Tafsir

Tafsir Tematik: Biara, Gereja, Sinagog, dan Masjid (4)

Diizinkan bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya, dan bahwa Allah untuk menolong mereka mahakuasa. Mereka yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami, Allah. Dan kalaulah bukan karena Allah menolak (keganasan) manusia, sebagiannya dengan yang sebagian, sudah dihancurkanlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali. Allah akan pasti menolong siapa yang menolong Dia. Allah mahakuat Mahaperkasa.” (Q. 22:   39-40).

Pela Gandong

Masalahnya, titik pehatian yang selalu hanya pada agama (sebagai sistem) memungkinkan luputnya tilikan kepada dimensi pribadi orang yang menerima sistem itu. Yakni kepada, pertama, bagaimana situasi penerimaan (atau penolakan) itu, yang – dalam hal Islam, dan menurut ukuran sistem ini – menyebabkannya layak dan tak layak dikategorikan sebagai mukmin atau kafir. Kedua, kualitas hidup si penerima. Dengan tekanan pada warna penerimaan itu (kejujuran si penerima) maka, dalam aturan Islam, sistem-sistem aktual yang lain (diwakili oleh biara, gereja, dan sinagog, dalam ayat) tiba-tiba bisa menjadi alternatif cadangan dengan tingkat keabsahan yang sama atau hampir sama.

Bisa dipahami bila, seperti juga disadari oleh Yousuf Ali, yang diajarkan ayat-ayat ini ialah, antara lain, bahwa tindakan yang diperbuat para kafir Mekah terhadap umat Muhammad s.a.w., yang menyebabkan perang diizinkan itu, “tidak hanya merugikan kepercayaan satu kelompok khas. Prinsip tersebut melingkupi (secara setara; pen) semua penyembahan, Yahudi, Kristen, sebagaimana juga Muslim dan seluruh lembaga yang (sama-sama; pen) didirikan bagi tujuan-tujuan kesalehan.” (Yousuf Ali, 862).

Memang. Bahwa sebuah ayat mengingatkan kemungkinan dihancurkannya yang mana pun dari biara, gereja, sinagog maupun masjid adalah luar biasa – satu butir dari mukjizat besar kerasulan terakhir ini. Mengaitkan masalah penjagaan rumah-rumah ibadah berbgai agama itu dari kemugkinan penghancuran, dengan masalah perang, mengimplikasikan suatu kemestian bahwa perang yang diizinkan dalam ayat ini demi mempertahankan diri, adalah juga perang yang dimaksudkan untuk melindungi eksistensi agama-agama dengan bentuk-bentuk penubuhan masing-masingnya.

Seerti dikatakan Muhammad Ali dalam The Holy Quran, dengan pilihan kata-kata yang mungkin agak berlebihan, “Seharusnya kehiduapan seorang Muslim tidak hanya dikurbankan untuk menghentikan penganiayaan yang dilakukan kepadanya oleh musuh-musuhnya dan untuk memelihara masjid-masjidnya sendiri (kita ingat penganiayaan orang Serbia terhadap saudara-saudara Muslimin Albania di Kosovo, di tahun terakhir abad ke-20, setelah sebelumnya terhadap Muslimin di Bosnia), melainkan juga dikurbankan untuk memelihara gereja-gereja, tempat-tempat persembahyangan Yahudi (sinagog) dan wihara-wihara – pokoknya untuk menegakkan kemerdekaan menjalankan agama yang sempuna (mungkin yang dimaksudkan: kemerdekaan yang smpurna dalam menjlankan agama; pen).

Masjid, walaupun ia tempat yang selalu dipakai untuk menyebut nama Allah lebih banyak dari tmpat-tempat penyembahan lain (salat jamaah dilakukan lima kali sehari, di samping berbagai pengajian; pen), pencantumannya (dalam ayat)  ditentukan Allah setelah gereja dan sinagog-sinagog. “Coba adakah pendiri agama lain yang memberikan ajaran adilluhung seperti ini? Atau adakah dalam kitab suci agama-agama lain sebuah saja ajaran yang memerintahkan para pengikut mengorbankan nyawa untuk memelihara tempat sembahyang agama lain?” Demikian Muhammad Ali, dengan bangga. (Djajasugita dan Mufti Sharif, II: 950).

Ada Pela Gandong di Maluku (yang di awal 1999 diremukkan para kriminal dan provokator, dan kemudian gelombang-gelombang besar penduduk,  yang terlibat dalam kerusuhan besar antar-etnis dan antar-agama yang dimulai di Ambon, dan berlangsung sampai dua bulan, tetapi tetap saja muncul lagi dan muncul lagi) sebenarnya memberikan tradisi yang sejalan dengan kalimat terakhir di atas: “mengorbankan nyawa”, muluknya, “untuk memelihara tempat sembahyang agama lain”. Menyedihkan, dan menerbitkan tangis, bahwa 19 buah masjid dihancurkan. Tapi juga, agak belakangan, 18 gereja.

Umat-umat di luar Islam tidak pernah mendengar ajaran yang agung dalam ayat ini. Sedangkan dalam diri setiap orang ada rasa keadilan yang, untuk kasus seperti tersebut, pada orang biasanya mewujud dalam kesadaran tentang hukuman setimpal seperti yang – dalam pelanggaran besar pribadi, atau jinayat – dikenal sebagai kisas. Tapi benarkah para Muslimin memang sudah dibuat betul-betul “mendengar” ayat ini, dan bukan terperangkap dalam permusuhan besar – siapa pun sebenarnya yang menggerakkanya – yang mendorong orang melindas segala rambu?                        
Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 14 April 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda