Cakrawala

Problem Mencintai Bangsa

Apakah dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara saat ini kita mengalam krisis cinta tanah air? Secara sederhana mungkin bisa dijawab bahwa pastilah sedikit-banyak ada kemerosotan rasa kagum dan kebanggaan kepada tanah leluhur sendiri.

Saya ingat ungkapan seorang pejabat pada masa lalu, yaitu ketika memperingati HUT Kemerdekaan, ia berujar , ” Kalau dulu setiap mendengar lagu Indonesia dikumandangkan dada saya pasti bergetar, tetapi sekarang terasa biasa-biasa saja, tidak bergetar lagi,” ujarnya.

Mungkin apa yang dirasakan pejabat di atas sebuah sinyal yang mewakili bahwa dalam masyarakat terjadi pemudaran rasa cinta pada ibu pertiwi.

Salah satu yang bisa mempengaruhi rasa cinta pada bangsa adalah karena faktor perubahan politik dan   terjadinya pergantian kepemimpinan, pergantian rezim atau orde yang itu kemudian mempengaruhi pula kehidupan ekonomi  dan demokrasi. Semua ini akan direspon secara beragam.

Setelah merdeka Indonesia telah mengalami tiga kali perubahan politik. Diawali pemerintahan Orde Lama diganti oleh rezim Orde Baru, dan kini kita  hidup di era reformasi.

Perubahan dan pergantian rezim di negara  kita tidak pernah berrjalan mulus, ada unsur kekerasan, konflik atau kudeta yang melatar belakanginya. Ini bisa dilihat mulai dari pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru hingga ke orde reformasi saat ini.

Sudah umum terjadi setiap pergantian kekuasaan, baik pergantian secara normal atau tidak normal, para figur dan aktor politiknya menjanjikan kehidupan yang lebih baik, baik itu perubahan kesejahteraan ekonomi, pendidikan,  keamanan, politik dan demokrasi.

Namun, seperti yang terjadi tidak semua janji perubahan yang lebih baik itu bisa ditepati. Bahkan, bisa terjadi tingkat kesejahteraan dan kehidupan yang dialami pada masa kepemimpinan baru atau rezim baru mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Perbaikan tingkat kesejahteraan atau orang yang menikmati kehidupan yang lebih baik setelah pergantian kekuasaan mungkin hanya segelintir orang saja, terutama para elit atau tokoh- tokoh tertentu, sedangkan rakyat banyak tidak merasa ada perbaikan kehidupan.

Suatu pergantian kepemimpinan jika tingkat kepuasan terasa  rendah, dan kemajuan terasa lambat atau situasi dan keadaan dirasakan makin memburuk kualitasnya, bisa saja implikasinya menyebabkan rasa cinta pada tanah air makin menurun dan merosot. Mereka akan menyalahkan pemimpin yang dinilai gagal. Orang-orang yang merasa kecewa dan frustasi melihat kehidupan tanah airnya yang makin buruk paling berpeluang besar kehilangan rasa cinta pada tanah air.

Sebenarnya cinta pada tanah air adalah sesuatu yang diharapkan menjadi perilaku permanen masyarakat dan setiap orang. Sebab, seorang pemimpin bisa berganti kapan saja, baik secara periodik karena telah diatur oleh konstitusi maupun karena peristiwa berdarah melalui kudeta. Tetapi,  tanah air tidak bisa diganti, tidak bisa ditukar dan tidak bisa dihapus. Betapapun, seorang pemimpin memiliki kinerja yang buruk, janganlah hal itu menjadi pemicu kita membenci bangsa dan tanah air sendiri. Tanah air adalah tetap tanah air kita juga, kita pelihara dan kita pertahankan.

Pemimpin di era reformasi ini memang memungkinkan terjadinya “peluang lunturnya cinta tanah air”. Sejak dilakukannya  pemilihan langsung mulai di tingkat kabupaten-kota, provinsi dan pilpres mendorong lahirnya “fanatisme figur dan fanatisme partai”. Setiap akhir kontestasi dan KPU telah mengumumkan  calon yang terpilih sebagai pemenang, tidak semua simpatisan bisa mengakui pemenang, meski secara formal mungkin telah diterima, untuk move on secara legowo sepertinya sulit secara total dan ikhlas. Meski pemilu dan pilpres telah usai, biasanya polemik terus berlangsung melalui medsos. Kritik dan pernyataan ketidakpuasan biasanya terus berlangsung di medan internet. Disinilah terjadinya pembelahan masyarakat baik yang pro pada pemenang pemilu maupun yang kontra terhadap pemenang yang kemudian menjadi penguasa atau menjalankan pemerintahan. Yang kontra lalu melakukan kritik dan ungkapan-ungkapan  ketidakpuasan .

Situasi inilah yang bisa menjadi embrio ketidaksukaan pada pemimpin yang berkuasa. Ketidakpuasan yang tidak bisa diterima secara jernih dan sehat bisa berakibat lebih jauh pada berkurangnya  rasa cinta tanah air.

Dari sudut ini kita bisa memahami munculnya gagasan yang ramai diperbincangkan  dari seorang pengamat politik dan pengelola lembaga survei yang ingin mengusulkan Jokowi dipasangkan dengan Prabowo untuk pilpres 2024 mendatang.  Meskipun gagasan ini mendapat kritik dan memiliki juga beberapa kelemahan, tapi sinyal yang ditangkap bahwa tujuannya untuk menghindari benturan antara pendukung Jokowi dan  Prabowo di masa depan mungkin perlu dipertimbangkan. Namun, tentu ini bukan solusi tunggal. Solusi lain menyarankan apakah tidak sebaiknya baik Jokowi maupun Prabowo  sebaiknya menolak untuk  dicalonkan sebagai kandidat pilpres mendatang. Namun, suatu hal penting diperhatikan, bahwa, saat ini mulai muncul keprihatinan melunturnya cinta bangsa yang titik masuknya melalui fanatisme figur. Sebab, jika figur idola dan favoritnya tidak terpilih kepeduliannya pada tanah air bisa berkurang dan lemah.

Mengembalikan recovery keutuhan bangsa dan disintegrasi sosial yang timbul akibat ekses dari pilpres maupun pilkada yang menimbulkan pembelahan masyarakat dan terganggunya  perasaan cinta tanah air, maka peran paling besar dalam menyatukan keutuhan sosial sangat tergantung pada pemimpin, kepala negara atau kepala daerah  terpilih. Ia harus mampu menunjukkan ke masyarakat bahwa meskipun ia terpilih dicalonkan oleh partainya dan partai pendukungnya, namun setelah terpilih dan memimpin rakyat ia harus bisa menampilkan diri  sebagai pemimpin rakyat secara keseluruhan,  bukan sebagai  pemimpin partai dan golongan yang memilihnya semata. Setelah seseorang terpilih maka sekat-sekat kelompok harus dihapuskan, dan ia harus bekerja demi rakyat dan bangsa.

Pemimpin yang bekerja dengan baik untuk kesejahteraan rakyat dan berusaha untuk meningkatkan kemajuan di segala bidang, maka akan muncul trust dan kepercayaan dari rakyat. Trust dan kepercayaan inilah yang akan menjadi modal yang  merekat kuat  cinta anak bangsa pada tanah air. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda