Cakrawala

Halal Haram dan Lumpur Kehidupan Manusia

Islam adalah agama yang memberikan pedoman hidup yang tegas kepada penganutnya. Dalam aqidah ketuhanan (teologis) Islam menonjolkan ajaran Tauhid (monotheis) yang murni tanpa kompromi sedikitpun dengan hal-hal yang berbau syirik atau menyekutukan Allah. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aktivitas, jalan kehidupan yang digariskan hanya dua saja, yaitu memilih yang halal  atau haram. Memang, ada jalan lain yang disebut syubhat atau meragukan, tapi Islam cenderung menyuruh meninggalkan karena dikhawatirkan manusia terjebak pada perbuatan yang haram.

Perbuatan yang dikategorikan haram adalah yang dibenci Allah, dan menurut Imam Ghazali termasuk perbuatan keji. Jadi, yang halal adalah perbuatan yang dibolehkan Allah, sedangkan yang haram adalah yang dilarang Allah. Menurut Yusuf Qardhawi, perbuatan halal-haram mencakup bidang makanan dan minuman, penyembelihan hewan, perburuan, khamar, narkotika dan sejenisnya, pakaian dan perhiasan, keperluan isi rumah tangga,  turunan, orang tua dan anak; aqidah dan adat istiadat; muamalat (perdagangan dan pertanian), permainan dan hiburan, hubungan muslim dan non-muslim, lingkungan hidup (hewan) dan sebagainya. Menurut Qardhawi, daerah atau lapangan yang dihalalkan oleh Allah itu sangat luas, sedangkan yang diharamkan Allah sangat sempit.

Dalam masyarakat moderen masalah halal dan haram tidak lagi dianggap prinsip. Masyarakat moderen yang bersifat sekuler lebih mengutamakan kepentingan keduniawian di atas segala-galanya, karena itu hal yang bersifat spiritual dan moral kurang menjadi pertimbangan. Halal haram yang menjadi pertimbangan hidup orang-orang beragama dinilai menghambat kemajuan, sesuatu yang membelenggu masyarakat, simbol kebekuan berpikir dan ketidakmampuan mengikuti zaman.

Cara berpikir dan budaya kehidupan masyarakat moderen dengan demikian pada akhirnya memang menganggap remeh masalah moral yang akibatnya menimbulkan implikasi sosial yang merusak masyarakat.   Di bidang kesusilaan melahirkan budaya permisif dan keserbabolehan. Ini dapat dilihat dalam pergaulan pria-wanita yang makin bebas, lahirnya tempat-tempat hiburan yang mengobral gairah syahwat, prostitusi baik secara lokalisir maupun prostitusi online, bacaan dan film, kaset porno yang mengumbar nafsu dan sebagainya.

Di bidang hukum dengan kejahatan kita melihat makin mudah orang melakukan tanpa rasa takut, tindak korupsi dengan mengambil jalan pintas untuk menumpuk harta tidak memikirkan kepentingan rakyat dan orang banyak. Sedangkan di tingkat bawah orang melakukan kejahatan demi uang walaupun dengan tindakan sadisme membunuh atau melukai korban.

Dalam bisnis, orang melakukan transaksi barang-barang  terlarang dan berbahaya, seperti narkoba yang amat merusak  dan menghancurkan generasi muda. Yang dipertimbangkan hanya keuntungan yang mencapai miliaran rupiah per-hari, tapi akibatnya ke depan buat bangsa tidak diindahkan. Apakah bisnis ini halal atau haram bukanlah persoalan.

Sejak reformasi dan diberlakukannya pemilihan langsung dalam pemilu dan pemilihan kepala daerah konflik horisontal berkembang  dalam masyarakat. Politik pun menghalalkan berbagai cara, yang penting dapat meraih kekuasaan, walaupun dengan saling menjelekkan lawan politik.

Dalam masyarakat dimana ukuran-ukuran materialistik dan hedonistik yang berlaku ukuran halal dan haram yang digariskan agama makin tergilas dan dianggap pemikiran yang kuno serta merintangi orang untuk meraih ambisi dan nafsu duniawinya.

Lumpur dan Roh

Padahal, setiap orang harusnya menyadari bahwa halal dan haram itu berfungsi sebagai filter, penyaring untuk membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Seorang yang berpegang teguh pada pedoman perbuatan yang halal dan yang haram berusaha menjadikan dirinya bersih dari perbuatan yang tercela. Untuk itu ia akan berusaha menghindari perbuatan yang keji dan nista, sebaliknya selalu berusaha berikhtiar dalam setiap aktifitas hidupnya sesuai dengan garis yang telah ditetapkan Allah, yaitu melakukan perbuatan yang halal, bersih dan baik. Dengan demikian filosofi halal haram mengarahkan manusia untuk berperilaku dan berkepribadian luhur dan bermartabat mulia.

Orang yang mengatakan bahwa halal-haram itu pandangan yang kuno dan menghambat kemajuan, sesungguhnya adalah orang yang dalam pemikiran dan perilakunya kurang memperhatikan dampak sosial dari pandangan hidupnya.

Seperti diketahui lawan dari filosofi halal-haram adalah pandangan Machiavelli (Nicolo Machiavelli) yang dikenal dengan tujuan menghalalkan segala cara ( het doe helight de middelen). Pandangan ini lebih mengutamakan tercapainya tujuan, meski dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik. Orang yang mengembangkan bisnis perjudian, tapi dari situ dapat ditarik pajak, membuka lapangan kerja, atau yang  digunakan untuk membangun sarana pendidikan dan ibadah, dalam pandangan yang bersifat Machiavellian adalah  sah-sah saja. Tapi, dari sudut agama yang memilah sesuatu dari segi halal dan haram jelas dinilai sebagai perbuatan yang tidak baik. Sebab, pola pikir seperti itu adalah mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan. Apalah artinya kita membangun sarana pendidikan untuk manusia tetapi dengan cara yang tidak baik, yang sekaligus juga merusak mental manusia. Walaupun uang dari bisnis perjudian kita gunakan untuk membangun sekolah dan tempat ibadah, tetapi dalam waktu bersamaan kita juga merusak mental masyarakat dengan bisnis judi yang nyata-nyata merugikan itu.

Dalam hal ini Islam amat jelas tidak menginginkan campur aduk antara yang halal dan yang haram. Inilah yang dalam hadist dikatakan, ” Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas”. Di antara yang halal dan yang haram dinamakan syubhat atau meragukan. Islam menginginkan supaya meninggalkan yang syubhat itu agar manusia tidak terjebak pada yang haram.  Sedangkan Al-Quran juga dengan tegas melarang mencampuradukkan antara yang haq (benar) dengan yang batil (keji),” Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui (al-Baqarah 42).

Allah menginginkan manusia menempuh jalan hidup yang halal karena ini adalah jalan terbaik bagi manusia. Dan dalam kehidupan ini memang hanya ada dua opsi, jalan kebaikan dan jalan keburukan. Bila ditilik dari proses kejadian manusia jalan kebaikan inipun paling tepat. Sebab, jalan halal dalam kehidupan yang ditempuh menuju pada kesucian menusia. Dan kesucian itu mendekatkan manusia kepada Allah yang merupakan tujuan sejati dari kehidupan.

Seperti dijelaskan dalam Al-Quran bahwa proses kejadian manusia bermula dari tanah lumpur yang berbau, setelah terbentuk lalu ditiupkan roh Allah. Dalam bahasa manusia lumpur adalah simbol kenistaan terendah. Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari pada lumpur. Sedangkan zat yang paling luhur dan suci adalah Allah, dan bagian yang paling terluhur, termulia dan tersuci dari setiap zat adalah roh-Nya ( Ali Syariati, Tentang Sosiologi Islam, Ananda, Yogyakarta, 1982).

Manusia sebagai wakil Allah, menurut Syariati, diciptakan dari lumpur, dan lempung endapan atau bahan terendah di dunia, lalu Allah menghembuskan kedalamnya bukan darah-Nya, bukan raga-Nya, melainkan roh-Nya, sebutan yang paling terhormat yang terdapat dalam perbendaharaan bahasa manusia. Allah adalah zat termulia, dan roh-Nya adalah suatu konsep terluhur sepanjang akal fikiran manusia.

Jadi manusia adalah gabungan lumpur dan roh, makhluk yang bersifat ganda (bidimensional), berbeda dengan makhluk lain yang bersifat tunggal (unidimensional) . Dimensi yang satu cenderung kepada lumpur dan kerendahan, sedangkan yang berasal dari roh Allah cenderung meningkat ke puncak kemuliaan, kepada Allah dan roh Allah. Setiap manusia dikurnia kedua dimensi ini. Terserah kepada manusia apakah ia akan terperosok kepada lumpur endapan yang hina, ataukah akan meningkat ke arah kutub yang mulia, yaitu ke arah Allah dan Roh Allah.

Halal dan haram adalah pilihan manusia untuk menempuh kemuliaan dan kehinaan. Jika kehinaan yang dipilih maka manusia menjadikan dirinya menjadi lumpur yang hina. Untuk itu manusia menurutkan nafsunya, yang cenderung pada kesenangan duniawi tanpa nemperhatikan larangan Allah. Sebaliknya, jika roh Allah yang membimbing tingkah lakunya ia akan berpegang teguh kepada perbuatan-perbuatan yang dibolehkan Allah, dan menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Kita seharusnya menempuh jalan yang halal, karena jalan inilah yang akan menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat kita. Jalan halal yang kita jalani dalam kehidupan ini menjadikan diri kita tenang, suci dan bersih. Berbeda dengan jalan yang haram yang dimurkai Allah akan menjadikan jiwa kita gelisah, batin kita selalu resah dan ragu. Dan kegelisahan batin merupakan sumber dari berbagai penyakit dan ketidakbahagiaan dalam hidup ini. Bukankah itu tidak kita kehendaki?

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda