Bintang Zaman

Hasyim Muzadi Tokoh Multifacet (1)

Sosoknya bersahaja, kepribadiannya multifaset: kiai, intelektual, juga politisi. Sebagai kiai  sampai diamanahi memimpin organisasi menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebagai intelektual, dunia mengenalnya dengan reputasi global. Beliaupun dipandang pemersatu lintas agama, salah satunya ditunjukkan bagaimana pada masa beliau memimpin, kantor PB NU menjadi ‘kantor lintas agama’. Dan sebagai politisi, dengan perbawa dan kharismanya ia bukan hanya berkiprah pada level nasional bahkan melesat mengglobal. Jangan tanya kiprahnya di dalam negeri, tak hanya bersuara keras menyergah penggerogotan NKRI, juga pada perilaku koruptif yang akut didalam negeri.

Pemuda Ahmad Hasyim rajin membantu ayahnya, Muzadi, pedagang tembakau, ibunya Rumyati, penjual roti dan kue kering. Salah satu aktivitas masa kanak-kanaknya, bersama ayahnya, Ahmad Hasyim turut membantu bisnis ayahnya yang berangsur redup.

Ahmad Hasyim ini, lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944. Pada saat Ahmad Hasyim berusia 12 tahun, keluarga Hasyim memasuki masa sulit, sehingga ekonomi keluarga harus ditopang bisnis sang ibu yakni berjualan roti dan kue kering. Hasyim muda ikut membantu perekonomian keluarga.

Mengenang masa sulit itu, Arif Zamhari  menantu Hasyim Muzadi, mengatakan, “Saat itu, Pak Kiai harus mengayuh sepeda ontel sejauh 50 kilometer untuk mengambil bahan dan alat pembuat roti. Karena saat itu belum ada kendaraan umum.”  Selain itu, Hasyim muda juga memiliki tugas keliling kampung untuk membeli telur ayam sebagai bahan roti dari rumah warga. “Kebiasaan itu membuat beliau hafal jadwal ayam tetangganya bertelur,” kata  Arif Zamhari, saat memperingati 40 hari wafatnya KH Muzadi empat tahun yang lalu.

Tugas membantu ibunya berjualan roti ia jalani hingga usai mondok di Pesantren Gontor. Mengalami masa perekonomian sulit tak menyurutkan semangat Hasyim Muzadi menimba ilmu. Dengan kesulitan yang dihadapi, justru Hasyim menjadi santri berprestasi dan matang menghadapi hidup. Kesulitan hidup, tidak menyurutkan langkahnya. Hal itu tidak pernah membuatnya mengeluh, bahkan beliau jarang sekali bercerita mengenai masalah yang dihadapi. “Ketika di Gontor, beliau kehabisan bekal dan uang kiriman telat. Untuk menyiasati, beliau menjual bajunya untuk bertahan hidup,” Arif Zamhari menambahkan.

Narasi Sejarah Seputar PBNU

Usai nyantri di Gontor dan Senori, Lasem, Jawa Tengah, Hasyim muda berkelana ke Malang, Jawa Timur. Di situ ia menjalani babak barunya sebagai aktivis. Dia memiliki talenta berorganisasi dan kecintaan yang begitu besar terhadap Nahdlatul Ulama (NU). Di Kota Apel itu, kemampuan berorganisasi Hasyim ditempa dan diasah dengan baik. Ia aktif di semua level organisasi NU, baik di PMII, Ansor, menjadi Ketua NU tingkat Ranting, Cabang, hingga menjadi anggota DPRD Malang. Karirnya di NU terus meroket hingga menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 1999-2009. Pencapaian Kyai Hasyim menurut sejumlah tokoh NU, terbilang istimewa. Kyai Hasyim dianggap satu-satunya tokoh NU yang pernah menjadi pemimpin NU mulai tingkat ranting sampai menjadi pucuk pimpinan PBNU.

Justru dari sang kakak – KH Muchit Muzadi – penolakan itu terjadi. Selaku Ketua Umum PBNU Hasyim KH Muchit Muzadi menolak Hasyim Muzadi lantaran Hasyim bukan tokoh yang punya garis keturunan kyai, apalagi pimpinan pesantren. Meski demikian, sejumlah dukungan datang dari para alim dan Nahdliyin, yang terus menguat hingga jelang pemilihan. Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri itu pun menorehkan sejarah baru, anak tukang roti menjadi Ketua Umum PBNU. Kelak di kepemimpinannya, penolakan atasnya, justru menjadi spirit bagi Hasyim sehingga beliau menjadi kyai yang bertekun mewakafkan dirinya untuk mendidik para santri menjadi orang alim yang menguasai dan memahami Alquran.

Dengan kepemimpinan itu, Hasyim memikul tanggungjawab demikian berat. Amanah itu menghadapkan Hasyim pada sejumlah persoalan, salah satunya merekatkan kembali warga NU yang sempat terkotak-kotak akibat euforia reformasi dan pemilu multi partai. Namun di tengah upaya itu, muncul masalah baru. Warga NU marah setelah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden RI oleh lawan-lawan politiknya. Peristiwa itu jelas melukai warga NU dan membuat gairah perjuangannya menurun. Saat itulah Kyai Hasyim semakin aktif turun ke bawah membangun konsolidasi dan bertemu langsung dengan warga NU. Tak hanya itu, Kyai Hasyim juga berupaya mendekatkan NU dengan semua kalangan, termasuk kelompok yang ikut menggulingkan Gus Dur.

Bersambung

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda