Tafsir

Tafsir Tematik: Dibunuh, Diculik, Dianiaya (1)

Oleh sebab itu Kami tuliskan atas Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh suatu juwa, bukan lantaran suatu jiwa atau pengrusakan di muka bumi, seakan membunuh manusia kesemuanya; dan barangsiapa menghidupinya seakan menghidupi manusia kesemuanya. (Q. 5: 32)

Seorang samuŕai, dalam cerita Jepang lama, memanggil petani yang lewat. Ini petikan kecil dari masa ketika degradasi moral, seperti yang pernah ditandai, menimpa  kelompok elite tersebut. Begitu si penduduk desa membungkuk di depannya, ia ayunkan pedang di tangannya ke leher orang itu. Kepala melayang, sementara tubuh menggelimpang. Kata si samurai kepada rekannya, “Ah, benar. Tajam juga pedang kau ini.”

Sang samurai jelas tak pernah mengenal larangan membunuh seperti dalam ayat di atas. Begitu juga Namrudz, raja Babil, yang berkata kepada Nabi Ibrahim: “Aku juga (seperti Tuhan) menghidupkan dan mematikan.” (Q. 2: 258). Ia lalu menyuruh mendatangkan dua orang kawula. Seorang ia suruh bunuh, yang lain ia biarkan hidup.”Nah, aku juga menghidupkan dan mematikan”….

Namun tidak hanya para samurai dan tidak hanya Namrud kuno. Cerita tentang kekejaman orang berkuasa kepada yang dikuasai menjulur sampai ke abad mutakhir. Di Kamboja, Pol Pot dari Khmer Merah membantai dua juta orang sekian juta terbunuh di tangan Stalin. Sejumlah yahudi mati digas di kamp-kamp Hitler. Sekian warga negara raib melewati kamar-kamar interogasi KGB pada era Uni Soviet. Juga di Cina. Berapa kiranya jumlah yang diculik lantaran dituduh “kiri”, dan tak pernah kembali, di bawah rezim Pinochet di Cile? Berapa jumlah ibu yang mengacung-acung potret, dalam demonstrasi menuntut pemerintah Argentina menjelaskan nasib-nasib anak mereka yang dituduh oposan, yang hilang di bawah rezim Videla?

Dan berapa, sebenarnya, jumlah para pemuda yang tidak pernah lagi pulang ke rumah, setelah peristiwa Priok, demonstrasi besar kalangan Islam yang menolak pemaksaan Pancasila sebagai asas tunggal, yang banyak terdiri dari para buruh dan jelata, ya g begitu saja diguyur peluru dan “diangkut”? Berapa jumlah korban bentrokan di Timor Timur, juga peristiwa 27 Juli 1996, perebutan yang dibeking aparat keamanan terhadap kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia pimpinan Megawati oleh para “anggota” PDI Suryadi yang direstui pemerintah? Atau yang lain?

Berapa pula jumlah pemuda yang sebenarnya diculik, disiksa, dan sebagian mungkin dibunuh, di hari-hari menjelang Reformasi Mei 1998 ini, tanpa kemampuan aparat keamanan menjelaskan pihak mana sebenarnya pelaku tindak biadab yang menuruti Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terorganisasi dengan rapi itu?. Berapa pulan yang di-dor begitu saja, dengan tuduhan preman atau pencoleng, dalam “operasi petrus” (penembak misterius) untuk pembersihan, tanpa peradilan, sebelum itu? “Oleh sebab itu,” demikian Alquran, “Kami tuliskan atas Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh suatu jiwa…”

Tetapi, memang, konsep mengenai nyawa pada para pembunuh tidaklah sama dengan dalam Alquran. Pada mereka, masalahnya selalu: nyawa siapa. Nyawa “kita” atau nyawa “mereka”. Mereka tidak mengenal nyawa manusia. Seperti mereka sendiri bukan manusia.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 18 Mei 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda