Mutiara

Syekh Yusuf di Antara Dua Sultan Banten

Kebijakan politik yang tidak konsisten acap menimbulkan petaka. Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya kehilangan kekuasaan. Di belakang punggungnya negeri tidak berdaulat. Tapi mengapa Syekh Yusuf memilih Banten ketimbang Gowa, tanah kelahirannya?

Dari Gowa mampir di Banten, terus ke Gujarat, Yaman, kemudian Mekah dan Madinah. Dari haramain, dua kota suci itu, ia  masih terus ke Damaskus, lalu Istanbul, sebelum akhirnya tiba di kembali di Nusantara tahun 1664 atau 1672 (tak pasti). Dari situ setidak-tidaknya diketahui bahwa Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Tajul Khalwati, alias Syekh Yusuf menghabiskan 20 atau (hingga) 28 tahun untuk menuntut ilmu. Berapa tahun Anda perlukan untuk meraih Master dan atau Ph.D di Amerika, Australia, atau di universitas lokal? Memang, barangkali ada juga masalah metode pengajaran.

Sekembali dari langlang buana, Syekh Yusuf hinggap lagi di Banten. Perkembangan politik di Kesultanan sangat boleh jadi mengurungkan niat Syekh pulang kampung. Ketika pertama kali datang ke Banten, Yusuf sudah menjalin kontak dengan elite setempat, khasnya Pangeran Surya, putra Sultan Abul Mafakhir (gelar yang diberikan syarif atau penguasa Mekah). Abul Mafakhir punya minat besar kepada masalah keagamaan. Ia mengirim berbagai pertanyaan kepada Ar-Raniri di Aceh dan para ulama di Tanah Suci. Waktu kedatangan Syekh Yusuf yang kedua itu,  Pangeran Surya memang sudah naik takhta (1651), dengan nama resmi Sultan Abdul Fatah, yang kemudian lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.

Nah, Syekh kawin dengan putri Abdul Fattah. Ia diberi jabatan anggota Dewan Penasihat Sultan, dan terbukti paling berpengaruh. Bisa dipahami bila dia menolak permintaan Sultan Gowa agar kembali ke Sulawesi untuk mengajarkan Islam di kerajaan yang lebih kecil itu. Toh, dia mengirimkan muridnya, Abdul Basyir Adh-Dharir (Si Buta), yang telah menyertainya dari Mekah ke Banten, dan kelak terkenal dengan Tuan Rappang.

Menurut penyelidikan Azyumardi Azra, ada dua murid terpenting Syekh Yusuf di Banten. Pertama, Abdul Muhyi, yang oleh Belanda disebut “Hadjee Karang”. Murid Abdul Rauf As-Sinkili (Singkil, Aceh) dan penyebar tarekat Syatariah ini memang tinggal di Desa Karang, Pamijahan, setelah belajar di Mekah dan mengunjungi kuburan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani di Bagdad. Kepada Syekh Yusuf, Muhyi banyak bertanya soal ‘ayat-ayat tasawuf” dan silsilah tarekat-tarekat yang dulu pernah diterimanya di Mekah.

Kedua, Abdul Qahhar. Putra Mahkota ini konon ingin menjadi wali dan belajar Alquran dari Wali Makassar yang baru pulang dari Mekah itu. Atas saran Syekh Yusuf pula, Putra Mahkota melakukan perjalanan diplomatik ke Istanbul, usai menunaikan haji. Sementara Abdul Qahhar di Timur Tengah, Sultan Ageng mengangkat Pangeran Purbaya, adik Dul Qahhar, menjadi putra mahkota pula. Ini sebenarnya merupakan buntut pertentangan politik, Abdul Qahhar cenderung akomodatif terhadap Belanda, sementara si Ayah justru sebaliknya.

Pulang dari Turki, sultan muda ini langsung menggebrak. Ia melarang orang Banten minum dan madat, dan memerintahkan orang berpakaian Arab sebagai pakaian nasional. Hubungan sultan muda, yang sekarang sudah disebut Sultan haji, semakin tegang dengan sang Ayah. Akhirnya sultan tua mengalah. Abdul Qahhar dikembalikan ke posisinya dan diserahi  tugas memerintah di Ibu Kota, sementara dia sendiri menyingkir ke Tirtayasa. Kesempatan ini digunakan Sultan Haji untuk mempererat hubungannya dengan Belanda. Sultan Ageng marah dan berusaha mengonsolidasikan kekuasaan. Namun, peringatan kerasnya kepada Kompeni dianggap kecerobohan politik oleh Sultan Haji. Pada 1 Mei 1880 Sultan Ageng dimakzulkan putranya sendiri.

Banten pun bergolak. Sultan Ageng menolak mundur. Perang saudara tak terhindarkan. Dalam situasi pelik begini, ke mana Syekh Yusuf berpihak? Ke Sultan Ageng, Ibu Kota diserbu. Sutan Haji terdesak dan terkurung di istananya. Tetapi, ia segera minta bantuan Batavia dengan imbalan akan memberi hak monopoli dagang kepada mereka, hal yang memang ditunggu-tunggu Kompeni. Tahun 1683 pasukan Sultan Ageng Tirtaysa berhasil digulung. Setelah tertangkap, Sultan dibuang ke (dekat saja) Batavia, sampai wafatnya pada 1692. Sementara itu, Syekh Yusuf yang bersama Pangeran Purbaya mencoba melanjutkan perjuangan beliau, diasingkan ke Srilanka, kemudian ke Capetown. Para penulis nasionalis seperti Buya Hamka mengatakan, Sultan Haji tidak berani menampakkan mukanya kepada rakyat – yang tidak pernah mengakuinya sebagai sultan. Ia orang asing di negeri sendiri. Ia duduk di istana dikawal tentara Belanda. Tujuh tahun memakai gelar sultan. Kata Hamka, tetapi yang sebenar-benar sultan adalah Kompeni. Bersemayam, tetapi sama dengan ditahan, kata Hamka.

Sepeninggal Sultan Ageng, Banten memang tidak berdaulat lagi. Semua budak kepunyaan Belanda, yang dulu mencari perlindungan ke Banten, harus dikembalikan. Orang Belanda yang mengabdi kepada kesultanan wajib diserahkan. Termasuk Cordell, yang sudah masuk Islam dan membangun istana di Tirtayasa. Segala kerugian Kompeni akibat ulah bajak laut dan rampok darat harus diganti.

Tetapi, beredar juga cerita yang kelihatan sekali tumbuh dari rasa pahit, dan karena itu berusaha menghibur. Sultan Haji, yang berperang melawan ayahnya dan bersekutu dengan Kompeni itu sebenarnya bukan murid Syekh Yusuf yang berangkat ke Mekah itu. Abdul Qahhar yang sesungguhnya sudah mangkat di Tanah Suci. Yang datang belakangan itu tak lain tokoh rekayasa Belanda, yang wajahnya mirip Sultan Haji, eh Dul Qahhar.    

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda