Jejak Islam

Jejak Historis Islam Papua (2)

Tak terbayangkan, wilayah Indonesia paling timur, dari berpenduduk pribumi, berangsur-angsur didatangi migran hingga beranak-pinak, Islam datang – seperti juga pendatang yang membawa syi’ar Islam, bahkan atas usulan pribumi Papua berkenalanlah mereka dengan sistem pesantren di Jawa. Terjadi perkambangan intelektual yang signifikan bagi pribumi sejak interaksi mereka dengan Islam dan sistem pendidikan Islam, baik di Papua maupun proses edukasi mereka dengan pendidikan di luar Papua. Kalau dulu terdengar kisah keterbelakangan Papua, hal itu tak terdengar lagi. Islam Papua, menjadi entitas demikian tegas dalam wajah Indonesia.

Suatu ketika dalam tahun 1978, seorang dokter Kolonel Angkatan Laut di Jayapura, diundang ceramah ke Kabupaten Jayawijaya. Ceramah itu bertempat di gedung bioskop kota Wamena. Merasugun dan mualaf warga lainnya dari Walesi pun diundang untuk mendengarkan ceramah itu.

Yang berceramah, Dokter Kolonel H. Muhammad Mulya Tarmidzi. Ceramah berlangsung sampai larut malam. Panitia menginapkan penceramah itu di Hotel Balim. Tengah malam, Merasugun, Firdaus Asso, Nyapalogo Kuan, Nyasuok Asso dan Ali Asso, Aropemake Yaleget, Udin Asso dan Wurusugi Lani datang mengetuk pintu kamar Dokter Mulya menginap dengan dengan salam khas muslim, “Assalamu’alaikum”! Mendengar ucapan salam, Dokter Mulya Tarmidzi berani membukakan pintu.

Dokter Mulya Tarmizi kaget, para tamu itu masih mengenakan koteka, mereka yang tadi dilihatnya di gedung bioskop saat dia berceramah. Awalnya dia menduga mereka bukan muslim, karena Merasugun dan rombongan lainnya masih mengenakan Holim/Koteka – kecuali Firdaus Asso sudah mengenakan celana pendek. Anggapannya, mereka mungkin pas lagi lewat atau memang sekadar mencari sisa makanan dari acara ceramah itu. Sebelum di persilahkan masuk duduk di ruang tamu hotel oleh Dokter Mulya Tarmidzi, Merasugun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya dengan beberapa pemuda dari Walesi. Dalam pertemuan malam itu Merasugun menyampaikan beberapa permohonan: ia memohon di kampungnya dibangunkan “Gereja Islam” (mesjid); anak-anak Walesi bisa dikirim untuk belajar di Jayapura; dan di Walesi dibangunkan lembaga pendidikan Islam (Madrasah).

Khitan di Papua

Dokter Mulya Tarmizi menampung semua usulan itu. “Nanti diusahakan secara bertahap,” kata dokter Mulia Tarmidzi. Dia mengatakan, akan berkoordinasi dengan muslimin lainnya terlebih dahulu. Tampil sebagai penerjemah, karena Meresugun berbicara dalam Bahasa Wamena, Firdaus Asso yang sudah sekolah di SD Inpres Megapura sudah lancar berbahasa Indonesia.

Selanjutnya semua usul secara baik disetujui oleh Dokter Kolonel Haji Muhammad Mulya Tarmidzi dan untuk mendukung keinginan Merasugun ini segera dibentuk Islamic Centre yang pengurusnya dari pejabat pemda. Esok harinya dibantu oleh tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Kota Wamena; Letnan Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, segera menyunat (khitan) delapan orang pertama yang masuk Islam itu untuk menyempurnakan syahadatnya. Pada bulan berikutnya dalam tahun 1978, lima anak dari Walesi  (termasuk Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso) dikirim ke Jayapura dan dititipkan kepada beberapa orang pejabat muslim sebagai orangtua asuhnya.

Cita-cita Merasugun pun terkabul. Ia mengharapkan anak-anak dari Walesi untuk di sekolahkan di luar Wamena. “Agar kelak ada yang menjadi seperti Dokter Mulya Tarmidzi,” demikian usul Merasugun yang diterjemahkan oleh Firdaus Asso. Usul Merasugun yang paling penting, dibangunkan model Pondok Pesantren Model di Jawa, yang ketika proses pendirian pesantren itu dimulai, telah mengundang decak kagum. Dokter Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi sendiri, belum pernah tahu kalau yang diusulkan Merasugun persis model kontruksi dan sistem bangunan lingkungan Pondok Pesantren yang biasa ada di Pulau Jawa. 

Setelah itu, 20 orang dalam bulan berikutnya dikirim dan diasuh oleh beberapa Orang Tua Asuh di kota Jayapura. Ongkos pengiriman semua ditanggung oleh Haji Saddiq Ismail, (kala itu Kadolog Provinsi Irian Jaya) yang selanjutnya membentuk Sub Dolog Jayawijaya guna mempermudah menyampaikan bantuan logistik dan bantuan material lainnya karena di Walesi segera akan dibangun Masjid dan Madrasah sesuai keinginan dan usulan Merasugun.

Guna memperlancar transportasi dan memudahkan pengangkutan material bangunan Masjid dan Madrasah Walesi, Ir. Haji Azhari Romuson, Kepala PU Provinsi Papua segera membangun jalan Walesi-Wamena sekitar 6 Km. Satu persatu, berkat usulan Merasugun, terjadi kolaborasi sejumlah pejabat Papua (Irian Jaya) seperti Haji Saddiq Ismail SH, Kadolog Provinsi, Ir. Haji Azhari Romusan dari PU Provinsi. Hasilnya signifikan bagi perkembangan Islam di Walesi.

Bertepatan dengan 20 anak Walesi yang dipimpin Firdaus Asso datang sekolah di Jayapura melanjutkan di pendidikan Panti Asuhan Muhammadiyah Abepura Jayapura dan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Kota Provinsi Papua. Dua Kepala Suku Perang yang Berani dari Clan Assolipele secara resmi disyahadatkan oleh Kolonel Thahir, di Wamena. Kolonel Thahir adalah Pendatang dari Bugis dan Tentara yang saat itu bertugas di Kodim Jayawijaya. ‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah SWT,dan akan dikembalikan kehadirat-Nya kapan saja dikehendaki-Nya’. Sebagaimana Dia memberikan hidayah kepada siapa yang di kehendaki-Nya, pada tahun 1980 Merasugun dipanggil ke hadirat Allah SWT, dengan meninggalkan semua usulan dakwahnya yang belum tuntas, yakni obsesinya mewujudkan kompleks Islamic Centre terutama Masjid dan Madrasah.

Dua tahun sepeninggal Merasugun pada tahun 1982 bangunan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) dan masjid selesai. Untuk menghormati atas jasa-jasa semangat perjuangan Merasugun, maka nama Madrasahnya diabadikan menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi. Demikian juga dengan Pemuda Firdaus Asso menyusul dipanggil Allah SWT untuk selamanya pada tahun 1984 di Jayapura. Firdaus Asso yang sangat berjasa dan berperan besar pengembangkan Islam dikalangan suku pribumi di Walesi, sesudah Merasugun, dalam usia yang sangat muda dan produktif, 25 tahun.

Mendidik Suku Dani

Tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya Papua datang penduduk pindahan (transmigrasi), dan perantau Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan system barter antara pendatang dan Pribumi Suku Dani Lembah Baliem.

Proses percepatan dakwah di Jayawijaya juga didukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi didukung individu Muslim anggota Militer yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena). Organisasi dakwah baru didirikan guna menunjang proses dakwah, seperti Islamic Center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan dakwah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.

Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi sebagai pusat Islam (Islamic Centre), kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di Selatan Papua Barat. Kini di Walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah, masjid 12×12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang beragama Islam.

Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Htigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara,Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepat jumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.

Dakwah Islam di Papua, seperti misi agama lain, juga berhitung, strategis mengkonversi kepercayaan dengan pembinaan anak-anak. Sepanjang prosesnya bisa diterima logika, maka proses dakwah itu relatif bisa diterima.

Anak-anak adalah kelompok potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya melakukan hal sama untuk merubah pola kehidupan lama masyarakat Suku Asli Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau. Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode mengirim anak-anak dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.

Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor. Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan diberbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat.

Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN dikota yang sama. Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua.

Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya,sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan lomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adalah tradisi yang bahwa: Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh. Tampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah dengan mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun.

Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana anak laki-laki. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al- Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena.

____________

Rujukan:

J.R. Mansoben, Membangun Manusia IrianJaya yang Majemuk: Suatu Tinjauan Antropologi Budaya, Makalah (1997)

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda