Tafsir

Tafsir Tematik: Biara, Gereja, Sinagog, dan Masjid (3)

Written by Panji Masyarakat

Diizinkan bagi mereka yang diperangi, karena mereka sudah dianiaya, dan bahwa Allah untuk menolong mereka mahakuasa. Mereka yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami, Allah. Dan kalaulah bukan karena Allah menolak (keganasan) manusia, sebagiannya dengan yang sebagian, sudah dihancurkanlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali. Allah akan pasti menolong siapa yang menolong Dia. Allah mahakuat Mahaperkasa.” (Q. 22:   39-40).

Dawud Lawan Goliath

Yang menarik, hampir semua mufasir berusaha memberikan alasan mengapa perang diizinkan. Atau menjelaskan kejadian pengusiran dan seterusnya, yang disebut di dalam ayat. Ini hanya menunjukkan bahwa pada semua ulama terdapat keyakinan yang sama bahwa perang, menurut Islam, adalah tindakan yang hanya bisa dibenarkan (menurut ukuran agama) dengan suatu alasan yang benar. Ambisi perluasan wilayah, misalnya, dalam ajang modern, atau aneksasi, tidak termasuk ke dalamnya. Itu juga yang ditekankan oleh Yousuf Ali.

Yousuf mengingatkan, ungkapan “Kalaulah bukan karena Allah menolak keganasan manusia, sebagian dengan yang sebagian”  sebenarnya sudah digunakan dalam Q. 2: 251 – dengan kelanjutan yang berbeda, yakni: “……akan rusaklah bumi.” Itu mengenai perang Dawud a.s. melawan Jalut alias Goliath. Nah. “Mengizinkan orang-orang benar memerangi kelompok liar dan seenaknya (di zaman Dawud; pen) sepenuhnya bisa dibenarkan. Tapi pembenaran itu lebih kuat lagi di sini: ketika komunitas Muslim yang kecil itu tidak hanya berjuang demi eksistensinya sendiri melawan kaum Quraisy Mekah, melainkan juga demi keyakinan paling eksistensial kepada Tuhan yang Benar dan Satu.” Padahal, mereka mempunyai hak berdiam di Mekah dan menyembah di Ka’bah sebanyak yang dipunyai kaum Quraisy yang lain – toh mereka diusir karena iman mereka. (Yousuf Ali, 862).

Demikianlah, “Kalau bukan karena perang, tidak akan tinggal hidup agama yang dipertahankan itu,” Qurthubi berkata. Juga tempat-tempat yang disebut itu, “yang sudah diambil (sebagai tempat ibadah) sebelum tindak pengubahan dan penggantian yang mereka lakukan, dan sebelum penghapusan syariat-syariat itu oleh kedatangan Islam.” (Qurthubi, XII: 70). Dan itulah makna yang dipegangi  umumnya mufasir lama: kalaulah bukan karena penolakan oleh Allah itu, “sudah roboh sinagog-sinagog di zaman Musa, biara-biara dan gereja-gereja di zaman Isa, dan masjid-masjid di zaman Muhammad s.a.w.” (Qurthubi, ibid).

Tapi di situlah kita menemukan kesulitan. Masalahnya, belum pernah bisa dibuktikan bahwa, misalnya, di zaman Isa sudah terdapat gereja; jangankan pula biara. Sepanjang menurut Perjanjian Baru, persekutuan pertama sesudah wafat Isa adalah yang dihimpun Petrus, yang kemudian dikenal sebagai pendiri gereja. Tetapi kebutuhan untuk “menyesuaikan” pemahaman ayat dengan pengertian sistem agama yang jelas batas pinggirnya, yang kita kenal sebagai Islam aktual, menyebabkan parentesis “di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali” juga ditekankan, oleh mayoritas mufasir, hanya pada masjid, dan bukan tiga tempat ibadat lainnya.

Misalnya oleh An-Nahhas. “Pada masjid,” katanya, “bukan yang lain” – meskipun ia membolehkan pelekatannya pada gereja dan sebagainya bila dipahami sebagai berhubungan dengan zaman nabi masing-masing. Sebagian yang lain menebak, penyebutan tempat-tempat ibadah lain sebelum masjid tak lain karena tempat-tempat tersebut “bangunan-bangunan yang lebih kuno.” Atau: letak biara, gereja dan sinagog itu, dalam susunan kalimat, lebih dekat ke kata “ditubuhkan”, sementara masjid lebih dekat ke “nama Allah.” (Qurthubi. XII; 72). Itulah ikhtiar yang berada dalam paradigma yang sama dengan yang juga membayangi penafsiran  Q. 2:62 tentang nasib ukhrawi para mukmin dan para warga agama-agama lain.        

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 14 April 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda