Mutiara

Kiai Ibrahim dan Kristen Nuansa Jawa

Ia disebut-sebut pengikut Diponegoro sang pengobar Perang Jawa menghadapi kekuasaan kafir pada abad ke-19. Apa yang mendorongnya menjadi pertapa dan kemudian memutuskan jadi Nasrani? Bagaimana pula metode dakwahnya

Kiai Ibrahim Tunggul Wulung adalah tokoh Kristen pribumi yang berjasa melakukan kristenisasi di Jawa Tengah. Menurut J.D. Wolterbeek dalam bukunya Babad Zending ing Tanah Jawi,  ia lahir sekitar tahun 1800-an. Pada mulanya adalah seorang pertapa yang tinggal di Gunung Kelud Jawa Timur. Kemudian menjadi Kristen dan menyiarkan pesan-pesan Injil di pedesaan sekitar Malang. Pada awalnya ia seorang Muslim, bernama Kiai Ngabdullah, dan brasal dari Juwana Kudus. Akibat kesulitan ekonomi di daerahnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang petapa di lereng Gunung Kelud. Setelah selesai bertapa Kiai Ngabdullah dianggap sebagai penjelmaan seorang tokoh panglima pada masa pemerintahan Raja Jayabaya yang bernama Tunggul Wulung.

Berdasar cerita rakyat atau  tradisi lisan yang beredar di sekitar masayarakat di Muria, Kiai Tunggul Wulung adalah anak seorang selir Raden Ngabehi Atmasudirdja,  pejabat Bupati Pulisi dari Keraton Mangkunegaran Surakarta. Dilahirkan sekitar tahun 1800-an, nama aslinya: Raden Tandakusuma.  Ia kemudian menjadi seorang demang di kawasan Kediri dengan nama Raden Demang Padmadirdja. Karena terlibat dalam Perang Diponegoro (1825-1830), ia sempat menyembunyikan diri dan menjadi rakyat jelata di kawasan Juwana.  Jadi, pernyataan bahwa Kiai Ngabdullah adalah seorang petani biasa, seperti yang tercatat di dalam laporan-laporan Residen Jepara, kemungkinan sengaja dibuat untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai pengikut Diponegoro.

Awal perjumpaan Ibrahim Tunggul Wulung dengan agama Kristen  didapat dengan cara yang aneh. Pada suatu hari di dalam petapaannya di kawasan Gunung Kelud, Kiai Tunggul Wulung menemukan sepotong kertas yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah. Tunggul Wulung juga mendapat wahyu dari Tuhan yang mengatakan bahwa ia harus menaati hukum ini dan disarankan meminta penjelasan tentang agama yang sejati kepada orang-orang yang tinggal di Sidoarjo dan Mojowarno.  Yang pasti, di Ngoro dan Mojowarno, yang tidak jauh dari Gunung Kelud, saat itu agama Kristen sudah cukup terkenal di kalangan penganut kebatinan . Tahun  1853 ia muncul di Mojowarno, dan dua tahun kemudian dia dibaptis oleh Jellesma dan diberi nama Ibrahim.

Ia  bertemu dan bersahabat akrab dengan petapa Nyi Endang Sampurnawati

yang kemudian diperistrinya dan menetap di Mojowarno. Konon Nyi Endang adalah putri Bupati Kediri. Dari sinilah Tungggul Wulung mulai lebih dekat mengenal Kristen. Ia dan istri tinggal di Mojowarno dan belajar kekristenan serta baca tulis dari Jellesma selama kurang lebih dua bulan.  Kiai Tunggul Wulung mulai bergiat melakukan pekabaran Injil di desa Pelar, lalu ke desa Dimoro, desa Jenggrik di Kabupaten Malang,  kemudian ke desa Jungo di Pandaan. Di sekitar wilayah ini Kiai Tunggul Wulung membina masyarakat Kristen. Pada awal tahun 1854, Kiai Tunggul Wulung menerima tawaran Sem Sampir (murid Jellesma yang diperbantukan kepada Pieter Jansz di Jepara sebagai pembantu penginjil pribumi) untuk membantu melakukan pekabaran Injil di wilayah Jepara. Bersama Sem Sampir, Tunggul Wulung justru melakukan penginjilan di sekitara Kabupaten Juwana, dan Margotuhu Klitheh dan Ngluwang (sebelah utara Tayu). Tindakan tersebut membuat geger para penguasa kolonial karena ternyata ada seorang Jawa yang menjadi Kristen, menerima pelajaran agama Kristen dan memberitakan Injil di antara orang pribumi. Keadaan tersebut membuka mata para pemerintah kolonial mengenai adanya kekristenan Jawa yang berada di luar utusan-utusan Injil Eropa dan dilakukan secara bebas tanpa terbatasi oleh wilayah tertentu seperti yang berlaku bagi para utusan Injil Eropa.

Menurut C. Guillot  dalam bukunya Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di  Jawa , pengikut Kiai Ibrahim Tunggul Wulung  berjumlah 1.058 orang, lebih banyak dari hasil penginjilan  yang dilakukan oleh badan-badan zendeling dari Eropa di kawasan yang sama.

Metode dakwah yang dilakukan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung sangat kental dengan “Kristen nuansa  Jawa”. Dengan metode tersebut ajaran kristen lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat Jawa. Salah satu cara yang dilakukan oleh Tunggul Wulung dalam menyampaikan ajaran Injil adalah melalui jejagongan (cerita-cerita sambil jagongan atau duduk melepas lelah seusai bekerja), sehingga orang-orang Jawa lebih mudah mengerti daripada harus mendengarkan pidato atau ceramah seperti yang dilakukan oleh para penginjil Eropa. Selain itu, cara lain yang dilakukan oleh Tunggul Wulung adalah melalui debat ngelmu.  Metode-metode tersebut kemudian diadopsi oleh Kiai Sadrach murid Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang bahkan mampu membangun jemaat yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh Tunggul Wulung.

Kiai Ibrahim Tunggul Wulung memandang bahwa orang Kristen Jawa haruslah tetap Jawa dan tidak perlu menjadi seorang Belanda ataupun menjadi pengikut utusan Injil Eropa. Ia menyatakan bahwa lelagon (nyanyian),  tata panembah (upacara), cara panganggo (cara berpakaian), nanggap lan nonton wayang (ikut serta dalam pertunjukkan wayang), bahkan rapal dan primbon tidaklah perlu ditinggalkan. Ia pun  menyebut tempat ibadahnya sebagai masjid dan menciptakan rapal baru yang bercorak Kristen. Salah satu contoh Rapal tersebut berbunyi: Bapa Allah, Putra Allah, Roh Suci Allah/Telu-telune tunggal dadi sawiji/Lemah sangar kayu angker/Upas racun pada tawar/Idi Gusti manggih slamet salaminya (Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Suci. Ketiganya menjadi satu. Kawasan yang berbahaya, pohon yang jahat. Bisa dan racun menjadi tawar. Berkat rahmat Tuhan menemukan keselamatan selamanya).  Ia menggambarkan Yesus Kristus sebagai Ratu Adil. Karena itu ada yang menyimpulkan adanya hubungan genealogis antara konsep pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, dengan konsep perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa,  yang menuntut penghapusan pajak dan upeti.  Jika demikian, dugaan bahwa bahwa Kiai Ibrahim Tunggul Wulung pernah menjadi pengikut Pengeran Diponegoro dan pernah terlibat langsung dalam Perang Diponegoro tampaknya kuat.

Ibrahim Tunggul Wulung  wafat dalam usia sekitar 85 tahun. Jika diduga ia lahir tahun 1800 maka dengan usia 85 tahun, tahun meninggalnya diperkirakan tahun 1885.  

Sumber: Philip van Akkeren,  Dewi Sri dan Kristus: Sebuah Kajian tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur. (1994); Th. van den End. 1996. Ragi Carita I: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860. (1996); Guillot,  Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa  (1985).

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda