Mutiara

Ngabdurakim dan Nyai Loro Kidul

Sejak kecil dan selama perang, saya terus-menerus menerima

nasihat mereka dan saya percayai. Tetapi, sekarang mereka

yang pertama meninggalkan saya.

- Pangeran Diponegoro –

Usianya baru 20. Termenung, hanya itulah kegemarannya. Tenggelam dalam kekuasaan Tuhan, siang dan malam. Ah, berapa lama sih di dunia, demikian selalu pikirnya. Tapi, sering pula ia bicara soal

wanita. Kalau sudah begitu, ia pun berkelana, mengunjungi masjid-masjid, pesantren-pesantren, bersatu dengan para santri. Dengan mematikan raga dan berpakaian gaib, jarang orang melihatnya. Kalau ketahuan juga, misalnya oleh guru santri-santri itu, ia segera tancap. Soalnya sederhana. Ia lebih suka bergaul dengan santri biasa, bukan dengan kiai. Bisa dimaklumi kalau ia selalu berpindah-pindah pondok.

Orang muda itu menyebut dirinya Seh Ngabdurakim. Seh bahkan masuk hutan kalau bosan di pesantren. Di bulan Ramadan kegemarannya mencari gua yang sunyi. Pernah,dalam satu tapanya,Ngabdurakim dikunjungi seseorang yang cahayanya bagai purnama: Hyang Jatimulya, alias Sunan Kalijaga. Menyesal juga Ngabdurakim. Pandita itu tiba-tiba lenyap, sementara ia belum sempat memberi hormat.  

Ngabdurakim meneruskan perjalanan. Naik gunung dan turun gunung,tanpa tujuan, lantaran bingung. Kalau capek, tidur di mana saja. Akhirnya, tiba di Bengkung dan tinggal di sana tujuh hari. Lalu, turun ke Masjid Imogiri untuk jum’atan. Para juru kunci, yang juga akan salat Jumat, kaget melihat tuan mereka dan berebut menyalami. Sesudah salat, mereka menjamu Seh.

Hanya semalam Ngabdurakim di masjid. Setelah menyusuri sungai, ia kembali naik gunung. Bermalam di gua Siluman, terus ke gua Sagala-gala (menginap dua malam), sebelum akhirnya bertapa di gua Langse selama dua pekan. Di gua inilah Seh bermati raga dan mengheningkan cipta, hingga lenyap semua yang tampak.

Syahdan, dalam pada itu Kanjeng Ratu Kidul sedang berkejaran di samudra. Kanjeng Ratu menghampiri Ngabdurakim-dan gua pun jadi benderang. Tetapi, Ratu tahu Pak Ngabdur lagi kosong pikirannya, jadi tak usah digoda. Penguasa Samudra Hindia itu hanya berpesan, ia akan datang lagi kalau tiba masanya. Seh sendiri hanya bisa mendengar, tanpa melihat. Begitu Ratu lenyap, penglihatannya pulih. Paginya ia turun ke Parangtritis, berendam, lalu menginap di Parangkusuma.

Ngabdurakim bertafakur dengan bersandarkan batu. Ketika itulah, antara tidur dan jaga, ia mendengar suara, “Hai, Seh Ngabdurakim, gantilah namamu menjadi Ngabdulkamit Saya beri tahu, kurang tiga taun lagi bubrah-nya negara Ngayogya.” Ngabdulkamit juga dipesan agar hati-hati dan jangan mau diangkat jadi pangeran dipati oleh Belanda. Sudah menjadi takdir Ngabdulkamit pula bahwa dirinya akan berperanan di Tanah Jawa yang ditakdirkan Tuhan mulai rusak. Sebagai pertanda, ia akan mendapat panah Sarotama. “Sudahlah, Ngabdulkamit. kamu pulanglah!”

Seh Ngabdurakim, eh, Ngabdulkamit, pun terjaga. Pandangannya terang dan tak ada siapa-siapa. Lalu, ia mendongak. Dari langit sesuatu meluncur bagai kilat dan menancap di batu. Sesuatu itu Ki Sarotama. Disisipkannya benda itu di ikat pinggangnya. Di pagi fajar itu Seh Ngabdulkamit berangkat untuk pulang ke desanya di Tegalrejo.

Ngabdurakim yang menjadi Ngabdulkamit itu, kita tahu, adalah Pangeran Diponegoro, yang mengobarkan Perang Jawa (1825- 1830). Ngabdulkamit diambil dari nama Abdul Hamid I (1774-1789), sultan Turki yang menobatkan dirinya sebagai khalifah semua orang Islam. Oleh para sultan di Jawa, penguasa Dinasti Usmani itu memang sering disamakan dengan raja tertinggi. Adapun Ki Sarotama tak lain anak panah Arjuna — yang mengakhiri kekuasaan Korawa.

Penggalan kisah ini berasal dari Babad Dipanegara, yang ditulis sang pangeran sendiri dalam pembuangannya di Manado, dalam usianya yang ke-45 tahun (1830). Itu semua merupakan restu baginya untuk menyelamatkan negara dari berbagai pengaruh kolonial.

Dilahirkan 1785, Ngabdurakim (dari ‘Abdurrahim) adalah putra tertua Sultan Hamengku Buwono III (1811-1814). Ia  urung menggantikan ayahnya lantaran ibunya orang kebanyakan. Ia tidak disetujui Belanda yang lebih menyukai adiknya. Bahkan, ketika  HB IV mangkat, Diponegoro tidak diangkat. Bersama tiga bangsawan lainnya, ia hanya dijadikan wali HB V, putra HB IV, yang masih bocah. Ia berontak setelah insiden “jalan baru” yang dibangun melewati istananya di Tegalrejo. Pangeran pun menyebut dirinya “Sultan Ngabdulkamit Herucakra Kabirul-mukminin Kalifatu Rasulillah Hameng kubuwono Senapati ing Ngalaga Sabilullah ing Tanah Jawa”.

Ibu Diponegoro memang anak kiai Tembayat. Pengasuhnya di Tegalrejo juga anak kiai dari Sragen. Di sini ia mengikuti nenek buyutnya, yang juga gemar agama. Dalam “otobiografi”-nya, Pangeran mengaku amat   tekun mempelajari agama, meski banyak pikiran keagamaannya tercampur dengan kepercayaan Hindu. Inilah yang disebut Hamka, secara simplistis, sebagai “aliran pedalaman”, untuk membedakannya dari “aliran pesisir”. Jika yang pesisir, berdasarkan ajaran tauhid, merebut dunia untuk kepentingan akhirat, yang kedua lebih mementingkan tafakur dan mencari  persesuaian dengan yang lama. Perbedaan kedua aliran ini, menurut Hamka, menjadi sumber perpecahan ketika menghadapi musuh.

Perang Diponegoro sepertinya membuktikan hal itu. Itu terlihat ketika terjadi perpecahan antara pihak “santri”, Kiai Maja, dan Ngabdulkamit sendiri. Kepada seorang mayor Belanda yang mengawalnya,  dari Magelang ke Semarang, kemudian Batavia, Pangeran Diponegoro mengeluh tentang sikap para ulama yang menyerah itu. “Mereka seharusnya tetap setia kepada saya,” kata Pangeran. “Sejak kecil dan selama perang saya terus-menerus menerima nasihat mereka dan saya percayai. Tetapi, sekarang mereka yang pertama meninggalkan saya.”

Adapun Nyai Loro Kidul, ternyata tidak kembali

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda