Cakrawala

Berdamai Dengan Keadaan

Hidup yang  dijalani manusia di dunia ini tak selalu indah. Tak jarang kenyataan yang datang tak sesuai dengan harapan. Tidak ada kesenangan yang kekal dan tidak ada kesulitan yang abadi.

Beragam gaya dan sikap manusia bagaimana menghadapi kesulitan dan kesenangan. Ada yang panik ada yang gundah. Ada yang resah ada yang gelisah. Ada yang bersabar dan ada yang bersyukur.  Manusia yang selalu mengharapkan kesenangan dalam hidupnya, akan menyikapi situasi sullit dengan keresahan dan kepanikan. Sementara orang yang percaya bahwa hidup tak selamanya berwarna indah, akan menyikapi dengan kesabaan dan rasa syukur dihatinya.

Begitulah realitas hidup ini, tak semudah yang dibayangkan. Tidak ada satu keadaan dan situasi  yang abadi.  Semua datang silih berganti.  Keadaan sehat dan sakit semua akan merasakan. Semua pasti berubah. Yang kuat akan melemah, dan yang lemah akan menjadi kuat. Lalu pada akhirnya semua akan punah, tidak ada yang kekal, semuanya akan binasa. Yang kuat dan yang bertahan hanyalah Dzat Yang Maha Mulia. Kullu man alaiha fan wa yabqa wajhu rabbika dzul dzalali wal ikram.

Islam mengajarkan kita untuk pandai-pandai menyikapi situasi. Yaitu, bersabar saat dalam kesulitan, bersyukur saat memperoleh kesenangan. Karena itulah manusia yang hebat adalah yang  mampu mendamaikan dirinya dengan keadaan, tidak angkuh atau lengah ketika senang dan tidak berputus asa ketika susah. Semua adalah ujian. Dan akan terlihat siapa yang terbaik dalam menyikapinya.  Karena itulah Allah menciptakan kehidupan ini untuk menguji manusia. Siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya (QS. Al Mulk:2)

Maka keliru jika manusia menilai bahwa ujian itu hanya pada situasi-situasi sulit. Padahal ujian sesungguhnya adalah ketika seseorang berada salam situasi senang, bahagia, dan sejahtera. Karena saat melalui ujian kesulitan banyak manusia yang lulus. Tapi saat diuji dengan kesenangan banyak manusia yang kandas. Sedikit yang bersyukur saat senang. Tak banyak yang mau bersabar disaat susah.

Jika kita amati bahasa al-Qur’an, ternyata bersyukur itu jauh lebih sulit daripada bersabar. Bersyukur saat senang lebih berat dilakukan daripada bersabar saat susah. Sebab itulah, yang dinyatakan dalam al-Qur’an adalah bukan minimnya orang-orang yang sabar, tapi sedikit jumlahnya orang-orang yang pandai bersyukur. Wa qalilun min ibadi yasyakur.

Senada dengan itu, Sayyidina Umar bin Khattab menyatakan: Kami diuji dengan kesulitan dan kami bisa bersabar. Dan kami diuji dengan kesenangan tapi kami tidak bisa bersabar.

Bersyukur dan bersabar adalah perisai bagi orang mukmin untuk menghadapi keadaan dan situasi hidup apapun. Agar hatinya tetap tenang, agar jiwanya tidak goncang. Bersyukur dan bersabar adalah cara terbaik untuk bisa berdamai dengan keadaan. Dan mengingat Allah akan membuat hati menjadi tenang dan tentram. Seperti firman-Nya: “ Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. Al Rad:28).

Dari uraian di atas, hendaknya kita tetap waspada dan mawas diri menghadapi segala situasi. Baik senang maupun susah. Tetap mampu mengendalikan diri, menata hati agar tetap bersih, tenang dan damai.

Akhirnya, sebagai wujud sabar dan syukur kepada Allah SWT agar kebahagiaan selalu singgah dalam hidup kita, hendaknya kita amalkan pesan- Rasulullah SAW: 

Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara

Masa muda sebelum tua

Masa luang sebelum sempit

Masa sehat sebelum sakit

Masa kaya sebelum miskin

Masa hidup sebelum mati

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

2 Comments

Tinggalkan Komentar Anda