Cakrawala

Ibnu Khaldun Saksi Hidup Tha’un

“Langit lebih cerah. Udara lebih bersih. Laut lebih jernih. Hewan lebih ceria. Alam lebih lega, dan ozon balik perkasa.” Begitu sederet perubahan dirasakan manusia, satwa, flora, dan segenap jamadat, semasa pandemi corona merebak serata ceruk. Menyeruak di Wuhan, sekilas sudah menyebar eskponensial ke seantero bumi. Sejak lama, wabah jadi bagian tak terpisah dari sejarah. Kata epidemiolog, wabah meloncat dari hewan, dalam kondisi manusia hidup berdampingan dengan hewan dalam jarak dekat.

Dan lockdown memberi dunia kita jeda; Memungkinkan kita melihat pertukaran yang selama ini sulit terbayangkan. Ia memberi kesempatan sekaligus menuntut -secara mendesak- untuk kita bisa menyadari dan mengevalusai banyak hal. Pertama, kita disadarkan kembali bahwa semua kita satu entitas, hidup di satu bahtera bumi manusia. Dunia dan segenap bani Adam merupakan kesatuan tak terpisahkan. Tingkah seorang mengimbas umat manusia keseluruhan. Kedua: Dunia kita yang memudaratkan alam dan manusia, masih sangat mungkin untuk berubah. Melalui inilah dakwah TINA (there is no alternative), perubahan untuk dunia yang lebih baik sangatlah mungkin. Perubahan adalah kaidah niscaya. Adalah mendesak agar kita menggagas alternatif bagi terciptanya dunia yang lebih layak untuk segenap makhluk.

Artikel ini mendiskusikan bagaimana wabah pernah mengubah arah sejarah. Berangkat dari sana, kita ingin meraba perubahan yang menanti dunia kontemporer, yang seyogianya begitu berhajat akan perubahan. Untuk itu, tulisan ini mewacana alternatif dari paradigma peradaban Islam, sebagai peradaban yang dalam pengkajian sejarawan Marshall Hodgson disebut: “kosmopolit (berbhineka), berkesetaraan, berbagi, dan berkeadilan”.

Jared Diamond dalam bukunya “Guns, Germs and Steel” mengungkap bahwa wabah muncul di fase pemukiman dan domestikasi hewan, yang dalam teorinya merupakan satu dari tahapan bangunan peradaban. Pasca budaya mengumpul-berburu, muncul pembenihan dan pertanian yang memungkinkan pemukiman. Ketersediaan hewan jinak, domestikasi dan peternakan menyertai pertanian, kemudian memungkinkan sebuah akumulasi dan surplus nilai. Kondisi yang memungkinkan lahirnya spesialisasi teknik dan sosial. Dari sini lahir pemerintahan yang sejalan waktu semakin kompleks. Di sini ia menjawab pertanyaan rekan Papua-nya, kenapa mereka tak punya “cargo” layaknya Eropa. Bukan karena beda biologis dan genetika, tapi karena di sana luput mata rantai vegetasi berkarbohidrat tinggi dan hewan jinak domestikasi, agar mungkin surplus penduduk dan hasil tani. Namun dalam rangkaian ini pulalah loncatan wabah, lalu turut andil meliuk-liuk alur sejarah (Diamond, 1997).

Dalam sejarah awal, wabah dianggap menyebab migrasi awal dari Afrika, dan berbagai migrasi besar di benua lainnya. Dalam penelitiannya tahun 2015, Rasmussen dan timnya menemukan bakteri “Yersinia pestis” di sekian tengkorak di beberapa daerah Eropa. Hal yang menjuruskan pada simpulan bahwa ia penyebab migrasi besar Eropa 5 ribu tahun silam. Yersinia pestis, juga dinyana menyebab berbagai wabah di Eropa setelahnya (Rasmussen, 2015: 572).

Sekitar 430 SM, Athena diserang wabah yang berandil melenyapkan Yunani kuno. Tahun 169-194, Roma ditakluk “wabah Antonine” yang cukup melemahkan hingga membawanya pada keruntuhan (Sherman, 2006:). Tahun 541, ekumen Mediterania dibidas wabah Justinianus. Muncul dari pelabuhan Mesir kuno Pelisium, merangsak ke timur merayapi Persia, ke utara meranyap kepulauan Britania. Merenggut nyawa separuh khalayak, pandemi ini mengakhiri era kuno untuk memula era klasik bersamaan terbentuknya corak Bizantium, penyebaran eksponensial Islam dan kelahiran etos kerja positif Eropa Latin (Little, 2007: 3-10)

Sejarah Islam mengenal “wabah Yazdajird” (18 H/ 651 M), yang menurut al-Baladzuri cukup merontok Persia dan membantu penetrasi tentara muslim pimpinan Khalid b. Walid (al-Baladzuri, 1901: 258). Masa Bani Umayah menderita “wabah Mushab b. Zubair” di Bashrah (69 H) yang mematah perlawanan pihak Zubair sehingga Umayah mudah menggabung Bashrah dalam kuasanya. Wabah berulang merongrong hingga merontok dinasti kuat yang membentang dari Cina ke Andalusia ini, al-Adawy menghitung sebanyak 20 pandemi. Terakhir “wabah Muslim b. Qutaibah” (131H/748M), layaknya lonceng pengkhatam kuasa Bani Umayah, untuk memberi Bani Abbasiyah peluang mengambilalih tampuk khilafah (al-‘Adawy, 2005)

Wabah menandu Kristen diterima menjadi agama Roma abad ke-3; Wabah pula yang menjungkal kharisma Gereja pada wabah hitam abad 14 (Sherman, 2006:). Wabah mengubur peradaban Inca dan Maya (Diamond, 1997: 210-212); Wabah jua membantu revolusi Toussaint Louverture, Haiti (1790), meluluhlantak pasukan Inggris dan Perancis, dan menggagal rencana besar Napoleon mencatut Amerika. Sementara ekspansinya ke timur dan utara: 1799-1801 di Mesir dan Palestina, 1807 di Polandia, 1812 di Rusia, 1814 di Jerman, semuanya kandas disikat tipus (Snodgrass, 2017: 118-127).

Wabah terparah memerah dunia milenium silam (abad 14) adalah “Black Death”, “al-Tha’un al-Aswad” dalam literatur Arab. Menyeruak di Cina rentang 1324-1330, muncul lagi 1339, dan merebak seantero dunia lewat jalur dagang laut dan darat. Ia merenggut separuh penduduk Cina, Asia tengah, Timur tengah, dan Eropa. Sensus penduduk Cina tahun 1200 mencatat 120 juta jiwa; Di sensus abad 15 hanya 65 juta. Wabah ini memuluskan pemberontakan Sorban Merah, hingga runtuh tahta dinasti Yuan (Mongol) tahun 1367. 1330 wabah ini merambah Eropa, disinyalir dibawa para pedagang Genoa (Italia) dari Krimea. Setelah menghentak segala lini hidup Eropa, wabah ini membuka pintu kemakmuran bagi para petani, mengakhiri feodalisme dan perbudakan, menyedia peluang berkembangnya peternakan, hingga menggeliatkan industri tekstil dan perdagangan. Kondisi yang menyiapkan tumbuhnya Kapitalisme dan Ronesans, jelas banyak sejarawan (Snowden, 2019).

Ia merangsak oikumene Hilal Subur tahun 1347 (749H). Disini, wabah ini juga menggulung kuasa Mongol. Abu Said Bahadur, terpapar wabah dan meninggal tahun 1335, menjadi khan khanate Mongol terakhir di Persia. Peristiwa ini mengawali akhir riwayat Khanate di timur tengah (McNeill, 169-70 ), yang kemudian disusul keruntuhan khanate Orda Emas di Eurasia (Christian, 2018: 53). Ibn Khaldun adalah saksi hidup wabah ini. Ia torehkan di Mukaddimah (I: 120-21):

“Di paruh abad 8, wabah merambah negeri Timur dan Barat. Mengguncang negeri, merontok generasi, menenggelam sekian banyak keindahan umran. Peradaban surut selaras susutnya orang. Bandar dan sanggar runtuh, jalan dan penanda punah. Negeri dan pemukiman kosong, negara dan kabilah lemah, penghuninya berganti.. Seolah lisan wujud menyeru alam untuk berlengah mengecut, ia pun gegas menyambut. Allah lah pewaris bumi dan segala di atasnya. Lalu keadaan berubah keseluruhan, seolah segenap maujud berganti sedari asal.. Laksana ia ciptaan perdana, tumbuhan sedari awal, dan dunia yang anyar.”

About the author

Andika Rahman Nasution

Penulis sedang mengikuti program doktoral di Istanbul Sahabattin Zaim University, program Kajian Sejarah dan Peradaban. Saat ini bergelar MA (Master of Arts) bidang Sosiologi Agama.

Tinggalkan Komentar Anda