, SIS Al-Jufrie yang lebih dikenal dengan Guru Tua pun memperlihatkan dirinya dengan segenap eksistensinya. Meski dalam kondisi telah berumur (dari mana masyarakat menyebut beliau ’Guru Tua’). Dengan kesungguhannya mentransformasi pengetahuan keagamaan, hal itu tidak mengurangi kebesaran kiprahnya. Meski sempat ada orang yang bertanya, mengapa beliau tidak mewariskan kitab.

Tentang hal itu, Guru Tua hanya menjawab: Hādzihii kutubi, Inilah kitab-kitabku,” seraya menunjukkan hamparan bangunan perguruan Al-Khairaat. Tak terbantah, kiprah Guru Tua yang berpulang pada 12 Syawal 1389 (22 Desember 1969), berlanjut sampai hari ini di tangan abna’l khairaat, dengan 1000 lebih cabang yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia. Ini dilaporkan Mingguan Al-Khairaat (Juni 1993). Buah perjuangan seorang Guru Tua, bisa dipandang sebagai gerakan pemberdayaan riil yang menyuntikkan semangat perubahan. Yang luar biasa, sepanjang 1930-1969, tokoh kelahiran Taris (Hadramaut, Arab Selatan), 15 Sya’ban 1309 (16 Maret 1889) ini berjuang dalam tiga zaman: kolonialisme (lama) Belanda, Jepang, dan awal kemerdekaan ketika Indonesia baru mengkonsolidasikan diri sebagai bangsa. Pada ketiga masa sulit itu, semangat keswadayaannya tak diragukan lagi.

Bagaimana wakaf pendidikan bisa berkembang? Semua bergerak alamiah melalui pola-pola pendidikan yang santun. Diksi dakwah Guru Tua tak pernah menghentak, bisa diterima semua kalangan, bahkan cukup simpatik terhadap umat nonmuslim. Guru Tua menunjukkan semangat memberi, baik ilmu maupun apapun benda-benda pribadi yang ada pada dirinya. Dalam ungkapan seloroh saja, ketika ada yang memuji betapa bagus terompah (alaskaki) Guru Tua, diam-diam Guru Tua sudah membungkus terompah itu dan menyuruh seseorang menyerahkan terompahnya kepada orang yang memujinya (seperti disampaikannya dalam interview dengan penulis , 2011).  

Sejak meninggalkan Hadramaut (Yaman Selatan) karena diusir pemerintah kolonialis Inggris, Idrus bin Salim al-Jufrie ke Batavia, ingin mengenal lebih dekat tanah kelahiran ibundanya.  Di Batavia-lah, pertama kali Habib Idrus bin Salim Aljufrie memainkan peran pertama kali. Sejak saat itu, aktivitasnya pun terbilang cukup padat. Ia berpindah dari satu mimbar ke mimbar lainnya untuk mengajarkan agama kepada umat ketika itu. Cara Guru Tua mengajarkan pengetahuan Islam dan mempraktikkan dalam kesehariannya, membuat banyak orang terkesan. Tahun 1926, menjadi tahun penuh kesibukan Sang Guru Tua. Tentang itu, jurnalis lokal memaparkan pada weblog (Ruslan Sangaji, September 2007).

Berdakwah ke Wilayah Timur

Perjalanan dakwah di Jawa, meluaskan relasi Guru Tua. Beliau berkenalan dan menjadi teman diskusi dengan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, di Jombang, Jawa Timur, dan kerap kali terlibat dalam pembicaraan, bahkan perdebatan sekitar masalah agama hingga upaya meningkatkan kualitas umat Islam melalui jalur pendidikan di pesantren. Tidak hanya itu. Guru Tua juga melanjutkan dakwah ke Solo, Jawa Tengah dan ia dipercaya membina madrasah Al Rabithah Al Alawiyah cabang Solo. Selain sebagai pengajar, ia juga ditunjuk sebagai kepala sekolah tersebut. Saat ini,  lembaga pendidikan Al Rabithah Al Alawiyah telah berubah nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro.

Mengapa Guru Tua tidak menetap di Jawa, malah mengembangkan lembaga pendidikan di Palu, Sulawesi Tengah? Menurut Sagaf bin Muhammad bin Salim Aljufrie, cucu Guru Tua, saat itu di Jawa sudah sangat banyak ulama dan habaib. Tahun 1929, Guru Tua berlayar ke kawasan timur Indonesia, berawal di Ternate, Maluku Utara. Di wilayah yang dijejakinya itu, kelak Guru Tua kembali hadir dan didaulat meresmikan sejumlah aset wakaf untuk pendidikan.

Beberapa saat mengajar di daerah kesultanan Islam itu, beliau melanjutkan perjalanan lagi ke Donggala, Sulawesi Tengah. Di Donggala ia mendapati masyarakat masih hidup dalam kepercayaan animisme dan dinamisme. Guru Tua terpanggil untuk mengajak umat di Donggala memeluk Islam. Beliau mendekati para tokoh masyarakat setempat, sampai akhirnya menikah dengan putri Donggala dari keturunan raja setempat. “Pada masa-masa itulah, Guru Tua menyampaikan keinginannya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam,” kenang Saggaf bin Muhammad Aljufrie yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Tengah ini.

Respon atas gagasan itu, seorang tokoh bernama Mahmud Rifa’i yang bermukim di Wani – di sebuah Kecamatan bernama Wani, 20 kilometer dari Kota Palu, menyatakan kesiapannnya menerima Guru Tua mengajar di Wani. Rifa’i  menyediakan tempat belajar lengkap dengan fasilitas belajarnya, bahkan sudah ada sejumlah santri. Guru Tua pun menuju Wani memenuhi harapan itu.

Tak lama setelah Guru Tua berkiprah di Wani, tokoh-tokoh Arab terpandang di Palu, seperti Nasir bin Chamis al-Amiir dan Abdurrahman bin Husein al-Jufrie, menyusul ke Wani, meminta Guru Tua membuka madrasah di Palu. Guru Tua pun kembali ke Palu dan berdirilah madrasah Alkhairaat. Madrasah Alkhairaat yang pertama ini diresmikan pada 14 Muharram 1349 atau 1930 Masehi. Dari situlah, cikal bakal berdirinya ribuan madrasah dan sekolah Alkhairaat di kawasan Timur Indonesia. Data resmi PB AlKhairaat menyebutkan, wakaf pendidikan di lingkungan Perguruan AlKhairaat meliputi 1.816 madrasah dan sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) serta Universitas Alkhairaat, tersebar dari Palu hingga Papua, berpusat di Palu.

Kunci Sukses Dakwah Guru Tua

Apa kunci sukses Guru Tua menggalang wakaf di Kawasan Timur Indonesia ini? Sebelumnya, sudah ada banyak guru, banyak da’i, tetapi yang memiliki kharisma dan kesejukan begitu besar, baru Guru Tua pada zamannya. Sikap dan tutur katanya, memancing banyak orang menyukai dakwahnya. Dari satu kota ke kota lain, bahkan melintas laut, beliau menerima panggilan dakwah. Bersamaan dengan itu, beliau juga menerima mandat berupa wakaf. Banyak orang ingin mendukung dakwah beliau dengan menyerahkan hartanya guna membuka madrasah, atau sarana dakwah lainnya. Biasanya, aset-aset itu diserahterimakan Guru Tua kepada orang-orang yang dipercaya di daerah di mana aset wakaf itu diberikan. Tak ada pencatatan khusus, tak ada pengorganisasian yang ketat. Modalnya, kepercayaan. Orang yang diberi mandat, berbilang tahun akan merawat aset wakaf itu.  Sejumlah tanah kebun, seperti kebun kelapa dan kakao, juga diwakafkan untuk menyokong dakwah Guru Tua. Hal ini bergulir sejak awal Guru Tua berdakwah di Palu, Sulawesi Tengah.

Sebagai figur berdarah paduan Arab-Sulawesi, ayahnya Sayid Salim bin Alawy seorang mufti di Hadramaut, dan ibunya Andi Syarifah Nur putri keturunan seorang raja di Sulawesi Selatan, yang bergelar Arung Matowa Wajo, Guru Tua sanggup mengedepankan dirinya putra Indonesia dari garis ibundanya. Karena tidak mengedepankan Arabisme, dakwahnya meraih simpati lintas etnik. Ditilik dari perspektif marketing, ada beberapa kunci kunci sukses ’marketing wakaf” ala Guru Tua. Guru Tua secara jitu telah menerapkan teori marketing mix yang diperkenalkan Michael E. Potter, yaitu apa yang dikenal dengan akronim 4P: Product (produk), Price (harga), Place (tempat/distribusi) dan Promotion (promosi).

Pertama, dari aspek product (produk), Beliau lebih memilih memfokuskan produk Alkhairaat dalam bentuk “Kitab Hidup” yang didisain dengan standar dan spesifikasi tertentu serta melalui proses total quality control bernama qira’ah. Hasilnya, lahirlah murid-murid yang ahli fiqh, faraid, lughah, dan lain-lain sebagai kitab hidup yang bisa berdiskusi secara interaktif dengan pembacanya (ummat). Mengapa Guru Tua lebih mengutamakan produk “kitab hidup” ketimbang “kitab tertulis”? Jika menggunakan kacamata teori pemasaran, memang kitab hidup itulah yang layak dan efektif saat itu. Karena selain masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur lebih lekat dengan budaya tutur ketimbang budaya baca, juga karena kondisi geografis Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur sebahagian besar adalah daerah pedalaman di mana buku-buku menjadi sesuatu yang mewah dan tak terjangkau masyarakat kebanyakan kala itu.

Kedua, dari aspek price (harga), Guru Tua menerapkan penetrasi pasar dengan pendekatan kedermawanan. Murid-murid yang belajar padanya di perguruan Alkhairaat dibebaskan dari biaya pendidikan. Mereka, para murid tersebut justeru disantuni, baik dari fasilitas tempat tinggal maupun kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi, program pendidikan gratis yang saat ini acapkali dikampanyekan oleh kandidat pada saban Pilkada tiba, justeru telah dipraktekkan oleh Guru Tua jauh hari sebelumnya.

Ketiga, dari aspek place (distribusi). Dalam membangun dan menumbuhkan minat pasar (ummat) untuk berguru di Alkhairaat, Guru Tua menggunakan pendekatan yang dalam teori pemasaran bisa dikategorikan sebagai pendekatan direct selling (pemasaran langsung) dengan memberikan peran pada murid-muridnya sebagai sales force (tenaga penjual langsung). Guru Tua menyebar murid-muridnya ke berbagai pelosok kampung di Sulawesi Tengah maupun Indonesia Timur untuk memasarkan ilmu-ilmu agama ataupun membangun madrasah-madrasah sebagai toko-toko yang memasarkan (memberi pelayanan) ilmu agama Islam.

Keempat, dari aspek promotion (promosi), Guru Tua menggunakan pendekatan yang menurut Philip Kotler sebagai cara promosi paling efektif dalam menumbuhkan preferensi, keyakinan dan tindakan pembeli, yakni personal selling (penjualan tatap muka). Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Guru Tua mempertunjukan kapasitas dan kualitas murid-muridnya di event-event keagamaan, baik lokal, nasional maupun internasional. Beliau pernah membawa sejumlah muridnya melawat ke beberapa wilayah di Timur Tengah. Di sana beliau mempertunjukkan kemampuan murid-muridnya dalam membaca berbagai kitab, dan mendapat pujian dari ulama besar di sana.

Dengan kiprah yang seluas itu, masyarakat bertanya, mengapa Guru Tua tidak melakukan ”manajemen wakaf terpusat” dan menginventarisasi aset wakaf itu di tangan PB Akhairaat bisa mencapai puluhan provinsi, dari Sulawesi Tengah sampai Papua Barat? Seluruh cabang itu dibiarkan otonom dan mandiri. Inilah wujud kearifan Guru Tua, setiap cabang dibebaskan membangun dan membesarkan perguruan dengan inisiatif sendiri. Tahun 1930-an sampai Orde Baru, bisa dibayangkan tingkat represivitas penguasa terhadap kekuatan Islam. Di sisi lain, secara musiman, kekuatan politik dominan selalu ingin memanfaatkan lembaga keagamaan dengan pengikut yang besar untuk mengalirkan dukungan. Ini ditempuh melalui kucuran bantuan ini-itu. Biasanya, hutang budi itu dibayar mahal berupa dukungan seluruh abna’ul khairaat (keluarga besar al-Khairaat) terhadap kekuatan politik yang sudah menanam jasa padanya.

Rujukan:

Nainggolan, Nurhayati, et.al, 1986, Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala (Hasil Seminar Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala), Pemda Donggala, Palu

Sangadji, Ruslan, http://ochan-journalist.blogspot.com/2007/09/karya-sang-guru-itu-bernama-alkhairaat.html (diakses 17 Agustus 2011)

Sofyan Thaha Bachmid, paparan peringatan Haul Guru Ke-42, 12 Syawwal 1430 H/ 21 September 2010 M di Palu (dalam kapasitas sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PB Al-Khairaat)

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda