Jejak Islam

Jejak Historis Islam Papua (1)

Papua, sebagai provinsi paling Timur Indonesia – diperkenalkan Presiden Abdurrahman Wahid saat memimpin Indonesia (1999 – 2001). Sebelumnya, Sukarno – presiden pertama Republik Indonesia menyebutnya Irian Jaya. Papua atau Irian Jaya, punya sejarah panjang. Menurut para ahli sejarah, Islam lebih awal masuk dan dianut penduduk pribumi Papua. Temuan Van der Leeder (1980), Islam masuk di kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku sejak abad ke-13 silam. Antropolog Papua, Dr. J. R. Mansoben (1997), membenarkan. “Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya (Papua) pertama di daerah Kepulauan Raja Ampat dan Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut,” kata Mansoben. Menarik, bahwa missionaris Kristen, C. W. Ottow dan G. J. Geissler dari Jerman, diantar muballigh dari Kerajaan Tidore, tanggal 5 Pebruari 1855, di sebuah Pulau Kecil Mansinam, diperairan Manokwari.

Selatan Barat Papua, penduduk pribumi dijumpai menganut Islam sejak lama. Daerah itu meliputi wilayah: Kaimana, Fak-Fak, Bintuni, Kokoda (Sorong Selatan) dan Kepulauan Raja Ampat. Kini banyak urban beragama Islam dari luar Papua. Islam cukup luas jelajah dakwahnya, nyaris seluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dipapar dakwah Islam, sejak wilayah ini menjadi bagian Republik Indonesia awal tahun1960-an. Meskipun warga Papua asli pemeluk Islam ini tidak mendapat sentuhan dakwah serius, kecuali memapar sedikit mualaf Suku Dani, di Baliem Selatan, dibina oleh Yapis (Yayasan Pendidikan Islam).

Muslim Suku Dani, Wamena

Interaksi Agama Islam di kalangan Suku Dani, Lembah Baliem, Wamena, terjadi pasca integrasi dengan Indonesia pada dekade 1960-an akhir. Mula-mula dakwah dilakukan para guru dan transmigran yang didatangkan dari Jawa di daerah Sinata (kini Megapura, Distrik Asso-Lokobal). Perkenalan Islam lebih intensif melalui interaksi perdagangan dengan pendatang dari Bugis-Makasar. Para guru dari Jawa yang dikirim Pemerintah Pusat Indonesia pasca PEPERA di SD Inpres Megapura, adalah perkenalan paling awal Suku Dani Balim Lembah dengan Islam. Boleh dikatakan, itu jejak awal Islam di Wamena yang memapar Suku Dani, terutama para siswa SD Inpres Megapura.

Melalui para guru inilah Suku Dani mengenal agama lain di luar Agama Missi Katholik dan Kingmi (Protestan). Program Transmigrasi di Wamena dianggap tidak cocok lalu dipindahkan ke daerah Suku Mee, Paniai dalam tahun 1970-an. Kecuali itu, Suku Dani juga mengenal Islam melalui petugas pemerintah sipil dan militer di Kota Wamena. Kolonel Thahir (TNI), Abu Yamin (seorang Polisi asal Madura), Hasan Panjaitan (Sekda) dan Paiyen (Pegawai Departemen Agama) mendorong proses dakwah Suku Dani Baliem Selatan sehingga menerima Islam.

Tenarnya Nama Walesi

Daerah Walesi, 6 km dari Selatan Kota Wamena. Walesi, sebenarnya sebuah kampung – sebagai wilayah administratif – Walesi merupakan desa. Nama Walesi kian terkenal. Syiar Islam mulai meruyak di Walesi pada tahun 1970-an,. Nama-nama mualaf ketika itu antara lain: Merasugun, Firdaus dan Muhammad Ali Asso. Mereka berhasil mengembangkan Islam menjadi besar. Walesi pun tumbuh sebagai pusat Islam (Islamic Centre) di Lembah Balim Wamena Papua khususnya dan mungkin seluruh Papua. Merasugun dan tokoh-tokoh Tua lainnya dari kalangan generasi muda Walesi adalah pemeluk Islam pertama yang bersemangat mengorganisasi diri serta sukses mengembangkan agama Islam di kalangan keluarga di Walesi dan sekitarnya.

Proses pengislaman Warga Walesi, cukup smooth. Benar sempat ada penolakan pada awalnya, ketika dakwah Islam melarang mengkonsumsi babi. Kepala Suku Besar, Aipon Asso (kemudian naik haji tahun 1979) dan Tauluk Asso awalnya menolak Islam. Babi, hewan ternak paling utama di Lembah Balim. Setelah menjadi muslim, Merasugun, Firdaus dan Ali Asso mengorganir dakwah islam, sehingga diikuti oleh warga Papua lainnya. Masuk Islam lah klan Asso-Yelipele di Walesi. Mualaf awal lainnya dari Walesi antara lain: Nyasuok Asso, Walekmeke Asso, Nyapalogo Kuan, Wurusugi Lani, Hetoke Lani, Aropeimake Yaleget, dan Udin Asso, diikuti banyak orang lainnya. Keislaman mereka berpengaruh besar pada eksistensi Islam Walesi dan Muslim Jayawijaya saat itu hingga kini. Mereka baru masuk Islam pada 1978 dan mendapat dukungan seorang militer berpangkat Kolonel bernama Muhammad Thohir.

Islamic Centre dibentuk sebagai organisasi khusus dan fokus untuk memperhatikan kaum muslim pribumi didirikan pada tahun 1978. Letnan Kolonel Dokter Muhammad Mulya Tarmidzi dari Angkatan Laut. Pada mulanya dia datang ke Wamena dalam kesempatan undangan ceramah setelah berjumpa dengan penduduk asli beragama Islam asal Walesi, tergerak hatinya dan mendirikan organisasi dakwah Islam pertama, Islamic Centre di Kota Wamena kabupaten Jayawi Jaya, diketuai Hasan Panjaitan (Sekda Jayawijaya kala itu). Islamic Centre di bawah kendali Hasan Panjaitan banyak membantu proses dakwah selanjutnya. Islam di Walesi berkembang pesat dan dikunjungi berbagai kalangan pejabat pemerintah yang beragama Islam dari Kota Wamena dan Propinsi Irian Jaya (kini Papua).

Kepeloporan Merasun Asso

Merasun Asso (berikutnya hanya ditulis Merasugun) adalah orang Walesi pertama dan yang paling bersemangat mengajak keluarganya mengikuti jejaknya. Merasugun Tua adalah orang pertama pemeluk agama Islam dari Walesi. Merasugun (harusnya Merawesugun), dikenal hingga sejauh ini orang yang paling besar jasa dan perjuangannya memperkenalkan Islam di kalangan masyarakat Walesi hingga besar. Kemudian selain Merasugun yang tidak kalah peran dan jasanya, dalam mengembangkan agama Islam di Walesi tersebut nama Kalegenye Yaleget yang hingga akhir hayatnya belum pernah syahadat atau ikut sholat atau melepas koteka. Namun peran dan perjuangan Kalegenye tidak jauh berbeda dengan Merasugun. Peran orang tua satu ini cukup besar selama mendampingi Merasugun atau mewakilinya. Mereka berjuang sejak dini agama Islam dalam keadaan banyak ditentang orang agar tidak berkembang. Merasugun dibelakangnya ada dukungan sejumlah Kepala Suku Adat. Hal itu kunci kesuksesan sekaligus membuat orang tidak berani menentang Merasugun. Kalegenye dan Merasugun yang masih saudara sepupu adalah tokoh tua pejuang dakwah islam pertama dan paling utama di Walesi.

Jihad Merasugun Asso

Merasugun tidak lama sesudah masuk Agama Islam meminta agar dibangunkan “Gereja Islam”, (Masjid), dikampungnya Walesi sekaligus Sekolah Islam agar anak-anak dari Walesi bisa sekolah dan belajar Islam. Untuk maksud ini Merasugun mencari lahan tanah tapi karena dia bukan orang Assolipele menjadi kesulitan lahan tanah diperuntukan bangun sekolah dan Gereja Islam (madrasah dan mesjid), karena pemilik Ulayat Tanah melarang Merasugun membawa agama baru yang tidak boleh makan daging babi itu. Lokasi pertama ditunjuk didekat sungai yang sulit terjangkau milik klen Asso, tapi keluarga pemilik Ulayat Tanah terbelah dua, ada yang setuju dan ada yang marah bahkan mengancam keluarga yang menyetujui lokasi Tanah wakaf sebagai tempat pendirian Mesjid dan Madrasah. Selama berbulan-bulan belum terlaksana kemudian tua-tua adat bersepakat memberikan lokasi baru mudah terjangkau dan mudah dikunjungi tamu dari luar.

Usulan ini segera disetujui oleh beberapa orang muslim yang datang di Wamena sebagai Petugas pemerintah sipil maupun militer seperti Pak Paijen dari Dinas Agama,Pak Thohir dari Kodim, dan Abu Yamin dari Polres Jayawijaya. Karena itu, sebelum kalau ingin dibangunkan Masjid dan Madrasah di Walesi, Merasugun harus bantu kerja angkat batu dan mengumpulkan pasir dari Kali Uwe karena Masjid Raya Baiturahman Kota Wamena saat itu sedang dibangun.

Syarat ini disetujui oleh Merasugun.  Merasugun, Ali dan Firdaus Asso pun pulang ke Walesi dan mengajak Nyasuok Asso, NyapalogoKuan, Aropemake Yaleget, Wurusugi Lani, Udin Asso dan Walekmeke Asso, untuk mengeruk galian batu dan pasir di sekitar Kota Wamena, dari Kali Uwe. Keenam orang itu kelak menjadi pemeluk Islam dari Walesi gelombang kedua.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda