Cakrawala

Mengenang Pembredelan Koran Pemandangan

Kejadian ini terjadi lama sekali, saat Indonesia masih dijajah Nederland (Belanda). Untuk mamahami duduk perkaranya, ada baiknya mengetahui asbab bagaimana pemerintahan kolonial terpicu untuk membredel harian Pemandangan. Suatu ketika, saat itu 16 Mei 1940, Pemandangan memuat Tajuk Rencana berjudul Sumbangan Indonesia. Tajuk Rencana itu membuat pemerintah menyetop Pemandangan. Berikut ini Tajuk Rencana yang dimaksud. Hal ini terjadi saat Belanda lima tahun kemudian, benar-benar melepaskan Indonesia. Tajuk Rencana itu, saya nukilkan beberapa bagian di antaranya:

“Di luar dugaan. Dalam tempo hanya lima hari daerah Nederland sudah jatuh di tangan Jerman, terkecuali provinsi Zeelend. Perlawanan militer sudah dihentikan, terkecuali Zeeland dan di bagian laut. Berita lengkap pasal itu disajikan di lain bagian, yang kita terima dari Aneta.

Marilah kita lukiskan keadaan kerajaan Nederland pada waktu ini! Lebih dahulu harus diterangkan, bahwa kerajaan Nederland terdiri atas: 1. Nederland; 2. Oost Indie yaitu Indonesia; 3. West Indie yaitu Suriname dan Curacao.

Bagian pertama (Nederland) praktis sudah di tangan musuh, terkecuali Zeeland. Luasnya daerah Nederland 33.070 Km persegi dengan 8.284.000 penduduk.  Sedang luas provinsi Zeeland hanya 1832 Km persegi, didiami 248.000 penduduk. Ia terutama hidup dari perkebunan (tuinbouw), ternak (Veeteelt) dan penangkapan ikan (veesherij). Mempunyai dua jalan Spoor, tidak mempunyai kali. Jadi…. Suatu bagian yang tidak berarti penting, sungguh pun belum tentu akan dilepaskan oleh tentara Nederland yang belum menyerah kalah.”

Tajuk Rencana itu, membuka aib Nederland (Belanda), dengan penggambaran besarnya area yang masih eksis dihadapkan di bawah kontrol pemerintah Nederland. Praktisi pers zaman itu, terlihat cukup intens memantau peperangan penguasa, dalam hal ini Nederland versus negara-negara lawannya. Terutama melalui berita-berita media internasional (antara lain: Domei [kantor berita Jepang[, United Press [kantor berita Amerika], Havas [kantor berita Perancis], Reuter [kantor berita Inggris] dan sebagainya.)

“Dari semua keterangan tadi: perlawanan dijalankan terus, terkecuali di daerah yang sudah di tangan musuh. Mengartinya: Kerajaan Nederland masih tetap dan dalam perang dengan Jerman!

Kemungkinan yang bisa terjadi ialah: a. daerah yang sudah jatuh di tangan musuh dapat dirampas kembali; Dari semua keterangan tadi: perlawanan dijalankan terus, terkecuali di daerah yang sudah di tangan musuh. Mengartinya: Kerajaan Nederland masih tetap dan dalam perang dengan Jerman!

Kemungkinan yang bisa terjadi ialah: a. daerah yang sudah jatuh di tangan musuh dapat dirampas kembali; b. daerah yang dimaksudkan pada bagian a tetap dalam tangan musuh diperluas dengan Zeeland, sehingga seluruh Nederland jatuh tingan Jerman; c. Zeeland tetap di tangan Nederland.

Kita pujikan, moga-moga pasal a bisa dapat diwujudkan. Tetapi memilih kekuatan militer dari Jerman harapan itu tipis sekali. Lebih mungkin ialah pasal b. Jika ini terjadi, bukan barang mustahil, bahwa yang akan pegang kendali pemerintahan di Nederland Baru ialah kaum NSB yang telah “berjasa besar” terhadap Jerman.

Kita pujikan, moga-moga pasal a bisa dapat diwujudkan. Tetapi memilih kekuatan militer dari Jerman harapan itu tipis sekali. Lebih mungkin ialah pasal b. Jika ini terjadi, bukan barang mustahil, bahwa yang akan pegang kendali pemerintahan di Nederland Baru ialah kaum NSB yang telah “berjasa besar” terhadap Jerman.”

Permainan “kata-kata” pada Tajuk Rencana di Pemandangan, mengungkap dua hal: maneguhkan ungkapan satire sekaligus membangun semangat pada pembaca Pemandangan. Pemerintah (penguasa) mana akan membiarkan pihak yang dijajah bisa seenaknya bersuara, terlebih untuk massa pembaca yang notabene melek informasi seperti para pembaca Pemandangan. Penguasa dalam  hal ini Nederland, takkan membiarkan demokrasi melenggang di tengah-tengah warga masyarakat jajahannya.

Menyimak wacana yang disajikan Pemandangan, publik Indonesia terbuka matanya, saat mana juga sekaligus membuka hati dan pikiran atas siasat pemerintah yang sedang menguasainya. Bahwa dihadapan penguasa turut berperang sejumlah kekuatan yang akan menentukan wajah Indonesia.

Tajuk Rencana itu, Pemandangan juga memuat bernada simpatik (tapi justru diterima sinis, menguatkan pihak penguasa membredel harian Pemandangan):

“Semenjak Nederland terseret dalam perang, Indonesia sebetulnya sudah menguasai diri sendiri, sungguhpun belum ada perubahan tentang susunan pemerintahan Negeri. Di sini pada tempatnya, kalau kita sampaikan pujian dan terima kasih kita kepada Wali cerdik-cerdas dalam memutar roda mesin pemerintahan dalam masa yang begitu genting dan sulit seperti sekarang ini. Berkah pimpinan beliau yang sedemikian itu di sini tidak terjadi apa-apa yang tidak diingininya.

Timbul pertanyaan: betapa kedudukan Wali Negeri sekarang? Praktis sebagai diktator. Ini tidak kita tolak, karena akibat dari keadaan perang. Tetapi sesungguhnyapun semikian adalah kewajiban kita bersama (teristimewa pemerintah di sini dan di Londen sebagai pusat pemerintahan Nederland) supaya kepada Indonesia lekas-lekas diberikan syarat-syarat yang harus didapati pada negeri yang sudah dewasa, yang sudah berdiri sendiri.

Kita sebutkan saja beberapa syarat, diantaranya: a.mempunyai badan perwakilan berupa parlement!; b. mempunyai defensie sendiri; c. mempunyai perwakilan sendiri di luar negeri dsb-nya.”

Sejauh itu, pihak pengelola Pemandangan masih membuka harapan bahkan kepada “penguasa” ketika itu (Nederland/Belanda):

“Dari itu seruan kita: reden wat te redden is! (alasan apa yang bisa diselamatkan)

Kita jelaskan: untuk membantu orang-orang Belanda yang menjadi korban perang dan yang ingin datang kemari, Indonesia harus lekas-lekas dijadikan Negeri Bahagia yang berdiri sendiri. Berkah pekerjaan bersama-sama antara bangsa Belanda, Indonesia, Arab, Tionghoa dsb-nya yang menganggap Indonesia sebagai tanah airnya, maka negeri bahagia itu tentu akan menjelma menjadi Indonesia Raya, yang tahu membalas budi kepada Nederland yang sedang menderita nasib malang itu! Itulah sumbangan Indonesia yang sebaik-baiknya!

Sekadar menjadi fakta pembanding, dari harian yang sama, jauh setelah dibredel (setelah Pemandangan memuat Tajuk Rencana Sumbangan 16 Mei 1940), menurunkan tajuk Kenang-kenangan Seperlima Abad Lambang Penderitaan dan Perdjuangan Pers Nasional Menumbangkan Kekerasan Imperialisme):

“Dalam sejarah hidupnya, Pemandangan mengalami keretakan. Pada zaman Perdi (Persatuan Djoernalis Indonesia) Pemandangan runtuh martabat dan terancam kebaikan namanya, karena langgar patuh nasional. Pengurus Besar Perdi memaklumkan boikot terhadap Sin Po di bawah pimpinan wartawan Kwee Kek Beng berhubung dengan kesombongannya sebagai sebuah koran yang gede, Pemandangan tidak mau ikut serta, sehingga terhadap Pemandangan terpaksa harus ambil sikap keras dan tegas. Akibatnya sudah tentu tidak enak. Pemandangan diselamatkan kemudian dari bahaya keruntuhannya, oleh pimpinan Mr. Soemanang, sehingga pulih kembali sebagao sebuah harian nasional yang menjunjung disiplin nasional. Pada permulaan zaman Jepang, Pemandangan mencoba hendak bertahan diri. Atas tuduhan “menghina raja Jepang”, sdr. Soemanang ditangkap Kenpetai dan ditahan di gedung bekas tempat sdr. Soemanang menuntut ilmu, yakni di gedung Perguruan Hakim Tinggi, yang oleh Jepang dijadikan markas Kenpetai. Lenyaplah Pemandangan daru gelanggang perjuangan, bersama dengan yang lain, dan akhirnya pada awal November 1949, muncul kembalki di bawah pimpinan sdr. Anwar Tjokroaminoto. Waktu S.P.S. lahir di pendopo Kepatihan Yogyakarta di bawah pimpinan sdr. Soemanang dan Syamsuddin Sutan Makmur, tgl. 8 Juni 1946, Pemandangan yang masih tetap hidup dalam cita-cita, belum terfill dalam wujudnya. Tetapi, setelah pada tgl. 7 Desember 1949, S.P.S. ”lahir kembali” di rumah makan Climen di timur alun-alun Yogyakarta, Pemandangan hadir dan menjadi anggota yang setia. Kini Pemandangan genap 20 tahun berdirinya. Akhirnya telah mempunyai gedung sendiri. Keadaan Pemandangan sebagai harian nasional umum masih harus lebih baik. Namun keadaan yang sewajar, yang menulis/melukis keadaan pers nasional seumumnya, yang karena kalah “voorsprong” dengan koran-koran Belanda dan Tionghoa yang sudah baik keadaannya di zaman jajahan dan kemudian dihidupkan kembali berkat bantuan Van Mook, kini masih harus berjuang menuntut dan mempertahankan hak hidup di negaranya sendiri.”

Ekspresi media sekuat Pemandangan pada masanya, dan di suatu masa masih memiliki kesedihan “mempertahankan hak hidupnya di negaranya sendiri” menyiratkan betapa pada masa lalupun pers “sudah digariskan” untuk mengumandangkan perjuangan. Tak di zaman penjajahan, kemerdekan, dan hingga saat ini, untutan itu tetap ada. Sekadar berefleksi tentang elan juang yang selalu ada dan eksis di zaman kapanpun.

——–

Rujukan:

Dummy Hoofd Artikel/Tajuk Rencana Harian Pemandangan, tanpa tahun, koleksi Fathan Kamil sebagai cucu buyut pendiri Harian Pemandangan, almarhum RHO Djunaidi.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda