Aktualita

Mohammad Siddik : Melalui Organisasi, Mewariskan Karya

Allah Maha Menentukan. Sosok yang disayangiNya, biasanya berpulang dalam ketiba-tibaan. Seperti yang dialami tokoh ini, H. Mohammad Siddik, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah (2015-2020). Beberapa koleganya menyatakan rasa duka-citanya. Kepergian Mohammad Siddik akibat direnggut Covid-19. Siddik berpulang setelah dirawat di rumah sakit.

Muhammad Siddik lahir di Kuala Simpang, Aceh, tahun 1943. Secara umum keseharian Pak Siddik segar, meskipun pernah menjalani operasi bedah jantung tahun 2005.  Berikut ini beberapa testimoni tentang pak Siddik.

Saya masih sempat berbincang singkat dengan beliau melalui telepon. Sebelumnya, pada 15 Juni 2021, saya masih sempat rapat melalui media zoom bersama beliau dan juga segenap pimpinan Badan Pekerja Pembina DDII. Bagi kami di DDII, Pak Siddik – begitu kami biasa memanggil – adalah sosok pejuang yang luar biasa. Di usianya yang ke-78 tahun, beliau masih terus berjuang tiada henti. Beliau bukan hanya bicara, tetapi juga pandai melakukan lobi, menjalin komunikasi, dan menggalang dana untuk pembangunan proyek-proyek dakwah.(Adian Husaini, Ketua Umum DDII)

Kami berbincang-bincang panjang dan juga berfoto-foto. Beliau juga menyampaikan keperluan pembiayaan satu proyek dakwah di Dewan Dakwah. (Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR-RI)

Pak Siddik menyampaikan program yang sedang dilakukannya bersama UIN Syarief Hidayatullah Jakarta dalam seri kajian Islamic Epistemology and Integration of Knowledge. Program ini dilaksanakannya bersama Prof. Mulyadhi Kartanegara, yang menjadi partner kami sejak 2010. Pada malam hari setelah saya informasikan wafatnya Pak Siddik, saya menerima telpon dari Mas Mulyadhi yang menyampaikan program di UIN yang sedang berjalan. In syaa Alllah akan kita lanjutkan bersama.(Habib Chirzin, tokoh Muhammadiyah)

Ketiga tokoh ini mewakili perasaan masyarakat yang berduka atas berpulangnya Mohammad Siddik, sosok yang memiliki reputasi internasional. Pernah berkantor di pusat Islamic Development Bank (IDB), di Jeddah dan menjadi Direktur IDB Asia Pacific  di Kuala Lumpur (Malaysia).

Dari PII Sampai Mendunia

Sejak muda Pak Siddik telah berkiprah di PB PII, tahun 1962. Kemudian pada th 1966 terpilih sebagai Sekjen KPI (Komite Pemuda Indonesia), yang berafiliasi dengan WAY (World Assembly of Youth) yang berpusat di Brussel, Belgia.

Habib Chirzin mengenang masa mudanya. Saat itu tahun 1968, ia terlibat dalam konferensi WAY di Yogya, sebagai ketua Dewan Mahasiswa IPD, Gontor. Event itu dihadiri oleh Sekjen WAY Asia Pacific, KV Ready yang berasal dari India. Tahun 1973, Siddik bekerja di badan PBB, UNICEF di New York. Sempat ditugaskan di UNICEF Kathmandu, Nepal. Kata Habib Chirzin,”Saya diundang ke Tribhuvan University, Kathamandu, Nepal, pada acara UNESCO pada bulan Agustus 1978. Kemudian Pak Siddik berkarier di OKI, Jeddah dan selanjutnya di IDB, Jeddah dan terakhir diamanati sebagai Director IDB, Asia Pacific di Kuala Lumpur, sampai pensiun.”  Pada tahun 1970 Pak Siddik diundang ke PBB, New York, dalam konferensi internasional pemuda, sebagai juru bicara delegasi pemuda Indonesia; dalam rangka Ulang tahun PBB yang ke 25.

Simposium Nasional DDII

Suatu ketika, DDII menggelar simposium nasional bertajuk Optimalisasi Tiga Pilar Dakwah Guna Memperkokoh NKRI Menuju Indonesia Maju yang Diridloi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Simposium digelar dalam rangka Milad DDII. Mempresentasikan best practices  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (Natsir Zubaidi, anggota badan pembina DDII); Ust. Irwinanto (Ketua Dewan Pembina), Masjid Al Fallah, Surabaya, dan Ust. H. Muhammad Jazir Asp (Masjid Jogokaryan Yogyakarta). Habib Chirzin membersamai Siddik pada seminar itu bersama Prof. Dr. Ir. Fathul Wahid, Rektor UII.

Simposium ini digelar bersama antara UII dan DDII di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, kampus utama UII di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Saat itu, Habib Chirzin ke Jogja atas undangan Siddik, Chirzin ditugasi menanggapi presentasi Prof. Dr. Didin Hafiduddin (Universitas Ibnu Khaldun), dan KH Hassan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam, Gontor).

Juga presentasi dari Masjid Kampus oleh Hermawan Kresno Dwipa Yana (Ketua Perhimpunan Dakwah Kampus, dan Salman ITB); H. Muhammad Hafidz, MSc (PR III UII). Kampus, pondok pesantren, dan masjid, ketiga pusat pembangunan dan dakwah itu perlu terus diberdayakan secara kontekstual untuk pembinaan kemanusiaan, keilmuan dan peradaban.

Satu Dasawarsa Bersama di IIIT

Selama 10 tahun terakhir ini Chirzin  bersama Siddik diamanahi sebagai country representative IIIT (The International Institute of Islamic Thought) yang berpusat di Washington, DC. Setiap tahun mereka berdua menghadiri annual meeting East and South East Asia representatives, bersama kawan-kawan regional representatives dari Jepang, Korea, China, Hong Kong, Kamboja, Thailand, Filipina, Brunei, Malaysia dan Singapura.

Selain annual meeting yang biasanya diselenggarakan di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Pak Siddik juga diundang annual meeting di Phnompenh, Kamboja dan Istanbul, yang juga dihadiri oleh Dr. Hisham Al-Talib, President IIIT, dan Dr. Ahmad Totonji, mantan Sek Jen IIIT. “Pada hari terakhir meeting, kami berdua berjalan kaki ke Blue Mosque dan Hagia Sophia, Aya Sofia, yang tidak jauh dari hotel tempat meeting kami. Kami saling berfoto,” kenang Habib Chirzin.

Setelah melaksanakan berbagai seminar, workshop, public lecture di berbagai perguruan tinggi dari Aceh, Medan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Palembang, Lampung sampai Makassar dan Mataram; kami berdua menginisiasi Regional Inter- University Forum on Islamic Epistemology and Civilizational Studies, di Universitas  Andalas (Unand) Padang; yang dipimpin oleh Prof. Musliar Kasim, Mantan Rektor Unand dan Wakil Menteri Diknas. Dan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), yang dipimpin oleh Prof. Ravik Karsidi. Yang bekerja sama dengan UNIDA, Gontor dan UMY.

Dalam melaksanakan program Integration of Knowledge, Curriculum Reform, Text Book Writing, Research dll mereka berdua sering bekerja sama dengan IIUM (International Islamic University of Malaysia). Kami pernah membuat workshop untuk Textbook Writing dengan mengundang 14 orang dari 12 PT di Indonesia, selama 3 hari di kampus IIUM. Habib dan Siddik berdua pernah mendampingi Prof.Dr. Abdul Hamid Abu Sulayman, mantan Rektor IIUM menyelenggarakan workshop Textbook Writing untuk para dosen IIUM. Bertiga mereka menginap di Rumah Dinas Rektor IIUM. Juga meeting dengan Rektor, Prof. Zaleha Kamaruddin dan mantan Rektor, Prof. Kamal Hassan, Prof. Syed Araby Idit. Bersilaturahmi dengan Tansri Dato’ Seri Utama Rais Yatim, President IIUM (International Islamic University Malaysia). Juga menjabat sebagai Special Adviser to the Malaysian Government on the socio-cultural matters, juga dikenal luas menjabat berbagai portofolio dalam pemerintahan Kerajaan Malaysia.

Kenangan Habib Chirzin, beliau bersama Pak Siddik (saat itu mantan pejabat IDB Jeddah), dan Prof. DR. Abdul Hamid Abu Sulayman (mantan Rektor IIUM), melanjutkan kerja sama yang sudah lama terjalin. Menjelang pendirian kampus UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia), sebagai penghargaan, perhatian dan simpati disampaikan kepada Prof. Dr. Abdul Hamid AbuSulayman, mantan Rektor IIUM KL, President IIIT, USA, Siddik, dan Habib Chirzin. Mereka juga bersilaturahim dengan segenap tim pendirian UIII: Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Bahtiar Effendy, Amb Dr. Nazaruddin Nasution,  Dr. Alimun Hanif, dan berdiskusi tentang pengembangan kurikulum, rekruitmen mahasiswa internasional, pengembangan fasilitas kampus dan lain-lain di Fakultas Fishum (Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora) UIN Jakarta.

Pertemuan dengan tim persiapan pendirian UIII ini kemudian dilanjutkan audiensi dengan Wapres Jusuf Kalla, yang didampingi Prof. Dr. Kamaruddin Amin (Dirjen Pendis, Kemenag, mewakili Menag), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Ketua Tim pembangunan International Islamic University, Indonesia (UIII): Dr. Mohammad  Oemar, Kepala Sekretariat Wapres; DR. Bambang Widiyanto (Deputy Human Resource Development), dll. 

Habibie, Siddik dan IIFTIHAR

Kenangan yang tak terlupakan, menjelang pendirian IIFTIHAR (The International Islamic Forum on Sciences, Technology and Human Resources Development), bulan Mei 1996; ketika Pak Siddik menjabat sebagai salah seorang direktur di IDB Jeddah. Saat itu Habib Chirzin bersama Dr. Ir. Imaduddin Abdulrahiem dan Prof. Jimly Asshiddiqie, diutus Pak Habibie untuk bertemu President IDB, Dr. Ahmad Mohammed Aly di Jeddah. Juga Sek Jen IIIT,  Dr. Ahmad Totonji; Dr. Tawfiq al Shawi (President Al Manar) dan Dr. Ahmad Faried Musthofa (Sek Jen); Dr . Shaleh Al Obaid (Sek Jen Rabithah al Alam al Islamy) dan wakilnya Dr. Hassan Bahafdzallah. Pak Siddik bersama Ustadz Fadhol Arovah dan Dr. Ziyad, dua orang staff IDB asal Indonesia, berjasa sekali membantu Habib Chirzin, Imaduddin Abdulrahiem dan, Jimly Asshiddiqie selama di Jeddah. 

Pak Siddik sangat berbaik hati mengajak dua orang staf IDB untuk membahas draft Establishment of IIFTIHAR yang drafnya diamanatkan kepada Habib Chirzin. Document of Establishment ini akan ditanda tangani waktu pendirian IIFTIHAR di kantor IDB dan di depan Ka’bah di Makkah.

Sebulan setelah itu, pada bulan Juni 1996, Habibie datang ke Jeddah dari Jerman, juga menyusul beberapa pengurus ICMI dari Jakarta (Imaduddin Abdurrahiem, Amien Rais, Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Watik Pratiknya, Jimly Asshiddiqie, Marwah Daud, Tatat Rahmita Utami). Setelah acara penanda tanganan naskah pendirian IIFTIHAR di kantor IDB, mereka bersama-sama menuju ke Makkah, sudah berpakaian ihram, untuk melakukan umrah. Tak bisa dilupakan jasa Pak Siddik dalam penanda tanganan naskah pendirian IIFTIHAR ini.

Kesaksian sejumkah tokoh, menunjukkan kesejatian Siddik. Habib Chirzin menuturkan, bahwa Siddik telah dua kali berkunjung ke tempat tinggalnya di Jalan Mangga, Utan Kayu, Jakarta  (2010-2011); dan dua kali berkunjung ke rumahnya di  Jalan Borobudur, Ngrajek, Magelang (2013-2014). Chirzin dan isterinya pun mengunjungi Siddik di rumahnya di Condet, Jakarta (2010).

Dalam beberapa kali pertemuan di DDII, Adian Husaini, Ketua baru DDII (penerus Mohammad Siddik) menyebut semangat Pak Siddik dalam berdakwah seperti anak muda sedang puber. Maklum, di usianya yang ke-78 beliau baru saja dikaruniai seorang bayi. Beberapa kali datang ke pesantren at-Taqwa Depok, Siddik bahkan menyatakan harapannya, anaknya itu nanti biar mondok di Pesantren at-Taqwa.

Pak Siddik telah selesai tugas dakwahnya.  Tinggal kita bersama mewarisi karya-karyanya. Beliau berpulang RS Harapan Kita Jakarta, 29 Juni 2021. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Selamat jalan Pak Siddik.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda