Mutiara

Proyek Kepercayaan Aneh

Written by A.Suryana Sudrajat

La ilaha illallah, menadah kepada Tuhan, rezeki minta murahkan, bahaya minta jauhkan, umur minta panjangkan, serta iman.

Aling, nama petani tua itu. Ia lepra dan hampir buta. Punya dua putri dan dua putra. Tinggal di kampung Kumbayouw, pedalaman Kalimantan Selatan. Tapi, siapa menyangka. Aling kemudian menjadi bagian penting dari De  Bandjermasinche Krijg. Perang rakyat yang didahului peristiwa ruwet.

Syahdan, Aling berkhalwat di sebuah gubuk. Tapanya sungguh unik. Ia tidak duduk bersila seperti Sidharta, tetapi menggantung. Setelah 40 hari , terjatuh dan tidak mati. Malah begitu siuman, Aling segera memaklumkan bahwa Allah telah mendatanginya, mengajaknya bicara, dan memberinya mukjizat. Aling mengaku pula dirinya “Tuan yang Berkuasa”. Yang percaya akan mendapat manfaat karena, seperti Lia Aminuddin alias Lia Eden tempo hari, Aling bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sedangkan yang tidak percaya, nah ini dia, bisa binasa. Dengan satu perkataan saja, Aling bisa bikin mampus musuhnya. Dahsyatnya lagi, menurut sahibul hikayat, dengan sekali kibas, disertai taburan obat, Aling bisa menghidupkan orang mati. Tak syak, Aling menjadi tokoh sentral.

Lalu, entah siapa yang menyarankan, ia mengubah nama kampungnya menjadi Tambay Mekah. Untuk dirinya, orang  tua ini memilih gelar “Panembahan Muda”. Awal Maret 1859 ia mendeklarasikan Sambang, anak tertuanya, sebagai “Sultan Kuning” Persis seperti nama putra Sultan Tahmidullah I, yang hanya berkuasa beberapa hari pada 1745. Sultan Tamjidulah II, sultan Banjar terakhir (versi Belanda), dan Residen Belanda segera mengirimkan utusan untuk menyelidiki kasus Aling. Waktu itu konon Sultan Kuning, alias Sambang, sudah mampu mengumpulkan 4.000 pengikut.

Anak Aling yang lain diberi gelar Suria Rata, nama sultan Banjar pertama, sedangkan kedua putrinya masing-masing disebut Putri Junjung Buwih (Saranti) dan Ratu Kramat (Nusamin), yang suaminya bergelar Khalifah Rasul. Yang agak unik agaknya Saranti. Suatu malam ia konon mendapat wahyu untuk kawin dengan seorang petani bernama Dulassa. Perintah itu disertai ancaman maut untuk Saranti jika perintah tak ditaati. Kepada Dulassa, Aling memberi gelar Pangeran Suria Nata. Di atas rumah Aling kini tertancap dua bendera sultaniah.

Entah kenapa, Dulassa tidak betah hidup di “keraton baru”. Akhirnya mereka bercerai. Setelah itu Putri Junjung Buwih dikawinkan dengan Gusti Muhammad Said. Ini praktis sekadar upacara, karena pengantin pria waktu itu sedang di Banjar. Tapi, ayahnya justru hadir. Said, tak lain, adalah putra Pangeran Antasari. Aling memang pernah memproklamasikan bahwa, sesuai dengan wahyu yang diterimanya, kerajaan yang dirintisnya itu kelak akan dipimpin Pangeran Antasari.

Antasari, kira tahu dari buku  pelajaran sejarah, adalah penentang sengit Belanda. Dia cucu Pangeran Amir – yang gagal naik tahta pada 1785. Anak Sultan Muhammad ini diusir walinya sendiri, Pangeran Nata, yang dengan dukungan Belanda memaklumkan dirinya sebagai Sultan Tahmdullah II itu. Pada akhir 1850-an Antasari hidup amat sederhana di Mantasari, desa terpencil dekat Martapura. Pada 14 Maret 1862 ia diberi gelar “Pemimpin Tertinggi Agama” dan “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”. Ia wafat pada 11 Oktober 1863. Perjuangannya dilanjutkan putranya, Gusti Muhammad Seman, yang baru bisa diringkus pada 1905.

Ketika perkawinan Putri Junjung dan Gusti Said dinyatakan menyimpang dari ajaran, timbul ketegangan antara Aling dan Pangeran Antasari. Keduanya kemudian saling mengutuk.  Akhirnya, Antasari pun menjauh dari Aling. Aling sendiri memutuskan usahanya mendirikan pusat kekuasaan baru. Akhirnya “keraton” mereka dibakar Belanda – dalam upaya menangkap Pangeran Antasari. Sultan Kuning pun menyerah.

Menurut sultan ini, Pangeran Antasari telah menipu ayahnya untuk menganut kepercayaan aneh  — dan itulah yang diwujudkan dalam segala pengakuan dan tindakan si ayah selama ini. Pihak Belanda sendiri juga berkesimpulan, Antasarilah sebenarnya yang mendalangi Aling dan orang-orangnya. Tapi, benarkah tokoh yang diberi gelar “Pemimpin Tertinggi Agama” itu membuat proyek ajaran sesat?

Yang pasti, itu bukan satu-satunya aliran yang punya pengaruh penting dalam Perang Banjar. Karel Steenbrink menyebut kelompok lain, “Beratip Beamal”, yang menyebabkan pemberontakan terhadap Belanda berkecamuk lagi di Amuntai pada Oktober 1861. Pemimpinnya seorang penghulu bernama Abdul Rasyid, Di masjid Benua lawas mereka menyembelih kerbau. Dengan darah kerbau, mereka bersihkan tempat ibadah itu. Lalu, Pak Penghulu memotong daun kelapa dalam bentuk buaya. Diiringi mantra, daun kelapa dicelupkan ke air dengan harapan jadi buaya beneran. Nah, buaya jadi-jadian inilah yang akan memangsa seluruh orang Eropa sehingga Kalaimantan terbebas dari pajak dan kerja paksa. Sebelum ke kancah, menghadapi serdadu Belanda, mereka berwirid (ratib)  agar beroleh kekebalan. Bunyinya:

    La ilaha ilallah,

menadah kepada Tuhan,

rezeki minta murahkan,

bahaya minta jauhkan, umur minta panjangkan,

serta iman.

    La ilaha illallah, Muhammad aulia Allah

    La ilaha illallah, maujud hamba Allah

    La ilaha illallah

Wirid yang bagus, sebenarnya

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda