Cakrawala

Falsafah Batu Sup

Ada fenomena menarik dari bencana bertubi-tubi di Indonesia. Satu bencana sekelas tsunami Aceh tahun 2004 silam, menjadi magnet banyak pihak baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Publik dari dalam negeri maupun mancanegara bersatu menolong. Mereka membantu tanpa ada yang mengundang. Foto-foto kawasan Nanggroe Aceh Daarussalam yang rata dengan tanah, ribuan jasad korban tsunami, anak-anak dan perempuan tua yang kehilangan rumah:  panggilan kemanusiaan yang beredar mendunia berkat kemajuan teknologi komunikasi, pada saat itu. Sesudah tsunami Aceh, hari-hari, bulan-bulan, dan tahun, kian kerap bencana (kecil juga yang besar) menyapa Indonesia.

Jatuhnya korban setelah bencana, sebuah keniscayaan. Manusia di mana pun kian mafhum, korban bencana tak harus sampai kehilangan nyawa baru meraih perhatian. Meski dalam satu dasawarsa sejak 2004, Presiden Indonesia menyatakan tsunami satu-satunya “Bencana Nasional”, rakyat Indonesia tidak kehilangan kepedulian. Semua bencana tak peduli itu berstatus bencananya kelas yang mana, nasional atau bukan, menjadi undangan kemanusiaan tak terhentikan. Bahkan sebagian di antaranya, juga mendatangkan bantuan asing. Letusan Sinabung yang mengakibatkan puluhan ribu rakyat Indonesia mengungsi; letusan Kelud juga banjir bertahap-tahap di Ibukota telah membuat rakyat miskin makin terpuruk dan berpunya pun kehilangan. Hal itu memicu ketidaktenangan massal. Bencana-bencana itu seolah “tak sanggup” naik kelas menjadi “bencana nasional”. Bencana yang “tak kunjung menasional” itu menuntut  pemerintah setempat (Kabupaten atau Provinsi), lebih bertanggungjawab dibanding pemerintah pusat dalam menanggulangi dampak bencana.

Sebelumnya “paket bencana” itu terjadi, bencana alam dan bencana akibat ekses mismanajemen lingkungan, akan lebih kerap menyapa negeri ini. Sampai terjadilah pandemi dua tahun lalu hingga kita rasakan saat ini. Makin banyak provinsi dan kabupaten/kota yang tak terbiasa bahkan belum pernah mengalami sapaan bencana, kurang siaga mengantisipasi bencana, dipaksa mengurus rakyatnya yang terdampak bencana. Kemanusiaan, meringankan beban pemerintah di Indonesia maupun  pemerintah di berbagai negara, saat zona nyaman itu dicabut bencana alam, atau bencana sosial. Di Indonesia, Jakarta kerap digenangi banjir kiriman, rob, atau akibat tingginya curah hujan. Di sini beribu-ribu pendatang mengadu nasib, sebagian sukses dan hidup mewah, tak sedikit yang mengalap keberuntungan dari di sektor informal bahkan terpaksa tinggal di kawasan slum.

Kala pandemi memapar Indonesia dan negeri lainnya, tak peduli itu negara maju, negara sedang berkembang ataupun negara miskin, sama-sama terdampak. Pada awal-awal pandemi, dunia diterpa kepanikan. Tahun kedua (di Indonesia sejak pendemi pertama kali menyerang Wuhan, RRC),  sebagian negara telah “merayakan” bebas dari pandemi. Indonesia? Alih-alih terbebas dari pandemi jumlah korban pandemi melejit. Suka atau tidak, pandemi sudah menjadi bencana kemanusiaan dunia. Dulu tenaga kesehatan perkotaan dipandang “terlalu nyaman”. Sampai datang pandemi, tidak saja di kota-kota namun juga di desa-desa di Indonesia. Pandemi “meratakan” ketidaknyamanan. Selain lonjakan korban pandemi jumlahnya melejit, tercatat di antara korban itu terdapat banyak tenaga kesehatan.

Falsafah Batu Sup

Sebegitu pun, sebagai insan kita elok mengambil hikmah dari narasi bangsa Tiongkok. Dikisahkan, ada seorang pengembara yang merasa tidak perlu perbekalan, cukup dengan berpikir kreatif. Setiap melintasi sebuah desa, ia kumpulkan warga desa. “Maukah Anda saya buatkan sup terenak yang belum pernah Anda santap? Saya punya batu sup ajaib.” Penasaran, warga desa menyilakan sang pengembara menjadi koki untuk warga sedesa. Syaratnya? “Siapkan bahan masakan apa saja secukupnya, apapun itu bahannya, dari masing-masing rumah. Biarkan saya mengolahnya.”

Benar saja, dengan  kreativitas dan sensitivitasnya, Sang Pengembara mulai meracik ramuan campur-campur yang ada di desa itu. “Nah, semua bahan sudah saya olah. Terakhir, saya masukkan batu sup ini.” Ia cemplungkan batu sup “ajaib” nya ke dalam panci masakan. Tak lama, masakan itu dihidangkan. Semua warga menikmatinya. Semua memuji rasanya. Sang pengembara meninggalkan batu supnya. “Kenanglah kebersamaan ini. Saya serahkan batu sup ini untuk warga desa ini.”

Sang pengembara berlalu. Di tengah jalan, ia terantuk batu. “Aha, kudapatkan batu sup lagi,” katanya sambiltersenyum. Ia kantongi baru itu,  dan berbagi narasi kebersamaan di desa lainnya. Sejatinya, bukan batu itu letak keajaiban sehingga sebuah sup yang enak terhidang. Tapi pada kreasi dan kesungguhan membangun kebersamaan. Persis seperti ketika banyak orang menghadapi bencana. Harus ada yang berinisiatif menghimpun kebersamaan dan bekerja tidak dengan semata-mata berwacana. Tidak sekadar mengumbar prihatin. Terjun nyata di kancah kepedulian, lalu “cemplungkan batu sup Anda”. Tak ada pemerintah manapun yang mampu mengatasi sendiri problem rakyatnya. Laksana falsafah batu sup. Keajaiban bukan pada batu sup itu, tapi datang dari “si pembawa batu sup” dengan kesungguhannya membangun kebersamaan. Dalam kondisi diintai bencana, saatnya menguatkan jalinan sosial kita. Kita bangsa yang sarat ajaran moral, tidak kalah dengan Tiongkok.

Bersahabatlah bukan Melawan

Sebutan gagah berani para tenaga kesehatan, juga rakyat Indonesia: “melawan pandemi”. Dengan cara apa? Yang masyhur pada era pandemi ini, pola hidup bersih dan sehat, atau “3M: memakai masker,  menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menjadi salah satu solusi. Mantan menteri kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, “Anda jangan mengharap pandemi hilang, Anda harus hidup berdampingan dengan covid-19,” katanya (bisnis.com, 21 Juni 2021). Pada situasi terjadinya herd immunity (kekebalan kelompok), sebuah komunitas bahkan sebuah negara tidak cukup dengan mengandalkan vaksinasi. Vaksinasi hanya salah satu cara.

Menurut keyakinan ilmu kesehatan, ada kekebalan kelompok/herd immunity. Itu disebut pula sebagai kekebalan populasi, konsep yang digunakan untuk imunisasi, di mana suatu populasi dapat terlindung dari virus tertentu jika suatu ambang cakupan imunisasi tertentu tercapai. Kekebalan kelompok tercapai dengan cara melindungi orang dari virus, bukan dengan cara memaparkan orang terhadap virus itu. Vaksin  melatih sistem imun kita untuk menciptakan protein yang dapat melawan penyakit, diistilahkan antibodi, seperti jika kita terpapar pada suatu penyakit, tetapi perbedaan pentingnya adalah bahwa vaksin bekerja tanpa membuat kita sakit. Orang yang telah diimunisasi terlindung dari penyakit terkait dan tidak dapat menyebarkannya, sehingga memutus rantai penularan.

Terdengar menyenangkan, kata-kata,”Hari ini adalah hari pertama dengan nol kasus sejak musim panas lalu,” seperti dikatakan Chris Fearne, menteri kesehatan Malta, sebuah negara kepulauan di Uni Eropa yang meresponnya dengan  melonggarkan pembatasan yang mereka jalani saat pandemi corona menyerang negara itu.

Dengan kata kunci “bersahabatlah, bukan melawan” pandemi, semoga Indonesia mencapai herd immunity. Tak perlu paranoid pada pandemi, apalagi sampai berlebihan menyikapinya. Jika Anda sakit, biarkan rumah sakit dan tenaga kesehatan terdekat yang berupaya memberikan pelayanannya. Benar ada banyak yang sudah menjadi korban pandemi, Anda sendiri dengan sadar protokol kesehatan, termasuk menghindari pusat-pusat keramaian, bismillah, berpasrahlah sembari berikhtiar. Allah mendengar doa dan pengharapan kita.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda