Cakrawala

Adab Menumpang

Beberapa hari ini tidak terhitung kita mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sesungguhnya kita ini miliki Allah dan kepada-Nya kita akan kembali) baik langsung maupun mengetik di media sosial atas musibah meninggalnya rekan, saudara, tetangga atau kenalan kita akibat Covid19. Saya lebih senang menulis langsung kalimat istirja’ beserta doa yang mengiringinya karena “effort” menulis itu akan beda pahalanya dengan copy paste atau sekadar menampilkan gambar atau emoticon. Dan semakin sering kita menulis, semakin kita menyadari bahwa kita semua ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Allah juga berfirman di banyak ayat, di antaranya, “Kepunyaan Allah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya dan apa-apa yang ada di bawah tanah.” (QS Thaha: 6) Artinya, dalam keyakinan kita umat Islam, semua yang ada di dunia ini termasuk nyawa kita, nyawa pasangan kita, nyawa orang tua kita dan nyawa orang-orang yang kita kasihi lainnya adalah milik Allah. Sudah sewajarnya yang memiliki sesuatu itu mau mengambilnya atau tidak, itu terserah dia dan tidak ada daya bagi kita untuk mencegahnya.

Kita yang masih hidup ini segala sesuatunya hanya dipinjami. Dipinjami nyawa, dipinjami pasangan hidup, dipinjami anak-anak yang menyejukkan hati, dipinjami rumah, dipinjami kendaraaan, dipinjami oksigen, dipinjami kesehatan dan sebagainya. Maka, aneh jika kita masih menyombongkan diri dan memamerkan kekayaan yang hakikatnya itu semua adalah barang pinjaman. Orang yang datang ke tempat hajatan dengan baju dan perhiasan yang bagus, membawa tas bermerk, membawa mobil keren, membawa kado yang besar (jaman sekarang nggak musim lagi kasih kado ya), tapi semuanya itu boleh pinjam dari orang lain, bukan milik sendiri. Bisa jadi orang yang melihatnya akan bilang dia hebat tapi semuanya adalah pinjaman. Begitu pulang, semua harus dikembalikan. Di jaman pandemi yang musibah ini saling runtun beruntun, tak pantas lagi orang sombong (ya, di luar pandemi juga tidak pantas juga sih. Maksudnya, lebih tidak pantas).

Jika semua ini pinjaman, berarti kita hidup di dunia ini menumpang. Orang menumpang itu ada adabnya. Tentu kita pernah menumpang atau ditumpangi seseorang. Kalau ada teman menumpang mobil kita pulang kampung misalnya, sudah pasti adabnya harus baik. Dia tidak mencacat kondisi mobil kita bahkan, enak tidak enak, seorang yang numpang wajar jika memuji. Bayangkan jika ada orang menumpang tapi tidak punya adab menumpang yang baik. Sudah menumpang dia komentar, “AC-nya kok nggak dingin ya pak?” Lalu ketika melewati lubang atau jalan rusak komentar lagi, “Wah, shock breaker-nya harus ganti nih pak, nggak enak kalau ada lubang.” Atau karena yang ikut beberapa orang dia komentar, “Tempat duduknya kecil dan sempit ya pak, jadi susah gerak nih.” Atau kalau sudah kelamaan di mobil dia komentar, “Kok, nggak istirahat cari makan ya pak?” Kalau ada penumpang yang seperti ini komentar miring terus, langsung kita berhenti di pinggir jalan lalu kita suruh dia keluar.

Atau bayangkan ada kawan numpang di rumah kita untuk beberapa hari. Waktu kita suguhkan jajan di pagi hari dia komentar, “Lupisnya kayaknya sudah lama ya? Pisang gorengnya agak keras dan kurang manis nih.” Siang hari makan bersama di meja makan. Kali ini omongannya agak sengak, “Istri Bapak nggak bisa masak ya?” Saya balik tanya, “Emang kenapa pak?” Jawabnya ringan, “Ya, masakannya kok kurang enak. Padahal istri Bapak orang Sunda ya? Biasanya orang Sunda masakannya enak….” Kita makin gondok saja dengar komentarnya, namun masih kita tahan. Malam hari kita persilakan tidur di kamar tamu. Lagi-lagi berkomentar, “Kamarnya nggak ada AC-nya ya pak. Bisa-bisa saya nggak bisa tidur semalaman nih.” Besok pagi, tanpa kita kasih sarapan itu tamu kita persilakan pergi saja.

Orang-orang tersebut menumpang tapi tidak punya adab menumpang. Sudah pasti yang ditumpangi tidak suka bahkan marah. Demikian pula dengan Allah, kalau kelakuan kita seperti orang tadi, tentu Allah marah. Pertanyaannya, sudahkah kita mempunyai dan melaksanakan adab menumpang yang baik? Seperti halnya menumpang mobil atau menumpang menginap, adab kita adalah membuat senang orang yang kita tumpangi dan menjauhi apa-apa yang membuatnya tersinggung. Enak maupun tidak. Ketika kita menumpang mobil dan AC-nya tidak dingin, pemilik mobil biasanya berbasa-basi, “Maaf ya, AC-nya kurang dingin.” Dan meskipun kita tahu di dalam ruangan panas, tetap kita tersenyum dan mengatakan, “Nggak apa-apa kok. Saya malah biasa naik angkot nggak ada AC-nya dan pengap. Ini sudah bagus pak.” Pernyataan kita semacam itu akan melegakan dan membuat senang si pemilik mobil.

Dalam hidup di dunia, sebagai penumpang kita berusaha menyenangkan Allah dengan melaksanakan apa-apa yang Ia perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Ia larang. Kita bersabar jika kondisi yang kita terima tidak mengenakkan. Ketika kita sakit, kita kekurangan sandang, pangan, papan, kita ditinggal orang-orang yang kita cintai, semua itu kita terima dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Ibaratnya, ada orang pergi nitip jam tangan Rolex ke kita. Sehari-hari kita pakai dan kita tunjukkan kepada kawan-kawan. Namun jika pemilik sudah datang dan meminta barang yang dititipkan ke kita, tentu tanpa protes dan dengan legowo kita memberikannya.

Maka, alangkah buruk adab kita jika kita tidak peduli dengan perasaan orang yang kita tumpangi. Alangkah buruk adab kita kepada Allah jika kita mengabaikan semua perintah dan larangannya, padahal di dunia ini kita numpang pada-Nya. Alangkah buruk adab jika kita marah terhadap takdir buruk yang telah Allah timpakan kepada kita. Alangkah buruk adab kita jika kita tidak bersyukur ketika Allah berikan kenikmatan kepada kita. Kalau kepada pemilik mobil atau pemilik rumah yang kita tumpangi hanya beberapa saat saja kita harus baik adabnya, apatah lagi kita menumpang pada Allah sepanjang hidup?

Setelah kita melaksanakan adab yang baik terhadap pemilik mobil atau pemilik rumah, kita pun harus berbuat baik pada penumpang yang lain. Karena itu juga merupakan permintaan orang yang mobil atau rumahnya kita tumpangi. Dalam kehidupan yang sebenarnya, kita harus mempunyai adab atau akhlak yang mulia terhadap manusia setelah akhlak kita kepada Allah kita tunaikan. Sungguh aneh ada orang baik terhadap manusia tapi buruk adabnya pada Tuhan. Itulah orang-orang yang mengaku berbuat baik pada manusia tapi atheis (tidak mengakui adanya Tuhan) atau pluralis (mengakui semua tuhan). Dua-duanya akan membuat Allah marah. Kita berbuat baik kepada manusia karena Allah memerintahkannya demikian. Alhamdulillah pada saat pandemi ini peluang kita berbuat baik pada manusia demikian terbuka lebar. Dalam kondisi yang sedang banyak musibah seperti sekarang ini, pemilik alam semesta ini, yang memberikan kita tumpangan, ingin kita berbagi dan saling membantu, juga saling mengingatkan.

Semoga ilustrasi singkat tentang hidup menumpang ini bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang tengah diuji oleh Sang Pemilik Kehidupan dengan pandemi ini, baik yang sakit maupun yang ditinggal orang-orang terkasih. Tetap sabar, ikhlas dan semangat. Semoga Allah segera angkat penyakitnya.

About the author

Budi Handrianto

Alumnus IPB, S2 dan S3 diperoleh dari Universitas Ibnu Khaldun untuk program yang sama, Pendidikan Islam.

Tinggalkan Komentar Anda