Hamka

Hamka dan Kasman Singodimedjo : Kesalihan di Awal Kemerdekaan

Hamka memberi kesaksian tentang tokoh besar di awal kemerdekaan. Di Persyarikatan Muhammadiyah Hamka dan Kasman Singodimedjo bertemu, jauh sebelum Kasman dikemudian hari menjadi orang penting di Indonesia. Di masa (awal) kemerdekaan, Kasman diamanahi sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia (Kasman meraih gelar Misteer in de Rechten, M.R.),

Syahdan, gedung Sekolah Kweek School Muhammadiyah itu penuh sesak, Yogyakarta, tahun 1941. Kongres ke-30 Muhammadiyah diresmikan. Peserta kongres berdatangan dari banyak tempat, dari  seluruh Indonesia. Datang mewakili, pimpinan Muhammadiyah dari tiap kota, tiap daerah. Beragam suku, beragam bahasa, memimpikan Indonesia merdeka dengan rahmat Allah. Di antara mereka, bertemu dua tokoh muda Muhammadiyah: Hamka dan Mr. Kasman Singodimedjo. Kasman, saat itu sedang menjadi trendsetter lantaran baru saja keluar dari tahanan Belanda.

Mr. Kasman, Sarjana Hukum, pernah memimpin JIB (Jong Islamieten Bond), bisa dibilang organisasi pertama pergerakan Islam di Indonesia khusus pemuda, didikan Haji Agus Salim. Mr. Kasman saat itu menjabat Pimpinan Konsul Muhammadiyah ‘Batavia’, sedangkan Hamka yang lebih muda delapan tahun, diamanahi Pimpinan konsul Wilayah Sumatera Timur, Medan.

“Mr. Kasman adalah seorang yang terhormat, mendapat gelar Meester in de Rechten, Sarjana Hukum. Jarang saat itu orang bergelar Mr. pada Muhammadiyah. Rasa kekeluargaan begitu terasa, apalagi ada rasa bangga pada diri kami karena ada anggota Muhammadiyah yang ditangkap Belanda. Saat itu pula, pemimpin-pemimpin Muhammadiyah berdatangan seperti KH. Mas Mansyur, ketua Pengurus Besar, Haji Abdullah dari Makasar, Tom Oli dari Gorontalo, Citrosuwarno dari Pekalongan, dan lainnya,” kenang Hamka seperti beliau sampaikan dalam buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 tahun.

“Yang membuat saya gembira juga,” kata Hamka, “Saat Mr. Kasman yang terhormat itu saya kira tak ingin berkenalan cepat denganku. Tapi nyatanya beliau menjabat tanganku, dan saya merasa dia sangat santun dan menghormati sekitarnya. Pun setelah rapat-rapat, kami semua tinggal di pondok sederhana. Tidak ada keistimewaan bagi kyai, atau ketua pengurus, atau orang yang bergelar Misteer sekalipun,” kenangnya.

Suasana di pondok itu seperti dek kapal. Tidur menumpuk semua di sana. Begitu sederhananya saat itu. Kadang, malah mereka semua tidur siang di sana. Karena malamnya harus rapat, bersiap kelak Indonesia merdeka. Bertumpuk sudah, satu bantal berdua beralas tikar. Kadang saling tindih, kepala, kaki, dan menyebar dimana-mana. Sebuah suara terlontar,“Berat, Saudara…berat…”. Orang yang berseru itu lalu memindahkan kaki yang tadinya “menempati” dada orang tersebut, sosok yang bertubuh kecil. Dia yang mengangkat kaki itu lantaran merasakan beban si empunya kaki itu, Wakil Majelis Pemuda (WMP) Muhammadiyah dari Purwokerto, Sudirman namanya. Sedangkan kaki yang menjulur di atas dada dada kawannya karena terlelap tidurnya ialah kaki Mr. Kasman Singodimedjo.

“Baru lima tahun belakangan, kita melihat qadla dan qadar Allah bahwa pemuda yang berat memikul kaki itu ialah Panglima Besar TNI yang pertama di Indonesia Jenderal Sudirman. Sedangkan yang kakinya terletak di dada orang itu adalah Jaksa Agung Republik Indonesia dan turut menghadiri Proklamasi Mr. Kasman Singodimedjo,” kenang Hamka.

Pidatonya Penggerak Massa Kasman Singodimedjo, sebuah nama yang mungkin tak setenar Hamka, Roem, atau Natsir. Namun para tokoh masa silam menyanjungnya, berdiri, menaruh hormat padanya.

Lihatlah ketika Soekarno dan Hatta di penghujung 1943, ketika dilatih oleh Daidancho Kasman. Dengan penuh hormat, Pahlawan Proklamasi ini melaksanakan perintah-perintah Kasman dalam sebuah pelatihan. Mr. Moh. Roem, kawannya di JIB dan Masyumi mencatat bahwa Mr.Kasman, sosok berbadan tegap yang senang menunggangi kuda saat ia menjadi Komandan Peta Wilayah Jakarta.

Kasman kerapkali berpatroli bersama diikuti ajudannya menjaga keamanan Jakarta. Sebenarnya, Kasman sendiri enggan untuk bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Masuk PETA, Kasman balik memanfaatkan PETA untuk kepentingan Indonesia.

“Sesudah salat istikharah itu saya seperti diberi petunjuk oleh Allah, bahwa ada hikmahnya saya masuk Peta itu. Saya melihat dari segi kerangka perjuangan saya bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, jabatan dan kedudukan saya dalam Peta akan saya manfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.

Kegemaran pidato, pengalamannya memimpin JIB dan Muhammadiyah membuat Kasman diangkat menjadi Komandan Daidancho PETA Jakarta. “Di dalam Peta gemblengan jiwa lebih penting, mereka dilatih tahan menghadapi yang sukar. Gemblengan semangat dan latihan batin itu ialah Agama Islam, yaitu agama yang dipeluk oleh sebagian besar rakyat Indonesia! Sedikitnya lima kali sehari, prajurit Islam yang bersumpah kepada Allah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku semuanya aku serahkan kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Maka jelas pada kita, bahwa prajurit Peta dilatih bukan untuk mementingkan diri sendiri, tetapi dicurahkan untuk kepentingan masyarakat, apalagi dasar perjuangan mutlak diserahkan kepada Allah. Segala perbuatan dianggap sebagai ‘iyyakana’ budu’ yaitu mengabdi kepada Allah!”

Kasman disebut sebagai ‘Tritunggal’, Soekarno-Hatta-Kasman. Tiga orang inilah yang menggerakkan rakyat berkumpul di Lapangan Ikada, menyerukan kemerdekaan.

Demikianlah sekelumit kisah tentang kesalihan di awal kemerdekaan. Menurut catatan sejarah, yang sama dari Hamka dan Kasman Singodimedjo: diganjar dengan penjara atas tuduhan merencanakan pembunuhan presiden Sukarno. Padahal, Kasman Singodimedjo berjasa menjadi inisiator TNI.

Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904, putra H. Singomedja pernah menjabat sebagai penghulu, carik (sekretaris desa) dan polisi pamong praja di Lampung Tengah. Memiliki seorang istri yang bernama Soepinah Kasiyati (menikah pada tanggal 17 September 1928) serta dikaruniai 6 orang anak; Siam Saputro, Ir. Muhammad Sulaiman Wibisono, Bambang Bagus Toko, Ny. Kabul SH, NC, dan Ny. Dewi Nurul Mustaqimah. Kasman Singodimedjo wafat di Jakarta, pada tanggal 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda