Cakrawala

Sahabat Sebagai Pengingat

Allah Maha Baik. Ia menjaga kita untuk senantiasa mengingat-Nya. Mengingat nikmat-nikmat-Nya, dalam semua segi kehidupan. Karena nikmat-nikmat-Nyalah, sebagai hamba kita tergerak untuk mensyukurinya.

Jika Allah menghendaki seseorang untuk menjadi baik maka Ia akan menunjukkan cela atau kekurangan orang tersebut untuk diperbaikinya. Bukan ingin mempermalukan, tapi untuk menghentikannya agar jera, tidak melakukannya lagi. Salah satu cara Allah mengingatkannya dengan mengirimkan seorang sahabat yang baik hati (dan tidak sombong) yang seringkali mengingatkan agar ia selalu berada di jalan yang benar. Tentu diapun bukan malaikat, kadang keliru pula. Nah, gantian kitalah yang mengingatkannya.

Soal teman yang berfungsi sebagai pengingat ini, Imam Al-Ghazali membuat beberapa tips di antaranya, hendaknya kita mencari sahabat yang  dapat dipercaya, yang suka meluruskan kesalahan kita, bukan yang selalu mempercayai dan meng-iyakan setiap pendapat kita. Selain itu kawan ini harus orang yang kuat agamanya karena nasihatnya akan selalu dikaitkan dengan norma-norma agama. Jika kita berbuat buruk, baik akhlak maupun perbuatan, ia mengingatkannya secara berterus terang dengan menjelaskan keburukan-keburukan kita dari sudut pandang agama yang dipahaminya. Ia ikhlas melakukan itu untuk kebaikan kita.

Cara ini yang dilakukan orang-orang besar di jaman dulu. Umar bin Khattab berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang suka menunjukkan kekuranganku.” Beliau juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, sang pemegang rahasia Nabi, apakah dirinya termasuk orang yang di hatinya masih ada sifat munafik atau tidak. Padahal Umar adalah manusia yang tinggi derajatnya dan telah dijamin masuk surga oleh Nabi saw.

Al-Ghazali menulis dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, bahwa jaman sekarang sudah berubah. Kini yang terjadi adalah kebalikannya. Masya Allah, padahal beliau wafat tahun 1111 Masehi (hampir seribu tahun yang lalu). Kalau al-Ghazali menyatakan pada waktu itu saja sudah rusak, apalagi hari ini. Orang yang paling kita benci pada zaman ini, kata Al-Ghazali, adalah orang yang suka menunjukkan cela diri kita. Bagaimana andaikata ada orang yang memberitahu kita bahwa di bawah kursi yang kita duduki ada ular berbisa atau kalajengking? Apakah kita marah pada orang itu, atau malah berterima kasih sudah diingatkan? Tentu kita akan berterima kasih dan kemudian membuang/membunuh binatang berbisa itu.

Demikian dengan perbuatan atau akhlak buruk yang ditunjukkan kepada kita. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada kawan yang mengingatkan kesalahan kita dan selanjutnya memperbaiki diri. Jangan justru membalas peringatan tersebut. Ketika ada kawan mengingatkan, “Kamu itu jangan sombong, jangan arogan.” Eh, kita malah marah dan membalas, “Kamu yang sombong!” seperti yang dilakukan anak kecil.

Memang sih dikritik itu tidak enak. Bahkan tidak ada kritik yang enak. Seringkali orang hanya berbasa-basi minta dikritik, tapi setelah dikritik dia membalasnya dengan caranya sendiri. Akan tetapi bukankah lebih baik diingatkan oleh orang dekat kita daripada orang lain atau musuh kita. Mereka, sahabat-sahabat kita itu tentu tidak akan mengumbar kejelekan atau kekurangan kita kepada orang lain. Mereka hanya ingin mengingatkan saja agar kita tidak terjerumus di dalam dosa atau kesalahan yang lebih dalam. Coba bayangkan, apabila teman kita tidak mau mengingatkan atau peringatannya kita abaikan, lalu kita pun merasa senang dan nyaman, merasa tidak ada yang protes. Akhirnya sampailah kelakukan minus kita itu kepada orang lain dan orang itulah yang akhirnya menegur kita. Tentu itu lebih tidak enak.

Dalam dunia kerja, ketika kawan satu bagian mengingatkan kesalahan kita dalam bekerja, janganlah kita marah. Berterima kasihlah dan langsung kita perbaiki. Mengapa? Sebab begitu kesalahan itu ketahuan boss -yang tentunya merugikan perusahaan, maka habislah nasib kita di perusahaan itu. Saat kita kena PHK karena mengabaikan peringatannya, kawan yang mengingatkan kita hanya akan berkata, “Kan saya sudah ingatkan, dulu….” Kita pun hanya tertunduk lesu.

Ketika terkena musibah, kita juga mestinya melakukan intropeksi diri. Ada kawan-kawan yang baik mengingatkan kita. “Mungkin kamu kurang sedekah….” Atau “Mungkin kamu mesti memperbaiki diri…” atau “Mungkin kamu harus meninggalkan kebiasaanmu itu….” Dan sebagainya. Kalau kita marah, maka kita dapat dua kerugian. Pertama, yaitu musibah yang menimpa kita itu sendiri, kedua kerugian karena kita batal menjadi baik. Ketika terjadi bencana alam di suatu wilayah, beberapa ulama mengingatkan akan ayat Allah, “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia (maksiat), supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Rum: 41) Namun ada juga yang kesal diingatkan seperti itu. “Kok tega-teganya menganggap kita banyak maksiat. Jangan sembarangan menuduh. Ini peristiwa alam biasa kok, yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja.” Ada lagi yang menambahkan, “Kalau begitu, mengapa negara-negara Barat yang banyak maksiat tidak diadzab Allah dengan bencana alam? Mengapa kota Jakarta yang lebih banyak kemaksiatan daripada kota lain di Indonesia kok tidak dilanda gempa?” Dan lain-lain ungkapan senada. Memang kesal. Tapi kata-kata teman yang mengingatkan itu perlu diperhatikan, dicamkan dan ditindaklanjuti. Jadi, tidak perlu emosional. Marilah kita mohon kepada Allah agar Ia kirimkan sahabat-sahabat yang baik, yang senantiasa mau mengingatkan kita apabila kita salah sehingga kita bisa memperbaiki diri dan menjadi orang baik. Dan saya yakin, sahabat-sahabat saya di grup ini adalah orang-orang yang Allah kirimkan kepada saya, untuk mengingatkan saya apabila saya salah. Semoga kita saling mengingatkan untuk menjadikan diri kita semakin baik. Amin.

About the author

Budi Handrianto

Alumnus IPB, S2 dan S3 diperoleh dari Universitas Ibnu Khaldun untuk program yang sama, Pendidikan Islam.

Tinggalkan Komentar Anda