Cakrawala

Perang Menghadapi Virus, Korupsi dan Tuhan

Episode membosankan sekaligus cobaan tengah menggelayuti Indonesia, padahal negeri ‘pelopor pandemi, telah merayakan ‘bebas pandemi’. Indonesia memasuki di tahun kedua pandemi ini, seolah dipaksa keadaan, dari negeri religius menjadi abai agama.

Budi Handrianto, sahabat saya, menulis artikel bernada tanya, “Mengapa Pandemi Enggan Pergi?” Artikel ini melanjutkannya. Saya membenarkan sejumlah hal yang dipertanyakan Dr. Budi Handrianto itu, bahwa dengan segebok treatment dari pemberlakuan lockdown (yang sempat kontroversial) hingga vaksinasi, angka korban terpapar covid tetap tinggi. Benar, bahwa lonjakan korban pandemi seakan “bermain-main” angka, seperti kata Budi Handrianto,”…. 1.000.000 pertama kasus penderita Covid-19 di Indonesia dicapai dalam waktu 331 hari (2 Maret 2020 sd 26 Januari 2021).”

Di dunia maya, bahkan masih muncul pendapat yang memandang ulah corona hanya konsporasi global. Karena itu, sebegitu dahsyat ikhtiar tenaga medis berbuat melawan corona, angka korban masih tinggi. Memanfaatkan perkembangan teknologi, kita nyaris setiap hari menggelar tahlilan online. Spiritualitas publik, kian ngeh teknologi dan makin familiar pula dengan aktivitas media maya. Di sisi lain, cyberwar pandemik ini tak kalah seru, antara perlawanan dan penegasian.

Tenaga medis pun ikut bermedsos-ria. Mereka di jagat media sosial, berempati atas nasib sejawatnya yang berguguran, di seberangnya terjadi gelombang penegasian atas ikhtiar keras siang-malam nakes (tenaga kesehatan).  “Adu rasional” di media maya pun terjadilah. Tanpa pretense menengahi, ada komentar ahli, salah satunya mantan menteri kesehatan RI Siti Fadilah Supari. Namanya pernah tenar lantaran berseteru dengan WHO (World Health Organization) dan menolak menyerahkan sampel virus H5N1 serta menuntut adanya perubahan pada Global Influenza Surveillance Response (GISRS) yang bertugas melakukan monitoring dan penilaian risiko terhadap virus influenza sedunia. Hal itu terjadi saat beliau menjadi Menkes RI.

Dalam masa pandemi ini, namanya kembali mencuat. Pendapatnya, dalam kondisi tidak lagi punya kuasa – tapi memiliki otoritas,  mengingatkan publik bahwa pandemi dapat terjadi karena dua faktor:  faktor alami dan bioterrorism. “Sejak awal seharusnya pemerintah Cina langsung melakukan investigasi darimana asal virus corona. Investigasi tidak cukup dengan mengecek laboratorium, tetapi juga siapa yang membiayai laboratorium itu.” Fadilah mengatakan, ikut melibatkan diri karena mendukung penelitian Terawan. Oleh karena itu, ia berharap vaksin Nusantara membawa manfaat bagi bangsa.

Fadilah melanjutkan,”Ini penelitian. Bukan vaksinasi, tapi penelitian. Saya menghargai pendapat dr Terawan yang saya sudah kenal. Dia seorang researcher. Nah, saya mendukung dengan cara mengikuti penelitian ini. Karena ini baru penelitian,” ujarnya.

Tentang pandangan kritisnya, Fadilah mengatakan,”Seperti waktu flu burung, begitu. Saya secara substantif meragukan penularan itu. Wabah itu bisa terjadi alami. Biasanya lama, tidak tiba-tiba begitu.” Karena itulah, ia lebih percaya teman sejawatnya itu. Sementara itu, BPOM belum mengeluarkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) fase II vaksin Nusantara dikarenakan hasil uji klinik fase I belum memenuhi standar pembuatan vaksin.

Namun, sejumlah anggota DPR tetap mendatangi RSPAD Gatot Soebroto untuk menjadi relawan vaksin Nusantara. Diketahui, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad juga menjadi salah satu relawan uji klinis fase II Vaksin Nusantara. Fadilah sendiri mengungkapkan harapan,”Setelah penelitian Terawan tersebut berhasil, Vaksin Nusantara (bukan Sinovak ataupun Astra Zaneca dsb), bukan hanya bermanfaat untuk menangkal covid-19, tetapi bisa menangkal segala jenis mutasi Covid-19.”

Sebagai mantan menteri, saya yakin beliau sudah tidak ada ambisi apa pun, apalagi “mroyek” atau mengambil keuntungan dari pandemi ini. Zaman beliau masih menjabat saja, demikian galak bahkan dimenangkan di pengadilan internasional saat berseteru dengan WHO, apalagi saat ini. Dalam kondisi sudah sepuh kita salut dengan keberpihakannya. Termasuk ketika dengan sadar beliau memilih vaksin Nusantara – vaksin anak bangsa yang kebetulan juga mantan menteri kesehatan. Dalam soal virus pun, Fadilah menunjukkan keberpihakannya dengan wawasan dan kesadarannya (meskipun konon pilihan itu – melakukan percobaan mengatasi corona dengan treatment yang diikhtiarkan sendiri – Terawan dicopot dari jabatan menteri kesehatan).

Dalam pandemi, setidaknya publik melihat sedikitnya tiga ranah “perang”: ranah virology (mengatasi pandemi versus “membisniskan” pandemi), ranah korupsi (pro  koruptor versus anti-korupsi), dan ranah spiritual (ketundukan dan ketaatan kepada sang Khalik versus pengabaian kepada –Nya). Tiga serangkai perlawanan itu harus dihadapi Indonesia: virus, koruptor, dan Tuhan. Yang pertama dihadapi dengan cara ilmiah (itupun dengan trial and error), yang kedua menghadapkan publik dengan politik, dan yang ketiga: suka atau tidak, yakin atau tidak, publik Indonesia harus berpasrah kepada Allah. Apapun agamanya atau akidahnya, “Jalan Tuhan tidak pernah salah”. Pada era pandemi ini, Anda selamat atau tidak selamat, kalau Anda sudah berpasrah kepada Allah, pasti selamat. Kalau pun tidak di dunia, kelak Anda selamat karena akidah Anda. Allah Maha Penyembuh, obat ataupun vaksin hanya wasilah, sarana dan bukan penyembuh itu sendiri.

Menyederhanakan Proses

Warga Madura belum lama ini menolak  penyekatan yang di berlakukan di Jembatan Suramadu dan penerapan tes swab antigen. Alasan warga cukup rasional, penyekatan itu diberlakukan untuk semua pengguna penyeberangan Jembatan Suramadu (yang artinya pengguna dari empat kabupaten, padahal,”Yang terdampak kabupaten Bangkalan, itupun hanya di 4 kecamatan zona merah. Kenapa yang menanggung masyarakat se-Bangkalan, bahkan penduduk di tiga kabupaten lainnya juga terimbas?” Demikian kata Musfiqul Khoir, juru bicara unjuk rasa itu.

Agak bertolak belakang dengan itu, sekadar untuk perenungan. Pengakuan Azrul Ananda. Ia bilang, telah suntik vaksin di Amerika, setelah ikut balap sepeda Unbound Gravel, di Kansas, baru-baru ini. Ia suntik di negara bagian Texas, sehari sebelum terbang kembali ke Tanah Air. Saat itu ia memilih vaksin Johnson & Johnson karena hanya butuh sekali suntik. Ia sendiri sebenanya sudah suntik vaksin sebelumnya, saat itu ia di suntik vaksin bersama manajemen dan pemain Persebaya. Ia disuntik Coronavac (Sinovac). Ia sendiri bilang, saat itu Antibodi-nya rendah. Hanya 15. Sedangkan istrinya lebih baik, Antibodinya di angka 37.

Merekapun berangkat. Ternyata, sampai Amerika, mereka tak perlu karantina. Merekapun mengatur program yang telanjur disiapkan untuk sepekan. Merekapun memilih stay di negara bagian Texas, latihan di sana sekaligus menyesuaikan diri dengan cuaca dan kondisi. Untuk itu mereka menyewa rumah. Selain lebih hemat dari hotel, bisa punya ruang luas untuk sepeda-sepeda dan perlengkapan mereka yang lumayan banyak.  Dalam interaksi mereka, mulai saat berbelanja kebutuhan dapur dan lain-lain, terasa betapa sederhana penanganan pandemi di Amerika. Super simple. Bahkan, di Walmart, hypermarket terpopuler di Amerika, sudah disambut papan tulisan penawaran vaksinasi. Gratis. Cukup menuju bagian farmasi di Walmart, mendaftar di sana atau lewat aplikasi, lalu suntik. Benar-benar walk in, tanpa prosedur penjagaan aneh-aneh, apalagi “event” merayakan vaksinasi.

Di Walmart Azrul mendapatkan tawaran vaksin Pfizer. Ia keliling, menyaksikan tersedia vaksi pada beberapa jaringan apotek/toko kebutuhan popular. Semua menerakan pengumuman jelas: Silakan walk in untuk suntik vaksin. Di Amerika, vaksinasi gratis. Minta vaksin semudah beli obat batuk. Setelah diskusi, kami memutuskan tidak dulu. Kami ingin fokus ke lomba di Kansas dulu. Just in case nanti ada efek samping setelah suntik. Serta, kalau memilih Pfizer atau Moderna, akan ada komplikasi jadwal, karena harus dua kali suntik.

Dengan pertimbangan yang matang, Azrul pun suntik vaksin lagi setelah menjalani lomba. “Segera saja setelah swab saya diantar ke salah satu farmasi/toko kebutuhan terdekat. Saya ke loket farmasinya, bilang ingin vaksin. Saya benar-benar walk in, tidak mendaftar via aplikasi,” kata Azrul. Seperti ia duga, kata  penjaganya,” Tidak masalah.” Azrul cukup mengisi selembar formulir , menunjukkan kartu identitas (paspor), penjaga toko itu yang mengisi data di komputer.

Lalu dia mengingatkan, saya mungkin akan mengalami sedikit demam dan kurang enak badan dalam satu dua hari ke depan. Tapi itu tidak apa-apa. Azrulpun bertanya, ”Bagaimana dengan kejadian pengentalan darah yang diberitakan itu.” Dia bilang, “Jangan khawatir, itu hanya terjadi pada perempuan usia 19-49, dan hanya satu dari satu juta.” Penjaga toko itu pun tanpa melakukan mengecekan tekanan darah, langsung menancapkan jarum suntik di lengan kiri. Beres. “Sebelum pulang, tolong jangan ke mana-mana dulu 15 menit. Silakan duduk di tempat tunggu atau jalan-jalan keliling toko. Kalau dalam 15 menit tidak ada keluhan apa-apa, cukup nongol depan jendela dan tunjukan jempol. Silakan pulang,” kata penjaga toko itu.

Benar, kunci melawan pandemi ini memang harus bisa simple. “Tidak ada istilah-istilah PSBB, PS Mikro, PS Lockdown, PS Ambyar, atau apalah. Semua simple, pakai common sense alias akal sehat. Dalam perspektif Azrul, ada energi terbuang percuma karena soal remeh ketimbang gagasan paling utama nanti: mengakhiri pandemi ini! Ia merasa betapa kebijakan telah dibuat berdasarkan reaksi sosmed, bukan berdasarkan prinsip kebaikan, apalagi sains! Dalam pengakuannya, di Amerika ia merasakan betapa simple vaksinasi di sana. Testimoni itu diunggah Azrul pada 23 Juni 2021.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda