Mutiara

Cerita Imam Al-Ghazali tentang Dua Orang Jujur

Written by A.Suryana Sudrajat

Inti kejujuran adalah bahwa  engkau berkata jujur di wilayah, yang jika seseorang berkata jujur, ia tidak akan selamat kecuali berdusta – Al-Junaid.        

Ini kisah  Imam Al-Ghazali tentang dua orang yang jujur, kita petik  dari kitabnya yang teramat masyhur, Ihya’ Ulumuddin. Bukan dari kalangan orang besar, tapi dari orang biasa alias awam, yang masih percaya pada nilai-nilai kejujuran dan ketulusan, meskipun orang sekarang mungkin akan menganggapnya tindakan bodoh.

Syahdan, seorang tabi’i  (julukan untuk Muslim yang hidup setelah generasi sahabat), di Basrah, Irak, punya pelayan di Soos, yang juga menjadi agen pembeli gula. Ia pun mengirim memo:  “Cepat beli gula karena panen tebu tahun ini terancam gagal.” Pelayan itu pun memborong gula dalam jumlah besar dari seorang tengkulak. Dan tabi’i itu pun untung besar, sampai 30.000 dirham. Tapi semalaman ia berpikir: “Saya untung 30.000 dirham tetapi rugi karena saya tidak jujur sesama muslim.” Esoknya ia mendatangi si pedagang gula. “Semoga Allah memberkati kamu dengan uang ini,” katanya. “Terimalah.”

“Dari mana uang sebanyak ini, Pak?” tanya si pedagang.

“Saya sudah menyembunyikan sesuatu. Terus terang, ketika tempo hari saya membeli gula ini dari Saudara, harganya sebenarnya sudah naik. Saudara menjual ke saya jauh lebih rendah.”

“Semoga Allah merahmati Bapak. Sekarang saya sudah tahu. Jadi, dengan senang hati saya berikan kembali ke Bapak. Ayolah.”

“Wah, terima kasih, terima kasih kalau begitu.”

Tetapi, sesampai di rumah, pikiran laki-laki itu kacau kembali. “Saya tidak jujur kepadanya. Mungkin saja sebenarnya ia malu menerimanya, sehingga mengembalikannya.” Jadi, esoknya ia datang kembali. Katanya, “Semoga Allah memberimu kesehatan. Ambillah. Ini hak Saudara. Supaya senang.”  Maka uang itu pun beralih tangan lagi.

Masih dari cerita Al-Ghazali. Dikisahkan, Yunus ibn Ubeid menjual berbagai macam pakaian. Ada jenis pakaian yang harganya sampai 400 dirham, dan ada yang seharga setengahnya. Ketika Yunus pergi ke masjid, ia minta sepupunya menjaga tokonya. Kemudian datang seorang Badui (panggilan untuk Arab pedalaman). Ia ingin membeli pakaian seharga 400 dirham. Si anak paman menunjukkan yang harga 200. Si pembeli setuju, dan langsung bayar kontan. Di tengah jalan ia bertemu Yunus, pedagang itu rupanya tahu barang itu berasal dari tokonya.”

“Berapa kamu beli?” tanya Yunus.

“Empt ratus dirham,” jawab si Badui.

“Ini hanya 200. Mari kembali ke toko, biar kami kembalikan kelebihannya.”

“Di kampung kami harga pakaian ini 500, dan saya sudah rela dengan harga 400.”

“Mari kembali! Kejujuran lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

Mereka kembali ke toko, dan Yunus mengembalikan uang sejumlah 200 dirham kepadanya.

Dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan jika ia tetap berdusta dan berteguh hati untuk berdusta, maka ia akan ditulis Allah sebagai pendusta.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kejujuran memang tidak bersifat kondisional, tapi menghunjam di dasar hati. Al-Junaid berkata, “Inti kejujuran adalah bahwa  engkau berkata jujur di wilayah, yang jika seseorang berkata jujur, ia tidak akan selamat kecuali berdusta.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda