Cakrawala

Pesantren dan Perlindungan Anak

Written by Saeful Bahri

Miris. Seorang siswi SMP di salah satu daerah di Jawa Barat melaporkan mantan kekasihnya ke pihak berwajib. Pasalnya, sang mantan menyebar foto dirinya yang tanpa busana ke media sosial. Foto tersebut berasal  saat keduanya melakukan panggilan video. Sang kekasih meminta siswi itu membuka seluruh pakaiannya sebagai bukti cinta kepadanya. Siswi tersebut menuruti permintaan bejat itu. Tak disangka, secara diam-diam lelaki itu menangkap layar (screen shot) dan menyimpannya. Lalu, alasan penyebaran foto  tak senonoh amat sepele. Menurut pengakuan pelaku, pacarnya susah dihubungi. Terjadilah revenge porn di kalangan anak-anak, yakni sebuah tindakan balasan dengan melakukan kekerasan seksual berbasis siber.

Orang tua mana yang tak mengelus dada. Benar-benar tingkah laku anak-anak di era keterbukaan informasi ini, membuat cemas dan dihantui kekhawatiran yang akut terhadap anak-anak mereka. Sebuah Data yang dirilis Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan: 79% anak menggunakan gawai selain untuk belaja, 34,8%  anak bermain 2-5 jam perhari dan 25,4% anak bermain lebih dari 5 jam perhari di luar belajar, serta 79% anak tidak memiliki aturan penggunaan gawai. Selain itu, KPAI juga merilis data sejak 2011 hingga akhir 2018, tercatat 11.116 anak di Indonesia tersangkut kasus kriminal.

Kita semua sepakat, anak-anak adalah masa depan. Jika mereka rusak, maka masa depan akan rusak. Dengan demikian, menjadi pekerjaan besar bagi orang tua dan lembaga pendidikan untuk bersama-sama menyikapi persoalan ini, agar mereka mendapatkan perlindungan dan mengambil tindakan pencegahan supaya tidak terjadi kerusakan akhlak dalam diri mereka.

Tak dapat disangkal, bahwa orang tua punya kewajiban mendidik mereka. Mengisi hati dan jiwa anak-anak agar memiliki etika dan akhlak mulia. Sementara guru di sekolah mengisi ruang pikiran dan imajinasi mereka agar terampil, kreatif, dan berwawasan. Namun demikian,tugas orang tua jauh lebih berat, pasalnya anak-anak lebih lama hidup di lingkungan rumah daripada di sekolah. Kehidupan di rumah itulah yang memberi banyak warna terhadap tingkah laku mereka. Ikhtiar orang tua seperti dibombardir oleh banyak musuh yang kasat mata.

Mencari Tempat Berlindung

Musuh yang mengancam dan merusak anak-anak posisinya sangat dekat. Bahkan musuh itu berada di sudut-sudut rumah. Lebih dekat lagi, musuh itu berada dalam genggaman tangan anak-anak kita. Maka, sudah seharusnya orang tua mencari tempat perlindungan untuk mengamankan mereka. Salah satu tempat yang dapat menjadi pilihan adalah pesantren. Ada beberapa alasan antara lain:

Pertama,  di pesantren santri terjadi proses detoksifikasi digital alias pembersihan dari segala perangkat cerdas (smart phone) yang lebih banyak membodohi mereka. Sebab, di pesantren santri dilarang keras membawa benda tersebut. Mereka dipaksa untuk meninggalkan kesenangan sesaat seperti bermain games atau hiburan lainnya. Sehingga mereka dapat fokus beribadah dan belajar.

Kedua, ciri khas pendidikan pesantren adalah melatih kemandirian dan melepaskan ketergantungan terhadap orang tua. Perkara ini penting untuk anak-anak yang baru menginjak usia belasan. Di pesantren mereka belajar untuk mengaktifkan otak dan memecahkan masalahnya sendiri.

Ketiga, memberikan Tantangan. Seorang psikolog, Carol Dwek mengatakan, bahwa hadiah terindah yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya adalah dengan memberikan mereka tantangan. Di pesantren  begitu banyak tantangan yang bakal mengasah mental dan jiwa mereka menjadi tajam. Pasalnya, di pesantren santri ditempa untuk menghadapi kesulitan dan keterbatasan. Agar tumbuh kegigihan dan keuletan dalam menyikapi tantangan.

Keempat, disiplin dan melatih gaya hidup yang benar. Di pesantren santri banyak mendapatkan pendidikan nonkognitif. Salah satunya adalah kedisiplinan dan keteraturan hidup sesuai dengan waktu. Disiplin hidup, disiplin belajar, disiplin beribadah, disiplin hidup bersama dan siap menerima keragaman.

Kelima, pendidikan kemampuan mengatasi kejenuhan. Pasalnya rutinitas hidup yang bakal mereka hadapi pasti menyebabkan kejenuhan. Karena itu sejak dini mereka diajarkan mengatur ritme hidup yang ada di pesantren. Membunuh jenuh dengan membuat variasi dari siklus dan rutinitas yang ada di dalam pesantren.

Keenam,  menunda kenikmatan. Bagaimana santri mampu menaklukan ego yang ada dalam dirinya dalam wujud kenikmatan dan kesenangan seperti gawai dan sejenisnya. Setidaknya di pesantren mereka belajar untuk mau menunda kesenangan-kesenangan sesaat itu demi sesuatu yang lebih prioritas.

Enam hal di atas adalah bentuk perlindungan anak yang dapat ditemukan di pesantren. Dengan mendidik dan menitipkan mereka di tempat itu setidaknya dapat membantu orang tua melakukan tugas dan fungsinya. Menghalau segala bentuk negatif dari lingkungan dan kemajuan zaman. Tak salah jika ada orang tua yang mengatakan bahwa pesantren  menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menyelamatkan anak-anak dan memberikan mereka perlindungan. Karena anak adalah aset orang tua baik di dunia maupun di akhirat. Banyak orang tua yang dimuliakan oleh anak-anaknya, namun tak sedikit orang tua yang terhina gara-gara tingkah laku anak mereka. Yang lebih penting dari itu, dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa anak dapat dibawa mati oleh orang tuanya. Bukan fisiknya, tapi kesalehan anak yang akan menjadi pahala bagi orang tua.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda