Cakrawala

Fenomena Dehumanisasi Manusia dan Solusi Amal Saleh

Sekitar Maret 2021 lalu sempat viral di masyarakat berita tentang Hesti Sutrisno, 37,   seorang wanita bercadar yang memelihara sebanyak 70 ekor anjing. Selain binatang menyalak ini, Hesti juga memelihara 32 kucing dan 20 ekor ayam. Hesti bermukim di Bogor, Jawa Barat.

Yang dianggap kontroversi dan mendapat reaksi warga adalah soal Hesti memelihara anjing  yang dianggap mengganggu dan meresahkan. Akibatnya, timbullah protes agar hewan itu direlokasi sehingga masyarakat merasa nyaman.

Hesti mengumpulkan binatang yang dalam Islam jilatannya dinilai najis itu bukanlah hewan yang bersih dan menarik, tidak dibeli dengan modal yang besar, tetapi dipungutnya dari hewan liar, terlantar dan tidak terurus di masyarakat, lalu dipeliharanya dengan baik, dirawat, diberi makan dan ditempatkan dalam fasilitas yang cocok untuk hewan peliharaan. Hesti menjaga, merawat dan memelihara hewan itu layaknya memperlakukan manusia. Melihat ia hidup dengan hewan tersebut seperti keluarga sendiri.

Fenomena  dehumanisasi

Fenomena masyarakat memelihara dan merawat binatang bukan hanya dilakukan terhadap anjing, juga beberapa hewan lain seperti kucing dan lainnya. Mereka disayangi seperti manusia, tinggal bebas dalam keluarga, diberi makanan khusus, bahkan melebihi manusia ,misalnya, diberi susu, kalau sakit dibawa ke dokter, diperiksa secara rutin, dimandikan, dipangku dan perlakuan istimewa  lainnya.

Pertanyaannya adalah kenapa manusia tertarik bersahabat dan menolong hewan, kenapa manusia tidak menolong sesamanya, yaitu  manusia  yang seharusnya lebih diprioritaskan ketimbang binatang. Bukankah manusia makhluk yang derajatnya lebih tinggi dari makhluk lainnya.  Memang, tidak ada yang salah manusia menyayangi binatang, karena ia juga makhluk Allah, tetapi bukankah manusia juga banyak yang butuh bantuan dan pertolongan. Saat ini di tengah wabah pandemi covid 19 dengan diberlakukannya berbagai pembatasan aktifitas manusia, terjadi pengangguran dan kemiskinan, yang mengakibatkan masyarakat kehilangan penghasilan sehingga tidak mampu membeli berbagai kebutuhan pokok untuk kehidupan sehari-hari  .

Persoalan menyayangi binatang dan memperlakukannya layaknya manusia tidak cukup dilihat dari segi aspek hobbi atau kecintaan semata. Kemungkinan lain secara makro bisa dilihat sebagai gambaran terjadinya proses dehumanisasi manusia dalam kehidupan. Proses dehumanisasi dalam hal ini  diartikan terjadinya  penurunan nilai dan harkat manusia. Manusia kurang dihargai dan dihormati sehingga tidak ada empati dan keinginan untuk menolong antar sesama dan terhadap mereka yang hidup menderita dan kekurangan.

Proses sosial, ekonomi dan pembangunan melahirkan dampak dehumanisasi oleh karena implikasi yang ditimbulkannya manusia cenderung mengejar materi. Etika dan moral tidak lagi menjadi acuan utama dalam hidup. Yang dianggap penting dan prestisus adalah simbol-simbol kehidupan duniawi seperti jumlah kekayaan, baik berupa properti, asset uang atau tanah, apartemen, jumlah perusahaan yang dimiliki,  jumlah kendaraan, pendidikan anak di luar negeri, liburan, dan termasuk pula jabatan dan kekuasaan yang dipegang.

Adanya orientasi hidup yang materealistik ini manusia tidak memikirkan lagi sisi kemanusiasn dalam hidup. Kepekaaan sosial menjadi tipis, tergerus dan  hilang. Bahkan, yang muncul adalah orang-orang yang sudah memiliki kehidupan dan jabatan yang relatif baik masih melakukan korupsi atau mengambil  sesuatu yang bukan haknya. Dalam kasus korupsi terhadap bansos paket sembako Covid 19  lalu juga menunjukkan fenomena dehumanisasi, yaitu membiarkan orang lain menderita asalkan diri pribadi untung dan bisa menikmati. Artinya, betapa harkat dan martabat manusia dianggap  rendah dan tidak dihormati.

Proses dehumanisasi saat ini memang patut menjadi perhatian. Dalam proses pembangunan dan ekonomi yang menonjol adalah “economic growth”, sedangkan aspek “human growth” masih ketinggalan. Pembangunan misalnya melahirkan penggusuran terhadap pemukiman orang-orang kecil. Dampak sosial ini menjadi pertanyaan apakah konsep pembangunan itu adalah manusia untuk pembangunan atau pembangunan untuk manusia. Kalau pembangunan untuk manusia tentunya sesuatu yang menyebabkan terjadi  merosotnya harkat dan martabat manusia harus diminimalisir atau ditiadakan sama sekali. Artinya, pembangunan jangan membuat orang menderita dan mengalami kesusahan.

Dalam aspek hukum suatu proses penegakan hukum juga harus menghargai martabat manusia  Artinya hukum ditegakkan secara adil tanpa memandang kedudukan dan jabatan seseorang. Tidak ada diskriminasi dan tebang pilih pada siapapun. Keadilan dalam hukum jika ditegakkan sama buat semua  orang (equality before the law) , itu berarti menghargai martabat manusia. Sebaliknya, jika hukum berat sebelah, pilih kasih, apalagi hanya tajam ke  bawah dan tumpul ke atas atau terhadap orang yang dianggap dekat maka itu berarti dalam hukum terjadi perendahan terhadap martabat manusia.

Martabat manusia sesungguhnya sama buat semua orang, tidak ada perbedaan. Meskipun dalam masyarakat terdapat perbedaan klasifikasi sosial baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lainnya. Martabat manusia tidak bisa dibedakan meskipun berbeda kemampuan, keahlian atau fungsinya dalam masyarakat. Menurut Franz Magnis Suseno SJ, menilai sesuatu dari jumlah kecakapan-kecakapan atau kegunaan yang dimiliki adalah cara menilai mesin atau, paling-paling binatang. Kualitas sebuah komputer, misalnya, dinilai dari fungsi-fungsi yang dapat dilakukannya.Tetapi manusia bukan mesin. Nilainya tidak terletak dalam fungsi-fungsinya, melainkan dalam dirinya sendiri. Manusia hanya diperlakukan sesuai dengan martabatnya, bukan diambil sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Maka, kalau kita mau melihat manusia sebagai manusia, martabatnya tidak boleh kita cari dalam kegunaannya bagi masyarakat atau negara, melainkan harus bertolak dari suatu paham martabat manusia yang normatif (Franz Magnis Suseno, Pembangunan dan Konsep Manusia, dalam A.Rifai Hasan,editor, Tinjauan Kritis Tentang Pembangunan, Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Jakarta, Desember hal.38).

Franz Magnis menjelaskan lebih jauh, menurut kepercayaan kebanyakan agama manusia adalah ciptaan Tuhan. Itu berarti bahwa martabat seseorang sebagai manusia tidak bersumber hanya pada manusia, melainkan pada Allah Sang Khalik sendiri. Oleh karena itu tepatlah kalau martabat manusia dikatakan harus dianggap suci. Dan kita dapat menarik kesimpulan, apabila kita menghormati martabat sesorang sebagai manusia, kita sekaligus menghormati kedaulatan Allah, dan sebaliknya . Tidaklah mungkin kita mau menghormati Allah kalau kita memperkosa martabat seseorang sebagai manusia. Kalau kita sebagai orang beragama mau setia kepada Allah, kita harus bersikap prihatin terhadap nasib segenap orang tanpa membeda-bedakan ras, agama, kebangsaan dan jenis kelaminnya. Sebagai manusia kita hormati manusia dan kita bantu (Magnis ibid hal. 44).

Menurut Dr. Ali Syariati, manusia adalah makhluk yang paling mulia karena diciptakan dari rohnya Allah. Seperti dijelaskan dalam Al-Quran bahwa proses kejadian manusia bermula dari tanah lumpur yang berbau, setelah terbentuk lalu ditiupkan roh Allah. Dalam bahasa manusia lumpur adalah simbol kenistaan terendah. Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari pada lumpur  Sedangkan zat yang paling luhur dan suci adalah Allah,dan bagian yang paling terluhur, termulia dan tersuci dari setiap zat adalah roh-Nya. Manusia sebagai wakil Allah, lanjut Syariati, diciptakan dari lumpur, dan lempung endapan atau bagian terendah di dunia, lalu Allah menghembuskan ke dalamnya bukan darah-Nya, bukan raga-Nya, melainkan roh-Nya adalah suatu konsep terluhur sepanjang akal fikiran manusia (Ali Syariati, Tentang Sosiologi Islam, Ananda Yigyakarta, 1982).

Suatu hal yang termulia juga dalam pandangan Allah setelah Iman adalah amal shaleh. Manusia ber-Iman adalah insan kreatif yang bekerja dengan prinsip amal shaleh. Yaitu, memfungsikan dirinya agar berguna bagi orang lain. Semangat pelopor untuk berbuat baik ini yang dinamakan Al-Quran populer disebut fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba berbuat kebajikan. Dan umat Islam atau orang-orang beriman telah dipilih oleh Allah untuk memerankan manusia pelopor tersebut,” Kamu adalah ummat yang paling baik yang dilahirkan  Allah untuk manusia yang berfungsi melakukan amal makruf, melarang kemungkaran dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran:110).

Beramal saleh ini berarti juga menghargai martabat dan kehormatan manusia. Dan orang yang beramal saleh dianggap sebaik-baik makhluk Allah. Ini dinyatakan Quran dalam surat al_Bayyinah: 7-8 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. Kemudian dalam hadist juga dikatakan, ” Sebaik-baiknya orang ialah yang lebih memberi manfaat kepada orang lain”.

Dengan ini cukup jelas bahwa Islam sangat menghargai martabat manusia. Dan martabat manusia itu ditekankan untuk berbuat baik antar sesama manusia. Jika iman dan amal saleh ini diyakini dan dipraktekan dalam kehidupan manusia maka dehumanisasi manusia tidak akan terjadi. Ini tentu juga dehumanisasi dalam arti umum, yaitu manusia bukan hanya berbuat baik kepada manusia, tetapi juga kepada makhluk Allah lainnya, termasuk binatang, tumbuh-tumbuhan,  lingkungan dan alam semesta ini. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda