Bintang Zaman

Baharuddin Lopa : Hidupnya Bebas dari Suap (2)

Menjadi bupati, menteri, hingga Jaksa Agung

Pada 1958, Lopa memulai karier sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Ujungpandang, yang sekarang menjadi Kejaksaan Negeri Makassar. Kemudian, pada usianya menginjak 25 tahun, dia diangkat menjadi Bupati Majene. Usia bupati yang tergolong muda. Lopa kembali berkarier di ranah hukum, sebagai seorang jaksa. Pada 1964, dia menjabat sebagai kepala Kejaksaan Ternate hingga 1966. Selanjutnya, dia menjabat sebagai kepala Kejaksaan Sulawesi Tenggara hingga 1970. 

Di berbagai daerah lainnya, Lopa juga menjabat sebagai kepala Kejaksaan, seperti di Aceh pada 1970 hingga 1974 dan Kalimantan Barat pada 1974 hingga 1976. Setelah itu, Lopa dimutasi ke Jakarta untuk mengemban jabatan sebagai Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung hingga 1982.

Pada 1982 hingga 1986, Lopa kembali ditugaskan sebagai kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel di Makassar. Pada 1988, Lopa diberi jabatan sebagai Direktur Jenderal Lembaga Permasyarakatan hingga 1995.

Ketika KH Aburrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI, Lopa ditunjuk menjadi Menteri Kehakiman dan HAM pada 9 Februari 2001. Sekitar empat bulan menjabat sebagai menteri, Lopa dialih tugaskan menjadi Jaksa Agung.

Kasus Besar

Lopa menangani beberapa kasus besar yang terjadi. Ketika menjabat sebagai Bupati Majene, Lopa dengan berani menentang Andi Selle. Tak ada yang berani melawan Andi, karena seorang Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya dengan melakukan penyelundupan. 

Ketika menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Lopa menyeret seorang pengusaha besar yang dikenal kebal hukum. Dengan keberaniannya, Lopa berhasil menyeret Tony Gosal ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi senilai Rp2 miliar. Namun di persidangan, Tony dibebaskan Majelis Hakim Pengadilan Negeri dari segala tuntutan. 

Dengan gigih, Lopa secara diam-diam mengusut latar belakang Tony yang divonis bebas. Dia menemukan petunjuk, adanya aliran dana dari sebuah perusahaan Tony. Ketika sedang memeriksa latar belakang Tony, Lopa memburu koruptor kelas kakap. Dengan keberaniannya menegakkan hukum, dia menangani kasus Presiden ke-2 RI Soeharto, namun ketika mengusut kasus ini, dia dipindahkan menjadi penasihat menteri. 

Yang menarik dari sosok Lopa, ketika mengusut kasus Soeharto, dia ikut menjemput Soeharto dan Lee Kuan Yew di Bandara Hasanuddin. Demi menjaga integritasnya, dia menolak mengantarkan sampai ke hotel dan tak mau hadir ke jamuan makan malam. Ketika itu, semua pejabat Sulsel menghadiri jamuan makan malam tersebut. “Tidak baik saya ke situ. Apa kata orang kalau saya datang ke hotel yang sedang saya sidik,” kata Lopa, menolak jamuan makan malam tersebut.

Tak sampai di situ, ketika menjadi Menteri Kehakiman dan HAM, Lopa juga berhasil menjebloskan pengusaha Bob Hasan ke Nusa Kambangan. Pada saat itu, Bob adalah seorang pengusaha kelas kakap keluarga Soeharto. Keberanian dan ketegasannya dalam bertindak, menjadi momok bagi kalangan koruptor.

Runtuhnya Satu Tiang Langit Indonesia

Bagi Lopa, menjalani kehidupan sederhana adalah bagian memegang prinsip kejujuran dan integritas. Karena itu, untuk menambah penghasilannya, dia rajin menulis kolom di berbagai majalah dan surat kabar. 

Pada Juni 2001 atau sebulan sebelum wafat, Lopa menelepon redaksi majalah Tempo untuk menanyakan kolom yang telah dikirimnya yang belum dimuat. Redaksi majalah Tempo sebenarnya nyaris menolak kolom tersebut, karena isinya dianggap biasa tentang masalah narkoba.

Pada akhirnya, redaksi memutuskan memuat tulisan hasil karya Lopa. Ketika itu, redaktur kolom Tempo ditugaskan mewawancarai dia untuk menambah kedalaman isi kolom tersebut. Tapi kolom tersebut menjadi catatan terakhir yang dibuat Lopa, karena dia meninggal dunia. 

Sebagai episode kehidupan, Lopa pun telah menunaikan umrah. Pada 26 Juni 2021, berlangsung serah terima jabatan dengan wakil kepala perwakilan RI Kemas Fachrudin. Penyelenggaraan event itu 27 Juni 2001, keesokan harinya Lopa dan istri serta rombongan menyempatkan ibadah umrah di Makkah. Pada 29 Juni 2001, Lopa melaksanakan salat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, ia bersama rombongan langsung kembali ke Riyadh. Akibat melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti itu, Lopa ambruk. 

Tepat pada 30 Juni, Lopa dilarikan ke Rumah Sakit Al-Hamaidi karena mual-mual. Setelah dirawat beberapa hari, dia dinyatakan meninggal dunia. Lopa dinyatakan wafat di RS Al-Hamaidi, Riyadh, pada 3 Juli 2001, akibat gangguan pada jantung.

Ketika itu, Presiden Gus Dur tiba-tiba terhenyak. Dia masuk ke kamar mengurung diri dan saat keluar dari kamar, dia bergelinang air mata. “Malam ini, salah satu tiang langit Indonesia telah runtuh,” ucap Gus Dur, ketika keluar dari kamarnya.  Tak ada satu pun yang paham maksud ucapan tersebut. Sampai akhirnya, sekitar tiga jam kemudian datang berita Lopa telah dipanggil Allah SWT untuk selamanya. Ternyata, yang dimaksud Gus Dur sebagai “tiang langit” adalah sosok Lopa si pendekar hukum yang melegenda. Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Jenazah Lopa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 6 Juli 2001.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda