Cakrawala

Ikhlas, Kisah Pertarungan Abid dan Iblis

Filosof dan sufi Imam Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin menceritakan sebuah kisah menarik. Walaupun tidak disebutkan hadistnya dan mungkin bersifat fiktif terjadi di zaman Bani Israil.

Seorang Abid, penyembah Allah yang taat, yang mencurahkan hidupnya semata hanya untuk beribadah kepada Allah, suatu hari mendapat laporan dari masyarakat bahwa orang di kampungnya menyembah sebuah pohon kayu besar. Setiap hari masyarakat berbondong-bondong datang untuk bersujud pada  pohon yang dianggap keramat itu yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal sang Abid. 

Dengan marah besar dan naik pitam  si Abid mendatangi pohon tersebut. Bertekad untuk menebangnya . Abid menggenggam sebuah kapak besar untuk merubuhkan pohon itu.

Di tengah perjalanan Abid bertemu dengan iblis yang menjelma dalam bentuk seorang laki-laki tua. Terjadilah dialog antara Abid dengan iblis.

” Hendak kemana engkau terburu-buru dan membawa kampak yang tajam ini,” tanya iblis. 

“Saya mau pergi kesana, disitu ada pohon kayu yang disembah orang kampung. Saya bermaksud menebangnya,” jawab Abid.

“Untuk apa engkau bersusah payah menebang pohon itu, sampai-sampai engkau meninggalkan amalanmu yang tekun beribadah kepada Tuhan,” timpal iblis, merayu agar  Abid urung menebang pohon itu 

Namun, Abid tidak memperdulikan ocehan iblis. Ia terus neringsek berjalan dengan tekad kuat dan ikhlas untuk menebang pohon, meski iblis terus menghambat dan menghalang-halanginya 

Karena iblis terus mengganggu dan menghalangi perjalanannya, akhirnya terjadilah perkelahian antara iblis dan Abid. Dalam perkelahian yang sengit itu Abid berhasil membanting iblis sehingga terjengkang ke atas tanah.

Iblis kembali mempengaruhi Abid supaya tidak menebang pohon tersebut  “Tuhan tidak mewajibkan kamu untuk menebang kayu itu dan tidak pula mewajibkan untuk mencegah orang lain menyembah pohon. Hal itu adalah kewajiban dan tugas para Nabi dan Rasul, sedangkan engkau tidak masuk golongan itu”, ujar iblis

Abid tetap tidak memperdulikan seruan iblis, karena keduanya saling keras, maka pertarungan tidak bisa dihindari. Pergumulan seru pun terjadi, namun iblis tetap di pihak yang kalah, tidak mampu mengimbangi kejawaraan Abid dalam berkelahi. Berkali-kali iblis dihujani pukulan dan bantingan yang dahsyat sehingga terpental ke tanah.

Sadar tidak mampu mengalahkan Abid, akhirnya iblis melancarkan tipuan licik dan jitu. “Sekarang saya akan berikan keuntungan kepadamu yang terus menerus. Kamu adalah seorang yang miskin, tidak punya harta, sebab setiap hari waktumu habis untuk ibadah, sehingga tidak punya kesempatan mencari uang, karena itu saya berikan kepadamu 2 dinar setiap hari, Satu dinar bisa engkau gunakan untuk nafkahmu sendiri, satu dinar lagi boleh engkau sedekahkan untuk kaum fakir-miskin dan melarat. Tiap-tiap uang yang dua dinar  itu akan saya letakkan di bawah bantalmu” 

Tipu daya iblis ini rupanya berhasil mempengaruhi si Abid. Niatnya yang tadi ikhlas untuk menebang kayu yang disembah orang kampung kini berubah menjadi bayangan fulus 2 dinar. Akhirnya Abid kembali pulang ke rumah dan urung untuk memotong pohon yang dianggap bertuah itu. Dan, ia beribadat seperti biasa.

Iblis menepati janjinya, pada hari pertama ia mendapatkan uang yang 2 dinar di bawah bantalnya. Demikian juga pada hari kedua, uang 2 dinar  telah tergeletak pula di bawah bantal. Abid merasa lega dan puas, tanpa bekerja ada penghasilan  yang sudah terselip di bantal tempat tidur.

Namun, pada hari ketiga Abid memeriksa di bawah bantal tidak ditemukan uang sebagaimana biasanya. Dengan geram dan jengkel  Abid mengambil kampak lalu menyusuri jalan dengan maksud menebang pohon yang menyesatkan masyarakat tersebut. Niatnya kini telah berubah dibandingkan pada waktu pertama bermaksud menebang pohon itu. Kini motifnya karena gusar sebab uang 2 dinar yang dijanjikan iblis tidak dipenuhi.

Sebagaimana biasa dalam perjalanan Abid bertemu dengan iblis yang tetap menyerupai laki-laki tua. Terjadilah pertengkaran hebat antara iblis dan Abid yang diakhiri baku pukul yang seru. Namun, dalam perkelahian kali ini  Abid kalah dan tubuhnya terbanting beberapa meter terkena jurus andalan iblis. Karena sudah berada di pihak yang kalah, iblis akhirnya nengancam Abid. ” Jika kau terus berniat untuk menebang pohon itu, maka saya akan habisi jiwamu sekarang juga”, bentak iblis.

Abid tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengaku kalah. Namun, pada dialog berikutnya Abid bertanya pada iblis. ” Kenapa  pada pertarungan pertama dan kedua engkau bisa saya kalahkan, tetapi pada pertarungan yang ketiga engkau berhasil mengalahkan saya?”.

Iblis menjawab,” Itu tidaklah mengherankan, sebab pada pertarungan pertama dan kedua niatmu menebang pohon itu didasarkan pada keikhlasan, yaitu agar masyarakat tidak tersesat menyembah pohon kayu itu. Karena niatmu yang ikhlas itu maka kamu tidak bisa saya kalahkan, sebaliknya pada pertarungan ketiga niatmu karena hawa nafsu, karena engkau tidak mendapatkan uang 2 dinar yang saya janjikan. Karena niatmu yang tidak ikhlas dan tidak suci itu maka kamu bisa saya tundukan dan kalahkan” (sumber ” Ichlas, M.Yunan Nasution,Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta,1969, hal 15-16).

Ikhlas dalam Beribadah dan Beramal

Episode cerita Abid dan iblis di atas menggambarkan pentingnya keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Ikhlas, yaitu manusia beribadah hanya semata-mata karena Allah, bukan sebab atau motivasi lain. Dalam Al-Quran surat an-Nahl ayat 66 ikhlas itu diibaratkan seperti susu yang putih, bersih  dan murni, tidak bercampur dengan kotoran, kalau diminum memberikan kesegaran kepada tubuh manusia.” Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang ternak itu menjadi pelajaran bagi kamu. Kami beri minum kamu dengan apa yang ada dalam perutnya di antaranya tahi dan darah (didapati susu) yang bersih murni (khalis), mudah dan sedap ditelan oleh orang-orang yang meminumnya”.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa susu yang bersih dan murni itu mulanya bercampur dengan kotoran binatang, yaitu tahi dan darah, namun setelah melalui proses keluarlah susu yang murni atau khalish. Ini adalah sebuah metafora bahwa amal ibadah kepada Allah haruslah dibersihkan dari unsur-unsur yang mengotorinya seperti syirik, riya dan lain sebagainya.

Demikian juga dalam keyakinan Tauhid kita kepada Allah haruslah disterilkan dari unsur-unsur menyekutukan Tuhan dalam bentuk apapun. Karena itu dalam Al-Quran terdapat surat al-Ikhlas yang intinya adalah kita harus ber-Tauhid kepada Allah semurni-murninya tanpa mensyerikatkan Tuhan dalam bentuk apapun juga. Sebab,Al-Quran mengatakan,  “Allah SWT tidak ada yang menyerupai sesuatupun”. Dalam ayat yang lain dijatakan,” Laisa kamislihi syaiun”, yang artinya, tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya”.

Dari firman Tuhan dalam ayat-ayat Al-Quran tampak dengan jelas bahwa beragama yang benar atau lurus hanyalah kalau dilakukan dengan ikhlas (al-Bayyinah :5, az-Zumar:2-3 ). Demikian juga ketika manusia shalat dan berdoa kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, akan mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari Allah bila dilakukan murni dan ikhlas karena Allah (an-Nisa:145-146 dan al-Araf:29). Dalam surat an-Nisa ayat 145-146 bahkan dikatakan, orang munafik yang akan ditempatkan dalam neraka yang paling bawah (dasar) akan mendapatkan ampunan dan  ganjaran yang tinggi  dari Allah kalau bertaubat dengan ikhlas.

Tuhan juga memberikan contoh kehidupan para Nabi dan Rasul yang mendapat kedudukan mulia dari Allah karena mereka mampu mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi dalam menjalankan kehidupan dan ibadahnya kepada Allah. Di antara mereka dicontohkan Nabi Musa (Maryam :51),ibrahim, Ishak, Yakub (Shaad: 45-47), Yusuf (Yusuf :24).

Orang-orang yang ikhlas juga mendapat perlindungan Allah dari perbuatan mesum, kejahatan dan jebakan-jebakan syetan. Seperti dikisahkan Al-Quran ketika Yusuf terhindar dari rayuan Siti Zulaikha, isteri dari pembesar kerajaan Mesir, untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh.

Dengan demikian keikhlasan memiliki derajat yang tinggi dan agung, sehingga iblis yang tugasnya menjerumuskan manusia pada kejahatan mengaku dengan jujur tidak akan mampu menggoda makhluk Tuhan yang ikhlas ini. “Iblis berkata:” Tuhanku ! Karena engkau telah memvonis aku sebagai makhluk sesat, maka pasti aku akan memperdaya dan menyesatkan mereka sekalian di atas bumi, kecuali hamba-hamba engkau yang ikhlas di antara mereka (al-Hijr :39-40).

Ikhlas, jelas sebuah akhlak yang terpuji dan mendapat ridha dari Allah, dan pelaku ikhlas jika diibaratkan tanaman akan mendapatkan buah yang nikmat. Menurut Dr. Ahmad Syarbasi ada 7 macam kenikmatan yang diperoleh orang-orang yang berpredikat ikhlas.

Pertama, Allah mencintai orang-orang yang ikhlas. Dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah disebutkan.” Siapa yang meninggalkan dunia dengan ikhlas karena Allah saja, tanpa mempersekutukannya, mendirikan shalat dan membayar zakat, niscaya dia akan pergi dari dunia ini, Allah senang kepadanya”.

Kedua, Allah menjamin orang-orang yang ikhlas, seperti dituturkan Nabi. ” Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal, kecuali amal yang khalis (murni), yang  dengan itu orang yang beramal mencari wajah Allah”.

Ketiga, orang-orang yang ikhlas akan terhindar dari perbuatan mungkar, kemesuman dan kejahatan sebagaimana Nabi Yusuf yang terlindung dari keinginan perbuatan mesum yang akan dilakukan Siti Zulaikha.

Keempat, orang yang ikhlas hilang dari sifat ragu, bimbang dan riya. Kelima, memancar sifat hikmah dari hati dan lidahnya. Keenam, mudah mendapat pertolongan dari Allah. Ketujuh, orang yang ikhlas mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebuah hadist Nabi mengatakan, ” Hendaklah engkau ikhlas beragama, niscaya amal yang sedikit cukup untuk engkau”.

Untuk meraih predikat ikhlas manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya, sebab nafsu merupakan penghalang utama menumbuhkan ikhlas dalam diri setiap insan. Nafsu cenderung pada ketamakan, keserakahan yang menyebabkan hati dan jiwa menjadi kotor menutupi keikhlasan kepada Allah.

Ikhlas Puncak Kebahagiaan

Pada aspek apa saja kita harus berlaku ikhlas, pujangga dan ulama Islam Prof Dr. Hamka dalam bukunya Tasauf Moderen (Pustaka Panjimas, 1990) membagi empat macam ikhlas yang harus ditujukan, yaitu kepada Allah, Kitab Allah, Rasulullah Saw, dan Imam Kaum Muslimin.

Ikhlas kepada Allah adalah, hanya semata-mata percaya kepada-Nya, tidak boleh mempersekutukan dengan yang lain, pada zat, pada sifat dan pada kekuasaan-Nya. Meyakini Allah memiliki sifat-sifat sempurna, menghilangkan persangkaan bahwa Allah memiliki sifat kekurangan, taat mengikuti perintah-Nya dan menghentikan larangan-Nya.

Ikhlas kepada Kitab Allah, yaitu mengakui dengan sungguh-sungguh risalahnya, percaya segala yang dibawanya, mengikuti apa yang diperintahkannya, menjauhi segala larangannya, membelanya di waktu hidup hingga akhir hayatnya, serta meneruskan ajaran dan dakwahnya selama kehidupan ini berlangsung.

Ikhlas kepada Imam Kaum Muslimin. Ikhlas kepada imam atau raja-raja dan pemerintahan muslimin yakni dengan jalan membela dalam kebenaran, taat kepada mereka dalam agama, ikut perintahnya, menghentikan larangannya; tidak melanggar undang-undang, tidak membuat kekacauan dalam negeri. Mengingatkan mereka jika berbuat salah dengan cara yang sopan santun, memberitahu kelalaian mereka dan bahaya yang akan timbul jika mereka berbuat salah

Itulah ikhlas, yang intinya hati, pikiran dan perbuatan kita hanya bekerja semata karena Allah, mencari keridhaan dan kesukaan-Nya. Bila kita mampu beragama secara ikhlas, maka itulah puncak kebahagiaan sejati dan hakiki. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda