Cakrawala

Wabah, Mengubah Wajah Dunia?

Adalah Marshal Hodgson, melihat kemajuan teknik yang menjadi tulangpunggung dunia modern sebagai kumulasi peradaban anak manusia. Sehingga “modernisme” tadinya tidak serta-merta mesti lahir di Barat, bisa di tengah peradaban lain semisal India, Dunia Islam atau Cina. Lalu Hodgson menggarisbawahi: Andai modernisme lahir di tengah dunia Islam, dunia modern akan hadir dalam bentuk negara yang lebih kosmopolit, setara dan berkeadilan, di bawah supremasi luhur-ulama dan luhur-syariat, tidak dalam bentuk kepompong negara-bangsa yang disodorkan Barat (1993:232).

Simpulan ini tidak ia ungkap apriori, tapi berlandas pembacaan panjang mendalam tentang perjalanan peradaban Islam dan karakternya, ia bandingkan dengan berbagai perdaban sepanjang sejarah manusia, lalu menurutnya peradaban Islam hadir lebih kosmopolit, toleran, setara, berbagi dan berkeadilan (1993:110-125). Ini selalu ia singgung sepanjang karya 3 jilidnya: The Venture of Islam.

Tiap periode sejarah punya peradaban dominan, dan ruh peradaban tersebut yang menjalar ke seluruh dunia, mendominasi idealisme manusia. Peradaban dominan dunia modern kita adalah peradaban Barat, dengan kapitalisme sebagai ruhnya (Duralı, 2018:17-24). Kapitalisme lahir dalam konjunkutr historisnya; Tentu kita bisa bertanya, bagaimana kiranya (peradaban) Islam akan merespon konjunktur yang sama? Untuk merekonstruksi hal ini, sangat tepat jika kita telaah respon dan praktik Negara Utsmani -sebagai negara Islam terakhir era ini-, terhadap dinamika global yang melahirkan kapitaliseme di Barat. Utsmani menyertai Barat selama hampir lima abad di rentang ronensans dan perkembangan modernisme-kapitalisme. Kita akan melihat bahwa Utsmani tidak melahirkan apa yang dikenal sebagai kapitalisme dalam perdagangan (merkantilisme), industri, dan finansial.

Narasi Peradaban Alternatif

Saat bangsa Eropa mulai merambah samudra mengekplorasi dunia abad 15, Utsmani sedang membubung menaungi 3 benua, dan hegemoninya sampai ke Asia Tenggara. Eksplorasi Eropa melahirkan kolonialisasi bahkan pemusnahan berbagai peradaban yang dijamahnya. Huntington menghitung dalam “Clash of Civilization”, setidaknya ada 8 peradaban dimusnahkan Eropa. Merkantilisme ditopangi monopoli, dagang harus dimenangkan dengan berbagai cara tak terkecuali perang (O’Brien:1996:7). Proses ini mengkristalisasikan elit borjuis yang memonopoli kebijakan politik dan revolusi industri.

Tidak tercatat kolonialisasi atau pemusnahan peradaban dalam sejarah Utsmani. Perdagangan jarakjauh ia kelola melihat manfaat fiskal dan pemenuhan kebutuhan pasar masyarakatnya dengan barang berkualitas, melimpah dan murah. Utsmani bahkan berikan kapitulasi kepada Inggris, Perancis dan Belanda untuk berdagang di kawasannya, dan menerap pajak ekspor lebih tinggi ketimbang impor. Halil Inalcık menyebut hal ini dilakukan guna menyeimbangkan harga barang dan upah tenaga kerja (Inalcık, 2000: 86-90). Berbagai kebijakan ekonomi Utsmani mulai sistem kepemilikan tanah (dimana tanah adalah milik negara, dan warga diberi hak guna), kontrol terhadap faktor produksi, regulasi ekspor, penentuan harga (narh), dan pembatasan keuntungan,  menghalangi lahirnya kapitalisme dagang (Bulut,2011). Tidak oleh elit borjuis, di Utsmani ekonomi digawangi kelompok “Ahilik”, para sufi yang masyhur dengan geliat ekonomi dengan sifat itsar-nya (altruism) (Tabakoğlu,1994). Guna mencegah lahirnya ketimpangan sosial, Utsmani terkadang menganeksasi aset jika melihat ada penimbunan oleh pejabat pemerintahan (Tabakoğlu,1986:445). Wakaf sebagai rantai distribusi, menjadi model civil-society dan menjamur di tengah masyarakat. Ketika kebutuhan finansial di Eropa lahirkan perbankan ribawi, Utsmani melahirkan sistem Wakaf Uang Tunai untuk menjawab kebutuhan yang sama, yang saat itu mencuat di tengah masyarakat Utsmani di Rumeli (daratan Eropa). Hal ini bisa difahami dari risalah yang ditulis oleh Syeikh Bali Efendi dari Sophia, Bulgaria (Bulut,2017). Bank konvensional baru muncul di tengah Utsmani di abad 19, oleh para pedagang yang notabene Yahudi. Menimbang hal ini, Schumpeter pernah menyayangkan perkembangan ekonomi barat yang tidak menyertakan pengalaman dunia Islam, kealpaan yang menurutnya melahirkan ketimpangan besar (great gap) (Schumpeter,1976).

Perbedaan ini lahir tentunya bukan hanya karena faktor geografi dan sosio-kultural, tapi lebih jauh dilatarbelakangi oleh perbedaan paradigma (worldview) yang dianut masyarakatnya tiap peradaban tadi. Terkait bagaimana mereka memandang wujud (ontology): Tuhan-Manusia-Alam, ruang, waktu, pengetahuan, serta hubungan antar entitas tersebut.

Tentang manusia misalnya, dua peradaban punya pandangan cukup berbeda secara fundamental. Jika Yunani mendefinisikan manusia sebagai makhluk politik (bios politikos) (Aristoteles, Politika), bersamaan dengan Mill di era ronesans, manusia didefinisi ulang sebagai makhluk ekonomi (homo-economicus), dimana ekonomi menempati urut teratas deretan nilai (John S. Mill, 1995:41). Kolonialisasi barat hadir dari aksioma ruang yang memandang dunai barat (khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara) sebagai pusat dunia, kawasan lain adalah periferi penopang. Pemusnahan etnis, perbudakan dan eksploitasi kaum “proletar” didasari aksioma hubungan manusia-manusia yang memandang bahwa sebagian manusia lebih unggul dari yang lain. (Galtung, 1983) Di Utsmani kolonialisasi tidak terjadi. Islam membahas ekonomi dalam urusan akhlak (iqtishad: berperkiraaan). Islam tidak mengkategori ruang sebagai sumber kekuatan. “Timur dan Barat adalah milik Allah” (Lih. QS.2:115). Memandang hubungan manusia-manusia; Islam tidak membuat hierarsi kelas, semua manusia sama tanpa membedakan warna, etnik, dan suku bangsa. (Davutoğlu,1997). Jika eksplorasi dan eksploitasi oleh dunia barat, menurut Galtung dilatari paradigma hubungan manusia-alam dalam aksiomanya: “Man is over nature”, yang melihat alam hanya sebagai meta bahanbaku, bukan sebagai wujud yang mempunyai kehidupan, sistem, hak, hukum kesimbangan dan pertumbuhan (Galtung,1983); Islam pula melihat alam sebagai manifestasi sifat dan perbuatan Allah. Hubungan manusia-alam tidak dalam bentuk vertikal subjek-objek, tapi interaksi horizontal sebagai ssama ciptaan Rabbul’alamin. (Davutoğlu, 1997). Ketika Eropa merantai insan Afrika untuk dipekerjakan di ladang-ladang Amerika, ribuan pekerja termasuk perempuan dan anak-anak diekploitasi oleh revolusi industri hingga menggelandang di gang-gang London, kondisi yang mendorong sekwan Marx dan Engel untuk meneriakkan Manisfesto-nya; Di belahan dunia Islam, Sultan Utsmani Beyazit II (1502), Murad III (1587) dan (1856) mengeluarkan titah istana mengatur jam kerja, kadar beban, hari libur, serta hak-hak yang harus ditunaikan empunya pada hewan angkutan kuda dan keledai. Kuda dan keledai hanya dipekerjakan antara matahari terbit hingga terbenam, diliburkan pada hari jum’at dan hari raya, dibatasi kadar beban yang dipikulkan, saat dipekerjakan harus dipakaikan ladam dan pelana besi yang baik, dan secara teratur harus mendapat minum dan pakan. Aturan ini disertai penentuan hukuman atas setiap pelanggaran (Arsip Utsmani, BOA). Hal sama jauh sebelumnya dilakukan Umar b. Abdulaziz, ketika mengirim surat kepada wali Mesir agar warga tidak membebani unta lebih dari 600 ruthal (al-‘Afafi,t.t.)

Kesimpulan

Kehadiran wabah memberi kita ruang dan luang refleksi, untuk mengevaluasi kembali hubungan kita dengan “alam” dan sesama selama ini. Kita semua lahir dari satu manusia, dan hidup di satu bumi yang sama. Begitu pun peradaban yang kita bina, merupakan estafet dan kumulasi karya jiwa-raga seluruh manusia sepanjang sejarah. Disini lah mereka yang menerima pesan wahyu untuk menjadi umat pertengahan, dan umat terbaik, harus mengambil peran. “Begitulah Kami jadikan kalian umat pertengahan, agar kalian menjadi saksi terhadap manusia, dan Rasul pula akan menjadi saksi terhadap kalian” (Lih. QS. 2:143). Menjadi saksi untuk seluruh manusia, artinya memastikan kebenaran mendapatkan tempatnya. Lalu Rasulullah pula yang akan menjadi saksi terhadap mereka. Ini yang telah mejadi spirit para Nabi dan generasi awal sahabat, yang membawa mereka berpencar ke seluruh ceruk dunia.

About the author

Andika Rahman Nasution

Penulis sedang mengikuti program doktoral di Istanbul Sahabattin Zaim University, program Kajian Sejarah dan Peradaban. Saat ini bergelar MA (Master of Arts) bidang Sosiologi Agama.

Tinggalkan Komentar Anda