Tafsir

Tafsir Tematik: Dibunuh, Diculik, Dianiaya (2)

Oleh sebab itu Kami tuliskan atas Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh suatu jiwa, bukan lantaran suatu jiwa atau pengrusakan di muka bumi, seakan membunuh manusia kesemuanya; dan barangsiapa menghidupinya seakan menghidupi manusia kesemuanya. (Q. 5: 32)

Qabil dan Habil

Ayat di atas sebenarnya mengenai kisah dua anak Adam. Nama mereka tidak disebut dalam Kitan suci (bahkan nama Hawa), dan hanya lewat sementara hadis dikenal  Qabil dan Habil (Injil: Kain dan Abel). Mereka mempersembahkan kurban kepada Allah, tapi hanya kurban Habil yang diterima. Maka hawa nafsu mendorong mendorong Qabil membunuh adiknya, berikutnya, Allah mengirimkan burung gagak (tidak ada dalam Injil) yang mengais-ngais di tanah, menunjukkan kepada si pembunuh bagaimana mengubur ayat. Di situlah terjadi penyesalan luar biasa dalam diri si abang.

Lalu datanglah kesimpulan moral dalam ayat di atas, yang juga tidak ada dalam Injil: “Barangsiapa membunuh satu jiwa….” (Lihat Q. 2: 27-32); Kitab Kejadian 4: 3-16). Yang dimaksudkan adalah pembunuhan yang “bukan lantara jiwa”, alias vonis kisas, bukan pula lantaran perompakan atau pembajakan yang disertai pembunuhan atau teror lain (“pengrusakan di muka bumi”). Tapi pertanyaannya, mengapa pengundangan itu dikaitkan dengan Bani Israil.

Jawaban pertama berupa pengelakan. Kisah itu, kata Al-Hasan, sebenarnya tidak mengenai para anak Adam, melainkan terjadi di kalangan Bani Israil sendiri. Jika demikian, kita pahami, ‘anak Adam’ hanyalah sinonim ‘manusia’ – sementara nama-nama Qabil dan Habil memang tidak mutlak. Jawaban kedua, dituliskan Al-Fakhrur Razi lebih lanjut, memang menyangkut dua putra asli Adam. Namun ungkapan “oleh sebab itu” di awal ayat bukanlah isyarat kepada perbuatan di antara mereka, melainkan kepada segala akibat buruk pembunuhan: sesal, kesedihan mendalam, dan seluruh kerugian dunia-akhirat. (ayat-ayat 30-31).

Adapun mengenai disebutnya Bani Israil, itu tak lain berhubungan dengan penekanan hukum moral di situ, yang dalam formulasi seperti itu tidak terdapat dalam ajaran agama mana pun – bahwa satu jiwa, yang dibunuh, sama dengan seluruh manusia. “Bani Israil tahu maksud superlatif yang agung ini,” demkian Razi. “Toh mereka sudah membunuhg nabi-nabi dan rasul-rasul.” (Razi, XI: 216-217).

Asosiasi kepada nabi dan rasul itu, pada Razi, kelihatan seperti elaborasi pendapat Ibn Abbas r.a., yang ketika menerangkan yang teringat para utusan Allah itu. Dan memberi tafsiran : “Siapa yang secara sungguh-sungguh mendukung seorang nabi atau imam yang adil, seakan ia menghidupi manusia kesemuanya, dan siapa yang membunuh nabi atau imam yang adil seakan membunuh manusia kesemuanya.” (Thabari, VII: 200).

Tak ada catatan, apakah pendapat tersebut diberikannya setelah peristiwa pembunuhan Khalifah-khalifah ‘Umar, atau ‘Utsman atau ‘Ali, r.a., yang siapa tahu mengingatkannya kepada pekerti Bani Israil. Toh jika tafsir itu langsung dijejerkan ke ayatnya, nyatalah kebeneran sebuah patokan yang aslinya dalam masalah hukum: tidak ada keharusan kita menerima pandangan seorang sahabat Nabi, khususnya jika itu hanya pendapatnya seorang (Syathibi, Al-Muafaqat fi Ushulil Ahkam, III: 196). Terasa jauh, memang, setidak-tidaknya kalau digandengkan dengan kisah dua anak Adam, sebelumnya. 

Namun layak sekali jika bibit dari Ibn Abbas itulah yang dikembangkan dua tafsir dari dua kelompok Ahmadiyah Qadiani dan Lahore. The Holy Koran, dari Maulvi Muhammad Ali, menerangkan ‘membunuh’ di situ sebagai “bisa juga membunuh nabi-nabi” –yang harga tiap orangnya saja sudah seperti harga semua orang. Berikutnya, baik pemimpin kaum Lahore itu maupun Basyiruddin Mahmud Ahmad, imam (khalifah) Ahmadiyah Qadiani, dalam The Commentary of the Holy Qur’an, membawa kita, lewat jalan berputar khas Ahmadiyah, untuk menangkap semacam arti batin mengenai “maksud ayat”. Yakni: seorang nabi luar biasa akan datang, Muhammad s.a.w., dan para Yahudi akan berkomplot membunuh beliau. Karena itulah dikatakan, “membunuhnya sama dengan membunuh seluruh umat manusia.” (Djajasugita dan Mufti Sharif, I: 360; Malik Ghulam Farid, I: 399)

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 18 Mei 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda