Hamka

Agus Salim Menasihati Hamka

Di Indonesia, saat Belanda masih menjajah Indonesia, namanya sudah terkenal. Haji Agus Salim. Beliau masyhur karena kecerdasannya, juga gigih dalam berjuang.  Dalam laku itu, telah diakui Bung Hatta, yang mengenalnya sejak Agus Salim masih muda. Agus Salim juga dikenal keras hati kalau sudah memiliki tekad. Sikap itu diekspresikan Bung Hatta. “Kekuatannya terletak pada keyakinannya, kecerdasannya, ketangkasannya dan pula ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya,” katanya, sebagaimana dimuat pada pengantar buku “Hadji Agus Salim, Pahlawan Nasional” (Solichin Salam,1965).

Perjumpaan Hamka dengan Agus Salim, Hamka menceritakan bagaimana Agus Salim mengingatkan beliau. Hamka, sebagai diceritakan, tahun 1927 itu melarikan diri dari kampung halamannya hendak mendalami Islam

Salah satu pemikiran Haji Agus Salim yang menarik adalah nasehatnya kepada Hamka, untuk tidak menetap lama-lama di Kota Makkah. Ketika itu, tahun 1927, Hamka melarikan diri dari kampung halamannya, dan pergi ke Makkah untuk menetap di sana. Tapi, Haji Agus Salim menasehati Hamka.

Makkah Bukan untuk Belajar 

“Apa guna engkau mukim di Makkah ini, padahal engkau masih muda. Kita datang kemari hanya untuk beribadah, bukan untuk menuntut ilmu. Masanya telah lepas bagi orang Indonesia yang hendak belajar Islam akan bermukim di Makkah. Bertambah lama engkau mukim di Makkah ini nanti, bertambah payah engkau menyesuaikan dirimu jika engkau pulang kelak ke Tanah Air! Di Tanah Air kitalah engkau coba mencari ilmu dan membina dirimu, sehingga menjadi “orang”, tidak hanya menjadi seorang lebai.”           

Lebai bukan dalam makna kekinian. Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyebutkan lebai sebagai: “Pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan yang bertalian dengan agama Islam di dusun (kampung).”

Hamka sempat tinggal beberapa bulan di Makkah, dan bermaksud tinggal lebih lama.  Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup,  Hamka berkisah, bahwa Haji Agus Salim menyarankan agar Hamka segera pulang ke tanah air. Sebab,  di Tanah Air banyak pekerjaan penting berhubungan dengan pergerakan, studi dan perjuangan. Juga, lebih baik Hamka mengembangkan diri di Tanah Air.

Hamka menceritakan, Agus Salim juga menegaskan, “Umat Islam lupa memikirkan, bagaimana bisa bicara soal-soal penting itu dengan aman dan leluasa.” Lalu Agus Salim menunjuk pada perempatan jalan. Di situ tampak seorang polisi  lalu lintas sedang mengatur jalan yang ramai dan sibuk. Kendaraan pulang pergi semuanya berjalan dengan aman. Apa sebabnya? karena ada polisi lalu lintas yang berdiri di persimpangan mengatur jalannya kendaraan. Polisi itu berdiri di tengah jalan, menyetop kendaraan dari arah Selatan dan Utara. Kemudian dia mempersilakan kendaraan dari Timur dan Barat melaju. Sesudahnya, polisi itu mempersilakan kendaraan dari Selatan dan Utara melaju, memberhentikan kendaraan dari Timur dan Barat. Begitu seterusnya setiap hari.

Berjam-jam mereka mengerjakan itu dengan sabar dan setia melakukan tugasnya. Mereka berganti tugas dengan rekannya sesuai aplusan. Hamka melanjutkan yang didengarnya dari Agus Salim,” Cobalah engkau pikirkan bagaimana jadinya kendaraan di persimpangan itu kalau tidak ada polisi yang mengatur lalu lintas itu. Cobalah bayangkan, niscaya tidak aman kita bicara di sini kalau mereka yang menjaga lalu lintas jalan raya itu tidak berdiri di sana. Kita akan mendengar berita kecelakaan yang membuat pertemuan kita ini tidak berjalan dengan tenang dan aman,” kata Hamka, meneruskan nasihat Agus Salim kepadanya.

Haji Agus Salim lantas melanjutkan pesannya. “Maka di dalam memikirkan soal-soal politik, soal-soal yang tidak memuaskan kita, pikirkan pulalah sejenak bahwa ada sesuatu yang berjalan dengan baik, padahal kita melupakan itu sehingga kita selalu merasa tidak puas.” Demikian ungkap Hamka, sebagaimana disampaikannya pada ceramah peringatan 25 tahun wafatnya Haji Agus Salim di TIM, 4 November 1979.

Jangan Sampai Hanya Menjadi Tukang Baca Doa

Kata-kata yang begitu menggelitik Agus Salim, saat ia dinasihati,”Jika kucing tinggal di Makkah selama 20 tahun, jika balik ke Indonesia akan tetap “mengeong”.  Jika Hamka berlama-lama tinggal di Makkah, maka jika pulang ke Indonesia akan menjadi “tukang baca doa”.

Nasehat Haji Agus Salim itu sangat penting kita renungkan. Ini terkait dengan dunia pendidikan keulamaan di Indonesia. Inti nasehat itu ialah, bahwa untuk menjadi ulama sejati, sebaiknya membina dan mengembangkan diri di tanah air.  Tujuannya adalah agar seorang ulama dapat memahami dan merasakan problematika yang dihadapi oleh umatnya.

Haji Agus Salim adalah keponakan dari seorang ulama besar Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Saat bertugas di Konsulat Belanda di Jeddah, Haji Agus Salim sempat belajar cukup intensif tentang keislaman di Makkah. Tentu ia tidak bermaksud untuk menyatakan, bahwa belajar Islam di Makkah tidak berguna. Tapi, jangan berlama-lama, dan segeralah kembali ke Indonesia. Nasehat itu khususnya berlaku pada diri Hamka. Tampaknya Haji Agus Salim melihat potensi besar pada diri Hamka untuk menjadi seorang ulama dan juga pemimpin masyarakat.

Nasehat Haji Agus Salim untuk Hamka itu masih sangat relevan di masa kini. Ribuan pelajar kita hingga kini sedang menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan di Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, Maroko, Aljazair, dan sebagainya. Para pelajar Indonesia ini perlu merenungkan makna nasehat Haji Agus Salim tersebut.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda