Cakrawala

Melawan Sifat Riya’ dalam Beramal

Dalam pemahaman umum riya’ diartikan melakukan sesuatu atau amal, karena mencari ridho manusia. Riya’ adalah beramal karena mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia. Jadi, seorang yang riya’ sebenarnya adalah orang yang memiliki sifat kikir, ia tidak mungkin bermurah hati dengan memberikan hartanya tanpa ada hasil yang ingin dicapai.

Seorang yang riya’ jika beramal selalu mengharapkan publikasi, ingin diketahui orang banyak  bahwa ia seorang yang dermawan, pemurah hati membantu masyarakat yang  dalam kesusahan  Dan, adakalanya ia pun suka menyebutkan jumlah bantuan dana yang dikeluarkannya supaya orang kagum dan takjub.

Orang yang riya’ juga berpotensi untuk membangga-banggakan dirinya, ia akan mudah mengklaim suatu usaha berhasil karena jasa dan andil yang dilakukannya, tanpa bantuannya tidak mungkin sebuah karya akan terwujud. Dan ia pun akan mudah pula mengkritik seseorang atau masyarakat yang melupakan jasa-jasanya, dan dicap sebagai tidak tahu terima kasih bila suatu saat ada kealpaan dari masyarakat yang melupakannya, atau tidak melibatkannya dalam urusan tertentu.

Nabi Muhammad mengatakan bahwa orang yang riya’ adalah yang melakukan syirik kecil (syirkul asghar). Yaitu menyekutukan Tuhan walaupun tidak secara terbuka. Lahirnya kelihatan ikhlas, padahal dalam batinnya ada maksud  tersimpan yang diharapkannya. Hadis Nabi menyatakan, ” Sesungguhnya yang saya takuti dari kamu adalah syirkul asghar (syirik kecil), yaitu riya, ketika manusia datang meminta balasan atas amal  perbuatan yang mereka lakukan, maka Tuhan berkata kepada mereka : Pergilah temui orang-orang yang karena mereka kamu beramal (riya’) di dunia, niscaya kamu akan sadar apakah kamu memperoleh balasan kebaikan dari mereka itu”.

Jelas, dalam hadist ini Tuhan menantang orang-orang yang ketika di dunia beramal tidak ikhlas kepada Allah, di akhirat ternyata mereka tidak berdaya, dan manusia yang menjadi sandarannya ketika beramal di dunia, di akhirat tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam Al-Quran, bahkan Allah mengatakan, riya’ itu salah satu sifat orang munafik,” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Tuhan, maka Tuhan memperdayakan mereka pula. Jika mereka berdiri mengerjakan shalat, mereka berdiri dengan amat malasnya. Mereka mengerjakannya hanya supaya dilihat manusia. Mereka tiada mengingat Tuhan, kecuali sedikit sekali (an-Nisaa: 142).

Karena riya’ terkontaminasi oleh syirik maka ibadahpun menjadi rusak. Dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman”. Barang siapa mengerjakan sesuatu amal, ia perserikatkan kepada selain Aku, Aku biarkan amalannya itu untuk sekutu-Ku”.

Ada riya’ yang dinamakan riya’ tasmii’, yaitu ingin mempertontonkan kepada orang lain bahwa ia taat dan rajin  beribadah supaya dimuliakan orang  Sikap riya seperti ini telah diberikan fatwa haram oleh ulama. ” Barang siapa memperdengarkan (menerangkan) kepada orang lain tentang amalan-amalannya, niscaya Allah menerangkan pula kepada orang lain keburukan orang itu” (hadist shahih, Prof.Dr. H. Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta,1992, hal. 194).

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah diceritakan ada tiga golongan manusia yang akan diadili lebih dulu pada hari kiamat, yaitu para pejuang, kaum terpelajar dan hartawan.

Kepada pejuang Allah bertanya, ” Apakah yang telah engkau kerjakan di dunia”. “Saya berjuang dan bertempur pada jalan yang Engkau ridhai, sehingga saya tewas di medan juang,” jawab sang pejuang. “Engkau berbohong,”kata Allah. “Engkau tewas bukanlah karena mempertahankan agama pada jalan Allah, tetapi hanya mengharapkan supaya engkau disebut pahlawan. Oleh sebab itu tempatmu di neraka”.

Pemeriksaan dilanjutkan kepada kaum terpelajar. “Apa amalan yang  telah engkau kerjakan di dunia,”tanya Allah. “Saya menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan kepada orang lain, selain itu saya rajin membaca Al-Quran,”jawab kaum terpelajar.

“Kamu juga berbohong. Sebab, engkau belajar dan mengajar supaya disebut ulama, demikian juga engkau rajin membaca Al-Quran supaya digelari Qori (ahli baca Al- Quran), tempatmu juga di neraka”kata Allah.

Terakhir, ditanya kaum hartawan.” Tuhan telah memberimu rezeki yang banyak, apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat Allah tersebut,”kata Tuhan.

“Saya menafkahkan harta pada jalan Allah (sabilillah),”jawab sang hartawan.

“Dusta, kamu menafkahkan harta hanya ingin disebut dermawan, tempatmu juga di neraka,” kata Allah.

Dari kisah ini dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa amalan yang dilakukan secara riya’ tidak ada nilainya di mata Allah, dan tidak memberikan pertolongan pada hari kiamat nanti.

Riya’ yang canggih

Dalam kehidupan masyarakat moderen sekarang ini sifat riya’ cukup menonjol dalam kehidupan. Tapi pola dan bentuknya cukup halus dan “profesional”, artinya digarap dengan baik. Dalam interaksi manusia, maupun dalam kegiatan bisnis, lobi-lobi dagang, kepentingan jabatan, pekerjaan dan lain sebagainya unsur-unsur perbuatan riya’ ini sudah dipoles secara canggih. Dalam lahiriahnya sebuah perbuatan yang bernuansa silaturahim dan amal, tetapi dibaliknya tersembunyi interes tertentu dari orang yang memberikan.

Budaya mengirim parcel pada hari-hari tertentu seperti Hari Raya Iedul Fitri, Natal dan Tahun Baru, ulang tahun pejabat terkenal, atau ulang tahun sebuah instansi pemerintah atau swasta ,misalnya, si pengirim yang memberikan hadiah atau bingkisan tidak lain maksudnya adalah untuk menjaga hubungan bisnis, ingin dikenal, atau untuk tetap diberikan proyek oleh si pejabat yang berpengaruh. Sebab, kalaulah parcel itu ditujukan untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan hidup tentunya parcel itu dikirim dan disumbangkan kepada orang- orang miskin yang membutuhkan, bukan kepada orang-orang yang sudah mapan secara ekonomi.

Demikian juga perusahaan yang melakukan bakti sosial dengan menyumbangkan  sembako kepada penduduk miskin, korban bencana alam dan sebagainya tidak bisa dikatakan seratus persen untuk beramal. Di dalamnya terdapat unsur promosi agar produknya dikenal, atau membangun image atau citra bahwa mereka memiliki kepedulian sosial. Sebab,  kalaulah murni semata tujuannya kegiatan amal, tentunya mereka tidak perlu mengundang wartawan dari media elektronik dan media cetak untuk mempublikasikan kegiatannya supaya dibaca dan diperhatikan  khalayak.

Barangkali ada yang bertanya, apa salahnya kegiatan tersebut. Sepintas tentu tidak ada yang salah, perusahaan yang beramal sambil berpromosi adalah sah-sah saja, hanya yang terjadi adalah bahwa orang beramal bukanlah digerakkan motivasi yang tulus karena iman, tetapi tujuannya untuk kepentingan mengembangkan usaha dan bisnis. Atau bisa juga tujuan lain agar masyarakat tidak melakukan protes jika perusahaan melanggar lingkungan atau mencemari lingkungan. Jadi, semacam usaha menjinakkan  masyarakat.

Hal yang sama bisa juga terjadi dengan budaya mengirim parcel atau hadiah yang diberikan kepada pejabat, bukanlah dengan tujuan beramal tetapi menjaga hubungan baik karena ada kepentingan bisnis supaya tetap diberikan proyek. Hal semacam ini tentu tidak sesuai dengan tujuan beramal yang mestinya ikhlas karena Allah, dan bukan punya pamrih keduniawian.

Dalam politik hal ini juga menggejala saat ini. Politisi atau partai yang berkampanye dalam pemilu, sering mendekati masyarakat dengan  memberikan sembako dan bantuan lainnya yang dibutuhkan masyarakat, termasuk fasilitas ibadah dan bantuan untuk rumah ibadah. Tetapi,  tujuannya adalah untuk mendulang suara dari masyarakat agar terpilih  Jadi, ada motivasi terselubung, meski terlhat lahiriahnya untuk beramal. Dan, anehnya jika sudah terpilih jadi anggota DPR, DPRD, atau bupati, walikota atau gubernur, sudah jarang atau boleh dikatakan tidak lagi mendekati rakyat. Bahkan, ketika terjadi bencana alam dan musibah lainnya yang menimpa masyarakat, politisi yang di masa kampanye sering turun mendekati rakyat sudah tidak kita lihat dan dengar lagi mengunjungi rakyat. Artinya, memang beramalnya di saat kampanye sebenarnya bukanlah beramal yang tulus. Tetapi  seperti kata pepatah ada udang di balik batu.

Rasanya, perlu perjuangan yang berat melawan sifat  riy’a dalam kegiatan beramal di era moderen ini.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda